08
Apr
14

Kebijakan Publik : 8 Advokat Gugat Peraturan KPU ke MA

Kamis, 27/03/2014 15:10 WIB

Pasca Putusan MK tentang Pemilu Serentak, 8 Advokat Gugat Peraturan KPU

Herdani Triyoga – detikNews

Gedung Mahkamah Agung (ari saputra/detikcom)

Jakarta – Sejumlah advokat yang tergabung dalam Delapan Anak Bangsa mengajukan gugatan dua peraturan KPU yang menjadi dasar penyelenggaraan Pemilu 2014 ke Mahkamah Agung (MA). Hal ini sebagai buntut putusan MK yang menyatakan pemilu serentak hanya untuk 2019.

Dua peraturan KPU yang digugat yaitu Peraturan KPU Nomor 29/2013 tentang penetapan hasil pemilu, perolehan kursi, calon terpilih dan penggantian calon terpilih dalam pemilu legislatif. Sementara yang kedua adalah Peraturan KPU Nomor 1/2014 tentang Pedoman Pelaporan Dana Kampanye Peserta Pemilu Legislatif.

Kedua peraturan itu diminta dibatalkan karena berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) menyatakan Pemilu tidak serentak bertentangan dengan konstitusi.

“Ini harus disesuaikan. Nah, kalau yang dibatalkan tadi UU di atasnya berarti dia tidak punya dasar lagi melaksanakan pemilu. Dua peraturan KPU itu enggak bisa jadi acuan,” kata seorang pemohon, Jack Yanda Zaihifni Ishak di gedung MA, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Kamis (27/3/2014).

Menurutnya, pemilu legislatif yang tinggal 13 hari lagi berpotensi memunculkan konflik horizontal ataupun vertikal yang bisa berdampak kondisi chaos. Sebab kalau Pemilu pada 9 April 2014 yang disusul dengan pemilihan presiden tetap dilaksanakan berdasarkan UU yang inkonstitusional, maka hasilnya juga akan inkonstitusional atau tidak berdasarkan UUD 1945.

“Itu kan semua menggunakan produk hukum yang bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak punya kekuatan hukum yang mengikat. Peraturan KPU No.29/2013 dan Peraturan KPU Nomor 1 Tahun 2014 itu tidak bisa jadi acuan,” sebutnya.

Ikuti berbagai berita menarik yang terjadi hari ini di program “Reportase Sore” TRANS TV yang tayang Senin sampai Jumat pukul 15.15 WIB

(asp/asp)

Baca Juga

MINGGU, 30 MARET 2014

Harian Waspada (Waspada.Com): PEMILU 2014 BERPOTENSI TIMBULKAN KONFLIK

Written by Wantana on Friday, 28 March 2014 08:29
inShareShareJAKARTA (Waspada): Pemilu yang terpisah antara pemilu legislatif dan pemilu presiden berpotensi menimbulkan konflik horisontal maupun vertikal. Pasalnya, dasar yang dipakai oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) yakni UU No 42/2008 tentang penyelenggaraan pemilu yang tidak serentak, telah dinyatakan inkonstitusional lewat Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 14/PUU-XI/2013.
“Bagaimana mungkin hasil pemilu 2014 ini sah, jika payung hukumnya, dalam hal ini UU 42/2008 telah diputuskan MK sebagai aturannya telah dinyatakan melawan hukum alias tidak sah? Berarti aturan-aturan hukum di bawahnya, di antaranya keputusan KPU otomatis melanggar konstitusi juga,” ujar Jack Yanda Zaihifni Ishak, satu dari delapan pengacara yang melayangkan surat permohonan uji materiil atas dua peraturan KPU yang menjadi dasar penyelenggaraan pemilu 2014, di Gedung Mahkamah Agung, Jakarta, Kamis (27/3). Selain Jack, tujuh pengacara lainnya yang menamakan diri mereka anak bangsa, adalah Lawrence TP Siburian, Chudry Sitompul, Dodi S Abdulkadir, R Taufik Mappaere, Bambang Wiwoho, Unoto Dwi Yulianto dan Muhammad Haekal Hasan.
Ditambahkan Jack Yanda, pihaknya memohon uji materiil terhadap dua peraturan KPU. Pertama, Peraturan KPU Nomor 29/2013 tentang penetapan hasil pemilihan umum, perolehan kursi, calon terpilih dan penggantian calon terpilih dalam pemilihan umum anggota DPR RI, DPD, DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota. Kedua, Peraturan KPU Nomor 1/2014 tentang Perubahan atas Peraturan KPU Nomor 17/2013 tentang pedoman pelaporan dana kampanye peserta pemilu anggota DPR, DPD dan DPRD. Keduanya adalah aturan turunan dari UU 42/2008.
Dalam kesempatan itu, para pemohon juga mengkritik alasan sejumlah pihak yang menyatakan pemilu 2014 masih dapat dilaksanakan berdasarkan kedua peraturan KPU tersebut. Apalagi ada anggapan penundaan pernyataan inkonstitusi pada UU Nomor 42/2008 itu didukung keputusan MK yang menyatakan keputusannya mulai berlaku pada 2019. “Kami para pemohon menyatakan alasan MK menunda pelaksanaan putusannya tentang UU Nomor 42/2008 sampai pemilu 2019 adalah cacat hukum,” tegas Jack.
Dinyatakan cacat hukum, karena menurut Jack Yanda, hal itu bertentangan dengan pasal 47 UU Nomor 24/2003 tentang MK yang menyatakan, putusan MK memperoleh kekuatan hukum tetap sejak diucapkan pada sidang pleno terbuka untuk umum. “Peraturan ini secara jelas menetapkan bahwa berlakunya keputusan itu sejak saat diucapkan di sidang pleno, bukan ditunda lain waktu,” tegas Jack.Karena itu, para pemohon uji materiil menuntut pemerintah segera menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu), supaya lebih jelas aturan main dalam pelaksanaan pemilu.Harapannya, perpu itu nantinya dapat menjadi landasan hukum yang kuat apabila ada pihak-pihak yang. bersengketa.”Dengan berbagai pertimbangan, khususnya demi mencegah kevakuman hukum yang dapat menimbulkan anarki hukum dan situasi chaos, pemohon meminta kepada MA yang memiliki kewenangan untuk melakukan uji materiil peraturan perundang-undangan di bawah UU untuk segera menerbitkan Perpu,” pungkas Lawrence Siburian. (dianw)

DIPOSKAN OLEH B.WIWOHO PADA 20.06 0 komentar

Perlu PERPPU agar Pemilu Tidak Inkonstitusional

Jika Tak Dikeluarkan PERPPU, Pemilu 2014 Inkonstitusional

  • Kamis, 27 Maret 2014 14:47
  • Oleh:  Fahri Haidar

Ilustrasi Foto: IstimewaJakarta, Sayangi.com – Sejumlah orang yang menamakan dirinya tim delapan mendatangi Mahkamah Agung (MA), Kamis (27/3). Mereka adalah Jack Yanda Zaihifni Ishak, Lawrence Siburian, Chudry Sitompul, Doddy S Abdulkadir, Taufik Mappere, Bambang Wiwoho, Unoto Dwi Yulianto dan Muhammad Haekal Hasan.

Kedatangan tim delapan ini bertujuan untuk menanyakan pernyataan Mahkamah Konstitusi (MK) menunda pelaksanaan putusannya pada Pemilu 2019.
Menurut mereka penundaan pelaksanaan putusan itu adalah cacat hukum.

“Menurut ketentuan pasal 47 UU No. 24 tahun 2003, putusan MK mempunyai kekuatan hukum tetap sejak diucapkan pada sidang pleno. Pasal ini secara jelas menetapkan berlakunya keputusan itu dan bukan ditunda lain waktu,” kata Lawrence kepada wartawan di gedung Mahkamah Agung, Jakarta.

Pemilu 2014, kata Lawrence, adalah inkonstitusional dan berpotensi menimbulkan anarki dan chaos. Menurutnya, dengan begitu, pihak-pihak yang menang semuanya tidak sah karena bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat.

“Kami memohon dilakukan uji materiil terhadap Peraturan KPU No. 29 tahun 2013 tentang penetapan hasil pemilu, perolehan kursi dan sebagainya. Serta Peraturan KPU No. 1 tahun 2014 tentang perubahan peraturan KPU No. 17 tahun 2013 tentang pedoman pelaporan biaya kampanye peserta pemilu,” tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Dodi Abdulkadir menyatakan bahwa jalan keluar dari persoalan ini adalah dengan dikeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (PERPPU).

“Pertimbangan kami khususnya demi mencegah kevakuman hukum yang bisa menimbulkan anarki hukum dan situasi chaos. Kami meminta kepada Mayang mempunyai kewenangan untuk melakukan uji materiil peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang,” tambah Dodi.(GWH)

DIPOSKAN OLEH B.WIWOHO PADA 17.53 0 komentar

KAMIS, 27 MARET 2014

Pemilu 2014 Inkonstitusional

Pasca Putusan MK tentang Pemilu Serentak, 8 Advokat Gugat Peraturan KPU

Herdani Triyoga – detikNews
Gedung Mahkamah Agung (ari saputra/detikcom)Jakarta – Sejumlah advokat yang tergabung dalam Delapan Anak Bangsa mengajukan gugatan dua peraturan KPU yang menjadi dasar penyelenggaraan Pemilu 2014 ke Mahkamah Agung (MA). Hal ini sebagai buntut putusan MK yang menyatakan pemilu serentak hanya untuk 2019.

Dua peraturan KPU yang digugat yaitu Peraturan KPU Nomor 29/2013 tentang penetapan hasil pemilu, perolehan kursi, calon terpilih dan penggantian calon terpilih dalam pemilu legislatif. Sementara yang kedua adalah Peraturan KPU Nomor 1/2014 tentang Pedoman Pelaporan Dana Kampanye Peserta Pemilu Legislatif.

Kedua peraturan itu diminta dibatalkan karena berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) menyatakan Pemilu tidak serentak bertentangan dengan konstitusi.

“Ini harus disesuaikan. Nah, kalau yang dibatalkan tadi UU di atasnya berarti dia tidak punya dasar lagi melaksanakan pemilu. Dua peraturan KPU itu enggak bisa jadi acuan,” kata seorang pemohon, Jack Yanda Zaihifni Ishak di gedung MA, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Kamis (27/3/2014).

Menurutnya, pemilu legislatif yang tinggal 13 hari lagi berpotensi memunculkan konflik horizontal ataupun vertikal yang bisa berdampak kondisi chaos. Sebab kalau Pemilu pada 9 April 2014 yang disusul dengan pemilihan presiden tetap dilaksanakan berdasarkan UU yang inkonstitusional, maka hasilnya juga akan inkonstitusional atau tidak berdasarkan UUD 1945.

“Itu kan semua menggunakan produk hukum yang bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak punya kekuatan hukum yang mengikat. Peraturan KPU No.29/2013 dan Peraturan KPU Nomor 1 Tahun 2014 itu tidak bisa jadi acuan,” sebutnya.

DIPOSKAN OLEH B.WIWOHO PADA 18.46 0 komentar

Siaran Pers Judicial Review PEMILU INKONSTITUSIONAL;

PEMILU 2014 INKONSTITUSIONAL DAN BERPOTENSIMENIMBULKAN ANARKI DAN CHAOS.
Pemilu tinggal 13 hari lagi. Berapa banyak diantara 240 juta rakyat Indonesia termasuk para elite dan calon legislatifnya yang berfikir jernih tentang akibat Keputusan Mahkamah Konstitusi No.14/PUU-XI/2013 yang menyatakan UU no.42 th 2008 yang mendasari penyelenggaraan Pemilu tindak serentak bertentangan dengan konstitusi. Karena bertentangan dengan konstitusi, maka secara otomatis UU PILPRES (UU no.42/2008), UU Pileg (UU No. 42 Tahun 2012) dan UU PEMILU (UU No. 15 Tahun 2011) tersebut tidak mempunyai kekuatan lagi secara hukum, sehingga dengan demikian semua perbuatan yang dilakukan berdasarkan UU itu batal demi hukum.
Oleh sebab itu jika Pemilu pada tanggal 9 April 2014 yang disusul dengan Pemilihan Presiden tetap dilaksanakan berdasarkan UU yang inkonstitusional, maka hasilnya juga akan inkonstitusional atau tidak berdasarkan UUD 1945. Pihak-pihak yang menang, baik Presiden, Wakil Presiden, anggota Dewan Perwakilan Daerah, DPR Pusat maupun Daerah, semuanya tidak sah karena menggunakan produk hukum yang bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat.
Hal tersebut akan sangat pontensial menimbulkan konflik-konflik horizontal maupun vertikal yang berujung pada keadaan “chaos”. Dalam rangka mengantisasi dan mencegah terjadinya “chaos” berupa berbagai kekacauan kehidupan sosial kemasyarakatan yang mengerikan, delapan orang anak bangsa yang selama ini banyak berkecimpung di dalam soal hukum, politik dan akademik terpanggil untuk mengajukan Permohonan Uji Materiil (Judicial Review) kepada Mahkamah Agung, atas  dua peraturan Komisi Pemilihan Umum (KPU), yang menjadi dasar penyelenggaraan Pemilu 2014.
Delapan orang anak bangsa yang terpanggil sebagai pemohon uji materiil itu adalah: Jack Yanda Zaihifni Ishak Phd.Msc.SH, Lawrence T.P.Siburian SH. Mh.LLM, Chudry Sitompul SH.MH, Dr.Dodi S.Abdulkadir, Bsc.SE.SH.MH, Dr. R. Taufik Mappaere, SH. LLM. B.Wiwoho, Unoto Dwi Yulianto SH.MH dan Muhammad Haekal Hasan SH.LLM.
Adapun kedua Peraturan KPU yang dimohonkan uji materiil adalah:1.Peraturan KPU No.29 Tahun 2013 Tentang Penetapan Hasil Pemilihan Umum, Perolehan Kursi, Calon Terpilih dan Penggantian Calon Terpilih dalam Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota.2. Peraturan KPU no.1 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas Peraturan KPU no.17 Tahun 2013 Tentang Pedoman Pelaporan Dana Kampanye Peserta Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.
PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI (MK) BERLAKU SEJAK DIUCAPKAN.
Mengenai alasan sejumlah pihak yang menyatakan Pemilu 2014 masih bisa dilaksanakan berdasarkan kedua Peraturan KPU tadi karena ada keputusan Mahkamah Konstitusi yang menyatakan mulai berlaku pada Pemilu 2019, Pemohon menyatakan alasan MK menunda pelaksakaan putusannya pada Pemilu 2019 adalah cacat hukum, berdasarkan:

  1. Ketentuan Pasal 47 UU no.24 th 2003 tentang Mahkamah Konstitusi yang menyatakan: “Putusan Mahkamah Konstitusi memperoleh kekuatan hukum tertap sejak diucapkan sidang pleno terbuka untuk umum”. Pasal ini secara jelas menetapkan bahwa berlakunya keputusan adalah saat diucapkan di sidang pleno terbuka untuk umum, dan bukan ditunda di lain waktu.
  2. Putusan MK No.14 di atas yang mempertimbangkan tahapan penyelenggaraan Pemilu th 2014 telah dan sedang berjalan serta sudah mendekati waktu pelaksanaan Pemilu adalah telah melampaui kewenangan yang dimiliki MK sendiri dalam memeriksa, mengadili dan memutuskan suatu perkara/permohonan yang diajukan kepadanya, yaitu terbatas pada menerima, menolak dan atau menyatakan tidak dapat diterima (niet ontvankelijk verklaard).
  3. UUD 1945 dan UU No.24 Tahun 2003 Tentang MK menggariskan salah satu tugas MK adalahmenyatakan suatu UU bertentangan dengan UUD. Mahkamah Konstitusi tidak diberi wewenang untuk membuat norma perundang-undangan yang baru.

JALAN KELUARNYA MEMBUAT PERPU.
Dengan berbagai pertimbangan khususnya demi mencegah kevakuman hukum yang bisa menimbulkan anarki hukum dan situasi “chaos”, Pemohon meminta kepada Mahkamah Agung yang memiliki kewenangan untuk melakukan uji materiil peraturan perundang-undangan di bawah Undang-Undang, untuk antara lain:

  1. Menyatakan kedua peraturan KPU yang disebut di atas, yang menjadi dasar pelaksanaan Pemilu 2014 bertentangan dengan Undang-Undang yang ada di atasnya.
  2. Memerintahkan Pemerintah/Presiden untuk segera menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (PERPU) untuk menjadi landasan hukum penyelenggaraan Pemilu Anggota Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Pusat dan Daerah tahun 2014 serta Pemilu Presiden dan Wakil Presiden tahun 2014.
  3. Memerintahkan KPU untuk mentaati putusan MA untuk mengganti / menyesuaikan Peraturan KPU dengan PERPU.

Demikianlah, semoga Permohonan Uji Materiil ini memperoleh ridho, rahmat dan berkah Tuhan Yang Maha Kuasa.Jakarta, Kamis 27 Maret 2014.
Jack Yanda Zaihifni Ishak Phd.Msc. SH.Lawrence T.P.Siburian SH. Mh.LLM.Chudry Sitompul SH.MH.Dr.Dodi S.Abdulkadir, Bsc.SE.SH.MH.Dr. R. Taufik Mappaere, SH. LLM.B.Wiwoho.Unoto Dwi Yulianto SH.MH.  Muhammad Haekal Hasan SH.LLM.

DIPOSKAN OLEH B.WIWOHO PADA 15.25 


0 Responses to “Kebijakan Publik : 8 Advokat Gugat Peraturan KPU ke MA”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,060,795 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: