11
Dec
13

Kepemimpinan : Pedoman Keselamatan Pekerjaan Indonesia ?

Bencana Bintaro akibat tabrakan truk tangki Bahan Bakar Minyak dengan Kereta Listrik yang terjadi menjelang tengah hari Senin 9 Desember 2013 sebenarnya relevan dengan  Hari Anti Korupsi Internasional juga, seperti :
1, Aspek Koruptif Seleksi Pekerja. :
Bila benar faktor kesalahan pengemudi truk tangki yang menerobos pintu lintasan kereta api, maka yang menonjol adalah tidak pahamnya sipengemudi dan perusahaan angkutan BBM bahwa truk tangki BBM itu sebenarnya rawan bencana kebakaran yang setara dengan standar operasi “hazardous area“ di lokasi2 indusri migas yang perlu kadar ke-hati2an kerja tertentu. Peristiwa ini bisa jadi bukti daripada tindak koruptif mutu kelola angkutan darat BBM, artinya pengabaian dan pembiaran mutu kelola operasi pekerjaan dibawah standar yang semestinya harus dilakukan.
2. Aspek Koruptif Keselamatan Lintasan :
Dari pengamatan penulis berkendaraan melintasi lokasi kejadian beberapa kali sebelumnya, terkesan pintu lintasan minim fungsional sehingga memudahkan peluang penerobos, selain tanda bunyi peringatan yang hanya terdengar sayup2. Artinya bahwa peningkatan lalulintas kereta api dan angkutan jalan raya tidak diikuti oleh peningkatan mutu keselamatan umum berupa perbaikan mutu perangkat pintu lintasan dan tanda bunyi peringatan sehingga mampu berfungsi optimal bagi kepentingan umum. Pengabaian dan pembiaran standar perangkat yang tidak sesuai kebutuhan umum termutakhir adalah juga bisa dikategori Koruptif.
Dari kajian kedua aspek termaksud diatas, dapat dimengerti sering dikatakan bahwa pembangunan tidak diikuti oleh jaminan kelola dan operasi hasil pembangunan itu sendiri.
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pemangku kebijakan umum dan operasi angkutan darat khususnya angkutan kereta api dan angkutan BBM dalam merancang ulang Pedoman Keselamatan Pekerjaan Indonesia lebih spesifik dan praktis.
Jakarta 9 Desember 2013

Pandji R Hadinoto, Dewan Pakar PKPI

Pertamina Belum Pikirkan Isu Gugatan Hukum

Jakarta (Antara) – Humas PT Pertamina Wianda Pusponegoro mengatakan pihaknya belum memikirkan langkah-langkah yang akan diambil menanggapi isu gugatan hukum terkait kecelakaan antara kereta rel listrik (KRL) dengan mobil tangki Pertamina.

“Saat ini kami ingin dan mengajak semua pihak untuk fokus terlebih dahulu untuk menangani korban-korban dalam kecelakaan tersebut. Kami belum mempersiapkan apa-apa terkait isu hukum tersebut,” kata Wianda Pusponegoro di Jakarta, Kamis.

Wianda mengatakan terkait penyelidikan kasus tersebut, PT Pertamina Patra Niaga selaku operator dan pengelola mobil tangki Pertamina siap memberikan keterangan kepada kepolisian dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Menurut Wianda, pihaknya juga akan menjamin seluruh biaya pengobatan korban kecelakaan tersebut, tidak hanya yang dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), tetapi juga di rumah sakit lain.

“Seluruh korban yang masih dirawat akan dijamin biaya pengobatannya oleh Pertamina. Tidak hanya di RSPP, korban yang dirawat di Rumah Sakit dr Suyoto dan Rumah Sakit Premier Bintaro juga akan dijamin biaya pengobatannya sampai meninggalkan rumah sakit,” tuturnya.

Wianda mengatakan Pertamina juga akan memberikan beasiswa kepada anak-anak korban yang pemberi nafkah utamanya tidak lagi bisa bekerja maksimal akibat kecelakaan tersebut.

“Beasiswa pendidikan diberikan hingga ke jenjang universitas,” ujarnya.

Sebelumnya, PT Pertamina Patra Niaga telah memberikan santunan kepada korban luka sebesar Rp5 juta dan santunan duka cita kepada keluarga korban meninggal Rp25 juta.

Sebelumnya, terjadi kecelakaan antara KRL Commuter Line jurusan Serpong-Tanah Abang dengan mobil tangki Pertamina di pintu perlintasan Pondok Betung, Bintaro, Senin (9/12) pukul 11.25 WIB.

Penyebab kecelakaan itu saat ini masih diselidiki. Hingga berita ini dilaporkan, sudah ada tujuh korban yang meninggal dunia, yaitu Darmah Prasetyo (25) masinis, Agus Suroto (24) asisten masinis, Sopyan Hadi (20), Elrisa Maghfirah (16), Rosa Elizabeth (73), Bety Ariani (56) dan Natali (23).(tp)

Berita Lainnya

Pamuji Si Petugas Palang Pintu Kereta Sempat Dipenjara Karena Dianggap Lalai

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Nurmulia Rekso Purnomo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Petugas penjaga palang pintu perlintasan kereta Pesanggrahan, Pamuji (48), menjalani pemeriksaan intensif oleh penyidik dari Polsek Metro Pesanggrahan, Polres Metro Jakarta Selatan hingga penyidik dari Polda Metro Jaya.

Petugas mengorek keterangan dari Pamuji soal bagaimana truk tangki milik Pertamina bisa dihajar KRL jurusan Serpong – Tanah Abang di jalur perlintasan yang ia jaga.

Sulasmi (40), istri Pamuji saat ditemui di Mapolsek Metro Pesanggrahan, Senin (09/12/2013) mengatakan pemeriksaan oleh petugas Kepolisian bukan lah hal yang baru bagi laki-laki yang telah ia nikahi selama 23 tahun itu. Ia maklum profesi suaminya berkaitan dengan keselamatan nyawa orang.

Pada tahun 1997 lalu kecelakaan sempat terjadi di pintu perlintasan yang dijaga Pamuji. Seorang pengendara sepedamotor tewas setelah dihajar KRL yang melintas dengan kecepatan tinggi. Pamuji pun dianggap bertanggung jawab. Keluaga korban pun melaporkan Pamuji.

Sulasmi mengingat di persidangan suaminya itu dianggap bersalah. Ganjaran untuk Pamuji adalah hukuman penjara selama satu tahun di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Jakarta Timur.

“Pengendara sepedamotor itu menerobos palang pintu, tapi keluarganya (korban) tidak mau mengerti,” katanya.

Setelah menjalani hukuman penjara Pamuji pun kembali berdinas di PT.Kereta Api Indonesia sebagai penjaga pintu perlintasan. Hingga kini kata Lasmi suaminya itu masih berstatus Pegawai Negri Sipil (PNS).

Sekarang setelah sekitar 16 tahun berlalu, Pamuji kembali terpaksa berurusan dengan polisi. Kecelakaan di jalur yang ia jaga setidaknya telah menyebabkan lima orang meninggal, dan sekitar 60 orang lainnya terluka.

“Mudah-mudahan suami saya tidak bersalah,” tutur Sulasmi.

Baca Juga:

Ayah Masinis KRL Maut Mimpi Baju dan Punggungnya Terbakar

Petugas Kebut Perbaikan, Jalur Serpong-Tanah Abang Bisa Digunakan Pagi

Menhub Serahkan Pihak yang Harus Bertanggung Jawab ke KNKT

Berita Lainnya

Kisah di Balik Tragedi Bintaro I

TRIBUNNEWS.COM, PURWOREJO – Cinta Slamet Suradio (74) pada dunia perkeretaapian teramat dalam. Meski menjadi korban sistem dan tercampakkan dari dunia perkeretaapian yang selama ini dia geluti, namun ia tidak dendam.

Bahkan, ia berkeinginan agar ada anaknya yang kembali bekerja dalam perusahaan kereta api. Slamet bukanlah orang asing dalam dunia perkeretaapian. Ingatan orang segera tertuju kepadanya ketika kisah Tragedi Bintaro kembali diceritakan.

Ketika pada 9 Desember kembali terjadi kecelakaan kereta api di kawasan Bintaro, banyak pihak yang kembali mengaitkannya dengan kejadian yang dialami Slamet.

Pada 19 Oktober 1987, Slamet terlibat dalam satu dari beberapa kecelakaan Kereta Api (KA) terburuk dalam sejarah perkeretaapian Indonesia. Saat itu ia mengawaki KA 225 Jurusan Rangkasbitung-Jakartakota yang bertabrakan dengan KA Cepat 220 Jurusan Tanah Abang-Merak. Dalam kejadian ini Slamet dipersalahkan karena dianggap melanggar aturan dengan memberangkatkan kereta tanpa izin Pemimpin Perjalanan Kereta Api (PPKA).

“Saya ingat jelas pagi itu kereta saya diberangkatkan. Saya melihat PPKA memberi tanda, asisten masinis telah naik ke kabin, dan kondektur pun telah masuk ke kereta,” kata Slamet.

Karena itu, ia kesal ketika tahu hanya dirinya saja yang dipecat dengan tidak hormat dan tidak mendapatkan uang pensiun, sementara orang yang menurutnya paling bertanggung jawab tetap mendapat uang pensiun.

Slamet mengungkapkan, banyak keganjilan dalam kasusnya. Misalnya saja, ia menandatangani Berkas Acara Pemeriksaan (BAP) dalam ancaman. “Waktu itu saya ditodong pistol, disuruh ngaku. Saya heran, saya nggak salah kok diperlakukan seperti itu,” ucapnya pelan.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh Slamet untuk memperjuangkan haknya. Namun, upaya tersebut tidak berhasil. Kini ia hanya bisa pasrah menanti keadilan yang entah kapan datangnya.

Namun Slamet tidak patah dan tidak menyerah. Setelah merasa Ibu Kota terlalu kejam untuknya, ia memutuskan kembali ke kampung halamannya, Purworejo. Di tempat ini ia memulai hidup yang baru dan berhasil menikah kembali setelah istri pertamanya direbut rekan masinis.

Dari pernikahan yang kedua ini ia dikaruniai tiga anak.
Untuk menyambung hidup, ia berjualan rokok eceran keliling di depan suatu toko di kawasan perempatan Kalianyar, Kutoarjo. Tempat berjualannya ini berjarak sekitar 17 km dari rumahnya yang sederhana di Dusun Krajan Kidul, RT 02/RW 02, Desa Gintungan, Kecamatan Gebang, Purworejo.

“Peristiwa 26 tahun yang lalu itu tidak akan pernah bisa saya lupakan. Selain itu sekarang saya hanya berdoa, agar saya pada akhirnya mendapatkan keadilan. Uang pensiun yang menjadi hak saya, semoga saya dapatkan,” katanya.

Slamet menegaskan, meski diperlakukan tidak adil, namun ia tidak merasa dendam pada dunia perkeretaapian. Bahkan, ia memiliki keinginan agar ada anaknya yang masuk menjadi karyawan perusahaan kereta api.

“Saya tidak dendam. Saya sampai mati tetap cinta kereta api. kalaupun saya sudah tidak bisa memberikan apa yang saya miliki untuk kereta api, biarlah anak saya yang meneruskan cita-cita saya. Kalau ada kesempatan saya ingin ada anak saya yang masuk ke kereta api, entah jadi masinis atau apa, yang penting meneruskan cita-cita saya membangun perkeretaapian Indonesia,” ungkapnya sambil tersenyum.

Mengenai lokasi kecelakaan kereta api di Bintaro yang terjadi pada 9 Desember 2013 yang berdekatan dengan lokasi kecelakaan pada 19 Oktober 1987, Slamet mengaku lokasi tersebut biasa saja. Menurutnya tidak ada yang aneh selama ia bertugas di wilayah tersebut.

“Sejak 1964 telah bertugas di jalur tersebut. Tidak ada yang aneh, angker pun tidak meski ada kawasan makam di dekatnya. Kalau orang bilang angker ya terserah mereka. Namun saya tidak merasa demikian. Kejadian pada 19 Oktober itu saya anggap apes saja,” katanya.

Solidaritas Masinis

Sedangkan mengenai solidaritas masinis, Slamet mengungkapkan keprihatinannya atas apa yang menimpa Darman Prasetyo, masinis KRL nahas yang bertabrakan dengan truk tangki. Menurutnya, kecelakaan dapat terjadi kapan saja meski telah diantisipasi sedemikian rupa.

Slamet mengungkapkan, solidaritas masinis memang baik. Belum lama ini ada serombongan masinis dari Semarang yang mengunjunginya. Selain bersilaturahmi, mereka juga memberikan bantuan ala kadarnya untuk sedikit meringankan bebannya.

“Masinis dari dulu dan sekarang beban dan risikonya tetap sama beratnya. Hanya sekarang masinis lebih ada peningkatan kesejahteraan. Semoga perkeretaapian Indonesia lebih baik,” katanya.

Baca Juga:

Kisah di Balik Tragedi Bintaro I

Cristiano Ronaldo Dapat Pujian dari Carlo Ancelotti

Bojan Krkic Bahagia di Ajax Amsterdam

Berita Lainnya

Kata Ahok Soal Kecelakaan Kereta Bintaro

TEMPO.CO, Jakarta – Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menyatakan, insiden tabrakan kereta Commuter Line dengan mobil tangki bahan bakar minyak menjadi contoh masyarakat yang tidak disiplin dalam berkendara. “Pelaku itu harus ditindak tegas, proses hukum,” kata Ahok, sapaan akrab Basuki, saat ditemui di kantornya pada Senin, 9 Desember 2013.

Kereta Commuter Line menabrak mobil tangki BBM di Pondok Betung, Bintaro, Jakarta Selatan, pada pukul 11.20 WIB hari ini. Dalam insiden tersebut, saksi mata menyebutkan, mobil tangki memaksa menerobos perlintasan kereta api. Ahok menyatakan dukacitanya atas insiden yang diketahui menewaskan hingga enam orang tersebut.

Ahok mendukung upaya PT KAI dalam menuntut perusahaan pemilik mobil penerobos. “Jelas dia sudah membahayakan hingga menghilangkan nyawa orang lain,” kata Ahok.

Menurut Ahok, problem perlintasan pada jalur kereta api yang utama adalah perlintasan liar. “Lintasan itu harus ditutup sebagai langkah pencegahan,” kata Ahok. Ahok mengatakan, problem yang akan muncul kemudian adalah reaksi warga pengguna perlintasan. “Nanti dibilang melanggar kalau diambil tindakan,” kata Ahok.

Menurut Ahok, idealnya perlintasan jalur kereta api seluruhnya berupa fly over dan underpass. “Tapi itu diganti dengan elevated loop-line,” kata Ahok.

Ahok mengatakan, yang perlu dilakukan untuk menghindari insiden serupa adalah disiplin lalu lintas. “Sebenarnya kejadian seperti ini, khususnya yang menimpa motor, sudah sangat banyak,” kata Ahok.

Ahok mengatakan, penutupan perlintasan liar akan mulai dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. “Tahun depan, beberapa akan dikerjakan bersama PT KAI,” kata Ahok. Ke depan, Ahok mengatakan, bentuk pengawasan idealnya adalah menggunakan kamera pengawas CCTV. “Pokoknya kami dukung PT KAI, mengingat kereta api merupakan moda transportasi massal yang efisien,” kata Ahok. Simak perkembangan kecelakaan kereta Bintaro di sini.

ISMI DAMAYANTI

Berita terkait:

Tabrakan Bintaro, Korban Berguling di Gerbong

Tabrakan Kereta Bintaro, 128 Rute ke Serpong Kacau

78 Nama Korban Tabrakan Kereta Bintaro

Efek Tabrakan Bintaro, Penumpang KRL Telantar

Advertisements

0 Responses to “Kepemimpinan : Pedoman Keselamatan Pekerjaan Indonesia ?”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,305,316 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: