21
Mar
14

Politik : Demokrasi lawan Demokrasi

Demokrasi Lawan Demokrasi

19 March 2014 Henri Loedji Eropa 

Share0

dok / AFP Photo

SAMBUT INTEGRASI KRIMEA – Aktivis pro Kremlin berpawai di Lapangan Merah, Moskwa, Rusia, Selasa (18/3). Mereka menyambut kembalinya Krimea ke dalam rangkulan Federasi Rusia setelah Presiden Vladimir Putin menandatangani traktat integrasi.

Reaksi Barat terhadap referendum Krimea menunjukkan standar ganda mereka terhadap demokrasi.

Pertikaian terjadi di sebuah negeri di belahan utara Bumi. Sebagian rakyatnya berunjuk rasa, melawan petugas keamanan, dan menguasai gedung pemerintah.

Gerakan itu akhirnya berhasil menggulingkan pemerintahan yang sah dan mengusir presiden ke luar negeri. Mereka, yang menyebut dirinya demokratis dan pembebas, kemudian membentuk pemerintahan sendiri tanpa pemilihan umum.

Di bagian lain negeri, terjadi gelombang perlawanan menentang pemerintah baru. Merasa tidak nyaman dengan “kudeta demokratis” di ibu kota, mereka pilih memisahkan diri. Pemisahan tidak dilakukan lewat perlawanan bersenjata, melainkan melalui pemungutan suara.

Itulah yang terjadi di Ukraina. Mayoritas warga Krimea memilih bergabung dengan Federasi Rusia lewat referendum yang diselenggarakan, Minggu (16/3). Demokrasi langsung itu berjalan damai tanpa ada tekanan dari pihak luar, bertolak belakang dengan tuduhan Barat.

Amerika Serikat dan Uni Eropa mencurigai kehadiran militer Rusia di republik otonom yang terletak di semenanjung Laut Hitam itu memengaruhi warga. Barat juga curiga hasil referendum telah diatur di Moskwa untuk kepentingan Rusia.

Faktanya, warga Krimea ramai-ramai mendatangi tempat pemungutan suara (TPS). Mereka antusias berpartisipasi dalam pesta demokrasi langsung itu. Partisipan dihadapkan dengan pilihan bergabung dengan Rusia atau sekadar otonomi lebih luas dari Ukraina.

Lebih dari 80 persen pemilik suara memberikan pilihannya. Dari jumlah itu, lebih dari 95 persen menyatakan setuju bergabung dengan Rusia.

Hasil itu tidak terlalu mengejutkan. Kedekatan etnis dengan Rusia membuat warga Krimea tidak perlu berpikir lama di bilik suara untuk menyatakan setuju. Hampir 60 persen penduduknya berkebangsaan Rusia. Sekitar 24 persen berkebangsaan Ukraina dan 12 persen adalah etnis Tatar.

Malam harinya, tidak lama setelah hasil penghitungan suara diumumkan, warga Krimea masih berpesta. Lapangan Lenin di Simferopol berubah menjadi seperti pasar malam. Warga yang berkumpul meneriakkan slogan pro penggabungan serta mengibarkan bendera Krimea dan Rusia. Suasana semakin meriah dengan pertunjukan musik di salah satu sudut alun-alun.

Keadaan di Krimea kontras dengan “gerakan demokratis” dukungan Barat di Kiev. Peralihan kekuasaan di ibu kota Ukraina itu terjadi lewat bentrokan berdarah. Massa pro integrasi Uni Eropa menggelar demonstrasi besar-besaran sejak penghujung tahun lalu. Begitu berkuasa, mereka langsung mengganti pemerintah tanpa pemilihan umum.

Warga Krimea sudah menentukan pilihannya. Namun, transisi naungan dari Ukraina ke Rusia tidak sesederhana yang dibayangkan. Selama ini, Krimea mendapatkan tenaga listrik, air bersih, dan beberapa layanan dasar lain dari Ukraina. Melepaskan diri dari pemerintah pusat sama dengan memutuskan pasokan.

Warga Krimea juga harus menunggu lampu hijau dari Moskwa. Parlemen Rusia perlu bersidang dulu sebelum memberikan persetujuan wilayah asing bergabung dengan negara itu.

Selama periode peralihan antara meninggalkan Ukraina dan menyatu kembali dengan bekas pemimpin Uni Soviet, secara de facto pemerintahan Krimea akan berjalan independen. Pemimpin Krimea berharap bisa bertahan secara ekonomi dengan uluran tangan Beruang Merah.

Standar Ganda

Bukan kali ini saja Barat menerapkan standar ganda soal demokrasi. Indonesia pernah merasakan akibatnya pada 30 Agustus 1999. Keadaan waktu itu berkebalikan dengan kondisi Ukraina saat ini. Indonesia terpaksa melepas Timor Timur lewat referendum di bawah tekanan PBB, Portugal, dan Australia.

Presiden Indonesia kala itu, BJ Habibie, menawarkan pilihan otonomi khusus atau kemerdekaan buat rakyat Timor Timur. Pengalaman buruk semasa pemberlakuan Daerah Operasi Militer (DOM) membuat rakyat Timor Timur tidak sulit memilih. Sebagian besar partisipan langsung memilih kemerdekaan.

Di Mesir, AS dan sekutunya juga punya terjemahan berbeda untuk kata demokrasi. Gerakan rakyat Mesir, yang terinspirasi Arab Spring, berhasil menggulingkan Husni Mubarak dari kursi kepresidenan. Jenderal angkatan udara itu dipaksa rakyatnya mundur dan menyelenggarakan pemilihan umum terbuka pertama.

Pesta demokrasi itu dimanfaatkan dengan baik oleh Ikhwanul Muslimin yang sudah puluhan tahun bergerak di bawah tanah. Persaudaraan Muslim itu menang pemilu dan menaikkan Muhammad Mursi ke puncak pimpinan pada 30 Juni 2012.

Malang buat Ikhwanul, kemenangan tersebut justru menjadi pintu gerbang menuju kehancurannya. Kegagalan Mursi mengatasi keamanan dalam negeri dan membenahi perekonomian mendorong rakyat kembali bergerak. Presiden yang terpilih lewat pemilu itu pun tumbang setelah baru setahun memimpin.

Barat tidak terang-terangan merestui pemberontakan rakyat yang didukung militer itu. Tapi, AS jelas punya kepentingan untuk memastikan Mesir tidak diperintah kelompok Islamis. Sebagai pemilik Terusan Suez dan negara tetangga terdekat Israel, Mesir punya nilai strategis buat AS. Di zaman Mubarak, Mesir menerima bantuan militer dalam jumlah besar guna menjamin keamanan Israel.

Demokrasi semestinya punya nilai universal. Kenyataannya, kata itu bisa diartikan seenaknya, tergantung pada kepentingan penguasa yang mengatasnamakan rakyat. Pada akhirnya, rakyat tidak bisa benar-benar berdaulat sesuai tujuan demokrasi.

Sumber : Sinar Harapan

Advertisements

0 Responses to “Politik : Demokrasi lawan Demokrasi”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,223,246 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: