23
Jan
14

Bencana Alam : Jakarta Banjir Akumulasi Salah Tata Ruang Tahunan

 
 

Banjir Jakarta akibat Kesalahan Tata Ruang Bertahun-tahun

Rabu, 22 Januari 2014 | 21:56 WIB
altKOMPAS.com/ROBERTUS BELARMINUS Dua ruas Jalan Otista Raya sebelum Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, tergenang banjir setinggi 70-80 cm akibat luapan air Sungai Ciliwung, Rabu (22/1/2014).

JAKARTA, KOMPAS.com — Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mengatakan bahwa penyebab utama terjadinya banjir di Jakarta adalah kesalahan tata ruang Ibu Kota. Kondisi ini bisa ditanggulangi dengan memperbaiki tata ruang sesuai kondisi alam Jakarta.

Anggota Dewan Riset Daerah Provinsi DKI Jakarta itu mengatakan, kondisi alam Jakarta menghendaki agar Jakarta memiliki dua area, yakni ruang hijau untuk resapan air di daerah selatan dan ruang biru untuk menampung air di kawasan utara Jakarta. Namun, kondisi itu kini telah rusak akibat banyaknya bangunan di hampir seluruh wilayah Ibu Kota. Menurut Jan, perlu ada rekayasa tata ruang agar kota ini kembali pada kondisi ideal tersebut.

“Inti dari bencana banjir di Jakarta adalah pada pengelolaan kepadatan tata ruang,” kata Jan Sopaheluwakan, peneliti senior dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, melalui siaran pers yang diterima Kompas.com, Rabu (21/1/2014).

Selain masalah tata ruang, kata Jan, ada hal lain yang tidak disadari warga Jakarta sebagai faktor penyebab banjir, yakni penurunan tanah. Penurunan tanah yang lambat ini terjadi akibat penyedotan air tanah. Kondisi itu memicu terjadinya pendangkalan sungai di wilayah tengah Jakarta. Sementara itu, daerah selatan dan utara memiliki permukaan tanah lebih tinggi.

“Penurunan ini membuat sungai-sungainya dangkal sehingga endapan kasar di tengah dan berpengaruh pada drainase kita yang kecil dan dipenuhi sampah,” kata Jan.

Untuk mengendalikan banjir itu, peneliti Limnologi LIPI Fakhrudin memandang perlunya penerapan konsep zero run-off pada area terbangun. Skema penyerapan air ini dapat dilakukan dengan membuat sumur resapan dan penampungan air seperti kolam maupun danau buatan.

“Intinya adalah bagaimana air di daerah terbangun seperti perumahan dan perkantoran bisa tertahan sebelum dilimpahkan ke selokan dan sungai,” kata Fakhrudin. Ia mendorong agar daerah selatan Jakarta menjadi kawasan penyerapan air dan kawasan utara menjadi tempat penampungan air.

Pengamat tata kota, Edward Sihombing, juga menilai bahwa banjir yang mengancam Jakarta setiap tahun terjadi akibat kesalahan penataan ruang dan bangunan selama bertahun-tahun. Ia mengatakan, meskipun berat, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo harus membenahi tata ruang kota agar memudahkan penanganan banjir pada masa mendatang.

“Ya, kesalahan masa lalu. Akar persoalannya pelanggaran tata ruang dan tata bangunan yang menyebabkan banjir Jakarta,” kata Edward Sihombing sebagaimana dikutip Warta Kota, Rabu.

Edward menilai bahwa Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo sudah menunjukkan upaya serius untuk melakukan perbaikan tata ruang. Ia mengusulkan agar Jokowi melakukan moratorium dan audit izin bangunan di atas 2 lantai yang dikeluarkan oleh pemerintah sebelumnya. Kalau tidak, kata Edward, tata ruang Jakarta hanya jadi bancakan pejabat dinas tata kota dan pengusaha sehingga masalah Jakarta semakin kompleks bukan banjir.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : Laksono Hari Wiwoho

 

 
Rabu, 22 Januari 2014 | 09:21 WIB

Mengapa Ahok Keras Menjaga Waduk Pluit ?

Mengapa Ahok Keras Menjaga Waduk Pluit?

Wakil Gubenur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). TEMPO/Dasril Roszandi

 

 

TEMPO.CO, Jakarta – Wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama mengaku bersikap keras dalam menghadapi warga yang nekat membolongi tanggul. Tak hanya di sepanjang Kali Sunter atau Kemayoran, tapi juga sejumlah warga yang nekat menjebol dan membuka pintu air Waduk Pluit. Insiden itu terjadi pada Ahad, 19 Januari 2014, lalu. (baca: Ahok: Gimana Enggak Banjir Kalau Tanggul Dibolongi?)

Menurut Ahok, sikap kerasnya itu didasari sejumlah pertimbangan. Bukan karena rumahnya berada di kawasan Pluit, tapi karena ada sejumlah kawasan yang harus dijaga. “Kalau saya tidak keras, Pluit tenggelam, Istana tenggelam,” kata Ahok dalam percakapannya dengan Tempo, Senin, 20 Januari 2014.

Lebih genting lagi, kata dia, ada PLTU di Muara Karang, Jakarta Utara. Pembangkit listrik ini memasok listrik untuk Jawa-Bali. “Jadi, bukan karena rumah saya di Pluit. Itu ngawur,” ujarnya. (Lihat FOTO: Melihat Waduk Pluit dari Atas)

Ahok mengatakan kawasan itu sekarang kering karena tertolong oleh Waduk Pluit yang sudah dikeruk. Kalau kemudian seperti Ahad kemarin melimpas, karena kondisi Pluit sekarang. “Tidak ada yang menyangka kawasan itu kini berkembang,” ujarnya.

Liputan Tempo tentang banjir Jakarta di sini: #Banjir Jakarta. Berita tentang sepak terjang Ahok, keluarganya, kisah cintanyaklik di sini: #Ahok | Basuki Tjahaja Purnama.

WDA


0 Responses to “Bencana Alam : Jakarta Banjir Akumulasi Salah Tata Ruang Tahunan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,063,568 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: