21
Mar
14

Politik : Potret SuPer11Maret1966 dan SuPer14Maret2014

POTRET SUPERSEMAR DAN SURAT PERINTAH EMPAT BELAS MARET

ilustrasiilustrasiFoto : Wartaharian.co

Indonesia memiliki sejarah yang sangat menarik untuk di simak dan dicermati, apalagi urusan yang coba kita analisis adalah urusan Politik, dimana urusan inilah yang menjadi asupan setiap hari kita, ditahun Politik yang riuh rendah ini.

Kita coba lari kebelakang sedikit ketika sejarah peralihan kekuasaan dari Presiden Soekarno ke Presiden Soeharto, secara legal formal dilihat memang tak terlalu istimewa atau bisa kembali dikatakan ‘Wajar’, Akan tetapi dibalik itu semua ada kabut yang hingga saat ini masih menjadi teka teki seluruh warga bangsa, apa itu ? itulah SUPERSEMAR atau yang biasa kita kenal dengan sebutan Surat Perintah Sebelas Maret.

Lantas apa korelasinya dengan saat ini?? Tentunya ini hanya sekedar analisis saja, dimana bisa saja ini salah, ataupun mungkin juga benar. Tahun Politik 2014 menjadi amat strategis bagi Bangsa ini, apalagi ditengah krisis Kepemimpinan dan Prediksi banyak kalangan yang menyampaikan bahwa saat ini, Bangsa kita masuk pada fase transisi alih generasi. Hal ini dapat dibuktikan dari dinamika Politik yang terjadi saat ini, dimana ‘Kursi Kekuasaan’ yang sedang dan sudah disusun di garis finish untuk diperebutkan oleh 12 Partai Nasional dan 2 Partai Lokal (Aceh).

Kembali ke soal Surat Perintah, beberapa hari yang lalu kita melihat sebuah intensitas suhu Politik yang cukup Signifikan, dimana Partai Oposisi terbesar Negeri ini PDI-Perjuangan telah memutuskan untuk mencalonkan Joko Widodo atau yang biasa disebut Jokowi sebagai Calon Presiden berdasarkan Surat Perintah Harian Ketua Umum PDI-Perjuangan Megawati Soekarno Putri.

Pengumuman ini sekaligus menjawab segala pertanyaan besar yang ada di Masyarakat, dimana pertanyaan tersebut berkaitan dengan Akankah Jokowi Maju Sebagai Calon Presiden dari PDI-Perjuangan??? Semua itu telah terjawab.

Pasca dari Pengumuman yang dilakukan oleh DPP PDI-Perjuangan di kantornya, dimana seluruh awak media hadir dan menerima penjelasan dari Sekjen PDI-Perjuanagn dan Puan Maharani sebagai Ketua DPP yang juga Putri dari Ketua Umum Megawati Soekarno Putri.

Ada yang menggelitik sebenarnya ketika melihat Surat Perintah yang dikeluarkan Megawati Soekarno Putri selaku Ketua Umum PDI-Perjuangan. Apa itu ? ini lah yang menjadi pokok analisis kita dalam ediotorial kali ini, dimana Sosok Megawati Soekarno Putri adalah sosok Politisi yang sangat matang, seorang  negarawan yang mumpuni, baik dari sisi sikap dan pendirian. Megawati adalah Kader Marheinis yang bisa di bilang paling punya pengaruh saat ini. Selain beliau pernah menduduki jabatan Politik Penting Kenegaraan Wakil Presiden dan Presiden, dari sisi perjalanan Karir Politik pun, Putri Proklamator RI ini terbilang sangat ulung dalam menempatkan diri dan peranya di Panggung Politik Nasional kita.

Jika kita coba dalami lagi soal Megawati Soekarno Putri dari Sikap dan Talenta Politiknya, harusnya kita semua bisa memotret sisi lain dari makna keluarnya Surat Perintah Empat Belas Maret, dimana menurut Penulis Megawati yang sudah layak menyandang sebagai Guru Politik Bangsa ini, dimana beliau telah memperlihatkan bahasa tersurat  yang coba di Potretnya dari Penggalan sejarah perjalanan Bangsa ini.

Urusan Pemilihan Presiden bagi PDI-Perjuanagn sebenarnya sudah Final diserahkan ke Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarno Putri sebagai Pemegang Mandat yang diberikan di Kongres yang lalu. Namun nampaknya Realita Politik berkata lain, saat ini PDI-Perjuangan sebagai Partai yang diharapkan mampu membawa Perubahan dalam Pemilu kali ini, telah memiliki satu ‘Rissing Star’ yang diharapkan bisa tampil ke depan memimpin Bangsa ini, dialah Jokowi yang sekarang menduduki Posisi Gubernur DKI Jakarta.

Jika mau dibilang beban, tentu sangat berat apa yang di pikul oleh Megawati Soekarno Putri, masalah ini terbilang tak ringan karena menyangkut bathin dan tanggung jawab Moral sebagai Seorang Ketua Umum yang diserahkan mandat oleh Kongres. Pertaruhan besar sudah diambil oleh Megawati dan PDI-Perjuangan. Apalagi Megawati dikenal memiliki Sikap dan Pendirian yang Kuat sebagai Tokoh Politik Papan atas Tanah Air. Pertaruhan itulah yang akhirnya memaksa PDI-Perjuangan harus menang di Pemilu Legislatif jika ingin masuk wilayah Kekuasaan di pemilu 2014 ini.

Urusan Pilpres juga jadi bagian strategis dimana dorongan yang sangat kuat mungkin, akhirnya harus membuat Putri Proklamator RI ini memberikan pelajaran bagi internal Partai dan Masyarakat negeri ini. Bahasa itu dipakai melalui surat yang jika ditarik ke fakta sejarah sangat berkorelasi. Supersemar dengan Soekarno dan Soehartonya, sementara Surat Perintah Empat Belas Maret antara Megawati Soekarno Putri dan Joko Widodo.

Sekali lagi ini hanya analisa, bisa benar, bisa juga salah, namun kolerasi dari Makna dua surat yang menjadi judul Editorial ini adalah semua soal ‘Kekuasaan’, dimana ada yang ber-irisan, namun ada juga yang sangat tidak ber-irisan, akan tetapi yang coba kita terjemahkan dari itu semua adalah bahwa, Megawati Soekarno Putri telah mampu memainkan peran yang sangat cerdas dan strategis didalam kancah Pemilu 2014 ini.

Memang jika diterjemahkan lebih dalam mungkin saja posisi Perenungan dan komunikasi Politik yang dilakukan Megawati tidak menemukan jalan yang tepat selain memberikan dukungan kepada Jokowi sebagai Capres PDI-Perjuangan. Lagi – Lagi ini masalah pertaruhan yang sangat besar buat PDI-Perjuangan untuk merebut hati Rakyat ditengah posisi yang sudah diatas angin.

Akan tetapi dengan kematanganya Megawati memotret sekilas perjalanan sejarah Bangsa ini yang terkandung dalam SUPERSEMAR untuk dijadikan bahasa tersurat sekaligus tersirat dari seorang Tokoh Politik Paling Berpengaruh di negeri ini. Apa Makna dibalik itu semua ?? hanya waktu dan perjalanan Pemilu serta hasilnya nanti yang akan menjawab kita.

Penulis : Yahya Abdul Habib (Pemimpin Redaksi WARTAHARIAN.CO)

Perintah Harian KetUm PDIP

MUHAMMAD TAUFIK : JOKOWI PERNAH BERSUMPAH DENGAN AL-QUR’AN DI KEPALA PIMPIN JAKARTA 5 TAHUN

ilustrasiilustrasiFoto : Wartaharian.co/Bib

WARTAHARIAN.CO-(Jakarta) Pencapresan Joko Widodo alias Jokowi mulai mendapat tanggapan beragan, salah satunya dari Muhammad Taufik Ketua DPD Partai Gerindra DKI Jakarta, kepada WARTAHARIAN.CO, mantan Ketua KPU DKI mengingatkan Jokowi akan sumpah yang pernah diucapkan ketika jadi sebagai Gubernur DKi Jakarta.

“Sebagai Pengusung Gubernur DKi Jakarta, saya hanya mengungatkan bahwa Jokowi pernah melakukan Sumpah dengan Al-Qur’an diatas kepalanya, dimana dia akan memimpin Jakarta selama 5 tahun” Jelas Taufik melalui pesan singkat yang di terima Redaksi WARTAHARIAN.CO, 14/03/14.

Seperti yang diketahui, Dalam jumpa Perss di Kantor DPP PDI Perjuangan, akhirnya Joko Widodo telah resmi di capreskan untuk maju dalam Pilpres juni mendatang. Hal tersebut tertuang dalam surat keputusan Ketua Umum DPP PDI-P Megawati Soekarno Putri yang di bacakan oleh Puan Maharani di Kantor DPP PDI-P Lenteng Agung Jakarta Selatan.

EVA K SUNDARI : “GUGATAN KE JOKOWI HANYA BIKIN GADUH”

ilustrasi : Eva K Sundari dan Joko Widodo, Jakarta Baru ilustrasi : Eva K Sundari dan Joko Widodo, Jakarta BaruWARTAHARIAN.CO/AP

WARTAHARIAN.CO-(Jakarta)   Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tampaknya merasa berang terhadap gugatan yang diajukan Tim Advokasi Jakarta Baru, terhadap Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi). Gugatan Tim Advokasi. Jakarta Baru yang digawangi oleh politikus Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Habiburokhman tersebut, dilayangkan setelah PDI Perjuangan resmi mendeklarasikan Jokowi sebagai capres minggu lalu.

Menurut politikus PDI Perjuangan, Eva Kusuma Sundari, gugatan tersebut hanya merupakan manuver politik yang membuat gaduh suasana perpolitikan di Indoneisa. Dia menegaskan, bahwa pencapresan Jokowi adalah konstitusional.

“Pendeklarasian Jokowi sebagai Capres di Pilpres (Pemilu Presiden) 2014, bukan kehendak pribadi, tetapi penugasan dari PDIP yang merespon aspirasi masyarakat luas,” kata Eva dalam siaran pers yang diterima wartawan di Jakarta, Kamis (20/3/2014).

Dia menuturkan, penugasan PDI Perjuangan tersebut kongruen atau sebangun dengan kehendak rakyat, karena PDI Perjuangan adalah alat perjuangan yang berasal, oleh, dan untuk rakyat. Dan Jokowi menerima penugasan itu, untuk melayani rakyat NKRI sebagaimana permintaan rakyat.

Dia pun menilai, bahwa tidak ada pelanggaran undang-undang (UU) ataupun etika dalam pencapresan Jokowi tersebut. Pengabdian ke rakyat, katanya sudah jamak dan lazim dilakukan oleh sejumlah pihak. Eva lantas mencontohkan yang pernah dilakukan orang lain. Antara lain seperti Gamawan Fauzi, yang pernah menjabat sebagai Bupati Solok (Sumatera Barat), yang lantas menjadi pemenang di Pemilu Gubernur (Pilgub) Sumatera Barat. Atau Ganjar Pranowo, anggota DPR yang kini menjadi Gubernur Jawa Tengah.

“Atau bahkan anggota DPR yang naik ke kabinet (menjadi menteri), seperti Andi Mallarangeng (Menpora), Amir Syamsuddin (Menkum HAM), Azwar Abubakar (Menteri PAN dan RB), Zulkifli Hasan (Menhut), Muhaimin Iskandar (Menakertrans),” ujarnya.

Jadi, Eva menegaskan bahwa pencapresan Jokowi tersebut hanya bagian dari tradisi atau konvensi politik di Indonesia. Namun dia mengaku sangat heran, karena baru sekali ini tradisi tersebut digugat, yaitu di kasus Jokowi. Dia pun menilai ini suatu keganjilan.

“Ini hanya manuver yang bikin gaduh, dan tak ada substansinya. Ini harus diakhiri. Demokrasi seharusnya semakin berkualitas. Saya yakin pengadilan akan menolaknya. Jika tidak pun, kita siap menghadapinya,” tandas anggota Komisi Hukum DPR ini. (WH/AP)

(Reporter : Bopak)

http://www.ambonekspres.com/index.php/aeheadline/item/3375-jokowi-dan-kisah-petruk-jadi-ratu.html

 

Jokowi dan Kisah Petruk Jadi Ratu

  • Kamis, Mar 20 2014
  • Ditulis oleh  amex
  • ukuran huruf perkecil besar tulisanperbesar ukuran huruf

Смесители для душа и ванны
Детские игрушки, развивающие игры

Cetak Email

OLEH: Erwin Dariyanto

MicrosoftInternetExplorer4

Di teras sebuah rumah di Desa Karangkadempel yang sejuk ki Lurah Petruk tengah duduk sambil menyantap rujak jeruk. Rujak racikan sang istri dinikmati sambil menghisap sebatang rokok kretek kesukaanya.

Puntung rokok di tangan terjatuh saat dari balik dinding terdengar sayup-sayup pekik kata, ‘Merdeka!’. Rupanya kata itu diucapkan oleh salah satu Ketua Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Puan Maharani dan disiarkan langsung oleh sebuah stasiun televisi.

Pandangan Petruk yang semula ke arah pematang sawah di depan rumah, kini beralih ke ruang tamu. Di ruangan mungil itu sang istri nampak serius menyaksikan siaran televisi. “Dukung Bapak Joko Widodo sebagai calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan,” kata Puan yang membacakan titah dari sang Ibu, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

Pandangan Petruk kembali berpaling dari televisi. Rokok yang terjatuh dia pungut kembali. Dihisapnya dalam-dalam rokok yang tinggal separuh batang itu. Asapnya mengepul menyusup melalui celah-celah jemari tangan, lalu melayang melintasi wajahnya yang gosong akibat terlalu sering terpapar sinar matahari .

Ingatan Ki Petruk kini kembali ke masa puluhan tahun silam. Saat itu dia secara tidak sengaja mendapat ‘mandat’ berupa tiga wahyu keprabon. Tiga wahyu tersebut adalah wahyu Maningrat yang menyebarkan bibit ratu, wahyu Cakraningrat sebagai penjaga ratu, dan wahyu Widayat yang melestarikan hidupnya sebagai ratu.

Ketiga wahyu tersebut semestinya singgah sementara di tubuh Abimanyu. Nantinya wahyu akan diserahkan ke Parikesit sebagai pewaris tahta kerajaan Hastina Pura setelah Pandhawa pergi. Parikesit adalah putra Abimanyu.

Sayang karena saat itu Abimanyu tengah sakit, ketiga wahyu tersebut pergi dan hinggap di tubuh Petruk. Ki Petruk pun menjadi ratu di sebuah kerajaan yang dia beri nama Lojitengara dengan gelar Prabu Wel-Geduwel Beh

Namun rupanya untuk menjadi seorang raja tak cukup bermodal ketiga wahyu tersebut. Petruk memerlukan singgasana kerajaan Hastina Pura. Maka diperintahlah kedua patih Lojitengara, Bayutinaya, Wisandhanu untuk mencurinya.

Tahta berhasil dicuri dan dibawa ke Lojitengara. Namun Prabu Wel-geduwel Beh gagal, setiap hendak duduk di atas singgasana, dia terjungkal. Melalui penasihat kerajaan, Petruk mendapat bisikan agar mencari sebuah boneka yang harus dia gendong saat duduk di singgasana.

Bayutinaya dan Wisandanu kembali diperintahkan untuk mencari boneka tersebut. Kedua patih berhasil membawa sebuah ‘boneka’. Rupanya boneka tersebut adalah Abimanyu yang sedang sakit. Saat dipangku Prabu Wel-Geduwel Beh itulah Abimanyu sembuh dari sakitnya. Petruk sadar tak bisa menduduki tahta kerajaan tanpa memangku Abimanyu, orang yang berhak atas tiga wahyu ‘keprabon’ Hastina Pura.

Lamunan Petruk pun terhenti saat api dari rokok yang dia pegang menyulut ujung telunjuknya. Dia kembali terngiang ‘titah’ Megawati di layar televisi tadi yang memberikan mandat kepada Joko Widodo (Jokowi) menjadi calon presiden. Petruk menerjemahkan perintah Megawati tersebut sebagai penunjukkan Jokowi sebagai ‘raja’, yang akan memimpin negeri ini. Dia pun tak keberatan, karena selama ini sedah merasakan sentuhan kepemimpinan Jokowi.

Namun ada dua hal yang mengganjal di hatinya. Pertama, keikhlasan Megawati selalu ketua umum partai yang menurut seorang politisi menjadi boarding pass calon presiden. Apabila tidak ikhlas tentu di kemudian hari Mega akan meminta ‘imbalan’ atau bahkan mengungkit jasa-jasanya itu kepada Jokowi. Petruk berharap Megawati ikhlas memberi mandat kepada Jokowi.

Ganjalan kedua, adalah soal indepedensi Jokowi saat nanti duduk di singgasana. Keraguan Petruk ini setelah melihat dua hari sebelum ‘titah’ dibacakan, Jokowi secara mendadak mau ikut Megawati ‘nyekar’ ke makam Bung Karno di Blitar, Jawa Timur. Padahal saat itu adalah jam kerja dia selaku gubernur.

Petruk hanya berharap jika nanti benar-benar menjadi raja, Jokowi tak lagi sekadar menurut pada perintah Megawati. Karena setelah menjadi raja, Jokowi tak hanya menerima mandat dari Megawati, melainkan seluruh rakyat. Lamunan Petruk kembali terhenti. Dari balik tembok terdengar sayup tembang, ‘Sinom Rujak Jeruk’ yang membuatnya mengantuk.
Jak rujak rujak rujak jeruk
Sepincuk nggo tombo ngantu Nora mathuk, ndilalah tansah kepethuk Jak rujak rujak rujak uni Rujake wong edi peni
Tubuh Ki Petruk merebah, di atas dipan bambu dia tertidur saat matahari belum sepenuhnya tenggelam di ufuk barat. (*)

 

Advertisements

0 Responses to “Politik : Potret SuPer11Maret1966 dan SuPer14Maret2014”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,306,039 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: