11
Apr
14

Bursa : Rp 32 Triliun Dana Asing Banjiri Pasar Modal

Pandji R Hadinoto ITB68

Rp 32 Triliun Dana Asing Banjiri Pasar Modal

JAKARTA – Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Ito Warsito menyatakan terus tumbuhnya aliran dana asing masuk (capital inflow) dari tahun ke tahun seharusnya mendorong masyarakat lebih optimistis dengan kondisi pasar modal. “Bukan hanya karena pemilu, tapi juga karena ekonomi tumbuh,” ujarnya kemarin.

Sejak awal tahun hingga 8 April 2014 lalu tercatat dana masuk ke pasar modal sebesar Rp 32 triliun. Bila dibandingkan dengan dana masuk per Mei 2013 mencapai Rp 25 triliun, Ito menilai, hal tersebut tak jauh berbeda.

Dari segi pertumbuhan ekonomi, menurut Ito, Indonesia akan menjadi salah satu yang terbaik di antara negara anggota G-20. “Indonesia hanya kalah bila dibandingkan dengan Cina.”

Pasar saham di Indonesia juga masih menarik karena pertumbuhan laba emiten di dalam negeri jauh lebih baik dibanding bursa regional lain, seperti Thailand, Tokyo, Shanghai, dan Malaysia. Karena itu, ia yakin Indonesia akan tetap menjadi pilihan investasi investor global. “Saya yakin (indeks harga saham gabungan) sampai akhir tahun akan tetap naik, meskipun kalau dilihat harian naik-turun,” katanya.

Meskipun ada sentimen negatif dari global seperti tapering off yang dilakukan bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve), hal itu tak lantas memicu investor beramai-ramai keluar dari pasar modal Indonesia. “Tidak akan ada investor global mengabaikan Indonesia karena pertumbuhan ekonomi cukup bagus dan return of equity emiten Indonesia lebih tinggi,” kata dia.

Analis Currency Management, Farial Anwar, memperkirakan capital inflow dalam jangka panjang bisa memicu penguatan kurs rupiah. Penguatan kurs ditopang pula oleh membaiknya fundamental perekonomian sehingga lebih banyak investor global yang masuk ke pasar keuangan. “Imbal hasil yang diberikan di Indonesia pun relatif lebih tinggi dibanding pasar negara berkembang lain,” ujarnya.

Ia memprediksi rupiah kembali menguat menjelang pemilihan presiden mendatang. Kombinasi sentimen positif dari dalam negeri dengan kondisi pasar yang sudah mengadaptasi pengurangan stimulus moneter The Fed dinilai akan mendorong bursa saham dan pasar uang di Indonesia semakin menarik. TRI ARTINING PUTRI | MEGEL JEKSON

Menanti program kerja capres dan arah IHSG

>
Minggu, 13 April 2014 02:44 WIB |
Zubi Mahrofi
Tutup Perdagangan Saham. Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (dua kiri) bersama Direktur Utama BEI Ito Warsito (tiga kanan), Direktur Pengembangan BEI Frederica Widyasari Dewi (dua kanan) dan Direktur Keuangan dan Sumber Daya Manusia BEI Hamdi Hassyarbaini (kiri) menutup perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (11/4). Dalam penutupan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penguatan sebesar 50,847 poin (1,07%) ke level 4.816,58.

(ANTARA FOTO/Dhoni Setiawan) ()
>
Masa periode menjelang Pilpres, pasar akan ditentukan oleh ekspektasi siapa yang terpilih sebagai Presiden RI selanjutnya untuk terciptanya arah pasar. Poinnya adalah presiden yang tidak `market
friendly` mungkin akan berakibat negatif.”
>
Jakarta (ANTARA News) – Sejak awal tahun 2014 ini tentunya pelaku pasar saham sudah banyak melihat berbagai riset fundamental ekonomi maupun kinerja perusahaan tercatat (emiten) di Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait dengan suasana Pemilihan Umum (Pemilu).
>
Pemilu Legislatif yang dilaksanakan pada Rabu, 9 April 2014 terbilang cukup lancar (aman dan damai). Kendati demikian suasana yang lancer itu belum tentu membawa dampak positif bagi industri pasar modal Indonesia. Pasalnya, investor juga masih dibayangi warna-warni sentimen Pemilu Presiden mendatang.
>
Pasca pelaksanaan Pemilu Legislatif (Kamis, 10/4), indeks harga saham gabungan (IHSG) di BEI ditutup turun sebesar 155,68 poin atau 3,16 persen ke posisi 4.765,73. Namun, pada hari selanjutnya (Jumat, 11/4) pasar saham kembali bergerak menguat sebesar 50,85 poin (1,07 persen) ke posisi 4.816,58.
>
Kalangan pengamat pasar modal menilai bahwa indeks BEI yang sempat tertekan itu karena belum adanya partai politik yang memiliki atau menembus 25 persen suara nasional. Kondisi itu tentu membuat industry keuangan domestik masih akan menghadapi perhelatan politik.
>
“Tidak adanya parpol yang mendominasi hasil Pileg memunculkan adanya ‘koalisi dagang sapi’ dimana secara historis kebijakan yang akan dihasilkan praktis bersifat jangka pendek dan mementingkan partai,
dan membuat kekhawatiran investor,” ujar Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang.
>
Menurut Edwin Sebayang, selama kurun waktu sampai pendaftaran capres dan cawapres ke KPU tanggal 15 Mei mendatang pelaku pasar akan mencermati manuver politik parpol, kondisi itu akan membuat pergerakan pasar saham cenderung bergejolak.
>
“Satu hal yang perlu dicermati dari awal adalah kemanakah arah IHSG BEI jika calon presiden yang terpilih nanti bukan harapan pasar,” ucapnya.
>
Sementara itu, Chief Investment Strategist PT Astronacci International Gema Goeryadi mengatakan bahwa faktor politik di dalam negeri akan dijadikan “kambing hitam” dimana ekpektasi hasil pemilu
yang tidak sesuai harapan akan membuat gejolak pasar saham.
>
Ia menceritakan bahwa Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) sempat memeriahkan pasar saham ketika partai PDI Perjuangan mendeklarasikan Jokowi sebagai calon presiden. IHSG BEI sempat naik
hingga 3,13 persen ke posisi 4.878,64 poin, pada Jumat (14/3).
>
“Kenaikan saham itu mungkin karena dia (Jokowi) figur yang diharapkan pelaku pasar,” kata Gema Goeryadi.
>
>

Berlebihan

Namun, ketika partai PDI Perjuangan gagal mendapatkan suara nasional sebesar 25 persen di pemilu legislatif maka muncul perilaku berlebihan yang melampiaskan kekecewaan terhadap hasil pemilu dengan cara melakukan “sell off” pada saham-saham di Bursa Efek Indonesia.

>
“Pertanyaannya, wajarkah kejatuhan IHSG hanya berlandaskan kekecewaan terhadap hasil pemilu legislatif dan bukan presiden? Haruskah kita begitu ketakutan dan ikut-ikut melakukan panic selling?,” ujar Gema mempertanyakan.
>
Menurut dia, indeks BEI yang sempat jatuh pasca pemilu legislative cukup mengejutkan karena terjadi di  Indonesia yang positif seperti inflasi yang masih terjaga, kurs rupiah yang stabil, serta level suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) yang masih dinilai menarik dalam memberikan imbal hasil.
>
Artinya, dapat dikatakan bahwa koreksi signifikan yang sempat terjadi di pasar saham itu lebih dilandasi karena faktor psikologis dan bukan dari fundamental ekonomi Indonesia,” kata Gema Goeryadi.
>
>
>

Sangat Penting

Direktur Utama Mandiri Sekuritas Abiprayadi Riyanto mengatakan bahwa hasil Pemilu sangat penting bagi industri keuangan, karena dari situ akan terlihat program kerja pemimpin mendatang, apakah sesuai dengan harapan pasar atau sebaliknya.

>
“Pemimpin mendatang harus dapat membuat fondasi ekonomi yang berasaskan kemandirian dan kesejahteraan rakyat, namun tanpa mengabaikan investor asing yang perannya masih dibutuhkan untuk
mempercepat pembangunan nasional,” kata Abiprayadi.
>
“Masa periode menjelang Pilpres, pasar akan ditentukan oleh ekspektasi siapa yang terpilih sebagai Presiden RI selanjutnya untuk terciptanya arah pasar. Poinnya adalah presiden yang tidak market
friendly mungkin akan berakibat negatif,” ujar Abiprayadi menambahkan.
>
>

IHSG Positif

>
Direktur Penilaian Perusahaan BEI Hoesen optimistis bahwa siapa pun presiden RI nanti IHSG BEI tetap mencatatkan pertumbuhan. Secara historis, tren positif terlihat sejak pemilu sebelumnya yakni pada
tahun 1999, 2004 dan 2009.
>
Dalam catatan pasar modal, pada Pemilu 1999, 2004 dan 2009, indeks BEI mencatatkan kenaikan. Masing-masing dari tahun pemilu itu membukukan pertumbuhan sekitar 70,06 persen, 44,56 persen, dan 86,92 persen.
>
Perlu dicatat bahwa pada tahun pemilu itu merupakan periode pemulihan pasca krisis, yaitu krisis moneter Indonesia 1998, dan krisis ekonomi dunia 2008. Hanya tahun 2004 saja yang relatif stabil, kendati pada tahun itu pasar obligasi mengalami krisis.
>
Sementara pada tahun pemilu di 2014 ini, Indonesia sedang berusaha memperbaiki neraca pembayaran Indonesia (NPI) ditambah sentiment negatif dari kebijakan bank sentral AS (the Fed) yang melakukan
pengurangan stimulus keuangan (tapering off), serta prediksi Gubernur Fed Janet Yellen yang akan menaikkan suku bunga pada 2015 mendatang menyusul ekspektasi membaiknya ekonomi AS.
>
“Meski dibayangi beberapa sentimen negatif, BEI tetap optimistis IHSG kembali mencatatkan kinerja positif pasca Pemilu siapapun Presidennya,” ujar Hoesen.
>
Ia menambahkan investor asing yang sejak awal tahun ini cukup gencar menanamkan dananya di lantai bursa diperkirakan masih akan berlanjut.
>
Pada perdagangan Jumat (11/4) pembelian bersih investor asing (foreign net buy) dalam satu hari mencapai Rp53 miliar. Secara kumulatif sejak awal tahun, beli bersih asing di pasar saham mencapai
Rp30,933 triliun.
>
“Derasnya dana asing yang masuk itu menunjukkan kepercayaan investor global bahwa ekonomi kita cukup positif,” ujarnya.
>
Kendati demikian, Hoesen mengharapkan bahwa pelaksanaan pemilu tidak ricuh yang nantinya dapat membuat anarkis, bukan tidak mungkin pasar saham dan rupiah yang saat ini banyak ditopang oleh asing akan kembali anjlok.
>
“Investor hanya memilih negara investasi yang aman,” ujar dia.

 


0 Responses to “Bursa : Rp 32 Triliun Dana Asing Banjiri Pasar Modal”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,060,795 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: