31
Jul
14

Historia : Pandai Besi Nusantara dan Jejak Manusia Purba Asia Tenggara

Posisi Pandai Besi dalam Sejarah Nusantara

HISTORIA.CO.ID – Ia dipandang sebagai candala (tukang) dan empu.ANN Dunham, antropolog Amerika Serikat dan ibu Presiden Amerika Barack Obama, terpaku heran melihat dua pembesar desa menunjukan sikap takzim pada perajin keris, Pak Djeno. Mereka berbicara dengan nada yang direndahkan. Kepala mereka seringkali menunduk ketika mendengar Pak Djeno berbicara. Tak seperti yang Ann kenal, sikap mereka berbeda; tak ada kelakar dan tawa dari mereka sebagaimana biasa. Dua pembesar itu menemani Ann yang sedang menyusun disertasi mengenai pandai besi di Indonesia. Pada 1988, Ann menyambangi desa di Sleman, Yogyakarta, untuk menambah bahan-bahan penulisan.Sebelumnya, Ann tak tahu bahwa pandai besi memiliki posisi yang tinggi meski secara kelas sosial wong cilik. Dia baru tahu saat menatap rajah silsilah di dinding rumah Pak Djeno. Rajah itu menunjukan Pak Djeno sebagai generasi keempatbelas keturunan pandai besi Kerajaan Mataram di Jawa Tengah. Ann terkesiap. Di tengah rasa kejutnya, Ann disodorkan beberapa keris oleh Pak Djeno. Dia memutuskan membeli salah satunya. Sikap dua pembesar desa terhadap Ann pun berubah. Kejadian ini dia tuangkan dalam disertasinya yang telah dibukukan, Pendekar-Pendekar Besi Nusantara.

Pandai besi telah ada sejak berpuluh abad lampau. Menurut arkeolog Titi Surti Nastiti dalam Pasar di Jawa Masa Mataram Kuna, cukup banyak prasasti yang menyebut keberadaan mereka. Kala itu, mereka dikenal sebagai pandai wsi (besi).

Beberapa desa di Jawa Tengah seperti Tanggung dan Kedok dikenal sebagai asal pandai besi sedari abad ke-8. Mereka mengolah bijih besi yang terdapat di dekat tempat tinggalnya, terutama wilayah perbukitan. Dari sini terbentuk jejala industri besi rumah tangga. Di pasar, mereka menjual karyanya berupa pisau, parut, loyang, cetakan kue, dan alat-alat pertanian.

Waktu itu, masyarakat Jawa menempatkan pandai besi pada posisi unik. Ada yang menganggap keahlian mereka tak lebih dari tukang sehingga status dan kelas sosialnya rendah. “Dalam beberapa naskah kesusastraan seperti Slokantara (abad ke-14) dan Agama Adigama, kelompok pandai dimasukkan ke dalam kelompok candala, yaitu kelompok masyarakat yang kedudukannya paling rendah,” tulis Titi.

Naskah Tantri Kamandaka, yang ceritanya diabadikan dalam relief Candi Jago (abad ke-13) di Malang Jawa Timur, memuat hal-ihwal musabab masuknya pandai besi ke kelompok candala. Mulanya, seorang pandai besi terlibat pencurian. Seorang brahmana lalu menolongnya. Namun pandai besi itu bukannya berterimakasih, malah menimpakan tuduhan pencurian ke brahmana. Raja marah dan menghukum brahmana ke penjara. Beberapa lama, barulah raja tahu kisah sebenarnya. Brahmana dibebaskan dan pandai besi dijatuhi hukuman mati.

Di sisi lain, menurut Titi, pandai besi memiliki kedudukan penting dalam masyarakat. Keterangan itu antara lain tersua dalam salah satu prasasti masa Sindok (abad ke-9). Termaktub pula di dalamnya sebutan bagi mereka, ‘mpu’. Gelar ini tak mungkin disematkan jika mereka hanya menjadi kelompok rendahan.

Indolog CF Winter mengemukakan, kedudukan pandai besi dapat terlihat dalam penamaan Candi Prambanan. Dia menduga kata Prambanan berasal dari Parambanan atau Poerambanan, yang berarti empu Rombo atau Rombo sang pandai besi. Karena itu, dia berpendapat pandai besi berkedudukan tinggi. “Namun Winter tidak membahas hubungan yang barangkali cuma kebetulan belaka antara seorang pandai besi semacam itu dan candi dimaksud,” tulis Roy Joordan, “Candi Prambanan Sebuah Pendahuluan Mutakhir,” termuat dalam Memuji Prambanan.

Sementara itu, menurut sejarawan Anthony Reid, keahlian mengolah besi dapat menjadi sarana penciptaan kekuasaan. “Pengerjaan barang-barang dari logam merupakan penciptaan kekuasaan, sebab alat-alat dari logam pertama-tama diperlukan untuk perang, baru sesudahnya untuk pertanian,” tulis Reid dalam Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga. Reid mencontohkan, cerita Ciung Wanara yang menyertakan pandai besi, dengan kekuatan magisnya, sebagai tokoh penting dalam perebutan tahta Kerajaan Galuh (abad ke-7-8).

Logam, khasnya besi, kerapkali dipandang sebagai simbol keteguhan dan kekuatan. Untuk mengolah besi, seseorang tak cukup hanya mempunyai keahlian kasar, tapi juga kehalusan batin agar besi tertempa sempurna. Tak heran, sebagian masyarakat kala itu menilai pandai besi menyimpan aura suci. Pada masa Majapahit, mereka dikumpulkan di ibukota untuk menjamin kekuatan perang balatentara Majapahit. Mereka dilindungi raja dan dijamin kesejahteraannya.

Ketika Majapahit perlahan runtuh, sebagian pandai besi memilih bertahan dan menurunkan keahliannya. Kelak, Kesultanan Demak dan Mataram menggunakan jasa mereka untuk memperkuat persenjataannya. Tak sedikit pula pandai besi yang menyebar ke wilayah pedesaan. Dua yang terkenal adalah kakak-adik, Empu Supo dan Empu Suro. Bersama pelarian lainnya, mereka menuju ke selatan lalu berhenti di sebuah hutan tak berpenghuni yang dirasa aman. Bangunan untuk tempat tinggal pun didirikan hingga tempat itu menjadi desa.

Empu Supo dan Empu Suro meneruskan usahanya membuat aneka pusaka besi seperti keris dan tombak. Pesanan mulai berdatangan. Penasaran, sejumlah orang segera mendatangi tempat itu yang kemudian disebut Kampung Pandean. Nama itu bertahan hingga sekarang untuk menyebut sebuah desa kecil di Umbulharjo, Yogyakarta. Keahlian mengolah besi pun lestari hingga kini pada segelintir penduduk. Beberapa di antaranya menisbatkan diri sebagai keturunan pandai besi zaman Majapahit. Status yang meninggikan mereka meski pekerjaannya dianggap kasar.

(Historia – Hendaru Tri Hanggoro)

Berita Terkait:
Aceh-Ottoman dalam Koin Emas
Kanibalisme di Nusantara
Perbudakan di Nusantara
Kitab Lelaki Sejati
Jejak Leluhur Manusia
Kisah Pemburu Kepala
Pengobatan Nusantara
Desa Pandai Besi yang Hilang
Yang Mati Yang Bercerita
Sumber : historia.co.id

Follow Historia : Facebook Facebook Pages Twitter

Berita Lainnya

Jejak Manusia Purba Asia Tenggara di Padangbindu. Pertanda Gugurnya Teori Out of Taiwan?

Perubahan fisik lingkungan alam di Indonesia tidak menyurutkan munculnya berbagai bukti tinggalan artefak budaya dan bukti kehidupan yang sekarang telah hilang musnah. Mongabay Indonesia dalam tulisan ini ingin mengajak pembaca untuk menelusuri masa-masa awal jejak awal manusia (homo sapiens) yang mendiami kepulauan Nusantara.

Jurnalis Mongabay-Indonesia, Taufik Wijaya menuliskan perjalanannya ke Goa Harimau, salah satu lokasi ekskavasi arkeologis penting di Sumsel yang mungkin suatu saat nanti akan mengungkap kebenaran dan merevisi teori utama yang dipercaya saat ini.

Motif lukisan dinding Goa Harimau mirip motif kain songket khas Palembang. Foto Taufik Wijaya

 

Goresan berwarna merah buatan Homo sapiens di dinding belakang Goa Harimau tampak sederhana.  Motifnya antara lain lingkaran, duri ikan, kotak-kotak, zig zag, serta guratan yang tak beraturan.  Sederhana tapi mampu menciptakan beragam imajinasi. Motif zig zag, kotak-kotak, maupun duri ikan mengingatkan saya pada pinggiran motif kain songket khas Palembang.

Melihat lukisan ini, mau tak mau sosok pun terbawa ke masa ribuan tahun yang silam.  Dalam visi imajinasi, saya melihat Homo sapiens yang sedang membawa kerabatnya yang telah meninggal, menggunakan sebuah rakit. Beberapa kali rakit mereka sulit menepi, terhempas derasnya air sungai Air Kaman Basa yang mengalir ke Sungai Ogan. Bagai pemanjat dinding batu, mereka membawa jasad ke dalam Goa Harimau yang lebarnya 45 meter dan tinggi sekitar 25 meter. Mereka pun mengubur jasad dan melakukan ritual memoriam, termasuk melukis di dinding goa.

 

***

 

Terkuaknya keberadaan kompleks goa di Padangbindu sebagai tempat hunian manusia purba, dimulai tahun 1999 saat dilakukan eksplorasi penelitian oleh Hubert dan Jatmiko di goa-goa karst di wilayah Desa Padangbindu.

Goa Harimau merupakan satu dari lima goa yang terdapat di karst Bukitbarisan di Desa Padangbindu. Goa lainnya Goa Putri, Selabe 1, Akar dan Karang Pelaluan. Goa yang paling besar yakni Goa Putri, yang letaknya di tengah dari empat goa lainnya. Diperkirakan kedalaman Goa Putri mencapai 150 meter, dan ketinggian sekitar 20 meter dan lebar 20-30 meter. Di Goa Putri ini terdapat goa lainnya, yakni Goa Penjagaan dan Goa Lumbung Padi.

Nama Goa Harimau sendiri diyakini berasal dari masyarakat setempat yang konon dulu sering mendengar auman harimau dari dalam goa ini.  Sebelum dibuka kembali oleh para arkeolog beberapa tahun silam, goa ini banyak dipenuhi semak, dan ditutupi sejumlah pohonan besar.

Berbagai penemuan artefak dan kerangka manusia purba yang diteliti para arkeolog, menyimpulkan hunian ini berlangsung sekitar masa 10.000-2.000 tahun lalu di sepanjang Sungai Ogan, terutama di Padangbindu. Kelima goa tersebut ditemukan bukti hunian manusia purba, baik ras mongolid maupun austromelanesid.

Selain goa-goa dan ceruk, juga dilakukan pengamatan terhadap sejumlah aliran sungai yang mengandung indikator temuan alat paleolitik seperti kapak perimbas, kapak penetak, kapak genggam, alat serpih, alat serut, kelompok alat jenis pick yang sudah mengalami rounded akibat arus sungai.

Alat tersebut berbentuk segitiga, agak meruncing di bagian ujungnya, dan dibuat dari fragmen fosil kayu. Selain itu didapatkan juga batu pukul dan kelompok batu inti yang bahan bakunya terbuat dari gamping kersikan dan chert (Jatmiko & Hubert Forestier, 2002 ).

 

Beragam artefak yang ditemukan di Goa Harimau. Foto Arkenas

 

Dari sejumlah goa hunian tersebut, saat ini yang paling menarik perhatian para arkeolog maupun sejarawan yakni Goa Harimau. Sejak 2008 hingga saat ini sudah ditemukan 78 kerangka Homo sapiens oleh Arkeologi Nasional (Arkenas) yang diperkirakan  usianya sekitar 3.500 tahun lalu. Menurut hasil ekskavasi posisi jasad yang dikuburkan beragam, ada yang menghadap barat, utara, timur, dan tidak sedikit yang dikuburkan berpasangan. Berbagai bentuk posisi kubur pun bermacam dari primer, sekunder, sampai terlipat dan terlentang.

M. Ruly Fauzi selaku koordinator Lapangan Ekskavasi Goa Harimau dari Center of Prehistory and Austronesian Studies (27/05/2014), menjelaskan pada kedalaman 1,2 meter penguburan Homo sapiens, ditemukan tulang belulang hewan, seperti ikan, monyet, babi, rusa, landak, badak, kerang, gading gajah, hingga kerbau. Di bagian bawahnya, terdapat artefak berupa serpihan batu obsidian, alat pipisan, dan alat tumbuk.

Menurut Ruly, artefak-artefak tersebut diperkirakan buatan Homo sapiens, sebab sebagian serpihan memiliki sisi tajam yang berfungsi sebagai pemotong. Terdapat pula tulang fauna, yang diduga dikonsumsi, yang dipotong menggunakan alat-alat tersebut. Ditemukan pula kerang-kerangan laut yang pecah, dibakar, dan dipotong. Termasuk jejak pengolahan hewan buruan seperti landak dan ikan air tawar. Penemuan kerang-kerangan laut ini memungkinkan indikasi bahwa lingkungan sekitar Goa Harimau sebelumnya adalah tepi lautan.

Selain lokasi penguburan, keunikan dari goa-goa karst Padangbindu adalah adanya temuan lukisan dinding gua yang mengindikasikan goa-goa ini telah ditinggali, sebelum akhir Zaman Es atau sekitar 20.000-10.000 tahun lalu.

Adhi Agus Oktaviana, Ketua Tim Penelitian Goa Harimau dari Pusat Arkeologi Nasional, Kamis (29/5/2014), mengatakan lukisan dinding itu diperkirakan berjumlah 34 motif. Lukisan tersebut diduga bagian dari ritual penguburan.

Berdasarkan catatan sejarah, sebelumnya lukisan dinding goa hanya ditemukan di timur Indonesia. Antara lain di Sulawesi Tenggara. Tepatnya di Mentanduro, La Kabori, Kolumbo, Toko, dan wa Bose, sedangkan ceruk-ceruknya di La Sabo, Tangga Ara, La Nasrofa, dan Ida Malangi. Lukisan dinding goa juga ditemukan di Papua dan Maluku. Penemuan lukisan di dinding goa ini adalah kali yang pertama di Pulau Sumatera.

Artefak logam juga ditemukan, usianya sekitar 3.500 tahun. Artefak logam ini sangat mirip dengan logam Dongsom di Vietnam. Ini menimbulkan dugaan Homo sapiens di Padangbindu telah melakukan hubungan dengan dunia luar, yang saat itu jaraknya sangat jauh.

Jika ekskavasi dihentikan saat ini, maka penemuan kerangka manusia hanya sampai pada kesimpulan bahwa di Padangbindu pernah menetap manusia pada masa penutur Austronesia (Mongolid Selatan). Pertanyaan pentingnya, apakah mungkin di Goa Harimau pernah hidup manusia modern, manusia modern awal, hingga manusia purba?

 

Mematahkan Teori  Out of Taiwan?

Sampai saat ini manusia purba tertua di Asia Tenggara ditemukan di Pulau Jawa yakni Pithecantropus Erectus. Tetapi penemuan tersebut belum meyakinkan para arkeolog maupun sejarawan, sebab hanya ditemukan dua kerangka. Bahkan salah satunya berupa tulang rahang, beberapa gigi, dan sebagian tulang tengkorak. Bukan sekelompok kerangka Homo sapiens yang lengkap seperti di Goa Harimau.

Itupun ekskavasi Goa Harimau baru dilakukan sekitar 4,8 meter. Jika tinggi Goa Harimau dari bibir sungai sekitar 30 meter, ada kemungkinan jika terus digali secara vertikal, bukan tidak mungkin akan ditemukan kerangka manusia purba dari masa palaeotik. Hal ini diperkuat dengan temuan artefak masa palaeotik di Sungai Ogan dan sekitarnya, seperti kapak genggam dan kapak pembelah.

Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi Badan Tenaga Nuklir Nasional pada 2013 berhasil mengidentifikasi lapisan tanah berusia 14.825 tahun pada kedalaman dua meter dimana didapati serpihan batu obsidian, alat pipisan, dan alat tumbuk.

Artinya, setidaknya ada manusia dari tiga tingkat budaya yang memanfaatkan Goa Harimau. Guna memastikan alur genetika Homo sapiens yang ditemukan tersebut, para peneliti dari Pusat Arkeologi Nasional bekerja sama dengan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, mengambil sampel gigi dan tulang Homo sapiens di Goa Harimau.

 

Kubur sekunder di Goa Harimau. Foto Arkenas

 

Pengarah Ekskavasi Goa Harimau dari Pusat Arkeologi Nasional Prof Harry Truman Simanjuntak, dalam wawancara tertulisnya dengan Mongabay Indonesia menjelaskan ada empat periode hunian di Goa Harimau.

Pertama, hunian pertama dan tertua oleh manusia modern awal berlangsung pada akhir Plestosen. Pertanggalan tertua yang tersedia hingga kini dari sekitar 14.500 tahun yang lalu. Periode ini masih terus diteliti untuk memperoleh kronologi hunian yang lebih tua lagi. Bukti-bukti hunian dari periode ini berupa artefak litik (dari bahan batu) dan sisa fauna buruan. ​

Kedua, hunian awal Holosen sekitar 12.000-3.500 tahun yang lalu. Sisa manusianya belum ditemukan, tapi jika membandingkan dengan wilayah lain pada periode itu kemungkinan besar dari ras Australomelanesid. Bukti-bukti hunian antara lain peralatan litik, alat tulang, sisa pembakaran, sisa hewan.

Ketiga, hunian Penutur Austronesia awal (leluhur Bangsa Indonesia yang pertama menghuni wilayah itu) dari sekitar 3.500-2.000 tahun yang lalu. Bukti-bukti hunian antara lain kubur-kubur manusia, tembikar, sisa fauna, perhiasan, alat tulang dan sisa pembakaran. Kemungkinan lukisan yang ada dibuat pada periode ini walaupun masih terbuka kemungkinan dibuat pada periode kedua.

Keempat, hunian Penutur Austronesia lanjut dengan pengaruh budaya logam pada masa protosejarah, dari sekitar 2.000-1.500 tahun yang lalu. Bukti-bukti hunian sama dengan yang ketiga di atas, tetapi ditambah dengan kehadiran benda-benda logam (perunggu dan besi) sebagai bukti telah berkembangnya hubungan dengan dunia luar.

​“Jadi seperti disinggung di atas, penelitian di Goa Harimau masih akan berlanjut terutama mencari hunian yang lebih tua di lapisan yang lebih dalam. Ini sangat penting untuk mengetahui kronologi lengkap hunian gua, sehingga bukti-bukti yang ada akan mengisi kekosongan hunian Sumatera selama periode ini,” tulisnya.

 

***

 

Kristantina Indriastuti, arkeolog dari Balai Arkeolog (Balar) Palembang, Jumat (18/7/2014),  bahkan yakin penemuan kerangka manusia purba yang usianya jauh lebih tua (Pithecantropus Erectus dan Meganthropus Paleojavanicus) dapat ditemukan di Goa Putri.

“Sebagai goa yang paling luas dibandingkan goa lain, jelas memungkinkan ditemukan kerangka manusia atau artefak lainnya di goa tersebut. Misalnya di Goa Lumbung Padi,” jelasnya.

Goa Lumbung Padi merupakan salah satu goa yang berada di teras Goa Putri. Pintu masuknya di sebelah timur. Ruangan ini cukup ideal untuk bertempat tinggal, karena kondisi lantai cukup kering dan sinar matahari cukup menerangi ruangan.

Goa Lumbung Padi mempunyai ukuran luas lantai 150 meter, tinggi mulut goa 9 meter dan lebar mulut goa sekitar 25 meter. Adapun komponen alami dalam goa terdapat stalaktit dan stalakmit, formasi ruang bertingkat dan sumber air terdekat terletak tidak jauh dari goa yaitu Sungai Semuhun. Sungai ini mengalir di depan Goa Putri dan mengalir keluar masuk melalui celah-celah goa.

 

Lokasi ekskavasi Goa Harimau. Foto Taufik Wijaya

 

“Kalau dilakukan ekskavasi saya percaya akan ditemukan kerangka manusia purba dan bukti kehidupan purba lainnya,” tegas Kristantina.

Kepala Balai Arkeologi (Balar) Palembang Nurhadi Rangkuti mengatakan penggalian juga akan dilakukan goa-goa lain di Padangbindu. “Prioritas ekskavasi di Goa Harimau karena manusia yang ditemukan bukan hanya ras mongolid juga austromelanesid, dan satu-satunya ditemukan lukisan dinding manusia purba di Sumatera,” katanya. Selain itu, lantai Goa Harimau jauh lebih dalam, sehingga membutuhkan penggalian dan penelitian yang lebih lama.

​Jika akhirnya ditemukan kerangka Pithecantropus Erectus dan Meganthropus Paleojavanicus di Padangbindu, kian mematahkan teori sebaran manusia dari utara ke selatan (Out of Taiwan) oleh Peter Bellwood di wilayah Asia Tenggara. Teori ini berdasarkan penyebaran bahasa. Sekarang teori ini banyak bertentangan dengan fakta.

“Menurut hemat saya dari fakta-fakta baru, baik berupa arkeologi, genetika atau DNA, dan lainnya, lebih mendukung sebaran sebaliknya, dari selatan ke utara,” kata Dr. Danny Hilman Natawidjaya, pakar gempa dari Puslit Geoteknologi LIPI, Jumat (18/7/2014). “Ahli yang mengusung teori sebaliknya atau yang sering disebut teori Out of Sundaland antara lain arkeolog Wilhelm Solheim, S. Oppenheimer dari Oxford, Richard Martin, dan masih banyak lagi,” tutur Hilman.

“Kesalahan terbesar yang sering terjadi, orang sering terlalu cepat menyimpulkan  dan fanatik dengan satu konsep saja, misalnya kalangan arkeolog umumnya selalu mencocok-cocokan dengan teori Out of Taiwan. Padahal belum tentu benar. Yang terpenting teliti sampai tuntas isi Gua Harimau itu. Saya dengar masalah umurnya saja kisarannya masih sangat panjang, dari 1.000-3.000-an sampai 6-10.000-an (tahun). Umur penting, misalnya ada kerangka yang berasosiasi dengan artefak alat atau barang pertanian dan berumur lebih dari 4.000 tahun lalu, maka jelas tidak cocok dengan teori Out of Taiwan,” pungkasnya.

Apakah persebaran manusia purba berasal dari Padangbindu? Untuk kemudian menyebar ke berbagai wilayah di Asia Tenggara melalui Sungai Ogan yang bermuara di Sungai Musi, terus mengikuti arus menuju ke Selat Bangka, yang dari sini, menuju selatan ke Laut Jawa dan ke utara menuju Laut China Selatan?  Suatu saat nanti diharapkan sains akan mampu menjawabnya.


Jejak Manusia Purba Asia Tenggara di Padangbindu. Pertanda Gugurnya Teori Out of Taiwan? was first posted on July 30, 2014 at 12:51 am.


0 Responses to “Historia : Pandai Besi Nusantara dan Jejak Manusia Purba Asia Tenggara”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,060,880 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: