29
Jan
14

Pangan : Gagal Panen Menghantui 2014

Sunny

Ke nasional-list@yahoogroups.com
Hari Ini pada 7:15 AM

Gagal Panen Menghantui 2014

Sulung Prasetyo | Kamis, 26 Desember 2013 – 13:35 WIB

: 196

(dok/antara)
Suasana tanggul sungai Udhu yang jebol di Jatirejo, Kauman, Tulungagung, Jawa Timur, Jumat (13/12). Jebolnya tanggul sungai akibat hujan deras tersebut mengakibatkan ribuan hektar sawah terendam banjir hingga ketinggian mencapai dua meter.
Produksi yang menggunakan “input” luar menjadikan rentan munculnya ledakan hama penyakit.

JAKARTA – Tingginya pemakaian pupuk kimia sintetis, pestisida, dan benih hibrida diperkirakan menjadi pemicu ledakan hama penyakit. Di sisi lain, faktor iklim tidak terlalu mendukung usaha pertanian. Oleh karena itu, diperkirakan terjadi gagal panen secara meluas di Indonesia tahun depan.

Demikian diungkapkan para ahli dan pengamat masalah lingkungan pertanian, di Jakarta, Selasa (24/12).

Hermanu Triwidodo, dari Departemen Proteksi Tanaman, Fakutas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) mengemukakan, pembangunan pertanian yang ada saat ini bisa berimplikasi ancaman kirisis pangan. Itu terlihat dari pendekatan yang dilakukan untuk meningkatkan produksi padi.

“Produksi yang didorong menggunakan input luar yang tinggi, seperti pupuk kimia sintetis, pestisida, benih hibrida, menjadikannya rentan munculnya ledakan hama penyakit,” ujarnya.

Menurut Hermanu, sepanjang 2013 telah terjadi titik-titik serangan hama, terutama wereng di sentra produksi padi Jawa. “Jika hal ini terjadi, situasinya akan sama dengan 2010-2011, terjadi gagal panen dan impor kembali meningkat,” ia memaparkan.

Hermanu mengingatkan pemerintah menghindari ancaman ledakan hama dan krisis pangan ini. Pemerintah harus segera menyelamatkan petani dari kerugian, sekaligus menyelamatkan negara dari krisis pangan. “Salah satunya dengan moratorium dan merevisi peraturan yang mengatur peredaran pestisida,” katanya.

Sementara itu, Suryo Wiyono dari Direktorat Kajian Strategis dan Kebijakan Pertanian IPB menilai, pentingnya penyelarasan dan perbaikan kebijakan di sektor pertanian pangan. Keselarasan kebijakan diperlukan dari pemerintah pusat hingga daerah.

Tanpa itu, persoalan-persoalan di pertanian sulit diatasi. “Pembangunan pertanian dengan pendekatan pertanian berkelanjutan dan pengendalian hama penyakit secara terpadu (PHT) perlu dilakukan,” ujarnya.

Ia mengajak semua pihak mengampanyekan dan mempraktikkan pertanian ramah lingkungan dan mengadopsi kegiatan PHT. Langkah ini diperlukan untuk menghindari gangguan hama penyakit, seperti dalam kasus wereng yang muncul kembali tahun ini.

Manajer Advokasi Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) Said Abdullah menyatakan, pembangunan pertanian pangan selama ini dilakukan setengah hati. Program dan gerakan pembangunan hanya di atas kertas, namun lemah implementasi.

“Revitalisasi yang dilakukan dengan tujuan akhir menyejahterakan petani justru makin meminggirkan petani,” kata Said.

Target swasembada 2014 hampir dipastikan tidak tercapai. Indonesia tetap tidak bisa keluar dari jeratan impor, meskipun ada peningkatan produksi. Padahal, laju impor yang besar menempatkan negara dalam “kuasa” pihak lain. Ini menunjukkan kegagalan menjaga kedaulatan.

Sumber : Sinar Harapan
__._,_.___
Sunny

Ke nasional-list@yahoogroups.com
Hari Ini pada 7:11 AM

 

Rakyat Miskin Bertambah

Senin, 27 Januari 2014 Penulis: Gayatri Suroyo/Tlc/*/Wib/X-2

MI/RAMDANI

MI/RAMDANI

MI/Furqon Ulya Himawan
KANTONG mata Janus Ginting, 45, mengembang saat menceritakan sawahnya yang tak bisa ditanami lagi akibat debu erupsi Gunung Sinabung, Sumatra Utara. Tangisnya pun pecah saat ditanya apa yang akan ia lakukan ke depan.

”Saya bangkrut. Saya tidak tahu bagaimana. Mudah-mudahan ada yang membantu,” ujarnya.

Janus tidak sendiri. Puluhan ribu orang di Tanah Karo kini kelimpungan karena sawah mereka tak bisa ditanami. Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Karo menyebutkan jumlah tanaman pangan yang rusak akibat debu vulkanis Sinabung mencapai 20.269 hektare.

Derita yang sama dirasakan Sumarto, 41, warga Pati, Jawa Tengah. Sawah yang baru sebulan ia tanami padi tak mungkin diharapkan tumbuh lagi.

”Pasti gagal panen, Mas. Padahal, hasil panen rencananya buat biaya pendidikan anakanak saya,” ujar dia, kemarin.

Bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia telah memukul aktivitas perekonomian rakyat. Pengamat ekonomi Hendri Saparini memperkirakan akan ada sekitar 450 ribu orang miskin ba ru akibat bencana dalam be berapa waktu terakhir. Jumlah penduduk miskin diperkirakan menjadi 29 juta orang, atau naik 1,5% jika dibandingkan dengan laporan Badan Pusat Statistik September 2013 yang berjumlah 28,55 juta orang. ”Sangat mungkin meningkat,” kata Hendri saat dihubungi, kemarin.

Kenaikan angka kemiskinan pascabencana, lanjut Hendri, disebabkan belum adanya program penanggulangan lanjutan (recovery) untuk aktivitas ekonomi masyarakat. ”Misalnya, adakah program pengendalian harga bahan pokok setelah bencana alam?,” imbuhnya.

Pengamat ekonomi Universitas Brawijaya Ahmad Erani Yustika menilai kerugian terbesar akibat bencana alam datang dari Jakarta. Hal tersebut lantaran Ibu Kota merupakan pusat ekonomi di Indonesia. 

Dampak meluas 

Bertambahnya jumlah orang miskin juga terjadi karena dari tahun ke tahun, dampak bencana kian meluas. Data Kementerian Pertanian menunjukkan rata-rata areal tanaman padi yang terkena banjir pada Januari selama kurun waktu 2007-2011 seluas 72.963 hektare.

Namun, pada Januari periode musim kering di 2012 dan musim penghujan 2012/2013, area terdampak naik menjadi 132.429 hektare.

”Angka ini memprihatinkan karena naik hampir dua kali lipat,” ujar Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Udhoro Kasih Anggoro.

Kondisi pun bertambah parah karena dana penanggulangan bencana untuk tanggap darurat dan rehabilitasi tidak mencukupi.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyebutkan rata-rata per tahun kerusakan dan kerugian akibat bencana mencapai Rp30 triliun. Padahal, alokasi dana penanganan bencana yang disediakan APBN hanya Rp3 triliun.

”Dana yang terlalu sedikit membuat upaya pemulihan bencana memerlukan waktu paling cepat 3 tahun,” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho.


0 Responses to “Pangan : Gagal Panen Menghantui 2014”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,060,880 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: