04
Jan
14

Kenegarawanan : MoNas Pancasila Kenapa Tidak ?

Dr Ir Pandji R Hadinoto, MH

MoNas Layak Jadi MoNas Pancasila

Sekarang dikenal sebagai Lapangan MoNas (Monumen Pancasila), dahulu disebut sebagai Lapangan Ikada. Tempo doeloe dikenang sebagai Lapangan Gambir, sejarah mencatat bahwa rapat besar Ikada pada 19 September 1945 menjadi semacam perayaan kemenangan proklamasi kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945, yang merupakan “produk” revolusi rakyat pro Indonesia merdeka. Rapat besar Ikada itu diprakarsai oleh para Pemoeda Jalan Menteng 31, yang menyebut diri mereka sebagai Committee van Actie. Mereka dikawal oleh pasukan bersenjata, penguasa militer kala itu, yaitu Pemerintah Pendudukan Militer Jepang.

Sejarah MoNas itu tampaknya kembali terulang di Mesir. Apa yang terjadi di Lapangan Tahrir (berarti Lapangan Merdeka), Kairo, Mesir, merupakan reinkarnasi MoNas, seperti tercermin dari perayaan kemenangan revolusi Mesir, 11 Februari 2011 oleh elemen-elemen masyarakat pro demokrasi di bawah pengawalan pasukan bersenjata pemerintah sementara dari transisi militer. Oleh karena itu, selayaknya Lapangan MoNas di tengah Kota Jakarta itu bisa saja disebut sebagai “Lapangan Merdeka.” Apalagi, faktanya sekarang, MoNas sudah dikelilingi oleh jalan-jalan protokol, Jalan Merdeka Utara, Merdeka Timur, Merdeka Selatan dan Merdeka Barat.

Sedangkan MoNas sendiri seharusnya bernama lengkap, “Monumen Nasional Pancasila” seperti yang telah dinyatakan oleh Petisi 17 pada 13 Januari 2011, dengan berbagai alas an :

Pertama, emas berwujud api melambai di puncak tugu dapat menjadi lambang sumber cahaya, sebagai sila pertama Pancasila yaitu, Ketuhanan Yang Maha Esa.

Kedua, wujud MoNas sendiri sebagai bangunan berbentuk segi empat menjulang di atas cawan dapat menjadi lambang empat sila lain dari Pancasila, sebagai turunan makna sila pertama tadi. Yakni, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Ketiga, Alinea IV Pembukaan UUD 1945 mengandung sila-sila Pancasila yang tercermin dari bentuk segi empat bujur sangkar komponen utama MoNas.

Keempat, Alinea IV Pembukaan UUD 1945 dapat diaktualisasikan. (1) atap pelataran puncak MoNas sebagai lambang melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. (2) pelataran puncak MoNas sebagai perlambang melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. (3) pelataran bawah MoNas sebagai perlambang mencerdaskan kehidupan bangsa. (4) pelataran dasar MoNas sebagai lambang ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. (5) sosok Tugu MoNas yang menjulang setinggi 132 meter sebagai perlambang Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat.

Kamis, 24 Februari 2011

Pandji R Hadinoto / Menteng, Jakarta Pusat 

Presidium Koalisi Penyelamat Indonesia

Advertisements

0 Responses to “Kenegarawanan : MoNas Pancasila Kenapa Tidak ?”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,193,047 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: