20
Jul
14

PARRINDO : Kaum Nasionalis Pancasila 45 Amankan hasil PilPres

Logo NasPan45

Kaum Nasionalis Pancasila 45 Amankan hasil Pilpres

Sabtu, 19 Juli 2014 – 10:12 WIB

Pandji R Hadinoto

Suara Pembaca:

Kaum Nasionalis Pancasila 45 Amankan hasil Pilpres

Di tengah masih terjadinya ketidakpastian akibat perbedaan Quick Count antara 4 surveyor dan 7 surveyor lain pada 9 Juli 2014 dan real count sementara oleh beberapa pihak independen berdasarkan unggahan formulir C1 di http://www.kpu.go.id semisal oleh http://www.kawalpemilu.org maka menuju pengumuman resmi Real Count KPU 22 Juli 2014, suasana batin masyarakat pemilih dan para penggiat kedua koalisi partai-partai pendukung CaPres CaWaRes perlu terus turut dikawal dan disejukkan merujuk budaya jatidiri bangsa Indonesia yakni Pancasila sebagai pedoman hidup.

Dalam rangka itulah, Karakter Nasionalis Pancasila 45 digelorakan bersama seratusan penggiat Komunitas PERAK pada 18 Juli 2014 di Pelataran Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat.

Pembudayaan tentang Persatuan Indonesia yang bermakna turunan 7 (tujuh) butir amalan adalah relevan ditindaklanjuti yakni (1) Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.

Kemudian, (2) Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan, (3) Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa, (4) Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia, (5) Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, (6) Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika, (7) Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.

Dengan demikian, diharapkan bahwa Kaum Nasionalis Pancasila 45 yang terbangun di berbagai organisasi-organisasi sosial politik dan sosial budaya akan selalu mampu menjadi insan benteng Pancasila yang tangguh di mana pun berada.

Pandji R Hadinoto, Dewan Pakar PKPI

PARRINDO – Parlemen Rakyat Indonesia

 

LOGO PARRINDO

BERITA LAINNYA

Sumber Berita: http://www.edisinews.com


http://edisinews.com/berita-kaum-nasionalis-pancasila-45-amankan-hasil-pilpres.html#ixzz37yO9z9eq

Lembaga Survei Telah Memprovokasi Rakyat untuk Saling Bunuh

 

 

Rabu, 09 Juli 2014 – 18:51 WIB

Jakarta – Nampaknya, lembaga survei tidak menyadari bahwa akibat perilakunya yang provokatif akan membuat rakyat untuk bisa saling bunuh. Lembaga survei yang memunculkan hasil perolehan suara pasangan Capres-Cawpares di Pilpres 9 Juli 2014 dinilai keterlaluan karena kontroversial dan janggal akibat diduga bayaran atau pesanan sesuai pemberi duit.

Bahayanya, ada kelompok survei tertentu memenangkan Jokowi-JK tetapi kelompok survei yang lain memenangkan Prabowo-Hatta. Hal ini bisa memicu konflik dan perang horisontal antar masyarakat. “Lembaga survey yang tidak bertindak independen melalui Quick Count-nya ini telah memprovokasi rakyat untuk saling bunuh dan saling bantai,” ungkap Jurubicara Front Aksi Mahasiswa (FAM) Indonesia, Wenry Andhory, Rabu (9/7/2014).

Ia mengungkapkan, menurut sebuah lembaga survey independen yang dibayar sebuah perusahaan asing untuk melakukan Quick Count, hasil Pilpres 2014 adalah Prabowo 50 persen, Jokowi 50 persen. Namun, oleh lembaga survey yang tidak independen dan tidak kredibel karena telah dibayar oleh kedua tim sukses, hasil Quick Count telah direkayasa dan di mark up untuk dimenangkan oleh capres yg didukungnya.

“Lembaga survey yang mendukung Prabowo melakukan mark up suara untuk memenangkan Prabowo dengan selisih angka 1-2 persen di atas Jokowi. Sementara lembaga survey yang dibayar Jokowi telah melakukan mark up hasil Pilpres sangat tebal, memenangkan Jokowi dengan selisih suara 4-5 persen di atas Prabowo,” bebernya.

Wenry menegaskan, bila terjadi saling bantai dan saling bunuh antar pendukung kedua capres, maka lembaga survey bayaran yang harus disalahkan dan dimintai pertanggungjawaban. “Demi uang dan kursi kekuasaan, mereka para pengelola lembaga survey tega memprovokasi rakyat untuk saling bantai,” ungkapnya memprotes lembaga survei kampret.

“Selamatkan bangsa dan negara Indonesia! Kembali ke Pancasila dan UUD 1945!” seru aktivis mahasiswa ini. (ari)

 

BERITA LAINNYA

Sumber Berita: http://www.edisinews.com


http://edisinews.com/berita-lembaga-survei-telah-memprovokasi-rakyat-untuk-saling-bunuh.html#ixzz37yRKLVe3

Ketika Orisinalitas Jokowi Memudar

Share

antara / dok

Bagi “swing voters”, visi, misi, dan program kerja tak begitu menarik.

Salah satu ciri khas pemilihan umum di era modern adalah adanya keterlibatan lembaga survei yang sejak jauh-jauh hari sudah bekerja, bahkan sebelum tim sukses seorang kandidat bekerja.

Prediksi lembaga survei, meskipun kerap kontroversial karena terkadang jauh dari kenyataan, toh tetap diikuti dan dijadikan salah satu patokan dalam melihat peluang menang atau tidaknya seorang kandidat.

Karena itulah, Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi) yang selalu unggul dalam survei-survei, diberi mandat oleh Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri untuk maju sebagai calon presiden (capres).

Seperti Jokowi, Jusuf Kalla (JK) juga ditetapkan sebagai calon wakil presiden (cawapres) karena dari sekian banyak kandidat cawapres, dialah yang paling tinggi elektabilitasnya saat dipasangkan dengan Jokowi.

Namun, perlu segera dicatat bahwa dukungan politik yang tercermin dalam elektabilitas seorang kandidat tidak bersifat konstan. Itulah yang terjadi pada keunggulan Jokowi-JK atas Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

Lambat laun elektabilitas Jokowi-JK menurun dan membuat selisihnya semakin kecil saat dibandingkan dengan pasangan Prabowo-Hatta.

Hingga kolom ini ditulis, keunggulan Jokowi-JK sudah memasuki “lampu kuning” karena jarak elektabilitasnya tidak lagi signifikan.

Jarak tingkat elektabilitas dikatakan signifikan saat selisihnya melampaui margin of error (ME), yakni sekitar 10 persen atau lebih dengan asumsi ME yang ditetapkan sekitar 1-5 persen.

Terus menurunnya elektabilitas pasangan Jokowi-JK sudah bisa diprediksi, terutama karena dua faktor. Pertama, sudah menjadi semacam “hukum besi” survei bahwa menurunnya elektabilitas seorang kandidat yang awalnya sudah berada di puncak tidak bisa ditarik lagi ke puncak. Artinya, akan terus menurun walau tingkat penurunannya bisa cepat bisa juga lambat.

Kedua, keunggulan Jokowi sejauh ini terletak pada orisinalitas tampilannya yang bersahaja: sederhana, lemah (tidak berdaya), ndeso, tanpa balutan pencitraan, dan tak punya ambisi.

Tampilan semacam ini menjadi antitesis dari sosok Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang selalu ingin tampil sempurna, penuh pencitraan, dan ambisius.

Orisinalitas Jokowi menjadi magnet bagi rakyat untuk menyukai dan memilihnya karena ia dianggap benar-benar lahir dari tengah-tengah mereka.

Jika umumnya capres mengklaim berasal dari rakyat dan maju untuk memperjuangkan aspirasi rakyat, Jokowi justru dianggap bagian dari rakyat itu sendiri. Saat orisinalitas itu mulai memudar maka mulai berkurang pula dukungan rakyat pada dirinya.

Memudarnya orisinalitas itulah yang menurut saya membuat Jokowi bisa kalah oleh Prabowo. Itu karena Jokowi sekarang bukan lagi sosok yang tak berdaya, tidak lagi ndeso, bahkan lebih tampak sebagai sosok yang kuat, menjadi sang pemenang, pintar, dan atribut-atribut keunggulan lainnya.

Coba kita perhatikan, dalam perdebatan-perdebatan di televisi, baik saat tampil bersama dengan cawapresnya maupun sendirian, Jokowi atau Jokowi-JK selalu unggul dan membuat surprise. Umumnya para pengamat independen yang bisa menilai secara objektif.

Kita tahu, sebelum perdebatan terjadi, umumnya pengamat menduga Jokowi yang tidak pandai berpidato akan kalah telak oleh Prabowo yang orator. Begitu pun pasangannya, JK, bukan sosok yang fasih berpidato, seperti Hatta Rajasa yang menjadi pasangan Prabowo. Nyatanya, dalam perdebatan-perdebatan mengenai isu-isu yang krusial, Jokowi-JK selalu unggul dibandingkan Prabowo-Hatta.

Meskipun unggul dalam perdebatan, tampaknya “hukum besi” kecenderungan penurunan elektabilitas sudah tak bisa lagi di-rebound atau dikembalikan kembali pada posisi semula.

Jalan satu-satunya—untuk memenangkan pasangan Jokowi-JK—adalah dengan menghambat penurunan elektabilitas itu hingga sampai pada titik yang tidak tersalip saat pilpres digelar.

Ada yang berpendapat, penurunan elektabilitas Jokowi-JK, selain disebabkan kedua faktor di atas, juga karena faktor imbas kampanye negatif yang terus-menerus diembuskan, baik oleh lawan politik secara langsung maupun oleh pihak-pihak yang tidak menyukai kehadiran Jokowi-JK di panggung politik.

Pendapat ini tidak salah karena implikasinya jelas, dalam banyak kesempatan berbicara di hadapan publik, baik Jokowi maupun JK tampak sibuk dengan upaya-upaya klarifikasi.

Selain mengurangi kesempatan untuk mengampanyekan program-program yang konstruktif bagi rakyat, kesibukan klarifikasi juga membuat Jokowi-JK tampak bukan lagi menjadi sosok yang nrimo dan patut “dikasihani”.

Jokowi-JK menjadi sosok yang kuat, berani, dan mampu menangkis setiap serangan kampanye hitam yang ditujukan pada keduanya.

Orisinalitas Jokowi pun memudar atau bahkan hilang karena kesibukannya melakukan klarifikasi. Padahal orisinalitas itulah, yang apabila terus dipertahankan, akan lebih menarik bagi para pemilih yang belum menentukan pilihan (swing voters).

Bagi para swing voters, visi, misi, dan program kerja tidak begitu menarik karena antara keduanya tidak ada perbedaan yang signifikan.

Hal yang menarik bagi mereka adalah watak dan kepribadian capres-cawapres. Siapa di antara kedua pasangan yang unggul dalam kebersahajaan dan kejujuran (keluguan) itulah yang menarik bagi mereka.

Sayang, dua watak ini sekarang “direbut” Prabowo saat tampil di atas panggung debat dengan cara “menyetujui” dan “memuji” program dan penampilan Jokowi. Jika Jokowi-JK dan tim kampanyenya tetap membiarkan hal ini terjadi, bukan tidak mungkin pasangan ini akan benar-benar kalah pada 9 Juli nanti. Wallahu a’lam!

*Direktur Utama PT Sinar Harapan Media Holding.

Sumber : Sinar Harapan


0 Responses to “PARRINDO : Kaum Nasionalis Pancasila 45 Amankan hasil PilPres”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,060,795 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: