20
Jun
14

Peradaban : Leluhur Manusia Indonesia

0b028-panji-711132-715717

http://m.news.viva.co.id/news/read/512481-leluhur-manusia-indonesia

Leluhur Manusia Indonesia

Ada kerangka manusia berusia ribuan tahun di sejumlah gua nusantara.

Arfi Bambani Amri, Amal Nur Ngazis, Erick Tanjung, Aji YK Putra
(Palembang), Ochi April (Yogyakarta) | Jum’at, 13 Juni 2014, 23:31 WIB

Halaman ini berisi infografik dengan animasi flash, anda bisa melihatnya di
PC dengan browser yang sudah terinstal flash player

VIVAnews – Perlu berjalan kaki tiga jam mencapai Gua Harimau di Desa Padang
Bindu, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan. Dari dusun terdekat,
menanjak ke bukit, melintasi anak sungai sebelum bertemu ratusan anak
tangga.

Di akhir anak tangga, persis di depan sebuah gua yang menganga selebar 50
meter, terpancang sebuah plang bertuliskan, “Situs Gua Harimau. Situs ini
sedang dalam penelitian Pusat Arkeologi Nasional”.

Hanya tiga meter di belakang plang ini, terdapat dua lubang galian yang
dipagari kawat. Lubang galian yang terbesar berbentuk huruf L, dengan
panjang lebih dari 5 meter.

Saat dilihat lebih dekat, terdapat beberapa kerangka manusia yang terbujur
berjejer. Juga ada beberapa lokasi yang ditutupi dengan kotak-kotak
berbungkus terpal plastik. Mereka adalah hasil ekskavasi Tim Peneliti Pusat
Arkeologi Nasional sejak 2008 lalu.

Dulu, masyarakat takut mendekati gua ini. Seperti namanya, konon tempat
persembunyian harimau. Roli Chandra, juru kunci Gua Harimau, menceritakan,
gua ini juga pernah jadi tempat persembunyian warga saat penjajahan Belanda.

“Gua ini bisa menembus ke Gua Putri, dengan melintasi mulut gua sekitar 45
menit sampai ke atas,” ujar ayah tiga anak ini. Namun Tim Peneliti Arkenas
belum melakukan ekskavasi di Gua Putri.

Sejak tim peneliti berulang kali ke gua ini, masyarakat pun mulai berani
mendekat. Warga pun mulai menjadikan lahan sekitar gua untuk bercocok tanam
karet dan kopi.

“Dulunya ini hanya hutan lebat. Mau membuka lahan sebagai perkebunan pun
warga takut. Baru sekarang warga berani,” kata pria berusia 29 tahun itu.

Gua yang terletak 300 kilometer barat daya Ibu Kota Sumatera Selatan,
Palembang, ini menjadi sasaran riset arkeologi setelah pada 2008 silam
ditemukan lukisan gua. Ini lukisan gua pertama ditemukan di Pulau Sumatera.

Situs Gua Harimau

Lukisan di dinding Gua Harimau. (Foto: VIVAnews/Aji YK Putra)

Motifnya pun unik, seperti songket, kain khas Sumatera Selatan. “Beberapa
bulan kemudian, dilakukan penggalian dan ditemukan beberapa fosil,” kata
Roli yang ikut mendampingi peneliti sejak saat itu.

Dua Lapis

Dalam 5 tahun penelitian, Arkenas menemukan 76 kerangka manusia kuno
terkubur di Gua Harimau itu. Ada dua lapis tanah tempat kerangka ditemukan.

Di lapis pertama, kurang lebih 1 meter, ditemukan 72 kerangka yang
terbujur. Ketika digali lebih dalam, sampai ke 1,8 meter, ditemukan empat
kerangka dalam keadaan meringkuk, bukan terbujur lurus.

“Rentang usia keduanya itu antara 5.000 sampai 3.000 tahun. Kerangka bagian
atas lebih muda dari kerangka yang di bawah,” ujar Dyah Pratiningtyas,
salah satu peneliti Arkenas, menjelaskan soal penemuan itu.

Arkenas, lanjut Dyah, masih berupaya mengetahui apakah kerangka yang lebih
muda dan lebih tua ini berasal dari peradaban atau ras yang sama.

Spekulasi sementara, kerangka yang lebih tua adalah ras Austromelanesoid,
sementara yang lebih muda adalah Mongoloid. Arkenas sudah mengirimkan
spesimen gen mereka ke Lembaga Eijkman di Jakarta yang bisa mengekstraksi
DNA.

Hasil tes DNA atas sampel kerangka itu bisa mengungkap lebih jelas tabir
asal-usul kerangka individu itu. “Saya berpikir hasil DNA itu bisa kita
pakai untuk mencari relasi tersebut. Kalau yang dari Eijkman itu berhasil
membaca sinyal segala macam, kira-kira mereka dari mana, apakah mereka
orang lokal, apakah mereka pendatang baru kita bisa menjawab,” tambah dia.

Arkenas juga menyatakan masih ada kerangka manusia kuno yang lebih tua dari
usia kerangka manusia di Gua Harimau ini. Kerangka manusia di gua dekat
Gunung Sewu di selatan Yogyakarta berusia kisaran 10 ribu tahun.

Namun temuan kerangka manusia di Gua Harimau ini memiliki keunikan
dibanding temuan komunitas manusia di gua-gua Pulau Jawa, yang biasanya
hanya beberapa kerangka saja.

“Kita ada yang lebih banyak lagi, seperti di Gilimanuk, Bali sampai 200
individu, tapi dia di pesisir dan terbuka (open site), tidak di dalam gua.
Ini (Gua Harimau), saya pikir mungkin lebih dari 100 kalau dibuka semua,”

katanya.

Gua Harimau bukan satu-satunya gua di Sumatera tempat ditemukannya kerangka
manusia kuno. Di ujung utara Sumatera, tepatnya di Loyang Mendale dan Ujung
Karang, Kabayakan, Aceh Tengah, pada 2011 lalu, tim arkeolog Sumatera Utara
juga menemukan kerangka manusia kuno.

Usia kerangka mencapai 5.000 tahun, lebih tua dari bukti migrasi manusia
kuno di Sulawesi yang dianggap sebagai awal manusia Indonesia. Temuan
kerangka di situs Sulawesi berusia lebih muda, diperkirakan 3.580 tahun
lalu.

Kerangka di Loyang Mendale ini ditemukan terkubur dengan posisi kaki
terlipat. Di dekat kerangka, tim peneliti menemukan sejumlah artefak yang
sama dengan yang ditemukan di Thailand.

Ketua Tim Arkeologi Sumatera Utara, I Ketut Wiradiyana, menyatakan,
berdasarkan pemeriksaan DNA, kerangka itu diketahui berasal dari ras
Mongoloid dengan budaya Austronesia. Ketut menduga adanya perpaduan budaya
antara ras Mongoloid dengan budaya Austronesia yang datang dari utara
dengan ras Australomelanesoid yang berbudaya Hoabin saat mendatangi kawasan
tersebut.

Salah satu bukti kuat perpaduan budaya itu ada pada budaya menguburkan
orang mati dengan posisi melipat atau terlihat meringkuk. Kebiasaan melipat

itu, kata Ketut merupakan ciri budaya Hoabin yang kerap mendiami daerah
dataran rendah, pesisir. Tradisi jenazah dilipat ini masih tampak pada
sejumlah suku di Papua.

“Ini semakin menguatkan kemungkinan adanya jalur migrasi lain yang lebih
tua dari pada jalur migrasi dari Sulawesi seperti yang kita kenal selama
ini,” katanya. Dugaan itu makin kuat dengan temuan sejumlah kapak lonjong
dan gerabah poles merah. Kedua benda itu selama ini identik dengan kawasan
Indonesia bagian timur, di antaranya Sulawesi, Maluku dan Papua.

Perjalanan Panjang

Temuan itu kembali menghangatkan debat asal muasal manusia Indonesia. Teori
yang tak terbantahkan adalah semua manusia (Homo sapiens) di muka bumi
bernenek moyang dari Afrika atau dikenal sebagai Teori Out of Africa.

Situs Gua Harimau

Goa Harimau menjadi perhatian serius arkelog dunia. Foto: VIVAnews/Aji YK
Putra

Sebelum Gunung Toba meletus sekitar 74 ribu tahun yang lalu, Homo sapiens
telah tiba di Nusantara yang mana saat itu Sumatera, Jawa dan Kalimantan
masih merupakan bagian dari anak benua Asia atau dikenal sebagai Sundaland.
Setelah Toba meletus, sebagian besar populasi Homo sapiens punah.

Stephen Oppenheimer, genetikawan dari Inggris, menyebutkan terjadi bottle
neck populasi manusia saat itu, tersisa sedikit di Nusantara dan Afrika
sendiri. Jumlahnya sekitar 10.000 orang.

Orang-orang yang tersisa di Nusantara ini yang kemudian sekitar 50.000
tahun yang lalu, kawin-mawin dengan Homo denisova, hominid yang baru 2011
ini diketahui keberadaannya. Gen Denisova ini menetap antara 4-6 persen di
gen orang Melanesia yang kini menetap di Papua, Australia dan kepulauan di
Pasifik.

Fakta soal Melanesia sebagai penghuni pertama Nusantara ini tidak ada
perdebatan. Perdebatannya adalah, gelombang manusia berikutnya, yang
berbahasa rumpun Austronesia di mana Bahasa Melayu merupakan cabang
utamanya.

Teori Out of Yunan menyatakan, Austronesia ini berasal dari Yunan di China
Selatan. Arkeolog I Ketut Wiradiyana, salah satu pendukung teori ini.

Dia menyatakan besar kemungkinan migrasi manusia berasal dari China bagian
Selatan yang turun menuju kawasan Thailand, sebelum akhirnya menetap di
sebelah barat Indonesia atau di kawasan Aceh Tengah. “Seperti yang
diketahui, ras Mongoloid memang berasal dari daerah Cina bagian Selatan,”
katanya.

Sementara teori Out of Taiwan menyebutkan nenek moyang penutur Austronesia
ini berasal dari Formosa, nama lain dari Taiwan. Teori ini berlandaskan
pada temuan kesamaan bahasa dan budaya.

Di Taiwan terdapat tiga etnik asli yang berbahasa rumpun Austronesia serta
memiliki budaya tembikar dan cocok tanam yang sama. Teori ini disokong oleh
arkeolog senior dari Australian National University, Peter Bellwood.

Namun peneliti lain mengungkapkan justru manusia Indonesia merupakan moyang
manusia kawasan atau regional Asia Tenggara, saat paparan Sunda masih satu
anak benua besar. Teori Out of Sundaland ini dipelopori genetikawan asal
Inggris, Stephen Oppenheimer [Baca Wawancara dengan VIVAnews].

Oppenheimer menemukan, terjadi penyebaran drastis genetika sekitar 8.000
tahun yang lalu ke sekitar pulau-pulau di Nusantara. Kurun 8.000 tahun yang
lalu ini, menurut Oppenheimer, seiring dengan akhir zaman es yang ditandai
dengan tenggelamnya Sundaland.

“Bellwood berteori bahwa orang-orang datang dari Taiwan, menyebar di
Indonesia dan Filipina dan membunuh semua orang di daerah itu. Saya
membantah teori itu. Sebab yang terjadi sesungguhnya adalah sebaliknya.
Orang-orang Taiwan berasal dari sini,” kata Oppenheimer.

Namun kubu arkeologi belum bisa menerima argumentasi genetika ini. Wakil
Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Kerjasama
Fakultas Ilmu Budaya UGM, Dr. Daud Aris Tanudirjo, mengatakan mengatakan
dalam konteks persebaran moyang manusia Indonesia, lebih condong dengan
skema Out of Taiwan. Leluhur muncul dari Taiwan kemudian menyebar ke
Kalimantan, Sulawesi dan kemudian ke Sumatera dan Jawa.

“Tapi kalau dibilang (Sundaland) sebagai lokasi persebaran saya kira kurang
begitu tepat,” tuturnya. Sejumlah penemuan kerangka ras Mongoloid pun, kata
Daud, belum ada yang setua yang ditemukan di Taiwan.

“Sementara ini yang saya ikuti adalah penemuan terbaru bahwa asal-usul
orang Indonesia berasal dari Taiwan. Dan saya kira dengan adanya penemuan
terbaru di Liang Domeh, Pulau Matsu Taiwan, semakin menguatkan jika fosil
di Taiwan adalah yang tertua,” jelas dia.?

Dyah, peneliti dari Arkenas, menyatakan, untuk membangun sebuah teori
arkeologi, tidak hanya butuh satu bukti artefak saja. “Perlu banyak data
untuk bentuk suatu hipotesa. Kalau baru satu titik, itu baru asumsi. Belum
bisa dikatakan hipotesa, dibutuhkan bukti lain untuk mendukung temuan ini,”
jelasnya.

Peta Genetika Indonesia

Namun arkeolog membuka diri pada genetika sebagai jalan menelusuri
asal-usul. Deputi Direktur Lembaga Eijkman Jakarta Herawati Sudoyo
menyatakan lembaganya bekerjasama dengan Pusat Arkeologi Nasional meneliti
gen kerangka manusia kuno yang ditemukan arkeolog di sejumlah tempat di
Indonesia.

Peneliti mengambil sampel DNA mitokondria yang merupakan warisan dari ibu
kepada anak dan kromosom Y yang diwariskan dari ayah. Menurut Herawati,
penelitian menggunakan mitokondria dan kromosom Y ini memiliki kelemahan
yakni sulit melihat adanya percampuran gen. Percampuran gen bisa diteliti
dengan riset otosom atau riset menyeluruh atas genetika seseorang.

Meski demikian, Herawati mengatakan studi gen dari sisi mitokondria akan
membuka informasi mutasi gen saat manusia bermigrasi. Hera menjelaskan
perjalanan migrasi, yang berbeda lingkungan dan kehidupan, akan menambah
motif gen pada manusia itu.

Jadi tak heran, kata dia, jika ditemukan adanya percampuran atau haplotipe,
dari Asia daratan masuk ke Formosa dan dilanjutkan turun ke wilayah
Indonesia.

Situs Gua Harimau
Arkeolog meneliti genetika untuk mengetahui asal-usul Fosil. Foto:
VIVAnews/Aji YK Putra

Eijkman, kata Herawati, mengumpulkan hampir seluruh sampel genetika etnis
yang ada di Indonesia. Ia mengatakan studi gen tidak akan berhenti sampai
proses pemetaan. Tetap akan dilakukan untuk meneliti lebih detail dan lebih
khusus tiap suku bangsa.

Dalam peta gen orang Indonesia yang sudah terpetakan, secara ringkas tampak
adanya pola migrasi manusia dari Barat ke Timur bagian Indonesia. Pola ini
ditandai dengan warna tertentu. “Dari peta DNA-nya terlihat, misalnya
wilayah Papua itu hijau muda, genetika sukunya kelihatan. Totally semua
hijau,” ujar Hera.

Sementara di belahan barat Indonesia, umumnya hijau tua. Pengecualian di
wilayah Sumatera Barat, terdapat pola dua gen berbeda yaitu hijau tua dan
hijau muda sekaligus.

Total, Eijkman menemukan 32 klaster genetika manusia Indonesia yang secara
umum terbagi atas tiga kelompok besar. Pertama, kelompok genetika Melayu,
Minang, Jawa, Kalimantan; kedua, kelompok Makassar, Sumba, Minahasa; dan
ketiga, kelompok Papua dan Alor. Kemudian terdapat juga kelompok kecil yang
terpisah jauh dan diperkirakan lebih tua dari dua kelompok pertama yakni
Nias-Mentawai.

Pembuktian gen manusia Indonesia juga makin menantang setelah ditemukannya
gen Homo denisovan, yang kerangkanya ditemukan di Siberia, Rusia, pada gen
orang Melanesia yang kini menghuni Papua dan Australia.

Herawati mengakui adanya temuan gen Denosivan itu namun peneliti Eijkman
sejauh ini belum menemukan hasil yang signifikan. Sejauh ini, Eijkman sudah
mengonfirmasi, ada kawin-mawin Homo sapiens dengan Homo neandertal.

“Perkawinan Homo Neandertal dengan manusia biasa memang ada. Kebetulan kami
tengah bekerjasama dengan peneliti yang mengerjakan Neandertal,” ujar
Herawati.

Pada masa depan, lanjut dia, pemetaan gen bukan saja bermanfaat untuk
melacak asal-usul, namun juga untuk mendukung kesehatan masyarakat. Hera
mengatakan nantinya gen dapat digunakan untuk alat prediksi kecenderungan
penyakit yang berkembang pada berbagai populasi masyarakat di Indonesia.

Dia mencontohkan, penyakit turunan yang umum melanda orang Indonesia yaitu
talasemia. Meski tidak menjadi pencegah sepenuhnya bagi penderita
Talasemia, namun setidaknya peta gen itu bisa menjadi panduan untuk
pencegahan. (ren)

Kontributor VIVA.co.id Budi Satria turut melaporkan dari Medan


0 Responses to “Peradaban : Leluhur Manusia Indonesia”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,062,175 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: