22
Jan
14

PusKesMas : Kontroversi BPJS Berlanjut

Demi Tanah Air

Ke nasional-list@yahoogroups.com
Jan21 pada 6:23 AM

 

Dok / cbc.ca
Ilustrasi.
Pasien kanker dari keluarga miskin terancam stop kemo karena BPJS tak mengkaver semua pengobatan.

Siti Solihat menangis. Tak terbayangkan lagi olehnya bagaimana derita anaknya nanti. Anak yang baru umur tiga tahun penderita Rhabdomyiosarcoma atau kanker otot mata, terancam tak bisa kemoterapi lagi karena pihak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) mengatakan salah satu jenis obat kemoterapinya, dactinomycin tidak ada stok.

Siti trauma dengan pengalaman sekitar tiga bulan lalu, saat proses kemoterapi bagi anaknya, Rizki, tertunda akibat kondisi keseluruhan anaknya tidak memenuhi syarat untuk kemoterapi. “Gara-gara tertunda dua bulan, stadiumnya naik dari stadium 3 jadi 4,” kata Siti.

Istri sopir truk angkutan material bangunan di Rumpin, Bogor ini sudah berjuang habis-habisan demi Rizki. Setahun lebih sudah ia tinggalkan suami dan anak-anaknya yang lain di rumah Rumpin, untuk menumpang tinggal sementara di Kenari 2, Jakarta Pusat supaya bisa cepat “lari” ke RSCM jika terjadi sesuatu pada Rizki. 

Baca Lengkap:
http://www.sinarharapan.co/news/read/31162/bpjs-membunuh-pelanpelan

Demi Tanah Air

Ke nasional-list@yahoogroups.com
Jan21 pada 6:19 AM

Foto / Antara
Ilustrasi.
Sebagian besar masyarakat belum paham program BPJS Kesehatan.

Budi Nugroho (54) hanya bisa menghela napas panjang. Dua setrip obat di meja tamu dibiarkan tergeletak begitu saja. “Saya 30 tahun jadi PNS, sejak ada BPJS saya merasa banyak sekali hak saya yang dikurangi,” katanya.

Ia lantas membandingkan pelayanan kesehatan yang diterimanya ketika jaminan kesehatan masih dikelola Askes. Dulu untuk mengobati berbagai keluhan di tubuhnya, ia mendapat berbagai jenis obat karena di usianya yang makin senja, Budi mengidap sakit gula, kolesterol, dan tekanan darah tinggi.

“Dulu dapat obat tujuh jenis per bulan, tetapi sekarang setelah ada BPJS hanya dua macam, itu pun harganya yang murah dan tidak bermutu,” ia menggerutu.

Budi juga mengeluh tidak dapat memanfaatkan layanan BPJS untuk cek kesehatan di laboratorium dan penarikan biaya setiap berobat ke rumah sakit. “Banyak teman sebaya yang mengeluhkan BPJS, entah apa maunya pemerintah itu. Seakan-akan kok mau cari untung saja, rakyat tidak bisa mengadu dan terpaksa pasrah,” ia melanjutkan.

Kebingungan terhadap Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan juga dialami Wartini (37), warga Jomblang Timur, Semarang. Ia menderita gangguan pencernaan akut. Setelah berobat dengan menggunakan BPJS, Wartini mengaku obat yang dikonsumsinya tidak manjur.

Baca lanjut :
http://www.sinarharapan.co/news/read/31161/rakyat-masih-bingung

__._,_.___

0 Responses to “PusKesMas : Kontroversi BPJS Berlanjut”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,062,175 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: