16
Feb
14

Kepemimpinan : Sistem Ekonomi Neolib Langgar Konstitusi

Berita Terkini
Minggu, 16-02-2014 15:47

Sistem Ekonomi Neolib Rezim SBY Langgar Konstitusi


Rizal Ramli saat Debat Publik Capres Konvensi Rakyat di Makassar.

Rizal Ramli saat Debat Publik Capres Konvensi Rakyat di Makassar.

MAKASSAR, PESATNEWS – Ekonom senior Rizal Ramli yang juga kandidat Calon presiden (Capres) paling reformis versi Lembaga Pemilih Indonesia (LPI), menegaskan sistem ekonomi neolib yang selama ini diterapkan rezim pemeirntah SBY telah melanggar konstitusi.

“Hal ini antara lain dengan banyaknya UU yang dipesan, dikonsep, dan dibiayai asing. Itulah sebabnya Indonesia tidak pernah bisa berdaulat atas ekonominya sendiri,” ungkap Rizal Ramli saat tampil dalam Debat Publik ‘Capres Konvensi Rakyat’ di Ballroom Graha Pena, Makassar, Minggu (16/2/2014).

Ia mencotohkan, UU Migas misalnya, mewajibkan gas yang dihasilkan Indonesia hanya boleh 25% dikonsumsi di dalam negeri, sedangkan sisanya harus diekspor. Akibatnya, banyak industri di dalam negeri yang tutup karena tidak memperoleh pasokan energi yang murah.

“Nanti, kita akan cabut semua UU yang bertentangan dengan konstitusi. Kita akan susun ulang UU dan peraturan yang lebih berpihak pada kepentingan masyarakat.  Untuk itu, saya minta rakyat Indonesia memilih pemimpin yang benar-benar punya kemampuan memecahkan masalah. Bukan pemimpin yang justru menjadi bagian dari masalah,” tegas Mantan Menko Perekonomian era Presiden Gus Dur ini.

“Kita bangun kedaulatan Indonesia di bidang ekonomi, budaya, dan politik. Insya Allah, dengan doa dan dukungan rakyat semua saya bisa membawa Indonesia menjadi negara digdaya dan rakyatnya sejahtera dalam tempo kurang dari delapan tahun,” papar Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia ini yang yang disambut tepuk tangan meriah hadirin.

Kualleangi tallanga natoalia. Sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai!” seru Keuangan era Gus Dur ini. Tak pelak lagi, tepuk tangan kembali bergemuruh bagai menggetarkan dinding-dinding Graha Pena.

Menurut Peserta peserta RI Konvensi Rakyat Capres 2014 ini, Indonesia bisa maju dan rakyatnya sejahtera hanya dalam tempo kurang dari delapan tahun. Proses ini jauh lebih cepat dbandingkan yang dibutuhkan Jepang 25 tahun, Malaysia yang 20 tahun, atau China 15 tahun. Tapi syaratnya Indonesia harus punya pemimpin yang problem solver dan berani meninggalkan mazhab ekonomi neolib yang terbukti sangat menyengsarakan rakyat.

“Indonesia punya semua persyaratan untuk menjadi negara besar dan maju. Allah menganugerahi kita sumber daya alam yang luar biasa melimpah. Sumber daya manusia kita juga tidak kalah dibandingkan negara-negara lain. Tidak ada alasan kita tidak maju dan sejahtera. Sayangnya, 80% rakyat kita belum menikmati arti kemerdekaan. Ini tidak boleh terjadi,” kata Dr Rizal Ramli yang akrab disapa RR1.

CaPres Konvensi Rakyat download
Capres Konvensi Rakyat

Tampil mengenakan stelan jas warna gelap, dipadu kemeja putih berdasi biru terang, siang itu Menko Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid tampil memukau. Sebagaimana biasanya, dia berhasil meraup atensi dan simpati hadirin. Kemampuannya dalam berkomunikasi cukup sukses melibatkan audiens. Pengunjung tidak merasa dia tampak asyik dengan diri dan materi pidatonya sendiri.

Rizal Ramli memang dikenal sebagai ekonom senior yang gigih mengusung ekonomi konstitusi. Kebetulan, tema  debat publik ke-6 kali ini adalah Ekonomi dan Kedaulatan Bangsa Indonesia. Kendati begitu, dia bisa memilih materi dan cara berkomunikasinya dan disesuaikan latar belakang dan karakter audiennya. Tidak ada istilah-istilah atau angka-angka yang membuat kening berkerut. Yang ada justru hadirin diajak terlibat, yang antara lain diwujudkan dengan tepuk tangan atau koor ‘setuju’ berkali-kali di sela-sela paparannya.

Sebelum berbicara di mimbar, pakar ekonomi kerakyatan yang anti neolib ini member salam kepada ribuan hadirin yang memenuhi gedung. “Ewako… Ewako… Ewako…!” pekik DR Rizal Ramli dari atas mimbar usai mengucapkan salam. Keruan saja sekitar 2.000 warga Makassar dan sekitarnya yang memadati Ballroom Graha Pena, menyambut pekik itu dengan antusias. Untuk sesaat, suasana jadi riuh dan bersemangat.

Dalam bahasa Makassar, ewako bermakna maju, pantang mundur. Dalam makna yang lebih progresif, ewako juga bisa diterjamahkan dengan lawan!.

Agakareba?” teriaknya. “Kabar baiiiiiiiikkkkk….” Sahut hadirin. (Eri)

Editor : zafira

Rizal Ramli: Bangun Ekonomi Nasionalisme!

Oleh Ihsan – Rubrik Politik

16 Februari 2014 01:00:00 WIB

WE.CO.ID – Selama puluhan tahun rakyat dijejali doktrin, tidak mungkin Indonesia akan maju tanpa utang dan modal asing. Doktrin ini terus dipompakan secara berkelanjutan kepada para mahasiswa di fakultas ekonomi, khususnya di universitas-univesitas negeri. Padahal, banyak contoh negara yang bisa maju tanpa utang dan bergantung pada modal asing. Ekonomi harus dibangun dengan landasan nasionalisme yang kokoh.

“Doktrin ini sangat menyesatkan. Banyak contoh negara yang mampu maju dan rakyatnya sejahtera tanpa utang dan bergantung pada modal asing. Jepang berkembang tanpa utang luar negeri dan modal asing sampai tahun 1986, China tumbuh pesat tanpa utang. Kedua negara tersebut bisa menjadi raksasa ekonomi dunia. Bahkan China mampu memumpuk cadangan devisa lebih dari US$3 triliun dolar dan memberi utang kepada banyak negara maju, termasuk Amerika Serikat,” ujar Menko Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid, DR Rizal Ramli saat berbicara pada Dialog Kebangsaan bertema Indonesia Sebagai Kekuatan Baru Ekonomi Global di Masa Depanyang diselenggarakan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Komisariat Universitas Hasanuddin, Makassar, Sabtu (15/2).

Menurut Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia itu, 
Jepang perlu waktu 25 tahun untuk bangkit dari kekalahan perang Asia Timur Raya.Sedangkan Malaysia membutuhkan waktu 20 tahun untuk menjadi negara sejahtera. China perlu 15 tahun. Bahkan, Brazil hanya perlu 8 tahun menjadi negara paling hebat di Amerika Latin.

“Ke depan pembangunan ekonomi Indonesia harus berdasarkan nasionalisme. Mazhab ekonomi nasionalisme akan memacu bangsa dan rakyat Indonesia berdaulat atas negara dan sumber daya alam (SDA)-nya. Kita tidak anti asing dan modal asing. Yang kita tidak mau, kalau asing mengendalikan dan mengeksploitir ekonomi kita,” tukasnya.

Sayangnya, lanjut Peserta Konvensi Rakyat Capres 2014 yang akrab disapa RR1 tersebut, selama puluhan tahun pemerintah lebih suka menerapkan sistem ekonomi neoliberalisme. Sistem ekonomi yang menyerahkan segala sesuatunya kepada mekanisme pasar itu ternyata tidak membawa kesejahteraan bagi sebagian besar rakyat. Yang terjadi justru sebaliknya, lebih dari 80% rakyat Indonesia hingga kini belum menikmati arti kemerdekaan yang sebenarnya.

“Hal ini disebabkan karena banyak UU dan peraturan pelaksananya dipesan, dibuat draftnya, dan dibiayai oleh asing. UU No. 22/2001 tentang Migas, misalnya, adalah bukti nyata bagaimana Indonesia tidak berdaulat atas SDA karena UUnya dipesan asing. Soal gas, UU mengharuskan penggunaan untuk kebutuhan local maksimal hanya 25%. Sisanya harus diekspor. Akibatnya, banyak perusahaan di dalam negeri tutup karena harus membayar energi lebih mahal. Di pasar domestik rakyat juga harus membayar mahal gas yang dibutuhkan,” papar Capres paling reformis versi Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) itu.

Terkait kedaulatan ekonomi, Menteri Keuangan era Gus Dur itu menyebut hingga kini tidak kurang ada 20 UU yang dipesan asing. Jika Indonesia mau maju, seluruh UU pesanan asing itu harus dibatalkan, dan segera diganti dengan UU yang lebih sesuai dengan konstitusi Indonesia.

“Persyaratan utama yang bisa membuat kita maju adalah, pemimpinnya harus percaya diri. Pemimpin tidak boleh bermental inlander. Pemimpin juga harus punya visi, karakter, dan kapasitas untuk memecahkan masalah. Rakyat tidak membutuhkan pemimpin yang sibuk melakukan politik pencitraan tanpa karya nyata,” pungkas Capres paling ideal versi The President Centre ini.

*/Redaksi

Foto : dok Rumah Perubahan

Advertisements

0 Responses to “Kepemimpinan : Sistem Ekonomi Neolib Langgar Konstitusi”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,148,769 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: