18
Oct
14

Kenegarawanan : Manifesto Politik Rakyat Indonesia

Manifesto Politik (Manipol) Rakyat Indonesia

Kamis, 16 Oktober 2014 – 20:36 WIB

Dr Ir Pandji R Hadinoto MH

Manifesto Politik (Manipol) Rakyat Indonesia

Menyongsong peralihan rezim kepemimpinan negara 20 Oktober 2014 dan peringatan hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2014, sertamenimbang pentingnya Strategi Ketahanan Bangsa (1) Kehidupan Agama tidak Rawan, (2) Kehidupan Ideologi tidak Retak, (3) Kehidupan Politik tidak Resah, (4) Kehidupan Ekonomi tidak Ganas, (5) Kehidupan Sosial Budaya tidak Pudar, (6) Kehidupan HanKamNas tidak Lengah, (7) Kehidupan Lingkungan tidak Gersang, maka TRISAKTI dan NAWACITA sebagai kerangka kerja pemerintahan JokoWi-JK 2014-2019 perlu juga perkuatan upaya-upaya optimal berupa harmonisasi politik TRISTRATEGI Bina Mental Kebajikan Negarawan Kerakyatan yang cakupi implementasi kearifan lokal yang juga jatidiri bangsa sebagai berikut :

(1) TRISAKTI yakni (a) Politik Berdaulat, (b) Ekonomi Berdikari, (c) Budaya Berkepribadian,

(2) TRIPAKTA atau TRI Politik Anti Korupsi Tanpa Akhir yaitu (a) Tidak Ingkari Janji Konstitusional, (b) Tidak Koruptif terhadap Pancasila & Pembukaan UUD45, (c) Tidak Korupsi APBN/APBD, Keuangan BUMN/BUMD dan Pajak, serta

(3) TRILOGI 17845 yaitu (a) 17 butir Jiwa Semangat Nilai-nilai 45 / Roh Indonesia Merdeka, (b) 8 butir Kepemimpinan Hastabrata, (c) 45 butir Pengamalan Pancasila Tap MPRRI No XVIII/1998.

Harmonisasi tersebut diatas adalah tumpuan arah kepastian bagi keterpaduan TRIMATRA (NawaCita-1), pemberdayaan TRIKARYA  yakni (a) Peningkatan Kecerdasan, (b) Pengentasan Kemiskinan, (c) Penegakan Kedaulatan Rakyat, dan capaian TRICITA kenegaraan (a) Indonesia Mulia (2015-2025) terkait Indonesia Pintar (NawaCita-5), (b) Indonesia Bermartabat (2025-2035) senafas dengan Indonesia Kerja (NawaCita-5), (c) Indonesia Sejahtera Lahir & Bathin (2035-2045) seiring dengan Indonesia Sejahtera (NawaCita-5) menuju Indonesia Jaya pada saat 100 tahun Indonesia Merdeka 2045.

Jakarta, 17 Oktober 2014

Badan Musyawarah Koalisi Rakyat Indonesia

(1) Pandji R Hadinoto, (2) HR Abdi Rakyat,
(3) Andre Lukman, (4) Urai Zulhendrie
(5) Abdul Halim, (6) Arie Wiryawan Al Rasyid, (7) Erwin Broto Amidarmo, (8) Sucipto Harimurti, (9) Alif Kamal, (10) Gigih Guntoro, (11) Joyo Priyoski, (12) Suyanto Ducko, (13) Ki Bondan, (14) Adipurnawidgdo, (15) Surya Hadjar, (16) Suryadi, (17) Dharmo L Mertaperwira, (18) Rohadi Subardjo, (19) Greg Wisnu Rosariastoko, (20) RDK Errianto, (21) Bagus Satriyanto, (22) Ali Koesno Soeryoprojo, (23) Jimmu Goh, (24) Regina Oesman, (25) J. Sandjaja Darmawan, (26) Igbal Daut Hutapea, (27) Ading Sutisna, (28) Rizky Tri

Pandji R Hadinoto, BaMus NasPan45
Politisi Keadilan & Persatuan Indonesia
PARRINDO – Parlemen Rakyat Indonesia
PKP17845 – Poros Koalisi Proklamasi 17845
Editor www.jakarta45.wordpress.com

 

BERITA LAINNYA

Sumber Berita: http://www.edisinews.com


http://edisinews.com/berita-manifesto-politik-manipol-rakyat-indonesia.html#ixzz3GTkWge79

http://forum.viva.co.id/showthread.php?t=1777012

Sejarah Bung Karno Melawan Kepentingan Asing


alt

Di tahun 1960, Sukarno bikin gempar perusahaan minyak asing, dia panggil Djuanda, dan suruh bikin susunan soal konsesi minyak “Kamu tau, sejak 1932 aku berpidato di depan Landraad soal modal asing ini? soal bagaimana perkebunan-perkebunan itu dikuasai mereka, jadi Indonesia ini tidak hanya berhadapan dengan kolonialisme tapi berhadapan dengan modal asing yang memperbudak bangsa Indonesia, saya ingin modal asing ini dihentiken, dihancurleburken dengan kekuatan rakyat, kekuatan bangsa sendiri, bangsaku harus bisa maju, harus berdaulat di segala bidang, apalagi minyak kita punya, coba kau susun sebuah regulasi agar bangsa ini merdeka dalam pengelolaan minyak” urai Sukarno di depan Djuanda.

Lalu tak lama kemudian Djuanda menyusun surat yang kemudian ditandangani Sukarno. Surat itu kemudian dikenal UU No. 44/tahun 1960. isi dari UU itu amat luar biasa dan memukul MNC (Multi National Corporation). “Seluruh Minyak dan Gas Alam dilakukan negara atau perusahaan negara”.

Inilah yang kemudian menjadi titik pangkal kebencian kaum pemodal asing pada Sukarno, Sukarno jadi sasaran pembunuhan dan orang yang paling diincar bunuh nomor satu di Asia. Tapi Sukarno tak gentar, di sebuah pertemuan para Jenderal-Jenderalnya Sukarno berkata “Buat apa memerdekakan bangsaku, bila bangsaku hanya tetap jadi budak bagi asing, jangan dengarken asing, jangan mau dicekoki Keynes, Indonesia untuk bangsa Indonesia”.

Ketika laporan intelijen melapori bahwa Sukarno tidak disukai atas UU No. 44 tahun 1960 itu Sukarno malah memerintahkan ajudannya untuk membawa paksa seluruh direktur perusahaan asing ke Istana. Mereka takut pada ancaman Sukarno. Dan diam ketakutan.

Quote:
Pada hari Senin, 14 Januari 1963 pemimpin tiga perusahaan besar datang lagi ke Istana, mereka dari perusahaan Stanvac, Caltex dan Shell. Mereka meminta Sukarno membatalkan UU No.40 tahun 1960. UU lama sebelum tahun 1960 disebut sebagai “Let Alone Agreement” yang memustahilkan Indonesia menasionalisasi perusahaan asing, ditangan Sukarno perjanjian itu diubah agar ada celah bila asing macam-macam dan tidak memberiken kemakmuran pada bangsa Indonesia atas investasinya di Indonesia maka perusahaannya dinasionalisasikan.

Para boss perusahaan minyak itu meminta Sukarno untuk mengubah keputusannya, tapi inilah jawaban Sukarno “Undang-Undang itu aku buat untuk membekukan UU lama dimana UU lama merupaken sebuah fait accomply atas keputusan energi yang tidak bisa menasionalisasikan perusahaan asing.

UU 1960 itu kubuat agar mereka tau, bahwa mereka bekerja di negeri ini harus membagi hasil yang adil kepada bangsaku, bangsa Indonesia” mereka masih ngeyel juga, tapi bukan Bung Karno namanya ketika didesak bule dia malah meradang, sambil memukul meja dan mengetuk-ngetukkan tongkat komando-nya lalu mengarahkan telunjuk kepada bule-bule itu Sukarno berkata dengan suara keras :”Aku kasih waktu pada kalian beberapa hari untuk berpikir, kalau tidak mau aku berikan konsesi ini pada pihak lain negara..!” waktu itu ambisi terbesar Sukarno adalah menjadikan Permina (sekarang Pertamina) menjadi perusahaan terbesar minyak di dunia, Sukarno butuh investasi yang besar untuk mengembangkan Permina.

Quote:
Caltex disuruh menyerahkan 53% hasil minyaknya ke Permina untuk disuling, Caltex diperintahkan memberikan fasilitas pemasaran dan distribusi kepada pemerintah, dan menyerahkan modal dalam bentuk dollar untuk menyuplai kebutuhan investasi jangka panjang pada Permina.

Bung Karno tidak berhenti begitu saja, ia juga menggempur Belanda di Irian Barat dan mempermainkan Amerika Serikat, Sukarno tau apabila Irian Barat lepas maka Biak akan dijadikan pangkalan militer terbesar di Asia Pasifik, dan ini mengancam kedaulatan bangsa Indonesia yang baru tumbuh. Kemenangan atas Irian Barat merupakan kemenangan atas kedaulatan modal terbesar Indonesia, di barat Indonesia punya lumbung minyak yang berada di Sumatera, Jawa dan Kalimantan sementara di Irian Barat ada gas dan emas. Indonesia bersiap menjadi negara paling kuat di Asia.

Hitung-hitungan Sukarno di tahun 1975 akan terjadi booming minyak dunia, di tahun itulah Indonesia akan menjadi negara yang paling maju di Asia , maka obesesi terbesar Sukarno adalah membangun Permina sebagai perusahaan konglomerasi yang mengatalisator perusahaan-perusahaan negara lainnya di dalam struktur modal nasional. Modal Nasional inilah yang kemudian bisa dijadikan alat untuk mengakuisisi ekonomi dunia, di kalangan penggede saat itu struktur modal itu diberi kode namanya sebagai ‘Dana Revolusi Sukarno”.

Kelak empat puluh tahun kemudian banyak negara-negara kaya seperti Dubai, Arab Saudi, Cina dan Singapura menggunakan struktur modal nasional dan membentuk apa yang dinamakan Sovereign Wealth Fund (SWF) sebuah struktur modal nasional yang digunakan untuk mengakuisisi banyak perusahaan di negara asing, salah satunya apa yang dilakukan Temasek dengan menguasai saham Indosat.

Kelabakan dengan keberhasilan Sukarno menguasai Irian Barat, Inggris memprovokasi Sukarno untuk main di Asia Tenggara dan memancing Sukarno agar ia dituduh sebagai negara agresor dengan mengakuisisi Kalimantan.

Mainan lama ini kemudian juga dilakukan dengan memancing Saddam Hussein untuk mengakuisisi Kuwait sehingga melegitimasi penyerbuan pasukan Internasional ke Baghdad. Sukarno panas dengan tingkah laku Malaysia, negara kecil yang tak tau malu untuk dijadikan alat kolonialisme, namun Sukarno juga terpancing karena bagaimanapun armada tempur Indonesia yang diborong lewat agenda perang Irian Barat menganggur. Sukarno ingin mengetest Malaysia.

Tapi sial bagi Sukarno, ia justru digebuk Jenderalnya sendiri. Sukarno akhirnya masuk perangkap Gestapu 1965, ia disiksa dan kemudian mati mengenaskan, Sukarno adalah seorang pemimpi, yang ingin menjadikan bangsanya kaya raya itu dibunuh oleh konspirasi. Dan sepeninggal Sukarno bangsa ini sepenuhnya diambil alih oleh modal asing, tak ada lagi kedaulatannya dan tak ada lagi kehormatannya.

Kalau SBY sih…….bukan bandingannya Jokowi, terlalu jauh untuk dibandingkan….hehehehe…
On Friday, October 17, 2014 12:07 PM, “Yoseph T Taher ariyanto@bigpond.com [temu_eropa]” <temu_eropa@yahoogroups.com> wrote:

Susilo Bambang Yudoyono-pun tidak punya kerendahan hati seperti yang dipunyai Jokowi ini. Selamat Pak Jokowi, Presiden kita! Horas Bapak Presiden R.I…….!!!

On 17/10/2014 6:50 PM, iwamardi iwamardi@yahoo.de [temu_eropa] wrote:
Setelah dihujat, difitnah, dilecehkan, ….dia tetap menang !

Sekarang Jokowi malahan mendatangi lawan politiknya yang mencidrainya, tanpa berpikir dia akan dilecehkan orang sebagai manusia lemah, atau akan kehilangan gèngsinya .
Adakah selama ini seorang pemimpin bangsa yang semacam ini ?
BK pun, sebagai pemimpin besar bangsa yang jasanya tak ternilai besarnya itupun, tak pernah berbuat begini !
Dibenak Jkw hanya ada satu : kecintaannya yang tidak terbatas kepada tanah air dan bangsanya .
Maka bila sang  Ibu Pertiwi sedang bersusah hati dan air matanya berlinang, tak ada dalam pikirannya kecuali bagaimana sekuat tenaga membuatnya tenang dan gembira lagi !
Untuk itulah dia tak segan2 berbuat sesuatu yang orang lain tak mungkin melaksanakannya karena past dia nilai akan menyinggung  kehormatannya, gèngsinya.
Tapi apa yang diperbuat Jkw ? Kemarin dia “sowan” , berkunjung kerumah Prbw. di Kebayoran dia  bertemu dan berusaha menjadikan suasana panas menjadi sejuk kembali ….dan dia telah berhasil !
Rugikah dia ? Tidak sama sekali. Geste ini telah dengan sekejap mata mengubah suasana atmosfer politik menjadi menyejuk lagi setelah dibakar dalam pilleg, pilpres dan langkah2 derivasinya , protes2 ke KPU. MK dan lain2nya…
Kejadian ini telah “menyulap” temperatur politik di Indonesia kembali ke kenormalannya lagi, udara menjadi sejuk kembali, paling sedikit disekitar para pendukung kedua pihak.
Nama  dan reputasi Jokowi bukannya anjlok karena dianggap lemah, sebaliknya dia dinilai sebagai negarawan yang bijak,cerdas dan dewasa, yang nuraninya penuh dengan rasa welas asih kepada sesama manusia, walau itu lawan politiknya  !
Prbw sendiri mendapatkan hikmah dari langkah Jokowi ini, dengan sambutan positiv dia terhadap kunjungan Jkw ini, dia telah mendapatkan nilai bonus dimasyarakat dan tidak akan menjadi bulan2an lagi, yang mana sangat sukar( atau tak mungkin) lepas dari penilaian buruk masyarakat terhadap sikapnya yang tidak lagi rasional itu.
Sekarang suasana sudah menyejuk, walau orang tahu, tak akan ada perubahan2 sikap politik dari kedua belah pihak.

Jokowi dalam hal ini telah dengan cerdas dan tepat mengaplikasikan ajaran filsafat Jawa peninggalan nenek moyangnya, satu pepatah yang berbunyai :


Menang Tanpo Ngasorake


Artinya: “Menyerang tanpa bala(tentara), sakti tanpa aji2, kaya tanpa harta, menang tanpa merendahkan (lawan).”

 Dia telah menaklukkan dendam,iri dan  kenbencian  dengan kebijaksanaan dan welas asih !

Maju terus pantang mundur dan berhenti Jokowi-JK , dalam mengelola negara RI ini dengan baik demi kesejahteraan Rakyat Indonesia dan Perdamaian Dunia !

iwa

News / Nasional

Aria Bima, “Sutradara” di Balik Pertemuan Jokowi-Prabowo

Jumat, 17 Oktober 2014 | 13:36 WIB
altTRIBUNNEWS / DANY PERMANAPresiden Republik Indonesia terpilih Joko Widodo mengunjungi Ketua Umum Partai Gerindra yang juga mantan pesaingnya dalam Pilpres lalu, Prabowo Subianto, di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Jumat (17/10/2014).

JAKARTA, KOMPAS.com — Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Aria Bima menjadi “otak” di balik pertemuan presiden terpilih Joko Widodo dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Aria menginisiasi dan merancang pertemuan sehingga Jokowi-Prabowo bisa bertemu pada Jumat (17/10/2014) ini. 

Aria awalnya menghubungi Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Edhy Prabowo. Secara terbuka, ia meminta agar Jokowi dan Prabowo bisa bertemu sebelum pelantikan pada 20 Oktober mendatang. 

altTRIBUNNEWS/DANY PERMANAAria Bima.

“Pak Aria bilang ke saya, kenapa sih Pak Prabowo enggak mau ketemu Jokowi?” kata Edhy seusai pertemuan, di kediaman keluarga Prabowo, Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (17/10/2014).

“Saya bilang, loh siapa yang enggak mau ketemu? Pak Prabowo selalu terbuka,” ujar Edhy.

Akhirnya, keduanya pun sepakat untuk mengatur pertemuan. Pada Kamis (16/10/2014) lalu, Edhy mempertemukan Aria dengan Prabowo di Apartemen Dharmawangsa. 

“Dari pertemuan itu, Pak Prabowo sepakat, hari Jumat pukul 10.00 WIB, tempatnya bisa di sini (Kertanegara), bisa di Hambalang,” ujar Edhy. 

Akhirnya, Jokowi pun memilih Kertanegara karena lebih terjangkau dari rumah dinasnya di daerah Taman Surapati, Jakarta Pusat. Sesai pertemuan, Prabowo pun sempat menyapa Aria Bima yang turut hadir di lokasi. 

“Ini dia ini otak pertemuannya,” kata Prabowo sambil tertawa dan merangkul Aria. 

Aria hanya tersenyum menanggapi ucapan Prabowo itu.

Pertemuan Jokowi dan Prabowo memang tak berlangsung lama, tetapi berlangsung hangat. Keduanya pun sempat bercanda terkait usia Prabowo, yang pada hari ini berulang tahun ke-63. Dalam pernyataannya, Prabowo meminta para pendukungnya untuk bersatu, menerima, dan mendukung pemerintahan Joko Widodo.

__._,_.___

Posted by: Chalik Hamid <chalik.hamid@yahoo.co.id>

Gerindra: Jokowi-Prabowo Bersua Patut Dicontoh, Jangan Seperti SBY dan Mega

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Ketua DPP Partai Gerindra Arif Poyuono menilai pertemuan antara Joko Widodo dan Prabowo Subianto adalah sebuah langkah positif. Hal tersebut patut diteladani tidak seperti SBY yang dibesarkan oleh Megawati Soekarnoputri tetapi enggan menemui Mega hingga saat ini.

“Tidak seperti SBY yang dibesarkan oleh Megawati tapi tidak mau mendatangi Mega pada saat pelantikannya tahun 2004. Dan kami juga berharap hubungan antara ibu Mega dan Prabowo juga makin kondusif agar dapat sama sama membangun negara yang sudah hampir hancur sejak dipimpin SBY,” ujar Arif dalam pernyataannya kepada Tribunnews.com, Jumat(17/10/2014).

Arif mengatakan, datangnya Jokowi ke Prabowo sebelum dilantik menjadi presiden adalah bentuk penghormatan yang besar bagi Gerindra dan Prabowo. Apa yang dilakukan oleh Jokowi lanjut Arif, menunjukkan bahwa Joko Widodo adalah orang yang sangat menghormati Prabowo.

“Joko Widodo punya sifat yang lebih baik dan tahu diri dibandingkan Ahok yang kurang mengerti adat ketimuran. Ya semoga Jokowi bisa benar benar menjalankan amanat rakyat dan program Trisaktinya untuk kemajuan bangsa,” ujar Arif.

Ke depan kata Arif, Joko Widodo juga harus berani menindak tegas para koruptor dan mafia migas yang banyak merugikan negara selama pemerintahan SBY.

“Mari kita lupakan masalah selama pilpres dan kita move on untuk bersama sama mendukung pemerintahan Jokowi- JK dan terus mengkritisi dan menolak setiap program pemerintah dan kebijakan Jokowi- JK yang pro neolib dan merugikan kepentingan rakyat,” ujarnya.

Baca Juga:

Prabowo: ‘Insya Allah Saya Datang’

Pertemuan Jokowi-Prabowo Bisa Memutus Rasa Dendam

Prabowo Ucapkan Selamat Atas Pelantikan Jokowi

Advertisements

0 Responses to “Kenegarawanan : Manifesto Politik Rakyat Indonesia”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,193,028 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: