26
Oct
14

Kepemimpinan : Politik Ekonomi JSN45

Politik Ekonomi JSN45

Sabtu, 25 Oktober 2014 – 17:30 WIB

Suara Pembaca:
Politik Ekonomi JSN45

Roh Indonesia Merdeka yang terumuskan oleh Jiwa Semangat Nilai-nilai 45 (JSN45) yakni 1) Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, 2) Jiwa dan Semangat Merdeka, 3) Nasionalisme, 4) Patriotisme, 5) Rasa harga diri sebagai bangsa yang merdeka, 6) Pantang mundur dan tidak kenal menyerah, 7) Persatuan dan Kesatuan, 8) Anti Penjajah dan Penjajahan, 9) Percaya kepada diri sendiri dan atau percaya kepada kekuatan dan kemampuan sendiri, 10) Percaya kepada hari depan yang gemilang dari bangsanya, 11) Idealisme kejuangan yang tinggi, 12)  Berani, rela dan ikhlas berkorban untuk tanah air, bangsa dan Negara, 13)  Kepahlawanan, 14) Sepi ing pamrih rame ing gawe, 15) Kesetiakawanan, senasib sepenanggungan dan kebersamaan, 16)  Disiplin yang tinggi, 17) Ulet dan tabah menghadapi segala macam ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan, tampaknya cukup bijak bila dihayati oleh ke-34 awak kabinet JokoWi-JK.

Apalagi ketika mengemban amanat TRISAKTI dan NAWACITA khususnya ketika berhadapan dengan sitiuasi dan kondisi seperti berita Liputan-6 hari Jumat 24 Oktober 2014 bahwa “Perlu Duit Rp 6.000 Triliun, Jokowi Harus Tinggalkan Zona Nyaman”, yang cara perolehannya tentu bukan saja intensifikasi pendapatan asli nasional seperti mengurangi anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, dan/atau lebih agresif tingkatkan penerimaan pajak, cukai, dan/atau tambah hutang negara saja, namun akan lebih bijaksana bila ambil langkah2 strategis taktis berupa intensifikasi pendapatan asli nasional dari penerimaan hasil2 ekspor bernilai tambah sebesar-besarnya.

Pemilihan kandidat menteri2 berrekam jejak pebisnis komoditas ekspor tentunya dapat menjanjikan pertambahan devisa negara secara signifikan, seperti juga rekam jejak dari Presiden JokoWi sendiri.

Pejabat-pejabat Publik berjiwa, bersemangat dan bermuatan nilai2 Roh Indonesia Merdeka tersebut diataslah yang akan lebih mampu memastikan pencapaian kinerja sesuai amanat pembukaan UUD45 melalui Politik Ekonomi JSN45.

Jakarta, 1 Muharram 1436H
Pandji R Hadinoto, Nasionalis Pancasila
PARRINDO – Parlemen Rakyat Indonesia
Politisi Keadilan & Persatuan Indonesia
PKP17845 – Poros Koalisi Proklamasi 17845
Editor www.jakarta45.wordpress.com

 

 BERITA LAINNYA

FrontNas45

Front Nasional Pengawal Jokowi Akan Geruduk Istana Presiden

Sabtu, 25 Oktober 2014 – 13:12 WIB

Jakarta – Beredar kabar tentang rencana aksi massa dari Front Nasional Pengawal Jokowi dan Trisakti di depan Istana Negara, Jakarta, siang nanti.
Massa akan menyuarakan dukungan kepada Jokowi agar berani menendang keluar deretan kandidat menteri kabinet, yang mereka istilahkan sebagai “para begundal” yang cuma mengejar kekuasaan, para mafia, kapitalis dan kaum neoliberal yang menghisap kekayaan alam Indonesia.

“Kami khawatir, agenda mewujudkan Trisakti sulit terwujud apabila kabinet diisi oleh orang yang tidak memahami prinsip dan nilai-nilai Trisakti,” tulis kelompok itu dalam sebaran undangannya kepada pers, Sabtu (25/10/2014).

Jurubicara aksi, Angga, memastikan sekitar 70 orang dari Front Nasional Pengawal Jokowi dan Trisakti akan berada di depan Istana sekitar pukul 14.00 WIB nanti menagih konsistensi Jokowi-JK mewujudkan Indonesia yang lebih baik, adil dan sejahtera. Pihaknya menilai, niat dan janji Jokowi melaksanakan visi misi dan Nawa Cita yang berlandaskan Trisakti, adalah janji suci yang harus didukung. Janji itu mampu membangkitkan semangat dan kepercayaan rakyat yang sempat memudar.

Namun, dalam perkembangan terakhir khususnya dalam penyusunan kabinet, telah menunjukkan gejala yang jauh dari nilai-nilai Trisakti. Pasalnya, dari 43 nama calon menteri yang diserahkan Jokowi ke KPK, tidak kurang dari 15 nama yang diduga berpotensi terlibat korupsi. Bahkan, delapan  dari lima belas nama mendapat rapor merah dari KPK.

Dinamika pembentukan kabinet juga diwarnai tarik menarik antar kelompok kepentingan yang jauh dari kepentingan rakyat. Meski demikian, ungkap pihaknya, sejatinya rakyat meyakini bahwa Jokowi ingin menyusun kabinet yang sesuai dengan harapan rakyat.

“Rakyat juga merasakan denyut nadi Jokowi ingin menegakkan Trisakti. Tetapi kami melihat, Jokowi telah dikepung oleh berbagai kelompok kepentingan yang haus kekuasaan dan kepentingan kapital,” jelasnya.(*/rmol)

BERITA LAINNYA

Menyusun Kabinet, Jokowi Sebaiknya Terapkan `Trisakti Plus`

Sabtu, 25 Oktober 2014 – 07:53 WIB

Didied Mahaswara.

Jakarta – Direktur Eksekutif The President Center, Didied Mahaswara, mengingatkan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar dalam menyeleksi calon menteri kabinetnya, tidak hanya menerapkan ‘Trisakti’ (berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, berkepribadian dalam budaya) saja tetapi dilengkapi menjadi ‘Catur Sakti’ yaitu ditambah ‘berkesadaran dalam hukum’.

“Penerapan Trisakti ada kelemahannya yaitu ketika dipakai sebagai nama kabinet oleh Jokowi, khususnya dalam memilih pejabat negara, Menteri Kabinet berakibat para calon menteri usulan Parpol yang memiliki rekam jejak melanggar hukum, pernah nelakukan tindak pidana/kriminal dan tersangkut korupsi, bisa lolos dan melenggang tanpa intropeksi diri,” ungkap Didied dalam pernyataannya, Sabtu (25/10/2014), seperti dilansir Obsession News.

Sehingga, lanjut dia, ketika kabinet dituntut harus bersih dan dikoreksi ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) maka para calon menteri yang pernah melanggar Hukum dan terindikasi Korupsi, tidak bisa terpilih dalam Kabinet. “Untuk itu Trisakti perlu dilengkapi dan diubah menjadi CATUR SAKTI yang keempat adalah Berkesadaran Dalam Hukum,” jelasnya.

Dengan demikian, tegas Didied, bagi para Calon Menteri dan pejabat yang ingin dicalonkan atau mencalonkan sebagai pejabat pernah melakukan tindakan tercela dan melanggar Hukum harus sadar diri tidak mencalonkan dan bila dicalonkan sebaiknya menolak supaya tidak merepotkan Presiden ketika  memilih Kabinetnya. “Karena akan berakibat fatal dalam beberapa hari Pemerintahan vakum tanpa Kabinet, hal ini tidak boleh terulang lagi pada saat penentuan Kabinet di tahun 2019,” tandasnya.

Kabinet Lama Tak Boleh Vakum
Didied Mahaswara juga menyarankan, apabila Kabinetnya belum siap terbentuk mestinya Jokowi bisa menerbitkan Keppres atau Perppu agar Kabinet yang lama tetap menjalani tugas sampai terbentuknya Kabinet yang baru. Sebab, jelas dia, semenjak Pemerintahan SBY berakhir maka secara otomatis Kabinetnya juga tidak bisa menjalankan tugas di Pemerintahan karena Menteri diangkat dan bertanggung jawab kepada Presiden yang memilihnya.

“Walaupun belum dilakukan sertijab (serah terima jabatan) dengan Kabinet yang baru, setelah itu baru dilakukan sertijab sehingga tidak memalukan seperti sekarang ini, khususnya bila dipandang dan dicermati oleh para Pemimpin Negara lain,” tegas Direktur Eksekutif The President Center.

Karena, ungkap Didied, kontroversi dengan hingar-bingarnya masyarakat yang menyambut Presiden baru yang akhirnya dianggap Hebat tetapi bisa dianggap  seolah-olah sepertinya sudah dianggap mumpuni dan cepat bekerja ternyata terkesan lamban.

“Atau bila penerbitan Keppres atau Perppu agar kabinet SBY tetap berjalan Jokowi merasa keberatan bisa diangkat dulu Mendagri, Menlu dan Menhan yang lainnya menyusul, sehingga Kabinet Indonesia Hebat tidak kosong dan bisa berjalan. Jokowi bisa menunjuk Menlunya untuk datang mewakilinya ketika diundang diacara penting oleh  Pemimpin Negara lain,” tuturnya.

Beri Buku Jokowi
Menurut Didied, The President Center pernah memberikan Buku Panduan tentang ETIKA PRESIDEN kepada Jokowi baik melalui KPU maupun di Kediamannya di Solo. “Seyogyanya buku tersebut dicermati karena di dalamnya terdapat pedoman betapa pentingnya Inter Personal Skill yaitu ketika seorang telah menjadi pemimpin atau Presiden harus diatur bicaranya, kelakuannya, pakaiannya, gerak geriknya agar lebih berwibawa,” paparnya.

Ia pun mencontohkan Bung Karno, Evita Peron dan berbagai pemimpin di Negara lain, begitu terpilih menjadi Presiden maka segera mengubah penampilan, kostum, gaya dan cara berbicara. “Tapi kita lihat Presiden Jokowi terkesan selengekan, copot jas, maluntung baju di atas  Kereta Kuda, padahal dilihat ke pelosok penjuru Dunia,” bebernya.

Selain itu, sambung dia, janji dan bicaranya yang juga selalu berubah-ubah dan tidak sinkron dengan Wapresnya. “Memindah-midah mikrofon tanpa meminta protokoler dan banyak terkesan lucu-lucuan dan sebagainya ini kan harus diubah. Karena akan  menjadi tidak terhormat,” kritik Didied secara positif dan bersifat membangun.

“Seorang artis seperti Jupe misalnya, bila terpilih jadi Bupati kemudian memakai kostum yang seronok maka ketika berpidato orang tidak mendengarkan dan menyimak bicaranya tapi malah melihat dadanya. Ini kan nggak benar, karena  sekali lagi menyangkut Inter Personal Skill yaitu mengubah cara penampilan, gaya  dan cara  bicara sangat penting supaya penampilan dan bicara menjadi tertata dengan baik,” tuturnya pula. (Ars)

 

BERITA LAINNYA

Sofyan Djalil dan Konsep yang Belum Tuntas

Sabtu, 25 Oktober 2014 – 18:42 WIB

Edy Mulyadi

Sofyan Djalil dan Konsep yang Belum Tuntas
Oleh: Edy Mulyadi *

Ada yang baru dari drama persiapan pengumuman kabinet Jokowi-JK. Nama Sofyan Djalil tiba-tiba saja mencuat. Dia, konon, jadi ‘kuda hitam’ untuk posisi Menteri Koordinator Perekonomian.

Kepada media, mantan Menteri Komunikasi dan Informasi (Kominfo) itu sendiri mengaku memang ditawari masuk kabinet oleh Jusuf Kalla (JK). Namun dia mengatakan (saat itu) belum diundang Jokowi ke Istana.

Saya sendiri merasa pernah lumayan dekat dengan Sofyan. Kami sama-sama di Pelajar Islam  Indonesia (PII). Tentu saja, dia senior jauh di atas saya. Paling tidak, kami sekarang sama-sama di Perhimpunan Keluarga Besar PII yang kini dipimpin Soetrisno Bachir. Satu hal yang pasti, kami pernah sama-sama menangani komunikasi eksternal PT PLN (Persero) sebagai konsutan. Waktu itu, dia meminta saya menjadi Team Leader proyek ini.

Masuknya nama Sofyan sebetulnya tidak terlalu aneh. Dia bisa disebut orang dekat JK. Sofyan diektahui membantunya ketika bertarung di konvensi capres Partai Golkar. Dia terlibat dalam Tim Lembang 9.

Pria kelahiran Aceh Timur, Aceh, 23 September 1953 ini menjadi manajer kampanye JK saat menjadi cawapres SBY. “Awalnya saya memang direkrut sebagai profesional. Namun seiring waktu, ternyata pak JK merasa cocok dengan saya. Itulah sebabnya saya kemudian bergabung sebagai relawan,” ujar Sorfyan kepada saya suatu ketika.

Kedekatan mantan Menteri BUMN itu juga tergambar ketika JK mengajaknya menjadi salah satu anggota tim penyelesaian konflik Aceh pada perundingan di Helsinki. Singkat kata, tidak keliru jika dikatakan Sofyan adalah orangnya JK.

Creating Value BUMN
Pertanyaannya kini, cocokkah dia bila didapuk menjadi Menko Perekonomian? Buat Sofyan, seoal-soal ekonomi memang bukan barang yang asing. Suami dari Ratna Megawangi ini dikenal sebagai salah satu ahli pasar modal.
Ketika menjadi Deputi Menteri BUMN (Tanri Abeng), kepada saya dia sempat memaparkan ide-idenya seputar creating value BUMN, di kantornya. Saat itu dia mengakui, bahwa konsep itu sebenarnya datang dari sang bos, Tanri Abeng.

Gagasan creating value BUMN itu menemukan jalan mulusnya, saat dia akhirnya menjadi Menteri BUMN. Salah satu langkah penting yang dilakukannya adalah, mengisi posisi direksi BUMN dengan para profesional. Maklum, selama ini direksi BUMN biasanya menjadi tempat berlabuhnya pensiunan pejabat eselon II departemen teknis terkait.

Sofyan pula yang menempatkan Jimmy Gani sebagai Dirut PT Sarinah (Persero). Padahal, Jimmy saat itu masih terbilang amat belia. Kalau tidak alah usianya belum genap 33 tahun. Ketika bertemu saya, Sofyan mengatakan agak surprise juga ada anak muda yang melamar menjadi direksi BUMN.

“Ucapan yang pertama saya katakan kepada dia adalah, ‘anda masih muda sekali, ya” kata Sofyan kepada saya menirukan ucapannya saat menemui Jimmy yang tengah menunggunya saat akan wawancara calon direksi.

Dalam satu obrolan ringan di ruang kerjanya, ketika saya konfirmasi, Jimmy yang anak diplomat itu membenarkan ucapan Sofyan tadi. Dia bahkan mengaku saat itu hanya melamar sebagai direksi BUMN, bukan untuk Sarinah, apalagi untuk posisi Dirut.

Tapi, seperti diceritakan kepada saya, Sofyan mengaku terkesan kepada Jimmy. Itulah sebabnya dia tidak ragu-ragu menempatkan anak muda yang kemudian memperkenalkan Sarinah sebagai ‘Indonesia Imporium’. Lewat Indonesia Imporium Jimmy memadukan konsep asing dengan Indonesia sehingga menjadi akulturasi di Sarinah.

Di tangan Sofyan, BUMN memang menjadi lebih bersinar. Salah satu sebabnya ya itu tadi, dia menempatkan para profesional di jajaran direksi. Jimmy bukanlah satu-satunya profesional nonpartisan yang dia tunjuk memimpin BUMN.

Langkah ini tidak mengherankan. Karena dalam buku Transformasi BUMN Menuju Pentas Global, Sofyan menulis, salah satu kunci sukses BUMN adalah dalam proses perekrutan direksi. Rekrutmen harus menghindari intervensi politik, sehingga para direksi akan fokus untuk bekerja ketimbang bermain politik.

The Right Man On The Wrong Place
Dengan rekam jejak dan latar belakang pendidikan serta pengalamannya, rasanya Sofyan kurang pas kalau dipolot menjadi Menko Perekonomian. Akan jauh lebih baik bila JK mengusulkan kepada Jokowi, untuk posisi Menteri BUMN. Bukankah lebih baik bila Sofyan diberi kesempatan untuk mengeksekusi gagasannya tentang creating value BUMN yang belum tuntas? Maklum, saat itu dia hanya menjabat selama dua tahun, seiring berakhirnya Kabinet Indonesia Bersatu jilid 1.

Bila JK ngotot menempatkannya sebagai Menko Perekonomian, saya malah khawatir  Sofyan akan menjadi the right man on the wrong place. Peneliti Lingkar Studi Perjuangan (LSP) Gede Sandra bahkan menyarankan agar Jokowi tidak ‘berjudi’ dengan nasib perekonomian Indonesia, khususnya saat situasi ekonomi dunia masih morat-marit.

Gimana pak JK? Lha mbok sampeyan ndak usah terlalu ngotot gitu, lah. Biarkan Presiden Jokowi sebagai pemilik hak prerogatif menyusun kabinet, bekerja dengan tenang dan jernih. Usul dan saran, tentu saja, boleh. Apalagi sebagai Wapres, tentu Anda sangat berhak untuk itu. Tapi, tidak boleh (terlalu) memaksa ya. Jangan sampai kesan publik tentang JK yang berusaha menjadi The real President malah seperti menemukan pembenaran, lho…  [#]

*) Diambil dari situsweb Obsession News
**) Edy Mulyadi – Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

 

BERITA LAINNYA

Sumber Berita: http://www.edisinews.com


http://www.edisinews.com/berita-sofyan-djalil-dan-konsep-yang-belum-tuntas.html#ixzz3HDYCRoHz

Kabinet Berpotensi Kebobolan Menteri Anti Trisakti


Sabtu, 25 Oktober 2014

JAKARTA-Setelah pengumuman kabinet beberapa hari tertunda karena sejumlah tokoh yang diusulkan diberi tanda merah dan kuning oleh KPK, Presiden Joko Widodo (Jokowi) diminta agar jangan sampai kebobolan menteri yang anti Trisakti. Hal ini disampaikan oleh Pengurus Pusat Serikat Tani Nasional (STN), Binbin Firman Trisnadi kepada Bergelora.com di Jakarta, Sabtu (25/10).
“Kalau demikian maka omong kosong Trisakti bisa dijalankan oleh pemerintah. Malahan sebaliknya, pemerintahan Jokowi berpotensi ditunggangi kepentingan-kepentingan yang akan melanjutkan penderitaan rakyat Indonesia,” ujarnya.
Penundaan pengumuman kabinet menurutnya mencerminkan perebutan posisi diberbagai kementerian diseputar elit yang mengelilingi presiden Jokowi.
“Jadi kaum relawan dan rakyat walaupun sudah bekerja keras mendukung dan memenangkan Jokowi tapi setelah Jokowi berkuasa, elit politiklah yang menjadi faktor penentu penyusunan pemerintahan Jokowi. Dari dulu mereka yang mengambil keuntungan dalam setiap pergantian kekuasaan,” ujarnya.
Menurutnya penyusunan kabinet adalah ujian awal konsistensi Jokowi terhadap kesetiaannya pada perjuangan rakyat yang telah memilihnya menjadi presiden. Untuk itu, kaum relawan Jokowi tidak bisa lepas tanggung jawab dan membiarkan Jokowi disandera kepentingan elit politik yang anti rakyat.
Baca Lengkap:

0 Responses to “Kepemimpinan : Politik Ekonomi JSN45”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,063,568 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: