03
Mar
14

Kenegarawanan : Krisis Serius Mentalitas Bangsa Indonesia

Dok / SH

Indonesia mengalami krisis mentalitas bangsa yang sangat serius.

Ketika krisis Asia 1998 terjadi, Korea Selatan (Korsel) bangkit dengan cepat. Itu karena presiden, menteri, pejabat pemerintah, sampai diikuti seluruh rakyatnya menetapkan, memotong separuh gaji mereka demi pemulihan ekonomi bangsa.
Rasa cinta bangsa, memikirkan kepentingan bersama sebagai sesama senasib sebangsa mengakibatkan kerelaan dan tekad yang begitu besar untuk berkorban demi kepentingan dan kebangunan bersama. Inilah patriotisme.
Ketika Jepang mengalami gempa dan tsunami pada 2011, tidak satu pun rumah yang ditinggal mengalami penjarahan. Itu karena setiap orang sadar, ini bencana bangsa. Sangat hina mengambil milik sesama sebangsa yang sedang mengalami kesusahan. Ini menyebabkan Jepang begitu dipuji di mata internasional.
Bagaimana Indonesia? Saya begitu bangga keluar negeri menggunakan batik, kain yang menunjukkan kebangsaan Indonesia. Namun, kebanggaan ini sirna ketika mendarat di Bandara Frankfurt, Jerman. Orang-orang  di bandara tersebut memandang saya dengan pandangan menghina dan marah.
Alasannya, hari itu terjadi tragedi Mei 1998 yang disiarkan ke seluruh dunia. Ketika menyadari yang terjadi, saya sangat malu menjadi bangsa Indonesia. Mengapa bangsaku begitu biadab dan dipertontonkan di depan dunia. Pertanyaan tentang patriotisme pun muncul.
Patriotisme adalah sebuah isu kontroversial, sesuatu yang begitu penting dan sangat berdampak bagi suatu bangsa (JJ Rousseau, M Viroli). Patriotisme bisa juga sesuatu yang menjadi “agama” yang membodohkan bangsa dengan fanatisme (Samuel Johnson, Paul Gomberg). Namun, kita sepakat, jika rakyat tidak lagi bisa mencintai bangsanya, bangsa itu akan hancur dan terhina. Patriotisme harus dilihat dan dimengerti sebagai suatu upaya bangsa meningkatkan kualitas bangsa sehingga menimbulkan kebanggaan atas bangsa sendiri. Tanpa kualitas yang riil dan disadari, sulit bagi suatu masyarakat menghargai bangsanya.
Perjuangan kemerdekaan, ikrar Sumpah Pemuda, mukadimah, dan isi Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 sebenarnya memberikan kita segudang modal untuk patriotisme Indonesia. Namun, fakta yang kita hadapi saat ini sangatlah mengenaskan. Para pejabat sibuk menjarah seluruh kekayaan bangsa. Para ekstremis agama memperlakukan saudaranya yang sebangsa sebagai musuh. Para pendidik lebih suka meniru model luar negeri atau lebih memaksakan hal-hal yang tidak esensial dari dalam negeri sendiri, seperti memaksakan mengajarkan bahasa Jawa kepada siswa asal Madura atau siswa dari keluarga Batak, ketimbang mengajak murid mengerti dan mendalami budaya Jawa dan membangun nilai-nilai luhur. Menghilangkan pelajaran bahasa Inggris dianggap sebagai jawaban. Sifat pragmatis dikembangkan, ketimbang membangun konsep cinta bangsa yang serius. Modal mencintai bangsa digerus secara rakus dan sistemik.
Kita dilahirkan dan hidup harus mendarat dan beridentitas jelas. Kegalauan identitas bangsa menyebabkan manusia kehilangan jati dirinya, sekaligus merusak bangsa. Tanpa rasa cinta bangsa, generasi muda Indonesia tidak akan memikirkan secara serius cara bangsa dan negara ini bisa maju. Hal yang dipikirkan adalah bagaimana saya bisa mendapat keuntungan dan bisa “menguras” kekayaan tanah dan bangsa ini bagi kepentingan sendiri dan keluarga. Inilah sifat oportunis yang merupakan dosa laten manusia.
Dampak tergerusnya rasa kebangsaan menyebabkan negeri ini menghina, merusak, dan menghancurkan diri. Kita tidak malu merusak semua properti bangsa, tidak ada rasa sayang bahwa itu menggunakan dana bangsa. Kita tidak sungkan mengotori dan membuang sampah sembarangan. Kita juga tidak sungkan menjarah sesama sebangsa yang sedang dalam kesusahan, menyerobot lampu merah di hadapan semua orang termasuk bangsa asing, dan banyak lagi. Semua ini menunjukkan, kita mengalami krisis mentalitas bangsa yang sangat serius.
Marilah kita membangun rasa cinta bangsa ini dari hal-hal yang esensial. Pertama, menghilangkan semua semangat devide et impera, yang sangat ampuh merusak bangsa. Semua keputusan, perilaku, dan isu yang bersifat memecah-belah dan mendiskriminasi bangsa harus diperangi bersama. Pemerintah harus menjadi penjaga yang menegakkan hukum kebangsaan dengan meniadakan diskriminasi ras, suku, agama, dan gender yang menimbulkan bibit bom pemecah-belah bangsa.
Kedua, tentu kita harus membangun nilai-nilai kebangsaan melalui semua unsur pendidikan. Kebanggaan sebagai bangsa Indonesia harus dibangun dengan dasar dan bukti yang riil, bukan penuh slogan, mimpi, atau janji bohong. Bangunan mentalitas cinta bangsa perlu disadarkan dan dikerjakan. Mark Twain menegaskan, kita harus mencintai negara lebih dari cinta pemerintah. Tuntutan membangun kualitas bangsa membuat kita bangga akan moralitas dan kualitas produksi Indonesia.
Ketiga, moral bangsa yang luhur perlu ditata kembali. Cinta bangsa bukanlah suatu fanatisme naif. Ini merupakan hal yang sulit dilakukan. Cinta bangsa adalah landasan kebudayaan, budaya bangsa adalah dasar dari harkat sebuah bangsa. Rakyat yang kehilangan cinta bangsa adalah rakyat yang sudah tidak lagi menginjakkan kakinya di tanah budayanya. Untuk mencintai bangsa, perlu ada nilai yang bisa dihargai.
Kebangkitan patriotisme bangsa bagi Indonesia belumlah terlambat. Di tengah kegalauan dunia akan diri dan kualitasnya, seharusnya Indonesia bisa bangkit menjadi satu bangsa yang berkualitas. Sebagai contoh, China—dari negara yang begitu terpuruk dengan kemiskinan, moralitas komunis yang begitu rendah, kualitas produksi yang begitu buruk—citranya berubah dengan drastis. Karena itu, mengubah Indonesia tentu tidak sesulit mengubah masyarakat yang begitu besar seperti China.
Tekad yang sungguh, dimulai dari komitmen para pemimpin bangsa, akan dengan cepat didukung seluruh rakyat. Perjuangan para patriot modern, seperti Joko Widodo, Basuki Tjahaja Purnama, Tri Rismaharini, dan semua yang berjuang dan berkorban demi bangsa ini menjadikan Indonesia berubah. Apakah ini hanya sebuah mimpi kosong? Setiap orang dari kita akan menjawabnya.
Penulis adalah pengamat sosial dan pendidikan.

Sumber : Sinar Harapan

res :  Badan besar sedikit amunisi, ibarat  macan ompong lemah syahwat.Winking smile

Jumat, 28 Februari 2014

RI Berpotensi Jadi Kekuatan Besar, Tapi Amunisi Masih Sedikit

Indonesia punya potensi untuk memperkokoh pengaruhnya di arena internasional. Sayangnya, potensi itu masih belum segera diwujudkan lantaran Indonesia belum memiliki instrumen-instrumen yang cukup memadai, seperti masih kecilnya anggaran untuk pembangunan internasional dan pertahanan. Pengaruh Indonesia dalam hubungan internasional sebenarnya terus berkembang. Namun, negara ini belum akan menjadi kekuatan besar dalam jangka pendek dan menengah.

Demikian analisis pengamat Indonesia dari Lowy Institute for International Policy, Dave McRae. Dia menguraikan pengamatannya soal perkembangan dan pengaruh Indonesia dalam hubungan internasional melalui laporan berjudul “More Talk than Walk: Indonesia as a Foreign Policy Actor,” yang dikirim ke VIVAnews hari ini.

Menurut dia, berdasarkan jumlah populasi, lokasi geografi, dan potensi ekonomi, di masa depan Indonesia akan memainkan peran lebih besar dalam hubungan internasional ketimbang saat ini. “Namun, sebenarnya, Indonesia kecil kemungkinan untuk langsung tampil sebagai aktor yang lebih berpengaruh secara signifikan dalam lima tahun ke depan untuk bisa naik dari kelompok negara-negara kelas menengah,” tulis McRae.

“Bila Indonesia ingin mencapai status sebagai kekuatan besar, seperti yang diperkirakan beberapa pengamat, maka baru akan tercapai dalam jangka waktu yang sangat panjang,” lanjut dia.

Dalam analisis setebal 17 halaman itu, McRae menguraikan beberapa elemen yang menjadi potensi dan tantangan Indonesia dalam memperluas pengaruhnya di gelanggang internasional. Selain jumlah penduduk yang besar dan lokasi yang strategis, meningkatnya profil Indonesia di panggung dunia juga berkat kinerja ekonominya yang relatif stabil, rata-rata tumbuh 5,7 persen per tahun dalam satu dekade terakhir.

“Pada 2012 Indonesia tumubuh menjadi ekonomi nomor 16 dunia, naik dari peringkat 27 pada tahun 2000. Pertumbuhan itulah yang membuat Indonesia kini masuk dalam kelompok elit G20,” tulis McRae.

Anggaran Kecil

Namun, raihan itu masih dipandang belum cukup bagi Indonesia untuk melesak jadi kekuatan besar dalam beberapa tahun mendatang. Pengaruhnya masih kecil. Salah satu faktor pertimbangan, Indonesia masih sedikit menyisihkan anggarannya untuk membantu pembangunan di luar negeri.

Menurut perhitungan kelompok negara OECD (Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan), Indonesia pada 2010 baru mengeluarkan sekitar US$10 juta untuk membantu pembangunan negara-negara tetangga yang masih miskin. Pada tahun yang sama, China menyisihkan sekitar US$2 miliar, Brazil US$500 juta, India US$640 juta dan Afrika Selatan US$118 juta.

Selain itu, menurut McRae, Indonesia belum didukung dukungan militer yang memadai untuk menjadi negara kuat. Meski sudah bertekad membiayai anggaran pertahanan sebesar 1,5 persen dari total Produk Domestik Bruto (GDP), belanja militer Indonesia masih di bawah 1 persen dari GDP.

Anggaran tahunan belanja pertahanan RI pun masih sepertiganya dari Australia dan belum sebanyak Singapura, tulis McRae dengan mengutip angka dari Stockholm Institute for International Peace Research dalam laporan “SIPRI Yearbook 2013: Armaments, Disarmament and International Security.”

Dia juga mengutarakan bahwa kebijakan luar negeri RI akan ditentukan oleh empat faktor. Pertama, Indonesia memproyeksikan citranya sebagai kekuatan besar meski kemampuannya masih tergolong kekuatan menengah. Kedua, Indonesia akan tetap non-blok namun cenderung mendekat ke AS.

Ketiga, ASEAN masih tetap menjadi platform utama bagi Indonesia dalam menyampaikan aspirasi di tingkat kawasan dan internasional. Faktor keempat, lanjut McRae, Indonesia akan lebih aktif dalam menyuarakan isu-isu yang menyangkut umat Muslim ketimbang mendorong kebijakan luar negeri yang Islami.

Terkait Indonesia-Australia, McRae melihat hubungan bilateral kedua negara itu tidak akan seerat seperti yang diperkirakan sebelumnya, apalagi saat kedua pemerintah sedang berseteru soal skandal penyadapan dan kontroversi penanganan pencari suaka atau imigran gelap. “Hubungan Indonesia dengan Australia kecil kemungkinan menjadi prioritas kebijakan luar negeri dalam beberapa tahun mendatang,” lanjut McRae.  (VivaNews)

+++++

Tahun 2014, TNI yang terkuat di Asia Tenggara

Reporter : Yulistyo Pratomo | Kamis, 5 September 2013 12:30

Merdeka.com – Keberhasilan pemerintah dalam pengadaan alat utama sistem pertahanan (alutsista) membuat banyak pihak yakin TNI akan memiliki kekuatan yang cukup memadai. Salah satunya diungkapkan oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro.

Dengan keyakinannya, Purnomo mengatakan pada 2014 mendatang, TNI akan memiliki daya kekuatan yang terbesar di antara negara lain di Asia Tenggara.

“Renstra pertama 2014, kekuatan TNI yang terkuat di Asia Tenggara,” kata Purnomo saat meresmikan dua Kapal Republik Indonesia di Batam, Kamis (5/9), seperti dilansir Antara.

Alasan itu diungkapkannya tercermin dari pengadaan alutsista oleh pemerintah yang melengkapi TNI AL, TNI AU dan TNI AD dengan senjata dan peralatan baru.

Dia menambahkan, ada banyak alutsista yang ditambah untuk ketiga angkatan bersenjata, di antaranya kapal patroli cepat untuk TNI AL, tank leopard untuk TNI AD dan penambahan pesawat sukhoi untuk TNI AU.

“Sukhoi akan diganti semua. Negara kita akan kuat, itu penting,” kata Menteri.

Khusus TNI AD, selain membeli 45 unit tank leopard, pemerintah juga mengadakan 28 unit helikopter dan delapan unit Apache tipe AH-64E. Purnomo menilai, TNI yang kuat memiliki banyak arti, baik bagi dalam negeri maupun luar negeri.

Meski begitu, Purnomo mengatakan penambahan alutsista dan penguatan TNI tidak ada hubungannya dengan pendirian pangkalan militer AS di Singapura dan Australia.

“Ini tidak untuk perlombaan senjata, ini memordernisasi,” katanya.

Di tempat yang sama, Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal) Laksamana Madya Marsetio mengatakan, pemerintah merencanakan pembangunan Kapal Cepat Rudal dengan panjang 40 meter sebanyak 16 unit dan kapal patroli cepat sebanyak 16 unit


0 Responses to “Kenegarawanan : Krisis Serius Mentalitas Bangsa Indonesia”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,060,795 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: