08
Oct
14

Kenegarawanan : 10 Butir Kiprah Sila-4 Pancasila

10 Butir Kiprah Sila-4 Pancasila

Rabu, 08 Oktober 2014 – 01:02 WIB

Dr Ir Pandji R Hadinoto MH

Suara Pembaca:
10 Butir Kiprah Sila-4 Pancasila

Degradasi musyawarah mufakat berciri kearifan lokal gotong royong kebersamaan Pancasila kini faktanya dirongrong sistim paket pimpinan lembaga tinggi negara kerakyatan berdasarkan UU MD3 yang terasa kontroversial itu.

Kata kunci Sila-4 Pancasila itu KERAKYATAN artinya Daulat Rakyat itu PRIMER, caranya (modus operandi) DIPIMPIN OLEH HIKMAH KEBIJAKSANAAN sebagai SYARAT bagi yang PRIMER itu, sedang locus-nya adalah PERMUSYARATAN/PERWAKILAN yang adalah SEKUNDER, jadi jangan dibalik, hakekatnya Daulat Rakyat itu UTAMA bukan Wakil Rakyat yg terpilih (dan sering2 akal2an) oleh Daulat Rakyat itu yang pemeran sejati PilKaDa. Apalagi dengan kapasitas, kapabilitas, kualitas & kompetensi eVoting, maka PilKaDa Langsung berbasis Daulat Rakyat itu layak dilakukan di negara hukum Pancasila yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sila-4 Pancasila itu dikiprahkan dalam 10 (sepuluh) butir yakni (1) Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama, (2) Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain, (3) Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama, (4) Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan, (5) Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah, (6) Dengan iktilkad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah, (7) Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi dan golongan, (8) Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur, (9) Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama, (10) Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan.

Semoga dikedepankannya ke 10 butir diatas inspiratif bagi para wakil rakyat di lembaga2 kerakyatan seperti DPR, DPD, MPR dan DPRD

Jakarta, 8 Oktober 2014
Pandji R Hadinoto, Nasionalis Pancasila
PARRINDO – Parlemen Rakyat Indonesia
Politisi Keadilan & Persatuan Indonesia
PKP17845 – Poros Koalisi Proklamasi 17845
Editor www.jakarta45.wordpress.com

 

BERITA LAINNYA
Rupiah KATADATA | Arief Kamaludin
KATADATA | Arief Kamaludin

KATADATA – Investor lagi-lagi memberikan sentimen negatif terhadap kemenangan koalisi partai pendukung Prabowo Subianto dalam pemilihan pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).

Nilai tukar rupiah kembali melemah pada perdagangan Rabu (8/10). Hingga pukul 11.000, rupiah sudah melemah 59,7 poin atau 0,49 persen ke posisi Rp 12.262 per dolar Amerika Serikat (AS).

Ekonom PT Bank Danamon Tbk Anton Hendranata menuturkan, kemenangan koalisi pro Prabowo yang ketiga kalinya dalam pertarungan di parlemen meningkatkan kekhawatiran investor.

“Pertanyaannya apakah Jokowi mampu meng-handle (menangani) situasi politik yang tidak menentu ini,” kata dia saat dihubungi Katadata, Rabu (8/10).

(Baca: Koalisi Jokowi Gagal Lagi, IHSG dan Rupiah Dibuka Melemah)

Menurut dia, persoalan politik sangat memengaruhi pergerakan pasar keuangan di Indonesia pada saat ini. Meski begitu, situasi diprediksi relatif stabil pada tahun depan.

Dalam pandangannya, Jokowi sudah cukup berhasil menangani DKI Jakarta, meskipun secara politik mendapatkan tantangan yang cukup berat. (Baca: Pasar Mulai Hitung Ulang Proyeksi Rupiah)

Dia memperkirakan, pelemahan rupiah tidak akan jauh dari level Rp 12.200 per dolar. Setelah Jokowi mengumumkan kabinet yang sesuai ekspektasi pasar, ia optimistis rupiah akan kembali membaik.

Deputy Country Director Asian Development Bank (ADB) Indonesia Edimon Ginting mengatakan, situasi politik dalam negeri menambah tekanan rupiah yang memang sudah melemah.

Apalagi kurs juga tengah mendapat tekanan dari faktor global, terutama rencana the Fed menaikkan suku bunga. “Dengan adanya (ketidakpastian) politik ini, pelemahan itu semakin dalam,” ujarnya. (Baca: Kegagalan Koalisi Jokowi Bisa Turunkan Ekspektasi Publik)

Edimon optimistis, rupiah akan kembali menguat setelah Jokowi menelurkan kebijakan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang akan membantu memperbaiki defisit neraca perdagangan Indonesia.

Ekonom PT Bank Tabungan Negara Tbk Agustinus Prasetyantoko mengatakan, pelemahan rupiah tidak akan terlalu dalam lantaran pelaku pasar sudah mengantisipasi kemenangan koalisi pro Prabowo. (Baca: Pasar Tunggu Lobi Politik Koalisi Jokowi)

– See more at: http://katadata.co.id/berita/2014/10/08/investor-beri-sentimen-negatif-kemenangan-koalisi-pro-prabowo#sthash.wz0DuKSt.dpuf

Jokowi Tidak Masalah Ada Wacana Amandemen UUD 1945

Rabu, 8 Oktober 2014 11:13 WIB
Jokowi Tidak Masalah Ada Wacana Amandemen UUD 1945
Ben Joshua (kanan) dan Jokowi (kiri).
 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Presiden terpilih Joko Widodo mengungkapkan tidak masalah apabila ada wacana amandemen Undang-Undang Dasar 1945 yang digelontorkan oleh Koalisi Merah Putih (KMP) setelah Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (KMP) terpilih.

Namun, pria yang sapaan akrabnya Jokowi ini mengatakan ada syarat yang perlu ada di dalam amandemen UUD 1945, yaitu demi kepentingan rakyat, bukan kepentingan golongan tertentu.

“Kalau untuk kepentingan negara yang lebih besar, untuk rakyat, bangsa, enggak masalah. Semua yang berkaitan dengan Undang-Undang mau diubah kalau untuk kepentingan masyarakat enggak masalah,” ujar Jokowi di Balai Kota, Jakarta, Rabu (8/10/2014).

Mantan Walikota Surakarta ini mengatakan masyarakat akan melihat sendiri apabila nantinya amandemen UUD 1945 tersebut justru untuk kepentingan golongan tertentu. Ia menambahkan biar masyarakat sendiri yang menilai jika untuk kepentingan kekuasaan.

“Asal jangan untuk kepentingan kekuasaan. Itu saja. Nanti rakyat yang lihat,” kata Jokowi.

PDIP : Banyak Anggota DPD Berasal Dari Koalisi Merah Putih

Tribunnews.com, JAKARTA– Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dapat menerima kekalahan calon yang diusung Koalisi Indonesia Hebat (KIH), Partai Pesatuan Pembangunan (PPP) dan DPD dalam pemillihan pimpinan MPR, Rabu (8/10/2014) dini hari melalui voting.

Ketua DPP PDIP, Trimedya Panjaitan melihat kekurang-kompakan DPD mendukung Oesman Sapta Odang sebagai Ketua MPR RI seperti diusulkan dalam Paket A menjadi salah satu faktor usulan KIH, PPP dan DPD kalah.

“DPD-nya kurang solid,” ungkap Trimedya, usai hasil pemilihan Pimpinan MPR RI, di Kompleks Gedung Parlemen, Jakarta, Rabu (8/10/2014) dini hari.

Sebelum proses pemungutan suara digelar, kata Trimedya, KIH telah melakukan hitung-hitungan suara dengan Oesman Sapta terkait jumlah suara DPD yang akan mendukung Paket Pimpinan MPR, Paket A.

Saat itu, ucap Trimedia, Oesman Sapta menghitung suara dukungan DPD mayoritas akan mendukung Paket A.

“Kata Pak Oesman, kita dapat dukungan suara 100 dari 129 suara DPD. Dan hasil ini mungkin kerja Pak Oesman sudah maksimal. Dan DPD-nya terpecah seperti itu kita tidak bisa salahkan Pak Oesman begitu saja,” ujar politisi PDIP ini.

Apalagi, menurut Trimedia, ada banyak juga anggota DPD yang juga berasal dari Partai Politik dari Koalisi Merah Putih (KMP).

“Dan mereka yang berasal dari partai politik yang pengusung paket B merasa tidak perlu Ketua MPR-nya dari DPD. Yang penting partai yang dia usung menang,” demikian dia melihat faktor terpecahnya suara DPD dalam pemilihan Ketua MPR RI.

Sebelumnya, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) kecewa dengan hasil kekalahan Koalisi Indonesia Hebat dan DPD yang mengusung Paket A Pimpinan MPR RI.

Ketua DPP PKB Helmy Faishal Saini mengatakan kekecewaan itu karena ternyata suara DPD tidak solid mendukung wakilnya Oesman Sapta Odang sebagai Ketua MPR RI seperti dicalonkan KIH.

“Kita kecewalah dari DPD tidak kompak,” ungkap Mantan Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal ini

Menurut Helmy, suara Fraksi partai-partai dalam KIH plus PPP solid mendukung paket yang diusulkan.

Namun, perhitungan yang sudah diperhitungkan KIH meleset dari fakta yang sesungguhnya karena ketidak-solidan para senator mendukung Oesman Sapta.

“Kalau di Fraksi solid. Tapi, perhitungan kami di DPD ternyata salah hitung,” ungkapnya tak dapat menutup kekecewaannya.

Dalam hasil pemungutan suara yang digelar, kandidat pimpinan MPR dari paket B menang, dengan perolehan suara 347 dukungan dari total suara 678 suara. Satu suara abstain.

Adapun Paket tersebut terdiri dari Ketua MPR Zulkifli Hasan, dengan Wakil Ketua Mahyudin, Evert Ernest Mangindaan, Hidayat Nur Wahid dan Oesman Sapta. Opsi tersebut didukung Koalisi Merah Putih (KMP) minus PPP.

Sedangkan, paket A hanya memperoleh suara 330 dukungan. Paket A merupakan Paket tersebut terdiri dari Ketua MPR Oesman Sapta Odang, dengan Wakil Ketua Ahmad Basarah, Imam Nahrawi, Patrice Rio Capella, Hasrul Azwar. Paket tersebut didukung oleh Koalisi Indonesia Hebat (KIH), Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan DPD.

Baca Juga:

Zulkifli Hasan Mengaku Tak Pernah Bercita-cita Jadi Ketua MPR

Teriakan Hidup PPP Sempat Berkumandang di Ruang Sidang

Zulkifli Hasan Langsung Salat Subuh Usai Terpilih Ketua MPR

Berita Terkini

Lobi Pimpinan MPR, Politisi PDIP Bingung Ada Politik Tipu-menipu

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ferdinand Waskita

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Sekretaris Fraksi PDIP di MPR, Tb Hasanuddin, mengaku bingung mengikuti politik di Indonesia.

Hal itu dikatakan Hasanuddin setelah mengikuti rapat konsultasi pimpinan fraksi dan kelompok DPD di MPR.

“Saya sungguh bingung. Kami sudah ikhlas calon DPD hanya satu orang sesuai UU MD3 dan Tatib,” kata Hasanuddin di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (7/10/2014).

Ia lalu menceritakan dalam rapat gabungan sudan diputuskan bahwa hanya satu orang DPD untuk ditaruh dalam paket manapun.

Bila hal itu berjalan lancar maka pada pukul 10.00 WIB telah masuk dalam tahap pemilihan pimpinan MPR.

“Kita sudah diminta serahkan nama-nama dan lobi-lobi masukan paket dan prosedur pilihan pimpinan MPR. Harusnya Jam 3 sore ini selesai tapi ketika hasil koordinasi dibatalkan lagi, bahkan dari koalisi Prabowo meminta merubah UU MD3 dan Tatib MPR,” kata Hasanuddin.

Bahkan, kata Hasanuddin, terdapat usulan dari Politisi Golkar Aziz Syamsuddin dimana Ketua MPR berasal dari DPD. Sedangkan wakilnya dari pemenang kedua dan ketiga pada saat pemilu.

“Ini kan sudah tipu-menipu, karena MD3 saat di DPR saja tidak begitu, ketua DPD, Wakil PDIP, Golkar dan berikutnya. Maka politik di negeri ini sudah kotor,” ujarnya.

Baca Juga:

SDA Ngaku PPP Kembali Dapatkan Kursi Wakil Ketua MPR dari KMP

Anggota DPD: KMP Keberatan dengan Oesman Sapta

DPD Konsisten Calonkan Oesman Sapta Jadi Pimpinan MPR

Berita Lainnya

Wakil KMP Raih Kursi Pimpinan MPR

Jakarta (Antara) – Politisi dari Koalisi Merah Putih meraih kursi pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat 2014-2019 bersama satu wakil dari Dewan Perwakilan Daerah setelah mengungguli calon dari Koalisi Indonesia Hebat dalam pemungutan suara di Jakarta, Rabu dini hari.

“Dengan begitu pimpinan MPR 2014-2019 kami tetapkan sebagai berikut Ketua Zulkifli Hasan, Wakil Ketua yakni Mahyudin, Evant Ernest Mangindaan, Hidayat Mur Wahid, dan Oesman Sapta Odang,” kata pimpinan MPR sementara yang memimpin sidang Maemanah Umar, dari Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

Paket pimpinan Koalisi Merah Putih (KMP) mendapat 347 suara dari total 678 suara yang diberikan anggota MPR pada siang paripurna tersebut.

Sedangkan, paket pimpinan Koalisi Indonesia Hebat (KIH) yang merupakan pendukung Calon Presiden terpilih Joko Widodo mendapat 330 suara. Adapun satu suara lainnya dinyatakan abstain.

Zulkifli Hasan, merupakan politisi Partai Amanat Nasional yang juga Menteri Kehutanan 2009-2014.

Sementara empat wakilnya adalah Mahyudin dari Partai Golkar, E.E Mangindaan dari Partai Demokrat, Hidayat Nur Wahid dari Partai Keadilan Sejahtera dan Oesman Sapta Odang yang merupakan wakil DPD.

Gemuruh dukungan anggota MPR terhadap paket pimpinan KMP terus terdengar selama penghitungan suara. Puncaknya adalah ketika paket pimpinan KMP meraih suara di atas 330, yang membuat suasana sidang paripurna semakin ramai.

Setelah penghitungan suara usai, Zulkifli tampak mendatangi Osman Sapta dan Ketua DPP PDI Perjuangan, selaku partai pemimpin Koalisi Indonesia Hebat, Puan Maharani, untuk mengajak bersalaman.

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon tampak begitu sumringah dan meninggalkan ruang sidang paripurna diiringi ucapan selamat dari politisi koleganya.

Politisi PDI Perjuangan Trimedya Panjaitan saat meninggalkan ruang sidang mengatakan dukungan anggota DPD kurang solid untuk mendukung paket pimpinan Koalisi Indonesia Hebat dalam sidang paripurna.

“DPD kurang solid,” ujarnya.

Paket pimpinan yang diusung partai Koalisi Indonesia Hebat adalah Calon Ketua MPR Oesman Sapta Odang yang berasal dari DPD, dan empat calon wakil ketua, yakni Ahmad Basarah dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Imam Nahrawi dari Partai Kebangkitan Bangsa, Patrice Rio Capella dari Partai Nasional Demokrat, dan Hazrul Azhar dari Partai Persatuan Pembangunan.

Pemungutan suara untuk menentukan pimpinan MPR dilakukan sejak pukul 00.10 WIB hingga sekitar pukul 03.00 WIB, Rabu dini hari. Setelah itu dilakukan proses penghitungan suara.

Pengucapan sumpah jabatan, dilakukan langsung pada Rabu dini hari. (bd)


0 Responses to “Kenegarawanan : 10 Butir Kiprah Sila-4 Pancasila”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,062,175 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: