05
Feb
14

Keuangan : Defisit Neraca Perdagangan RI

 

awind

Ke nasional-list@yahoogroups.com
Hari Ini pada 7:23 AM

 

Defisit Neraca Perdagangan RI Membengkak 149 Persen

04 February 2014 Faisal Rachman Ekonomi 

dok / ist

Ilustrasi.

Peningkatan defisit terjadi karena kinerja ekspor lebih rendah dan impor migas yang tinggi.

JAKARTA – Neraca perdagangan sepanjang 2013 tercatat defisit US$ 4,063 miliar, membengkak 149 persen dibandingkan defisit 2012, US$ 1,63 miliar. Peningkatan defisit ini karena kinerja ekspor lebih rendah dan impor, terutama minyak dan gas (migas), masih tinggi.

Hal ini bisa diartikan, kebijakan kenaikan bahan bakar minyak (BBM) dinilai tidak efektif menahan laju impor migas. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin menuturkan, kebijakan kenaikan BBM bersubsidi belum memberikan dampak terhadap penurunan impor migas.

“Tidak efektif (kebijakan kenaikan BBM bersubsidi). Masyarakat tetap bisa membeli (BBM), baik yang punya motor maupun mobil. Mereka tidak mengurangi konsumsi,” tuturnya di Jakarta, Senin (3/2).

Ia menjelaskan, surplus neraca perdagangan 2013 ini terjadi karena ekspor sepanjang 2013 mencapai US$ 182,57 miliar, sedangkan impor US$ 286,63 miliar.

Menurutnya, defisit neraca perdagangan 2013 lebih rendah dibandingkan perkiraan awal yang mencapai US$ 5 miliar. Itu karena perbaikan kinerja perdagangan pada tiga bulan terakhir.

Suryamin mengatakan, pada Desember 2013, neraca perdagangan untuk ketiga kalinya mengalami surplus US$ 1,52 miliar. Surplus ini terjadi karena ekspor Desember mencapai US$ 16,98 miliar, naik 10,33 persen dibandingkan Desember 2012, US$ 15,39 miliar.

Peningkatan kinerja ekspor ini, Suryamin melanjutkan, karena pelemahan nilai tukar dan peningkatan permintaan ekspor nonmigas. Ia juga melihat permintaan ekspor, khususnya nonmigas, di akhir tahun mengalami peningkatan cukup tajam karena musim dingin.

Suryamin mengatakan, impor Desember mencapai US$ 15,49 miliar, turun 0,79 persen dibandingkan Desember 2012, US$ 15,58 miliar. “Penurunan ini kemungkinan karena kebijakan pengereman impor,” serunya.

Sasmito Hadi Wibowo, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) menambahkan, perbaikan ekonomi negara tujuan ekspor, seperti Amerika Serikat (AS), menjadi pendorong utama membaiknya kinerja ekspor di akhir-akhir 2013. Di sisi lain, ia melihat kebijakan pemerintah, seperti peningkatan pajak penghasilan (PPh) impor dan pajak penjualan barang mewah (PPnBM) membuat kinerja impor menurun.

Pelemahan Rupiah
Pelemahan impor juga di dorong pelemahan nilai tukar sehingga permintaan menurun karena harga lebih tinggi. Sementara itu, permintaan produk dalam negeri mengalami peningkatan.

Kepala Ekonom PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BII) Juniman mengatakan, defisit neraca perdagangan tahun ini yang mencapai US$ 4 miliar sebenarnya cukup baik.

Itu karena lebih rendah dari perkiraan awal yang akan di atas US$ 5 miliar. Perbaikan ini terjadi karena peningkatan perdagangan, khususnya ekspor dalam tiga bulan terakhir, meskipun impor masih cenderung stabil di kisaran US$ 15 miliar.

Kinerja perdagangan membaik dalam tiga bulan terakhir,m terutama pada Desember 2013 karena pelemahan nilai tukar yang membuat ekspor Indonesia cukup kompetitif; mulai membaiknya kinerja perekonomian negara-negara tujuan ekspor seperti Amerika Serikat, Eropa, Jepang; dan window dressing di ekspor minerba.

Itu karena pada Januari mulai diberlakukan pelarangan ekspor tersebut. “Aji mumpung ekspor minerba terlihat pada Desember. Minerba ekspor mencapai US$ 900 juta, meningkat dari tiap bulannya US$ 600 juta,” tuturnya.

Dari sisi impor, Juniman melanjutkan, terjadi penekanan karena kebijakan fiskal yang dikeluarkan pemerintah mulai dari peningkatan PPh impor dan PPnBM, serta pelemahan nilai tukar. Selain itu, kebijakan kenaikan BI rate hingga 175 basis poin (Bps) membuat daya beli masyarakat melambat sehingga kebutuhan barang impor turun.

Juniman menambahkan, defisit neraca perdagangan ini akan berakhir tahun ini. Diperkirakan pada 2014, neraca perdagangan surplus US$ 0,5 miliar-1,5 miliar. Hal ini akibat kinerja perdagangan yang kemungkinan masih membaik dan impor yang sedikit tertahan kebijakan fiskal yang dikeluarkan pada 2013.

David Sumual, Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) berpendapat senada. Menurutnya,  defisit neraca perdagangan US$ 4 miliar merupakan kabar baik. Itu ditambah lagi kinerja perdagangan di tiga bulan terakhir mulai membaik, bahkan pada Desember 2013 mencapai US$ 16,98 miliar, hampir menyentuh tren bulanan.

“Ekspor mineral mendominasi peningkatan kinerja ekspor karena pada Januari dilakukan pelarangan impor mineral mentah,” ucapnya.

Menurut David, tren membaiknya ekspor dalam tiga bulan terakhir belum tentu berlanjut hingga tahun depan. Hal itu karena harga komoditas masih cenderung stagnan. Di sisi lain, impor migas cenderung masih tinggi karena konsumsi BBM belum bisa direm.

__._,_.___

0 Responses to “Keuangan : Defisit Neraca Perdagangan RI”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,063,568 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: