06
Apr
14

Kenegarawanan : Ancaman Krisis 2014

res : Kalau benar akan terjadi krisis, maka pertanyaan yang timbul ialah  langkah apa yang harus diperbuat untuk mengatasi krisisn itu?  http://www.sinarharapan.co/news/read/30425/krisis-mengancam-pada-2014

Krisis Mengancam pada 2014

03 Januari 2014 Faisal Rachman Ekonomi

dok / antara

Nasabah bertransaksi penukaran rupiah-valas di Bank Mutiara, Jakarta, Jumat (20/12). Kurs Rupiah terus melemah dan berada di posisi Rp12.205 per dolar AS, Rupiah cenderung di posisi sama setelah hasil rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang memberikan sinyal pemangkasan stimulus keuangan pada Januari 2014.

Tantangan ekonomi Indonesia ke depan adalah menjaga nilai tukar rupiah.

JAKARTA – Arah ekonomi Indonesia pada 2014 dinilai sejumlah kalangan masih akan dipengaruhi situasi ekonomi global dan kebijakan di dalam negeri, termasuk pemilihan umum. Fluktuasi di industri keuangan, seperti pasar modal dan perdagangan valuta asing yang terjadi di sepanjang 2013, diyakini masih akan membayangi perekonomian nasional.

Sayangnya, jika pengaruh dari global tidak banyak bisa diubah—kalau tak bisa dikatakan hanya pasrah—kebijakan dari dalam negeri justru kontraproduktif dari tujuan menormalkan gejolak ekonomi. Sepanjang 2013, ekonomi Indonesia lebih banyak ditentukan kebijakan Bank Indonesia (BI), ketimbang pemerintah.

BI yang core business-nya di urusan moneter, belakangan justru lebih fokus “memperbaiki” defisit neraca transaksi berjalan. Pemerintah pun terkesan seperti hanya mengikuti kebijakan yang diambil BI dalam usahanya menekan defisit tersebut.

“Padahal, kebijakan moneter saja di negara mana pun, tak akan bisa menormalkan keadaan. Apalagi kebijakan yang diambil bank sentral justru banyak salahnya. Membunuh pertumbuhan ekonomi dengan menaikkan suku bunga acuan demi catatan surplus neraca transaksi berjalan, itu jelas merugikan,” kata anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN), Purbaya Yudhi Sadewa saat ditemui SH di kantor Menko Perekonomian, Kamis (2/1) siang.

Menurutnya, tidak ada negara di dunia ini yang menerapkan kebijakan seperti itu. Saat ini hanya India yang ingin menurunkan pertumbuhan ekonominya. “Itu pun karena ekonomi India sudah ‘kepanasan’ (overheating). Tidak sama halnya dengan Indonesia. Kita masih butuh pertumbuhan yang tinggi dan berkesinambungan,” ujarnya.

Jika BI terus mempertahankan rezim suku bunga tinggi, Kepala Ekonom Danareksa Research institute ini menghitung, dalam empat bulan ke depan Indonesia bisa diambang resesi. “Kemudian, dalam enam bulan berikutnya atau 10 bulan dari sekarang, kita bisa saja masuk zona krisis,” tuturnya.

Kondisi separah itu bisa terjadi lantaran dengan suku bunga tinggi, aktivitas ekonomi jadi melambat. Ujungnya, tak mustahil jika tak banyak pekerjaan yang bisa dikerjakan, pengangguran makin merebak.

Di saat rupiah yang makin terpuruk, daya beli pun makin tergerus. Efek selanjutnya akan terus membuat ekonomi makin melambat. Investasi asing pun akan berpikir ulang untuk datang. “Jika begitu, orang bisa ‘turun ke jalan’. Krisis ekonomi pun bisa terjadi,” katanya.

Purbaya masih yakin, setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi bisa menyerap tenaga kerja baru sebanyak 350.000-400.000 orang. Oleh karena itu, perlambatan ekonomi yang dilakukan justru keliru dan bertentangan dengan target menekan angka kemiskinan.

“Kalau kita mendesain ekonomi di bawah 6 persen, ini konsekuensi logis (kemiskinan naik). Harusnya ekonomi Indonesia masih bisa bertumbuh 6,7 persen, baru ekonominya bisa menyerap tenaga kerja dan kemiskinan bisa ditekan,” kata Purbaya.

Sentimen Positif

Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada berpendapat, tahun pemilu 2014 ini akan memberikan sentimen positif bagi pasar modal Indonesia. Menurutnya, masih ada harapan ekonomi yang lebih baik seiring pergantian pemimpin di negeri ini. “Pada April-Juli 2014 kondisi pasar memang akan berfluktuasi, tetapi akan berangsur pulih pascaperiode tersebut,” ujarnya.

Menurutnya, perkembangan makroekonomi pada paruh pertama 2014 diperkirakan masih melambat akibat kurang kondusifnya makroekonomi internal. Jika menengok ke belakang, pergerakan IHSG sepanjang 2013 selalu dibayangi sentimen makro yaitu pelemahan rupiah terhadap dolar AS.

Namun, ia masih percaya, pemerintah tidak akan tinggal diam. Perbaikan makroekonomi di Indonesia pun mulai dilakukan dan diharapkan dengan adanya pemerintahan baru, kondisi bisa menjadi lebih baik. Ia pun memprediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan menembus level 4.800-4.950 hingga akhir tahun depan.

Jika pemerintah dapat mengatasi tantangan makroekonomi, ia melanjutkan, diperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan kembali diuji ketahanannya dan diharapkan bisa kembali ke level Rp 10.250-11.400 per dolar AS.

Ia mengatakan, tantangan ekonomi Indonesia ke depan adalah menjaga nilai tukar rupiah. Jadi, tidak terlalu tertekan lebih dalam. “Tentunya perbaikan nilai tukar rupiah ini dengan asumsi pemerintah dapat mengatasi tantangan-tantangan makroekonomi ke depan,” ia menambahkan.
Sumber : Sinar Harapan


0 Responses to “Kenegarawanan : Ancaman Krisis 2014”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,060,880 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: