05
Jun
14

Kuliner : Rendang Tidak Dapat Dipatenkan

http://www.antaranews.com/berita/437354/rendang-tidak-bisa-dipatenkan

Rendang tidak bisa dipatenkan

Rabu, 4 Juni 2014 17:27 WIB | 3557 Views

Pewarta: Anom Prihantoro

Rendang tidak<br /><br /><br /><br /><br /><br />
        bisa dipatenkan

Ilustrasi seorang ibu tengah “merendang gulai” (mengaduk sampai kering) hingga menjadi rendang. Dengan berbagai bumbu dan santan yang merendam irisan-irisan dagin sapi, rendang yang kering menjadi sangat lezat disantap. (FOTO ANTARA/Iggoy el Fitra)

… harus menyebarkannya dan mempopulerkannya. Justru kita harus bangga… “

 

Jakarta (ANTARA News) – Jajak pendapat CNN menyatakan rendang sebagai masakan terlezat, yang menurut mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, Dino Patti Djalal, tidak bisa dipatenkan.

“Makanan itu tidak bisa dipatenkan seperti juga warisan budaya lain bahasa Indonesia,” kata dia, di jumpa pers Luvinary Indonesia Adventure, di salah satu hotel di Thamrin, Jakarta, Rabu.Dia mengatakan, makanan warisan yang perlu dilindungi tetapi tidak perlu sampai dipatenkan.”Jangan pernah merasa takut jika ilmu memasak makanan Indonesia seperti rendang akan dicuri negara lain.”Dia justru menyarankan masyarakat terus memopulerkan kuliner Indonesia sehingga menjadi kelas dunia, tanpa harus mematenkannya.”Kita harus menyebarkannya dan mempopulerkannya. Justru kita harus bangga sampai pada tahap membawa makanan Indonesia dikenal dunia.””Setidaknya ada dua tipe manusia dalam hal ini, yaitu inlander dan enterpreneur. Bagi yang menjadi inlander kita akan merasa dijajah dunia, sementara bagi individu berjiwa enterpreneur akan mencoba menaklukkan dunia. Jika kita bisa berjiwa enterpreneur maka makanan seperti rendang bisa menjadi kelas dunia,” kata dia.Dia mengibaratkan makanan dari negara lain yang banyak ditemui di Indonesia dan tidak dipatenkan.

“Banyak kok makanan Tiongkok di sini berikut restorannya. Mereka yang membuka restoran dengan menu kuliner Tiongkok juga tidak perlu mendapatkan ijin menggunakan hak paten dari negara asalnya,” katanya.

Senada dengan dia, Kepala Kanwil Hukum dan HAM Sumatera Barat, Sudirman D Hury, mengatakan, rendang tidak mungkin dipatenkan karena sudah menjadi domain atau milik umum. “Siapa saja bisa membuat rendang tersebut dan bisa mengakui itu adalah miliknya,” kata dia.

Editor: Ade Marboen

COPYRIGHT © 2014

Dino Djalal sarankan tampilan kuliner Indonesia diperbaiki

Rabu, 4 Juni 2014 19:52 WIB | 2829 Views

Dino Djalal sarankan tampilan kuliner Indonesia diperbaiki

Pakar kuliner Sisca Soewitomo (kanan) bersama juru masak, Henry Alexie Bloem (kiri), memasak makanan dari hasil laut dalam acara Butik Kuliner Nusantara bertajuk “Pesona Racikan Hidangan Khas Sulawesi” di Hotel Clarion, Makassar, Sulsel, Rabu (27/3). Butik kuliner Nusantara digelar untuk mengangkat kembali berbagai hidangan tradisional Nusantara agar lebih dikenal secara luas oleh masyarakat. (FOTO ANTARA/Dewi Fajriani)

… masakan asli Indonesia di seluruh dunia tampilan dan promosinya masih kalah dari kuliner asal Thailand dan Jepang… “

 

Jakarta (ANTARA News) – Mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, Dino Patti Djalal, menyarankan para pengusaha makanan asli Nusantara di Indonesia dan seluruh dunia untuk memperbaiki tampilan produk agar mampu bertahan di pasar.

“Saya pernah ke London dan di sana ada restoran Minangkabau yang enak makanannya dan laris. Tapi belakangan resto itu tutup hanya karena tidak mampu eksis, karena tampilan makanannya kurang inovatif,” kata dia, di Jakarta, Rabu.

Dia katakan itu dalam acara penutupan Kompetisi Memasak Kuliner Indonesia dan Luv Indonesia Culinary (Luvinary), di kawasan Thamrin, Jakarta.Dia mengatakan terdapat kecenderungan para pengusaha kuliner yang menjajakan makanan asli Nusantara kurang memperhatikan desain tampilan makanan yang memiliki arti penting.”Tampilan makanan memiliki daya tarik bagi para pecinta kuliner. Untuk promosi makanan secara umum yang saya lihat adalah kita kurang memperhatikan aspek desain.””Bisa kita lihat kuliner dari Thailand; desainnya bagus. Terdapat kombinasi yang baik antara makanan yang enak tapi di mata bagus sehingga meningkatkan selera,” kata dia.

Senada dengan dia, koki Yono Purnomo mengatakan, tampilan makanan memiliki nilai penting dalam menarik minat para pecinta kuliner.

“Memang sejauh ini masakan asli Indonesia di seluruh dunia tampilan dan promosinya masih kalah dari kuliner asal Thailand dan Jepang,” kata dia.

“Kenapa tampilan itu penting? Kita sebagai penikmat makanan tentu hal pertama yang dilihat adalah tampilan makanan. Jika tampilannya menarik tentu bisa memancing selera siapa saja untuk memakannya,” kata Purnomo.Sebagai pengusaha kuliner di AS selama lebih dari 35 tahun, dia mengakui terdapat tantangan besar terkait promosi makanan Indonesia.”Promosi perlu digencarkan lagi. Perlu diingat jika tiga makanan Indonesia ternyata masuk dalam 20 besar makanan terlezat versi jajak pendapat CNN. Bahkan rendang ada di posisi pertama diikuti nasi goreng di peringkat dua dan sate ayam ada di urutan 19,” kata dia. 

Kuliner Indonesia ditargetkan sepopuler Thailand

Rabu, 4 Juni 2014 13:00 WIB | 2685 Views

Kuliner Indonesia ditargetkan sepopuler Thailand

Ilustrasi – Kuliner Indonesia, sate ayam. (FOTO ANTARA/Siswowidodo)

Untuk itu memang kuliner Indonesia perlu digencarkan lagi promosinya

 

Jakarta (ANTARA News) – Diaspora Indonesia menargetkan mampu mempopulerkan kuliner asli Indonesia yakni rendang, nasi goreng dan sate ayam sehingga pencitraanya mampu setara dengan makanan dari Thailand.

“Polling CNN menempatkan tiga masakan Indonesia sebagai makanan paling lezat di dunia, sayangnya masih belum sepopuler masakan dari Thailand dan Jepang,” kata Wahid Supriyadi, kepala Desk Diaspora Indonesia Kementerian Luar Negeri di kawasan Thamrin, Jakarta, Rabu.

Menurut dia, Indonesia kalah memulai dalam mempromosikan kulinernya di negara-negara dunia terutama di Barat.

Berdasarkan data CNN dari polling tentang makanan terlezat dunia, rendang berada di urutan pertama disusul nasi goreng di peringkat kedua sedangkan sate ayam ada di posisi 19.

“Untuk itu memang kuliner Indonesia perlu digencarkan lagi promosinya,” kata dia.

Diaspora Indonesia yang tinggal dan berdomisili di luar negeri telah mempromosikan kuliner-kuliner Indonesia lewat berbagai cara.

Sebagian dari mereka telah mendirikan restoran Indonesia di luar negeri, memperkenalkan kuliner Nusantara di hotel-hotel berbintang kelas dunia, memperkenalkan dan mengupayakan masuk serta tersedianya bumbu, rempah serta bahan makanan Indonesia.

“Biasanya, semakin banyak Diaspora Indonesia di suatu tempat, maka kemungkinan akan adanya restoran Indonesia di wilayah tersebut akan semakin besar,” kata dia.

Sebagai contoh, Diaspora Indonesia di Amerika Serikat tercatat sekitar dua ratus ribu orang yang terkonsentrasi di Los Angeles, San Fransisco dan New York. Namun jumlah restoran Indonesia di wilayah-wilayah itu belum sebanding dengan jumlah Diaspora Indonesia.

Wahid mengatakan Diaspora Indonesia adalah orang, warga negara, penduduk berikut keturunannya dari warga negara atau penduduk termasuk yang menikah dengan orang Indonesia.

Siapapun yang mencintai Indonesia dan bersedia untuk terlibat untuk memperluas jaringan koneksi, melipat gandakan peluang dan meningkatkan kemakmuran bersama untuk Indonesia juga tergolong sebagai Diaspora Indonesia, kata Wahid.

Editor: Fitri Supratiwi

COPYRIGHT © 2014

Indonesia bisa tiru cara Thailand promosikan kuliner

Kamis, 22 Mei 2014 13:18 WIB | 3966 Views

Beijing (ANTARA News) – Penulis dan pelopor pembentukan komunitas wisata boga Jalan Sutra, Bondan Winarno, mengatakan Indonesia bisa meniru cara Thailand mempromosikan kuliner untuk memperkenalkan khazanah makanan tradisional Tanah Air ke mancanegara.

Saat berbincang dengan Antara di Beijing, Rabu malam, Bondan menuturkan Thailand terbukti berhasil menduniakan makanan tradisionalnya dengan “Thai Kitchen to The World”, program promosi pariwisata lewat kuliner.

Langkah pemerintah dan pemangku kepentingan Thailand menggunakan kuliner sebagai media promosi sudah membuahkan hasil. Restoran-restoran Thailand kini bermunculan di berbagai belahan dunia.

“Dari target sekitar 10.000 restoran di seluruh dunia, kini hanya kurang dari lima tahun sejak program itu diluncurkan, telah ada 20 ribu restoran Thailand di selruh dunia,” kata Bondan, yang berada di Beijing untuk menghadiri penyerahan penghargaan Gourmand World Cookbook Awards.

“Sehingga, walau tak ke Thailand, orang-orang seluruh dunia dapat merasakan masakan Thailand. Orang London misalnya, jadi suka makan makanan Thailand. Lalu berpikir musim panas nanti mau liburan ke Thailand, sebab makan di tempat aslinya tentu lebih enak. Akhirnya jadi berdampak ke pariwisata,” jelas dia.

Indonesia, lanjut dia, punya lebih banyak ragam makanan dibandingkan negara Gajah Putih itu dan bisa menggunakan cara serupa untuk menduniakan kekayaan makanan tradisional Tanah Air.

“Di Sumatra ada masakan Padang, ada Minangkabau, yang ada pula masakan Kapau dan lainnya. Tiap daerah memiliki ragam kuliner yang berbeda,” katanya.

Menurut dia, pemerintah, swasta dan pengiat kuliner mesti segera menyatukan visi untuk membawa kuliner tradisional nusantara ke masyarakat internasional.

Pemerintah dan para pemangku kepentingan terkait, lanjut dia, seharusnya sudah menajamkan visi dan menentukan arah promosi kuliner Indonesia.

“Ini memang perlu komitmen kuat dari semua pihak, tidak saja pemerintah, tetapi semua pemangku kepentingan terkait,” katanya.

“Indonesia telah menetapkan 30 ikon kuliner nusantara untuk dipromosikan ke mancanegara dan itu sangat baik… Namun kesatuan visi itu penting supaya promosi 30 ikon kuliner nusantara itu semakin maksimal hasil dan dampaknya bagi Indonesia,” katanya.

Penghargaan buku masakan

Bondan berada di Beijing untuk menerima Gourmand World Cookbook Awards untuk buku resepnya yang berjudul “100 Makanan Tradisional Indonesia, Mak Nyus”.

Dalam ajang penghargaan bagi buku kuliner terbaik ke-19 di Beijing, Tiongkok, yang berlangsung selama 20-21 Mei 2014 penulis buku memasak Indonesia Reno Andam Suri juga mendapat penghargaan khusus untuk buku “Rendang, Minang Legacy to The World”.

Sementara Dr Samuel Oetoro serta Erwin dan Jana Parengkuan mendapat penghargaan untuk buku “Smart Eating.”

Ajang penghargaan bagi para penerbit, penulis buku, jurnalis dan penggiat kuliner itu kali ini diikuti oleh sekitar 187 negara.

 

Editor: Maryati

COPYRIGHT © 2014

Advertisements

0 Responses to “Kuliner : Rendang Tidak Dapat Dipatenkan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,150,513 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: