05
Mar
14

Kepahlawanan : Seabad RM Djajeng Pratomo

Dia berkampanye memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, bergerilya-kota melawan Nazi-Jerman, serta membela kemerdekaaan Indonesia saat agresi Belanda.

OLEH: ABOEPRIJADI SANTOSO, KONTRIBUTOR/AMSTERDAM
Dibaca: 2505 | Dimuat: 24 Februari 2014

RADEN Mas Djajeng Pratomo genap seabad pada 22 Februari 2014. Hidup mandiri di apartemen di desa ‘t Zand di ujung utara Belanda, Djajeng lama tersisih dari perhatian media di Belanda maupun Indonesia.

Dia lahir di Bagan Siapi-api, kota pasar ikan di pantai timur Sumatra, putra sulung Dr Djajengpratomo dari Pakualaman Yogyakarta.

Ayahnya, Djajengpratomo, mengenyam sekolah kedokteran yang diperuntukkan bagi kaum ningrat, STOVIA, di Batavia. Dia salah satu alumnus pertamanya. Asal-usulnya yang memberinya privilese pendidikan itulah yang justru membuat dirinya insyaf akan status diri dan patrianya sebagai bagian dari sistem negeri jajahan. Ini melahirkan aspirasi kebangsaan dan mendorongnya ikut gerakan nasionalis pimpinan Dr Soetomo.

Djajengpratomo mempelopori pelayanan kesehatan di klinik di Bagan Siapi-api. Berkat perannya –dia mahir berbahasa Tionghoa untuk melayani mayoritas penduduk yang asal Tionghoa– namanya diabadikan pada rumahsakit lokal: RSUD Dr Pratomo.

Djajeng Pratomo –semula namanya Amirool Koesno, kemudian digantinya dengan nama ayahnya– bernasib hampir serupa. Seperti ayahnya, privilese yang memungkinkannya masuk sekolah menengah Koning Willem II School di Batavia membuat dirinya sadar sebagai anak jajahan. Menyusul adiknya, Gondho Pratomo, Djajeng pada 1935 bertolak ke Belanda untuk melanjutkan studi kedokteran di Leiden.

Justru di Belanda Djajeng menemukan budaya aslinya. Dia menggemari, mempelajari, dan mementaskan tari Jawa melalui kelompok seni tari De Insulinde.

Tahun 1930-an adalah tahun krisis. Naziisme-Hitler berkuasa di Jerman dan mengguncang Eropa. Djajeng menjadi anggota Perhimpunan Indonesia (PI), sebuah klub sosial mahasiswa Indonesia di Belanda yang didirikan pada 1922 dan kemudian berkembang jadi organ politik kebangsaan yang gigih melawan kekuatan fasis. (Baca: Perhimpunan Indonesia, Wahana Perjuangan)

Nama Djajeng tak terpisahkan dari Stijntje ‘Stennie’ Gret, gadis Schiedam yang dijumpainya di sebuah toko buku pada 1937. Stennie meminati perkembangan di Hindia dan tertarik pada seni tari Jawa. Bersama Djajeng, yang kemudian jadi suaminya, keduanya menjadi mitra di bidang budaya sekaligus sekutu politik.

Dasawarsa 1930-an merupakan hari-hari bahagia mereka. Dua sejoli ini sering menikmati pergelaran jazz di teater prestisius Pschorr di Coolsingel, Rotterdam, dan De Insulinde mementaskan tarian Jawa oleh Djajeng di Koloniaal Instituut van de Tropen di Amsterdam. Di mana ada Djajeng, di situ ada Stennie. Juga ketika De Insulinde mementaskan tari di London untuk menghimpun dana guna membantu Tiongkok yang kala itu diduduki tentara Jepang.

Tahun 1940-an menjadi masa bergolak yang penuh tragik. Di bawah pendudukan Nazi, PI jadi ilegal. Polisi Jerman memburu para aktivisnya. Pada 1943 Djajeng dan Stennie ditahan di kamp Vught. Tahun berikutnya mereka dikirim ke kamp maut Nazi di Ravenbruck dan Dachau di Jerman.

“Di Dachau,” Djajeng berkisah, “saya melihat tumpukan mayat setiap hari.” Sebagai tenaga kerja paksa untuk pabrik pesawat terbang Messerschmitt, setiap hari dia menyaksikan orang digantung mati. Jika ada peluang, Djajeng mencoba menyelamatkan tawanan, tutur salah seorang yang diselamatkannya. Sementara di kamp Ravenbruck, Stennie mencat-hitam rambut para tawanan perempuan agar tampak muda ketika penguasa kamp memerintahkan untuk membinasakan para tawanan jompo.

Selamat dari derita kamp, Djajeng dan Stennie dibebaskan tentara Sekutu namun baru bertemu kembali pada September 1945, sebulan setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Mereka lalu menikah sebagai warga negara Indonesia pada Februari 1946 dan melanjutkan pekerjaan politik untuk membela kemerdekaan Indonesia.

Ketika Belanda melancarkan agresi militer I pada Juli 1947, PI menggelar protes massal di Concertgebouw, Amsterdam. Kampanye membela kemerdekaan Indonesia membawa mereka ke Eropa Timur. Di Praha, Djajeng dan kawan-kawannya turun ke jalan dan dengan bangga mengibarkan bendera Merah-Putih ketika dia memimpin delegasi Indonesia di World Federation of Democratic Youth. Kampanye itu bahkan berlanjut sampai Serajewo dan kota kota lain di Yugoslavia. Kembali ke Belanda, mereka bergerak di bawah tanah selagi pecah perang kemerdekaan di Indonesia.

Djajeng dan Stennie dua kali berencana pulang ke Indonesia, namun membatalkannya. Kali pertama karena agresi militer I dan kali kedua karena terjadi pembantaian 1965-1966. Lalu, dengan alasan pragmatis, mereka beralih ke kewarganegaraan Belanda pada 1975. Akhirnya, setelah kurun enam dasawarsa, Djajeng dan Stennie sempat menginjakkan kaki di Indonesia.

Kembali di Belanda, Djajeng tetap aktif politik di front internasional, dan baru berhenti ketika Stennie jatuh sakit dan meninggal pada 2010.

Djajeng, Stennie, dan kamerad-kameradnya tergolong generasi yang meyakini bahwa sejarah selalu bergerak maju. Dengan begitu mereka merumuskan idealisme dan kekuatan politiknya berdasarkan solidaritas internasional. Kini mereka hidup di dunia yang telah berubah radikal. Namun perubahan itu tidaklah seperti yang mereka bayangkan dan proyeksikan.

Meski begitu, Djajeng tak merasa kecewa. Dia masih mencintai Indonesia, dengan seni tari, musik gamelan, serta kulinernya. Djajeng kini tak mampu lagi berbahasa Indonesia. Namun, dengan semangat internasionalnya, idealisme kepatriotan dan aksi-aksi perjuangannya, Djajeng Pratomo adalah salah satu patriot istimewa Indonesia.

*) Dengan terima kasih atas perantaraan Ny. Marjati Pratomo

++++

http://historia.co.id/artikel/modern/1345/Majalah-Historia/Perhimpunan_Indonesia,_Wahana_Perjuangan

SEABAD RM DJAJENG PRATOMO

Perhimpunan Indonesia, Wahana Perjuangan

Perkumpulan anak bangsa pertama di Negeri Belanda yang memakai nama Indonesia.

image
OLEH: ABOEPRIJADI SANTOSO, KONTRIBUTOR/AMSTERDAM
Dibaca: 953 | Dimuat: 24 Februari 2014

PERHIMPUNAN Indonesia (PI) menempati posisi unik dalam sejarah. Ia adalah perkumpulan anak bangsa yang pertama kali menyandang nama Indonesia untuk menunjukkan aspirasi kemerdekaan.

PI (1924), semula bernama Indische Vereeniging dan didirikan pada 1908, mulanya perkumpulan mahasiswa biasa. Namun ia berubah jadi radikal sejak Nazi-Hitler berkuasa di Jerman pada 1933, kemudian menggetarkan Eropa, dan menduduki Belanda pada 1940. PI berkembang menjadi organ politik yang gigih dan efektif. Ia menggalang mahasiswa-mahasiswa Indonesia agar bersatu melawan fasisme.

Sepanjang kurun menuju 1940, mereka bersekutu dengan kelompok-kelompok perlawanan Belanda di sekitar media Vrij Nederland,De WaarheidHet Parool, dan De Vrije Katheder, membantu mencetak koran-koran tersebut secara ilegal, karena mereka bertekad menempatkan perjuangan melawan fasisme sebagai agenda utama.

Pada akhir 1930-an hingga 1940-an, PI aktif dalam kegiatan politik kaum perlawanan anti-Nazi: mengerahkan, merekrut, dan mengorganisasi sesama mahasiswa, menyebarkan pamflet, serta melindungi dan menyembunyikan orang-orang yang menjadi sasaran Nazi –kaum Yahudi dan lain-lain.

Dalam edisi khusus Jubileum (HUT ke-30) majalah Indonesia Merdeka, pimpinan PI menyatakan: “Agresi fasis tahun-tahun belakangan ini mengancam Belanda maupun Indonesia. (Dalam kondisi itu) kerjasama antara rakyat Indonesia dengan gerakan nasionalnya dan Belanda yang demokratis, atas dasar kesetaraan dan saling-menghargai, merupakan satu-satunya jalan untuk membebaskan kedua rakyat negeri tersebut dari bahaya yang mengancam mereka. (Karena) rakyat tidak dapat memenuhi kewajibannya tanpa adanya hak-hak demokratis mereka, maka Perhimpunan Indonesia bercita-cita menuju perombakan yang demokratis berdasarkan kesetaraan di bidang ekonomi, politik dan militer.”

Jadi, PI memandang kerjasama kedua bangsa dan rakyat (Belanda dan Indonesia) sebagai kerjasama “menyelamatkan kemanusiaan” dari kekejaman Nazi. Dengan demikian, PI menunjuk bahwa tujuan “Indonesia merdeka” hanya dapat dicapai dengan memerangi fasisme. Namun seruan Perhimpunan Indonesia mengenai kerjasama itu ditampik begitu saja oleh pemerintah Belanda.

Maka, bagi PI, masalah yang utama adalah menyadarkan sesama Indonesia di Belanda maupun di Indonesia agar terlibat dalam perjuangan melawan fasisme. Seruan ini bukan hanya ditujukan kepada para mahasiswa Indonesia yang kebanyakan berada di Leiden, kota yang menjadi markas PI, tetapi juga pelaut-pelaut Indonesia yang bekerja pada perusahaan-perusahaan kapal Belanda di Rotterdam. Akibat pendudukan Jerman, pekerja Indonesia di perusahaan Rotterdamse Lloyd menganggur dan mereka inilah yang mendapat penyuluhan politik oleh para mahasiswa dari PI cabang Rotterdam.

Paling kurang lima anggota PI menjadi korban Nazi: Djajeng dan adiknya, Gondho, jadi pekerja-paksa di kamp Dachau meski akhirnya selamat; tiga orang tewas di kamp; dan Irawan Surjono tewas ditembak polisi Nazi (SS) ketika mengangkut pamflet di Leiden.

Sementara itu, PI juga cemas akan simpati yang berkembang di Indonesia terhadap peran Jepang. Menurut pimpinan PI, rakyat Indonesia harus menyadari bahwa industrialisasi yang dijalankan Jepang berarti pula ekspansi kekuatan fasis ke selatan, termasuk Indonesia.

Karena itu, isu tentang hubungan Sukarno dengan tentara pendudukan Jepang menimbulkan dilema. Djajeng dalam hal ini masih mempercayai Sukarno, karena dia menyadari bahwa Belanda berkepentingan untuk mendiskreditkan pemimpin Indonesia sebagai “boneka Jepang”.

Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, PI memutuskan bahwa sebagian besar anggotanya kembali ke tanah air; belakangan sebagian dari mereka tewas menyusul Peristiwa Madiun (1948). Sebagian lainnya, termasuk Djajeng, tetap berada di Belanda untuk memimpin majalah PI, yang berganti nama menjadi Indonesie, dan melanjutkan kegiatan politik. Djajeng sempat bertugas mewakili Kementerian Penerangan Republik Indonesia di Belanda.

Dengan riwayatnya yang heroik sekaligus bersetiakawan internasional, perjalanan PI selaku wahana politik Indonesia mencerminkan sebuah era yang sarat perubahan dan tantangan fundamental –bagi Eropa maupun bagi Indonesia sebagai suatu bangsa baru.

Sabtu, 01 Maret 2014 | 11:40 WIB

Kisah Djajeng Pratomo di Kamp Nazi ( Bagian 1 )

TEMPO.CO, Amsterdam, Belanda – Perlawanan terhadap fasisme Jerman pada 1940-an melibatkan beberapa aktivis Perhimpunan Indonesia di Belanda. Mereka saat itu juga memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Salah seorang aktivis itu bernama Djajeng Pratomo. Ia tinggal di Belanda. Djajeng pernah ditahan di kamp konsentrasi Nazi di Dachau, Muenchen. Kamp Dachau disebut-sebut kamp konsentrasi Nazi yang paling kejam dan banal.

Di kamp ini terdapat banyak fasilitas penyiksaan seperti ruang gas, rumah krematorium dengan tungku pembakaran mayat dan alat siksa beraliran listrik. Ribuan mayat ditumpuk tiap hari sehingga orang harus menggunakan tangga untuk meletakkan mayat di bagian teratas.

Djajeng pada 22 Februari lalu merayakan ulang tahunnya yang ke-100. Di usianya yang seabad itu, Lea Pamungkas dari Tempo menggali kisah aktivitasnya di Perhimpunan Indonesia dan bagaimana ia bertahan untuk hidup di Kamp Konsetrasi Dachau. Berikut tulisan pertama dari lima tulisan yang disajikan disini.

Nama Djajeng tak dikenal dalam sejarah Indonesia. Tapi dia salah satu saksi hidup perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia tapi juga saksi hidup kekejaman tentara Nazi.

Djajeng lahir di Bagansiapiapi, Sumatera Utara pada 22 Februari 1914. Anak Pasangan Raden Mas Pratomo- Raden Pratomo dan Raden Sujatilah. Lahir dengan nama Amirool Koesno. Ayahnya keturunan Keraton Pakualaman Yogyakarta.

Dialah lulusan pertama dokter Jawa dari sekolah bergengsi School toto Opleiding van Inlandsche Artsen-STOVIA, sebuah pendidikan untuk Dokter Pribumi. Dr Pratomo pindah ke Bagansiapiapi untuk memimpin sebuah poliklinik pada 1911 hingga meninggal pada 1939. Namannya diabadikan untuk nama rumah sakit umum daerah di Jalan Pahlawan Nomor 13, Kabupaten Rokan Hilir, Riau.

Amirool kecil pindah ke Medan pada usia 7 tahun untuk masuk sekolah dasar. Dia meneruskan sekolah menengah di Yogyakarta dan HBS di Koning Willem School, Jakarta. Semua siswa dan gurunya Belanda tulen atau Indo. “Seingat saya hanya ada satu guru Indo,” ujarnya.

Setelah lulus dia meneruskan pendidikan ke Medische School, sekolah kedokteran di Belanda dan sang ayah mengirimnya ke Leiden. Adiknya, terlebih dulu sudah sampai di Belanda. Hanya setahun di Leiden, dia pindah ke Economische Hogeschool-sekolah tinggi ekonomi di Rotterdam. Adiknya pun mengikuti jejaknya pada 1940.

Sabtu, 01 Maret 2014 | 15:43 WIB

Ketika Djajeng Pratomo Ketemu Gret (2)

TEMPO.CO, Jakarta -Perlawanan terhadap fasisme Jerman pada 1940-an melibatkan beberapa aktivis Perhimpunan Indonesia di Belanda. Mereka saat itu juga memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Salah seorang aktivis itu bernama Djajeng Pratomo. Ia tinggal di Belanda. Djajeng pernah ditahan di kamp konsentrasi Nazi di Dachau, Muenchen. Kamp Dachau disebut-sebut kamp konsentrasi Nazi yang paling kejam dan banal.  (Baca: Kisah Djajeng Pratomo di Kamp Nazi ( Bagian 1 )

Di kamp ini terdapat banyak fasilitas penyiksaan seperti ruang gas, rumah krematorium dengan tungku pembakaran mayat dan alat siksa beraliran listrik. Ribuan mayat ditumpuk tiap hari sehingga orang harus menggunakan tangga untuk meletakkan mayat di bagian teratas.

Djajeng pada 22 Februari lalu merayakan ulang tahunnya yang ke-100. Di usianya yang seabad itu, Lea Pamungkas dari Tempo menggali kisah aktivitasnya di Perhimpunan Indonesia dan bagaimana ia bertahan untuk hidup di Kamp Konsetrasi Dachau. Berikut tulisan kedua dari lima tulisan yang disajikan disini.

Satu hari di toko buku di Rotterdam, Belanda, sepasang mata Djajeng tertarik pada satu sosok gadis yang sedang melihat buku-buku tentang Indonesia. “Kami berdiri bersebelahan di depan etalase yang dipenuhi buku tentang Indonesia,” kata Djajeng. (Baca: Djajeng, Pintar Menari (Bagian 3)

Saat gadis itu berlalu dari toko buku itu, Djajeng  mengikuti hingga jembatan dan mengajak berkenalan. Stintje Gret yang saat itu berusia 18 tahun, menyambut perkenalan itu. Stennie, sapaan untuk Stintje Gret,  adalah penari balet dan tertarik pada tarian Jawa. Setelah pertemuan itu, hubungan keduanya semakin erat sebagai sepasang kekasih.

Aktivitas Djajeng memperjuangkan kemerdekaan Indonesia mendapat simpati dari koran Partai Komunis Belanda De Waarheid. Stennie mendukung perjuangan Djajeng. Namun, tidak mudah bagi Djajeng dalam menjalankan aktivitasnya. Untuk mengurangi resiko atas aktivitas bawah tanahnya, Djajeng dipindahkan ke Den Haag.

Sayangnya alamatnya diketahui Sicherheits Dienst atau tentara Nazi setelah menangkap Stennie sebelumnya. Rumah Djajeng digerebek pada 18 Januari 1943. Djajeng dan rekannya, Moen Soendaroe ditangkap dan dijebloskan ke Kamp Konsentrasi Vught di Belanda Bagian Selatan.

Djajeng kemudian dipindahkan  ke Dachau, Moen ke Kamp Neuengamme di Hamburg.  Stennie ditahan di Vught lalu dipindah ke Kamp Ravensbruck. Tak lama kemudian Stennie dibebaskan. Begitu juga dengan Djajeng.

Djajeng kemudian menjadi Pemimpin Redaksi Indonesia, sementara Stennie membentuk sebuah komite melawan pendudukan Belanda atas Indonesia. Dia tetap tinggal di Belanda dan diperbantukan di Kementerian Penerangan. Mereka berdua banyak terlibat dalam demonstrasi melawan pengiriman pasukan Belanda ke Indonesia.

Pada 1947, keduanya menghadiri Wereldjeugfestival, Festival Pemuda Sedunia, di Praha. Mereka membawa bendera Indonesia yang baru dua tahun merdeka .Mereka pun melanjutkan perjalanan diplomasi budaya ke beberapa kota di Yugoslavia.

LEA PAMUNGKAS | DIAN YULIASTUTI

Baca Kisah Djajeng Pratama lainnya
Kisah Djajeng Pratomo di Kamp Nazi ( Bagian 1 )  
Kisah Djajeng Pratomo dengan Gret (Bagian 2)
Djajeng, Pintar Menari (Bagian 3)  
Tahanan 69053 Pengangkut Mayat (Bagian 4)
Cara Djajeng Menyelamatkan Diri (Bagian 5) 

Sabtu, 01 Maret 2014 | 16:38 WIB

Djajeng, Pintar Menari (Bagian 3)

TEMPO.CO, Jakarta -Perlawanan terhadap fasisme Jerman pada 1940-an melibatkan beberapa aktivis Perhimpunan Indonesia di Belanda. Mereka saat itu juga memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Salah seorang aktivis itu bernama Djajeng Pratomo. Ia tinggal di Belanda. Djajeng pernah ditahan di kamp konsentrasi Nazi di Dachau, Muenchen. Kamp Dachau disebut-sebut kamp konsentrasi Nazi yang paling kejam dan banal.

Di kamp ini terdapat banyak fasilitas penyiksaan seperti ruang gas, rumah krematorium dengan tungku pembakaran mayat dan alat siksa beraliran listrik. Ribuan mayat ditumpuk tiap hari sehingga orang harus menggunakan tangga untuk meletakkan mayat di bagian teratas.

Djajeng pada 22 Februari lalu merayakan ulang tahunnya yang ke-100. Di usianya yang seabad itu, Lea Pamungkas dari Tempo menggali kisah aktivitasnya di Perhimpunan Indonesia dan bagaimana ia bertahan untuk hidup di Kamp Konsetrasi Dachau. Berikut tulisan ketiga dari lima tulisan yang disajikan disini. (Baca: Kisah Djajeng Pratomo di Kamp Nazi ( Bagian 1 ) 

Dibalik aktivitas politik yang penuh resiko, Djajeng Pratomo punya bakat seni yang baik. Ia pandai menari dan bergamin gamelan. “Saya juga main musik keroncong,” kata Djajeng. Ia mengatakan semua bakat seninya diasah sejak tinggal di Belanda.

Mantan pemimpin Redaksi Indonesia yang aktif mensosialisasikan kemerdekaan Indonesia di Eropa bercerita keterlibatannya di Perhimpunan Indonesia justru berawal dari kegiatan seni. Dia menari dan menabuh gamelan di kelompok musik Insulinde milik Kaoem Muda Indonesia- organisasi pekerja Indonesia di Belanda.Pendapatan dari Insulinde ini menyumbang banyak untuk kegiatan Perhimpunan Indonesia.

Djajeng sering terlibat program Roekoen Peladjar Indonesia. Organisasi ini bekerja sama dengan para pekerja kapal, pekerja restoran bahkan para jongos dan babu asal Indonesia. (Baca: Sejoli Berjuang untuk Indonesia (Bagian 2)

Bersama Roekoen Pelajar Indonesia, Djajeng  memamerkan tarian di London, Inggris, pada 1939. Kegiatan ini untuk mendanai rakyat Cina melawan fasisme Jepang. Mereka juga dikontrak Institut Kolonial-cikal bakalah Yayasan Tropen. Penontonnya bisa menembus angka seribu. Acara seni yang mereka gelar dapat  menghasilkan pendapatan yang lumayan besar hingga institut itu mendapat keuntungan 500 gulden.

Setelah Jerman berkuasa di Belanda,  Djajeng terus bergerak dengan menyebarkan penerbitan bawah tanah.Sedangkan aktivitas  Insulinde terpaksa dihentikan.

 

Djajeng dan Tahanan 69053 Pengangkut Mayat (4)

TEMPO.CO, Jakarta -Perlawanan terhadap fasisme Jerman pada 1940-an melibatkan beberapa aktivis Perhimpunan Indonesia di Belanda. Mereka saat itu juga memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Salah seorang aktivis itu bernama Djajeng Pratomo Ia tinggal di Belanda. Djajeng pernah ditahan di kamp konsentrasi Nazi di Dachau, Muenchen. Kamp Dachau disebut-sebut kamp konsentrasi Nazi yang paling kejam dan banal.   (baca: Kisah Djajeng Pratomo di Kamp Nazi ( 1 )  )

Kepada Lea Pamungkas dari Tempo, ia  berkisah aktivitasnya di Perhimpunan Indonesia dan bagaimana ia bertahan untuk hidup di Kamp Konsentrasi Dachau. Berikut tulisan keempat dari lima tulisan yang disajikan disini.

Pada 18 Januari 1943, rumah Djajeng Pratomo dan rekannya sesama mahasiswa Moen Soendaroe digerebek oleh Sicherheits Dients (tentara Nazi). Kekasihnya Stintje Gret atau Stennie sudah lebih dulu ditangkap. Djajeng diangkut dengan truk ke  Kamp Vaught. Ia  kemudian dijebloskan ke  Kamp Konsentrasi Dachau. Saat itu musim dingin mengamuk menebarkan dingin yang menggigit tulang. 

Djajeng tahanan Kamp Dachau bernomor 69053. Di kamp, Djajeng tak hanya menjalani kerja paksa, tapi juga dipaksa melihat cara Tentara Nazi-Schutztaffel (SS)–Satuan Keamanan Nazi–menggantung para tahanan. Sejak didirikan pada 1933, kamp ini dipakai sebagai sarana proyek pelatihan mental tentara SS untuk menjadi SS-Totenkopverbände (SS-TV) atau Satuan Tengkorak. “Saya diwajibkan bekerja di pabrik pesawat terbang Messerschmit, tapi kemudian saya dipindah ke bagian lain,” ujarnya tentang pekerjaannya di kamp. 

Djajeng yang berlatar belakang pendidikan ilmu kedokteran  dijadikan perawat para tahanan di Blok 7 bagian barak rumah sakit. Barak-barak kayu dibikin panjang berjajar tanpa pemanas ruangan. Setiap kali masuk barak, para tahanan diharuskan bertelanjang kaki.

Di dalam kamp ini, tak kurang dari 200 ribu orang dari pelbagai penjuru Eropa pernah ditahan–31 ribu di antaranya tewas. Dari 2.068 orang yang berasal dari Belanda, 477 orang di antaranya meninggal.(baca:Kisah Djajeng Pratomo dengan Gret (Bagian 2))

Bersama seorang dokter dari Perancis, Djajeng menangani para tahanan yang terkena penyakit menular. Ketika epidemi tifus terjadi, awalnya hanya Blok 7 yang digunakan untuk merawat para pasien. Namun, saking banyaknya orang yang sakit, akhirnya barak-barak lain pun digunakan. “Kami betul-betul kepayahan,” ujarnya. Untunglah datang seorang dokter lain yang sangat berpengalaman dengan penyakit tifus, Dr Kovalenko. Kovalenko adalah dokter tentara Rusia yang menjadi tawanan.

Selain merawat tahanan, Djajeng juga harus mengangkut mayat ke totenkamer, kamar mayat. Djajeng melakukan bersama seorang pemuda Rusia berusia 15 tahun. Setiap hari semakin banyak yang diangkut.“ Kami harus terus mengangkat mayat itu satu per satu. Akhirnya kami terpaksa menumpuknya di jalanan,” ujarnya. “Tumpukan mayat itu  semakin hari semakin tinggi. Sampai-sampai kami harus memakai tangga.”

Mayat-mayat tersebut kemudian dibawa untuk dibakar di krematorium yang letaknya terpencil dari lokasi barak dan sel tahanan. Tubuh-tubuh itu dibakar di atas tungku dengan cerobong asap yang tidak pernah berhenti mengepulkan bau manusia. Di lokasi tersebut dibangun juga kamar gas yang digunakan untuk mengeksekusi para tahanan secara massal. Mereka juga mati karena menjadi korban kelinci percobaan dari pelbagai penelitian bakteri para ilmuwan Nazi dan korban latihan tembak Tentara SS-TV.

DIAN YULIASTUTI

Berita Terkait:
Kisah Djajeng Pratomo di Kamp Nazi ( Bagian 1 )
Sejoli Berjuang untuk Indonesia (Bagian 2)
Djajeng, Pintar Menari (Bagian 3)

 

http://m.tempo.co/read/news/2014/03/01/117558612/Cara-Djajeng–Selamatkan-Diri-dari-Kamp-Nazi—5

 

Sabtu, 01 Maret 2014 | 18:08 WIB

Cara Djajeng Selamatkan Diri dari Kamp Nazi ( 5)

TEMPO.CO, Jakarta –Perlawanan terhadap fasisme Jerman pada 1940-an melibatkan beberapa aktivis Perhimpunan Indonesia di Belanda. Mereka saat itu juga memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Salah seorang aktivis itu bernama Djajeng Pratomo. Ia tinggal di Belanda. Djajeng pernah ditahan di kamp konsentrasi Nazi di Dachau, Muenchen. Kamp Dachau disebut-sebut kamp konsentrasi Nazi yang paling kejam dan banal. (baca: Kisah Djajeng Pratomo di Kamp Nazi ( Bagian 1 ) )

Djajeng pada 22 Februari lalu merayakan ulang tahunnya yang ke-100. Di usianya yang seabad itu, Lea Pamungkas dari Tempo  menggali kisah aktivitasnya di Perhimpunan Indonesia dan bagaimana ia bertahan untuk hidup di Kamp Konsentrasi Dachau. Berikut bagian terakhir dari tulisan ini.

Tak mudah bagi Djajeng dan para perawat lain bertahan hidup dari eksekusi tentara Nazi. Mereka harus pintar-pintar mencari akal lolos dari maut. Djajeng memanipulasi nomor kartu identitas tahanan miliknya.Ketika seorang tahanan harus menjalani eksekusi, para perawat akan mengambil nomor kartu identitas yang tergantung di kaki tubuh tahanan yang sudah jadi mayat. Lalu, Djajeng dan teman-teman sesama tahanan menukar kartu identitas mayat dengan kartu identitas mereka.“Jika tentara SS datang, kami serahkan kartu yang sudah ditukar itu dan mengatakan dia sudah mati,” kata Djajeng.(baca: Kisah Djajeng Pratomo dengan Gret (Bagian 2))

Nasib baik berpihak pada Djajeng dan tahanan lainnya. Malam 28 April 1945 terdengar dentuman meriam yang suaranya semakin lama semakin dekat ke arah Kamp Dachau. Djajeng Pratomo mendengar bocoran informasi bahwa 32 ribu orang yang masih berada di kamp Dachau tak boleh seorang pun dibiarkan hidup bila pasukan Amerika datang.

Keesokan harinya, Djajeng bersama sejumlah tahanan lainnya berlari menyelamatkan diri ke lapangan tempat apel meski masih terdengar bunyi tembakan dimana-mana. Tentara Amerika Serikat menyelamatkannya para tahanan termasuk Djajeng.

Belakangan,seorang tahanan Kamp Dachau bernama Mirdamat Seidov asal Baku, Azerbaizan, mencarinya. Pada 1958, Seidov mengirim surat ke Majalah Negeri Sovjet, majalah berbahasa Indonesia di Rusia. Dalam surat yang dimuat pada edisi 22 November 1958 Seidov mengucapkan terima kasih kepada Djajeng yang pernah menyelamatkan hidupnya di Kamp Dachau. (baca: Tahanan 69053 Pengangkut Mayat (Bagian 4))

Ceritanya, pada saat pembebasan para tahanan oleh pasukan Amerika, komite-komite nasional didirikan untuk mencatat para tahanan yang masih hidup. Sedangkan yang sakit masuk ke kamp karatina Palang Merah. Seidov masuk ke kamp karatina. Saat itu,  Djajeng yang fasih berbahasa Inggris ikut dalam komite mengkoordinasi persediaan makanan, obat-obatan, pakaian, dan barang-barang yang dibutuhkan kamp karantina.

Kisah hidupnya itu  masih membekas dalam benak Djajeng.“Sampai hari ini saya masih sering bermimpi buruk dan tiba-tiba terbangun dari tidur.” 

DIAN YULIASTUTI

Baca Kisah Djajeng Pratama lainnya
Kisah Djajeng Pratomo di Kamp Nazi ( Bagian 1 )  
Kisah Djajeng Pratomo dengan Gret (Bagian 2)
Djajeng, Pintar Menari (Bagian 3)  
Tahanan 69053 Pengangkut Mayat (Bagian 4)
Cara Djajeng Menyelamatkan Diri (Bagian 5)

Advertisements

0 Responses to “Kepahlawanan : Seabad RM Djajeng Pratomo”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,147,453 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: