05
Mar
14

Ideologi : Pancasila Bukan Pilar Bernegara

Pakar: Indonesia Negara yang Mengubur Ideologinya‏

Details
Created on Tuesday, 04 March 2014 21:26
Published Date

 

Kegiatan sosialisasi Pancasila sebagai pilar negara di daerah (GATRAnews/Nur Hidayat)

Jakarta, GATRAnews – Pasca reformasi selama 14 tahun nilai-nilai Pancasila sebagai dasar filsafat negara, dihilangkan dan ditenggelamkan dari kancah kehidupan kenegaraan dan kebangsaan. Oleh karena itu, dewasa ini bangsa Indonesia kehilangan ideologi dan pandangan filosofis dalam kehidupan kebangsaan dan kenegaraan. Maka, munculnya istilah baru ‘Pancasila sebagai Pilar Negara’ akan berakibat menyesatkan pemahaman dan penghayatan bangsa terhadap Pancasila.

 Hal demikian disampaikan oleh Guru Besar Universitas Gajah Mada (UGM) Prof. Dr. Kaelan, M.S selaku ahli dalam sidang uji materi Pasal 34 ayat (3b) huruf a, Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 tentang Partai Politik (UU Parpol), Selasa (4/3). “Bangsa di dunia yang mengubur ideologinya (Pancasila) adalah Indonesia,” ungkapnya kepada wartawan. Dalam kekosongan ideologi, lanjut dia, ketidaktahuan tentang Pancasila sebagai dasar filsafat negara, kehadiran terminologi ‘Pancasila sebagai Pilar Berbangsa dan Bernegara’ dalam program ‘Empat pilar’ akan menimbulkan kekacauan pengetahuan tentang Pancasila (epistemological mistake). “Fakta menunjukkan munculnya reaksi penolakan terhadap program politik tersebut,” tuturnya.

 “Secara prinsipial isi Undang-Undang Nomor 2, Tahun 2011 sangat baik, terutama ketentuan tentang pendidikan politik pada Pasal 34 ayat (3) huruf b, namun esensi Pancasila harus tetap diletakkan sebagai dasar negara Republik Indonesia,” lanjutnya. Menurut Kaelan, berdasarkan analisis semiotika maka Pancasila dalam hubungan Icon, merupakan suatu dasar filsafat Hidup Berbansa dan Bernegara, dan di dunia Internasional Pancasila sudah merupakan ciri khas yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.

 Kelan menjelaskan, dalam hubungan Indeks nilai-nilai Pancasila itu tidak semata-mata diambil dari budaya asing, melainkan nilai-nilai yang dimiliki oleh bangsa Indonesia sendiri yang menurut istilah Notonagoro disebut causa materialis). Adapun dalam hubungan Simbol (konvensi), ungkap dia, Pancasila merupakan suatu hasil konsensus yang luhur, ’Founding Fathers’ tatkala mendirikan negara, dan dalam hubungan ini dalam Sidang BPUPK Soekarno menyatakan, bahwa dasar filsafat negara yang akan didirikan itu diberi nama ’Pancasila’, hal ini atas pertanyaan Ketua BPUPK dr. Radjiman Wedijodiningrat. “Lalu istilah ’Pancasila sebagai Pilar Berbangsa dan Bernegara’ itu sumbernya dari mana?” ujar Kaelan.

Sebagaimana diketahui, uji materi ini dimohonkan oleh Masyarakat Pengawal Pancasila Jogyakarta, Solo, Semarang (MPP Joglosemar). UU Parpol ini digugat lantaran dalam pasal tersebut diatur Parpol wajib mensosialisasikan 4 Pilar Kebangsaan yang menempatkan Pancasila sebagai salah satu pilar. Pemohon menilai, dengan berlakunya Pasal tersebut telah merugikan hak konstitusional pemohon. Sebab, Pancasila yang merupakan dasar negara Indonesia disejajarkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Bhinneka Tunggal Ika, dan UUD 1945 dalam Pilar Kebangsaan. Pemohon juga menilai, sosialisasi oleh MPR tentang ‘Empat Pilar Kebangsaan’ yang salah satunya adalah Pancasila, merupakan kesalahan berpikir dalam ideologis. Hal tersebut melanggar konstitusi karena dalam UUD 1945 sudah termaktub, bahwa Pancasila dasar Negara. (*/WN)

Saksi Ahli: Sumber Dari Mana Pancasila Disebut Pilar Bernegara?

TRIBUNnews.comTRIBUNnews.com – Sel, 4 Mar 2014

Laporan Wartawan Tribunnews, Eri Komar Sinaga

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Sejak Reformasi 14 tahun lalu, Pancasila sebagai dasar filsafat negara dihilangkan dan ditenggelamkan dari kehidupan bernegara dan berbangsa. Indonesia kehilangan ideologi dan pandangan filosofis.

Sejak saat itu, dikenal kemudian istilah ‘Pancasilan sebagai pilar negara’ yang dinilai berakibat menyesatkan pemahaman dan penghayatan terhadap Pancasila.

“Bangsa di dunia yang mengubur ideologinya (Pancasila) adalah Indonesia,” ujar Guru Besar Universitas Gajah Mada (UGM), Prof. Dr. Kaelan, M.S., selaku ahli dalam sidang uji materi Pasal 34 ayat (3b) huruf a, Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 tentang Partai Politik (UU Parpol), di Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Selasa (4/3/2014).

Kaelan melanjutkan, dalam kekosongan ideologi, ketidaktahuan tentang Pancasila sebagai dasar filsafat negara, kehadiran terminologi ‘Pancasila sebagai Pilar Berbangsa dan Bernegara’ dalam program ‘empat pilar’ akan menimbulkan kekacauan pengetahuan tentang Pancasila (epistemological mistake).

“Fakta menunjukkan munculnya reaksi penolakan terhadap program politik tersebut. Secara prinsipial isi Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 sangat baik terutama ketentuan tentang pendidikan politik pada Pasal 34 ayat (3) huruf b, namun esensi Pancasila harus tetap diletakkan sebagai dasar negara Republik Indonesia,” lanjut Kaelan.

Berdasarkan analisis semiotika, Menurut Kaelan, Pancasila dalam hubungan Icon, merupakan suatu dasar filsafat hidup berbansa dan bernegara dan di dunia internasional Pancasila sudah merupakan ciri khas yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.

Dalam hubungan Indeks nilai-nilai Pancasila itu tidak semata-mata diambil dari budaya asing, melainkan nilai-nilai yang dimiliki oleh bangsa Indonesia sendiri yang menurut istilah Notonagoro disebut causa materialis.

Lebih lanjut dikatakan Kaelan, Pancasila merupakan suatu konsensus yang luhur dari pendiri bangsa (founding fathers). Kaelan  menyebutkan ketika hubungan ini dalam Sidang BPUPK Soekarno menyatakan, bahwa dasar filsafat negara yang akan didirikan itu diberi nama ’Pancasila’. Jawaban tersebut atas pertanyaan Ketua BPUPK dr. Radjiman Wedijodiningrat.

“Lalu istilah ’Pancasila sebagai Pilar Berbangsa dan Bernegara’ itu sumbernya dari mana?” kata dia.

Baca Juga:

Abu Gunung Kelud juga Selimuti Yogya dan Sekitarnya

Soeharto Turun Tangan demi Usman-Harun

Jennifer Dunn Akui Terima Mobil Vellfire dari Wawan

Advertisements

0 Responses to “Ideologi : Pancasila Bukan Pilar Bernegara”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,308,303 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: