30
Apr
14

Kenegarawanan : Tukang Survei

merah putih

Tukang Survei

Oleh: Moh Mahfud MD

 

Kekeliruan, bahkan kesalahan, berbagai hasil survei politik kembali terjadi secara mengejutkan ketika pada 9 April 2014, sekitar jam 17.00 WIB, hasil quick count (hitung cepat) pemungutan suara untuk pemilu legislatif (pileg) diumumkan.

 

Ternyata, kembali terjadi perbedaan yang tajam antara hasil-hasil survei sebelumnya dengan hasil hitung cepat seperti yang terjadi pada Pilgub DKI Jakarta pada 2012. Pada Pilgub DKI Jakarta, sampai hari-hari terakhir menjelang pemungutan suara, hampir semua hasil survei menyebut Foke-Nara sebagai pemenang signifikan. Tetapi, hasil pilgub membuktikan kesalahan berbagai survei karena yang menang ternyata Jokowi-Ahok, pasangan calon yang sebelumnya diremehkan berbagai survei. Pada Pileg 2014 kesalahan-kesalahan hasil survei tampak mencolok juga.

 

Partai-partai berbasis massa Islam yang semula diduga akan terkubur karena merosotnya kepercayaan masyarakat ternyata meningkat secara mengejutkan dengan kumulasi perolehan sampai sekitar 31%. Partai Golkar yang semula diunggulkan dengan kisaran suara 19% ternyata hanya meraih 15%. Perolehan PDIP terpaut signifikan dari hasil survei maupun targetnya. Kejutan perlawanan hasil hitung cepat terhadap hasil-hasil survei sebelumnya tampak jelas pula pada beberapa partai.

 

Partai NasDem yang oleh banyak survei dilihat secara pesimistis karena untuk mendapat 3,5% saja dianggap susah ternyata mendapat hampir 7%, menyamai partai lama, Partai Persatuan Pembangunan yang juga mengalami kenaikan sedikit. PKS yang karena terpaan isu korupsi hanya akan bertahan pas-pasan di dekat parliamentary threshold, ternyata mampu bertahan di posisinya pada kisaran 7%. PKB pun meroket secara mengejutkan dari perolehan Pileg 2009 sebesar 4,8% menjadi sekitar 9,1%.

 

Padahal sebelum pileg banyak survei yang selalu meletakkan PKB pada perolehan sekitar 4%, bahkan ada yang tega meletakkan di bawah parliamentary threshold 3,5%. Ada juga yang memang mendekati hasil survei yakni fakta bahwa PBB dan PKPI benar-benar tidak masuk ke parliamentary threshold. Begitu pula, meski angkanya kurang akurat, hasil survei menyatakan bahwa Partai Demokrat akan terjun bebas sesuai hasil pileg karena terjun dari 20% ke kisaran 9%. Hasil-hasil survei politik belakangan ini memang banyak yang meleset sehingga tak lagi bisa dijadikan pegangan sebagai produk kerja ilmiah yang logis dan predictable.

 

Hasil survei dan hasil pemilihan yang sesungguhnya kerapkali berbeda secara mengejutkan. Kalau metodologinya benar, mestinya hasil-hasil survei lebih banyak benarnya daripada salahnya, bahkan tingkat kesalahannya sudah bisa diukur sebelumnya oleh metode dan hasil survei itu sendiri yang dibatasi dengan margin tertentu. Ketika itu ditanyakan kepada pembuat survei, jawaban yang sama selalu dikemukakan bahwa hasil survei hanya memotret pada saat dilakukan survei dan bisa berubah pada saat-saat akhir.Ya, juga sih.

 

Survei memang potret saat dilakukan wawancara. Tetapi, tentu itu bukan jawaban yang tepat. Kalau jawabannya hanya begitu, ya tak perlu survei-surveian segala. Mestinya ada metode agar perbedaan itu tak terjadi dengan sangat mencolok. Mungkin benar yang dikatakan Dradjad Wibowo, banyak intelektual dan lembaga survei yang belakangan ini melacurkan diri, tidak melakukan survei dengan cara-cara profesional-ilmiah sehingga survei lebih banyak melesetnya atau malah dipelesetkan asal mendapat uang. Sekarang ini banyak lembaga survei yang mengerjakan survei sudah didahului dengan tendensi politis tertentu.

 

Bahkan ada penyurvei yang membawa lembaganya untuk menjadi tim sukses atau konsultan salah satu kontestan dalam sebuah kontestasi politik. Berusaha seobjektif apa pun, kalau sudah menjadi tim sukses atau konsultan suatu kontestan, akan menyebabkan hasil survei tak lagi akurat karena akan diarahkan membentuk dan menggiring opini untuk menguntungkan kliennya. Waktu saya masih ketua MK, ada pimpinan lembaga survei yang mengurus perkara kliennya yang diperkarakan di MK. Luar biasa. Dalam kenyataan kita sering dikagetkan oleh munculnya satu lembaga survei secara tiba-tiba yang kiprahnya belum pernah terdengar.

 

Tiba-tiba lembaga ini memasukkan nama orang yang tadinya ada di luar pusaran tokoh-tokoh populer menjadi bagian dari tiga atau lima besar. Kemasan metodologinya okey juga, tetapi substansinya tak masuk akal. Kemasan yang dipergunakan misalnya menyebut melibatkan 1500 orang di 33 provinsi yang diwawancarai secara langsung dengan toleransi kesalahan 2% dan berbagai tetek bengek kemasan lainnya. Dari kemasan yang seakanakan ilmiah itu dimunculkanlah orang yang sebenarnya tidak masuk dalam survei atau tidak pernah disurvei.

 

Itulah sebabnya banyak hasil survei yang tak sesuai hasil pemilihan yang sesungguhnya. Membaca fakta maraknya penyurvei yang instan dan tak jelas belakangan ini saya teringat pernyataan Gus Dur pada awal 1990-an bahwa di Indonesia banyak sekali ilmuwan tukang yakni ilmuwan yang menggunakan kepandaiannya untuk menukangi temuan ilmiah sesuai pesanan.

 

Sekarang pun banyak penyurvei dan lembaga survei yang tidak bekerja pada prinsip objektivitas-ilmiah, tapi bekerja sesuai pesanan. Mereka menukangi rencana dan hasil survei agar sesuai keinginannya sendiri atau pesanan klien sehingga lebih tepat disebut sebagai tukang survei atau ahli menukangi survei. []

 

KORAN SINDO, 12 April 2014

Moh Mahfud MD ; Guru Besar Hukum Konstitusi

Al Faqir Ilmi MENGUNGKAP KECURANGAN PEMILU 9 APRIL 2014 (???)

BY @TrioMacan2000

MENGUNGKAP KECURANGAN PEMILU 9 APRIL 2014 (???)

 
BY @TrioMacan2000
 
Eng ing eeng .. Kemarin sore kami diundang seorang ketua partai politik utk mendiskusikan kecurangan – kecurangan pemilu 2014. Kebetulan pada saat yang sama, PDIP melalui Hasto Kristianto dan Timses Jokowi (Andi Widjajanto cs) juga membahas kecurangan pemilu.
 
Diskusi kami dengan ketua partai itu dimulai dgn satu pernyataan pembuka : apa pun hasil pemilu & pilpres, semua tergantung maunya istana. Kami sdh pernah bahas bahwa pemenang pemilu 2014 ini sebenarnya adalah SBY. Bukan PDIP, Golkar, Gerindra dst. Hasil pemilu sdh diatur. Hasil pemilu sdh direkayasa. Sdh diatur sedemikian rupa sesuai maunya SBY, Sudi Silalahi, KPU dan KPUD. Hasilnya sesuai rencana mereka. Tidak usah bicara Pilpres jika hasil pemilu tdk dieksaminasi. Tdk ada guna, krna siapa pun pemenang pilpres ditentukan oleh Istana & KPU. Istana dan KPU merekayasa agar PDIP dapat suara hanya 18%, Golkar 16%, Gerindra 12%, P Demokrat 10%, dan seterusnya. Mau buktinya?
 
Bukti 1. Formulir C-1 tidak mau diserahkan PPS kepada caleg atau saksi caleg atau pemantau pemilu. Siapa yg kuasai? KPUD, Polres, Kodim
 
Bukti 2 : KPU mengapus atau meniadakan layar monitor TABULASI perhitungan sementara yang pada pemilu2 sebelumnya PASTI ADA.
 
Tanpa ada Layar Monitor Tabulasi Suara Sementara, rakyat tidak punya akses untuk mengetahui perhitungan suara yang sebenarnya. Layar Monitor Tabulasi Suara Sementara adalah sarana bagi rakyat utk mengetahu update perhitungan suara ril. Dari detik ke detik dst. Meski begitu, pada pemilu 2009, terbukti IT Tabulasi Suara direkayasa, dibuat “hang” selama beberapa jam, diganti dgn yg sdh direkayasa. Pada Monitor Tabulasi Suara Pemilu 2009 di Hotel Borodudur, awalnya ditampilkan adalah Tabulasi milik KPUD DKI berlambang Monas. Setelah “hang” 9 jam, diganti dgn Layar Monitor KPU yang sebenarnya namun sdh diprogram menampilkan hasil sesuai rekayasa KPU. Namun, untuk pemilu 2014 ini, TIDAK diketahui alasannya, KPU menghapus / meniadakan Penayangan Tabulasi Suara Sementara. Gila ! Anehnya, TIDAK ADA satu pihak pun yang mempertanyakan keputusan KPU yang sangat mencurigakan itu. Partai2 diam semua. Kenapa?. Karena sebagian partai yaitu : PKS, PPP, PKB, PAN, Demokrat, Gerindra, Golkar sdh sepakati koalisi sejak awal : “Koalisi Cikeas”. Hasil pemilu 2014 sdh direkayasa. PAN, PKS, PPP, PKB (partai sekoci cikeas) diatur mendapatkan jumlah kursi relatif sama di DPR
 
Bukti 3 : perolehan suara PKS, PKB, PPP, PAN, PPP terbukti beda jauh sekali dgn hasil survey electabilitas sebelum pemilu
 
Sebelum pemilu, electabilitas partai2 itu hancur : PAN (1.7%), PKS (2.6%), PPP (3.1%), PKB (3.4%), Demokrat (4.1%), Gerindra (6.3%). Namun hasil pemilu 2014 (setelah direkayasa/diatur) : PKS 7%, PKB 9%, Demokrat 11%, PPP 7%, PAN 7.4%, Gerindra 12%. Semua naik > 100%. PAN, PKB, PPP, PKS dan PPP kami juluki sebagai Partai SEKOCI CIKEAS. Mereka dapat bantuan Cikeas dan KPU utk manipulasi hasil pemilu. Bagaimana caranya? Mudah sekali. Formulir C-1 diutak atik sebelum direkapitulasi KPUD dan disahkan dlm rapat pleno KPUD. Tdk ada kontrol
 
Bukti 4 : program E KTP yang sengaja digagalkan jadi back up rekayasa hasil pemilu 2014. Berapa puluh juta suara fiktif bisa ditambahkan
 
Bukti 5 : KPU terbitkan peraturan KPU bahwa siapa saja yg belum terdaftar di DPT dapat memilih asal bisa tunjukan KTP asli. Faktanya?
 
Faktanya : Peraturan KPU itu tdk dilaksanakan jika ada WNI yg mau daftar susulan. Peraturan itu hanya back up manipulasi suara Pemilu. Melalui peraturan tsb, KPUD, Polres dan Kodim atau oknum2 tertentu bisa mengubah C-1 dan rekapitulasi suara sesuka hati. Tidak ada satu caleg pun atau satu partai pun yang memiliki saksi di semua TPS di satu dapil. Tdk 1 partai pun punya 517.000 saksi. Pihak yang punya kontrol terhadap C-1 hanya TNI dan Polri. Kodim2 dan Polres seluruh Indonesia dgn koramil dan polsek sbg ujung tombak
 
Bukti 6: semua pelaksana Quick Count yg melakukan laporan / input data Quick Count mengalami kemacetan proses data rata2 30-45 menit
 
JSI milik PDIP mengaku macet proses input data bahkan hampir 1 jam. Kenapa? Ada apa ? Kok bisa ?. Hasilnya, semua QC menunjukan prosentase perolehan suara partai peserta pemilu yang relatif sama. Seragam. Kok bisa? Aneh ! Di mana anehnya ?
 
1. Mustahil hasil seluruh pelaksana QC bisa relatif sama dgn margin 0.5-1% saja pdhl sample TPS hnya 2000 = 0.0003%
 
2. Dari 49 pelaksana Quick Count Pemilu tedaftar di KPU kenapa hanya 10-12 pelaksana QC yg melaporkan hasil surveynya? Mana 37 yg lain?. Mustahil dari 49 pelaksana QC yang terdaftar di KPU, 37 diantaranya BATAL melakukan QC Pemilu. Apa dibalik misteri ini? Misteri apa ini?
 
Apa hubungannya 49 lembaga QC terdaftar di KPU dgn Lembaga Sandi Negara yg pernah melakukan kerjasama dgn KPU meski dibatalkan kemudian. Data apa saja yang sdh diserahkan KPU kepada Lembaga Sandi Negara? Apakah termasuk data dari lembaga pelaksana QC pemilu? Bingo !
 
Bukti 7: kenapa SK KPU tentang pihak penanggungjawab IT KPU beda antara de fakto dgn nama penanggung jawab IT KPU yg tercantum di SK KPU
 
Bukti 8: Perhatikan hasil pemilu di dapil2 tertentu, muncul nama baru caleg DPR terpilih dgn suara terbanyak tapi orangnya tdk dikenal
 
Untuk menggeser atau membatalkan kemenangan caleg dari partai tertentu, rekap C-1 mudah dimanipulasi. Ditambahkan suara ke caleg lain. Partai2 yg dirugikan seperti PDIP, Hanura dan Nasdem dapat mendorong tim audit KPU sebelum hasil Pemilu disahkan rapat Pleno KPU. Dapat dipastikan perolehan suara partai Demokrat (dari 4% jadi 11%), PAN (1.7% menjadi 7.4%), Gerindra (6% jadi 12%), dst = PALSU
 
Tidak ada guna partai2 sibuk pikirkan strategi dan habiskan uang serta energi utk pilpres 2014 jika hasil pemilu 2014 tdk dieksaminasi. Kunci/ faktor utama yg menentukan hasil pilpres adalah audit thdp hasil pemilu. Jika tidak, percuma saja pilpres krna yg menang Cikeas. Jangan terkecoh hingar bingar manuver partai2 yg sibuk bentuk koalisi. Itu tipuan belaka. Termasuk ribut2 di PPP. Hanya pengalihan isu. Fokuslah pada audit dan pemeriksaan hasil pemilu yg dilaporkan KPUD dan yg disahkan KPU. Itulah kunci utk mengetahui manipulasi pemilu. Jika KPU tidak menyediakan akses bagi partai utk menganalisa hasil perolehan suara dgn basis rekap per TPS, dipastikan ada kecurangan. Jika KPU tdk sediakan akses IT multiscreen yg bisa sajikan tampilan rekap bbrp TPS sekaligus yg jadi objek audit = pasti ada kecurangan
 
Pemilu 2014 adalah pemilu teraneh dlm sejarah pemilu Indonesia. Tdk ada sosialisasi intensif &masif melalui media. Sengaja disenyapkan. Tidak ada pidato dan ajakan utk sukseskan pemilu oleh presiden, menteri2, gubernur, bupati, wakilota, KPU/KPUD. Senyap. Disengaja. Dan yang teraneh : tidak ada penayangan monitor hasil tabulasi suara pemilu sementara yg up date. Kok bisa ya? Tdk ada yg tanya kenapa. Hasil pemilu & caleg yang diloloskan dan yang tidak diloloskan tergantung pada TR (telegram rahasia) dari mabes ke mapolres/makodim hehe
 
Tidak ada partai atau pihak yg mempertanyakan korupsi dan mark up jumlah EKTP yg dicetak. Tdk ada yg kaitkan dgn manipulasi hasil pemilu. Jika KPK sekarang pura2 sibuk usut korupsi EKTP, Itu hanya utk membentuk opini dan persepsi : sdh ada pihak yg mengusut korupsi EKTP. Padahal substansi masalahnya bukan pada korupsi EKTP tetapi pada mark up jumlah EKTP dan kaitannya dgn hasil pemilu yg sdh dimanipulasi
 
Akibatnya kecurangan pemilu ini > pemenang pemilu bersedih, yang kalah malah bersuka cita hehe >> http://t.co/5lNC92K3sj . Itulah sebab kami berani menyimpulkan : pemenang pemilu 2014 adalah SBY dan Partai Demokrat. Telak ! > 70% hehe http://t.co/VY1ewZl24o . Statistik TIDAK PERNAH BOHONG. Maka hasil pemilu 2014 lah yang sesungguhnya sdh dimanipulasi atau bohongi rakyat http://t.co/DPEs2pdWKY. . Sebagai referensi, kami ungkap sebagian Modus Pencurangan Pemilu 2009. Silahkan Baca ! http://t.co/cOV4n4Y4nF l
 
Modus pencurangan pemilu 2014 lebih sederhana, simple dan efektif. Anehnya : tidak ada yg peduli. Kenapa ya ? Kayak disirep semuanya. Hasil pilpres akan sama dgn hasil pemilu. Terserah sang Dalang. Dia hny butuh justifikasi /legitimasi OPINI saja utk wujudkan rencananya

0 Responses to “Kenegarawanan : Tukang Survei”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,063,568 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: