05
Dec
13

Kenegarawanan : Membaca Tanda Zaman

Membaca Tanda Zaman

Benny Susetyo* | Rabu, 04 Desember 2013 – 12:15 WIB

: 788

 


(dok/ist)
Ilustrasi.
Aparatur yang beradab selalu mengutamakan tertib sosial dan hukum.

 

Membandingkan survei CSIS kali ini (November 2013) dan yang terdahulu (Mei 2013), bisa dilihat tren konsisten kenaikan dukungan terhadap Joko Widodo (Jokowi) di antara pemilih PDI Perjuangan, naik dari 51,9 persen menjadi 63,6 persen.
Dukungan terhadap Jokowi juga naik signifikan di antara pemilih Gerindra, dari 12,6 persen menjadi 20,6 persen pada survei bulan November.
Artinya, pendukung Prabowo juga mulai berpaling pada Jokowi. Jarak tingkat dukungan terhadap Jokowi semakin lebar dari bakal calon presiden lain. Ini menunjukkan rakyat semakin cerdas dalam memilih pemimpinnya yang benar untuk melayani publik.

Fenomena Jokowi sebagai Gubernur Jakarta memberikan efek kepada rakyat. Hampir tiap hari publik melihat apa yang dilakukan dan dibuatnya. Rakyat merindukan pemimpin yang memiliki jiwa pelayan, bukan pemimpin yang hanya mencari kekuasaan. Dibutuhkan pemimpin yang memiliki kredibilitas di mata publik bila politik menjadi alat untuk melayani kesejahteraan masyarakat.

Berpolitik sejatinya merupakan panggilan untuk menyejahterakan masyarakat. Namun, partai politik kita justru gagal menciptakan situasi kondusif untuk kesejahteraan rakyat. Partai politik gagal menata keadaban politik mereka dan memberikan pelayanan terbaik untuk rakyat.

Kini saatnya partai melakukan perubahan mendasar dalam diri mereka agar kembali diterima. Partai politik diharapkan lebih aktif mencari figur pemimpin yang memiliki keutamaan.

Pemimpin yang memiliki keutamaan akan melayani rakyatnya karena itu merupakan panggilan nurani. Kita membutuhkan pemimpin yang tulus mengabdi untuk kesejahteraan bangsa ini. Pemimpin yang betul-betul memperhatikan nasib masa depan bangsa, bukan nasib dirinya.

Ketulusan menjadi dasar seseorang untuk mengantarkan bangsa ini kepada masa depan yang dicita-citakan. Sikap tulus itu tentu harus disertai kecerdasan dalam mengoordinasikan tujuan dan target yang ingin dicapai.

Tujuan yang ingin dicapai harus membebaskan masyarakat dari politik adu domba yang kerap dipicu perilaku politik kekuasaan. Justru negara seharusnya memfasilitasi pertumbuhan nilai-nilai kemanusiaan yang tercermin dalam peradaban para aparaturnya.

Aparatur yang beradab selalu mengutamakan tertib sosial dan hukum. Setiap pemimpin yang terpilih selalu dicita-citakan sebagai pemimpin bangsa masa depan. Oleh karena itu, mereka harus berani menegakkan keadilan tanpa melupakan kebenaran. Kebenaran tanpa keadilan tidak akan menciptakan tata dunia baru. Tata dunia baru tercipta bila hukum memiliki kedaulatan di atas kepentingan politik.

Politik harus tunduk pada moralitas. Itulah zaman yang diharapkan dengan lembaran baru tercipta demi terwujudnya cita-cita para pendiri bangsa ini.

Amanat Penderitaan Rakyat

Para pemimpin terpilih seharusnya kembali mengingat untuk apa mereka memimpin. Tentu bukan untuk hura-hura karena merasa telah memenangi kompetisi demokrasi, melainkan justru untuk sebuah agenda yang sangat berat. Rasa bersyukur yang berlebihan bukan sesuatu yang elok dipandang.

Menjadi pemimpin bukanlah sebuah hadiah, melainkan amanat penderitaan rakyat. Tentu mereka harus kembali mengingat etika dan tujuan berpolitik. Berpolitik harus menjelma menjadi tindakan untuk melayani masyarakat. Orang yang terlibat dalam politik harus mengacu pada moralitas kemanusiaan dan keadilan.

Politik dan pemerintahan harus menjadikan nilai moralitas publik sebagai acuan. Pemimpin sejati seharusnya meninggalkan keinginan dan nafsu kekuasaan politik sebagai sandaran hidup untuk memperoleh kekayaan. Bila demikian, politik hanya akan menjadi arena investasi belaka yaitu mengeluarkan berapa dan apa, lalu mendapatkan berapa dan apa. Politik kekuasaan adalah amanat penderitaan rakyat.

Pertanyaan buat para pemimpin terpilih adalah bagaimana kita menyikapi kondisi kritis bangsa kita saat ini. Komitmen berbangsa yang dimanifestasikan dalam bentuk kerelaan berkorban secara sungguh-sungguh merupakan salah satu langkah yang mengantarkan bangsa ini mencapai perubahan pada masa mendatang. Mengapa tidak belajar dari para pendiri negara ini dalam kentalnya komitmen mereka terhadap pengorbanan lahir batin akan nasib bangsa.

Setiap langkah yang mereka lakukan selalu diarahkan pada upaya bagaimana rakyat hari ini lebih baik dari kemarin, esok lebih baik dari hari ini. Hal itu hanya bisa dilakukan bila pemimpin baru sungguh-sungguh berpihak kepada rakyat jelata, rakyat miskin, dan kaum penganggur. Mereka semua penghuni mayoritas bangsa yang disebut Indonesia ini.

Kedaulatan Rakyat

Kedaulatan rakyat seharusnya menjadi prioritas utama dalam kebijakan dan visi mereka ke depan. Jika dilihat dari apa yang terjadi selama ini, kita belum menemukan calon pemimpin yang serius memperhatikan kedaulatan rakyat itu.

Calon pemimpin bangsa hanya memandang dari cakrawala sempit yang hanya mementingkan golongan dan partainya. Perlu cara pandang baru bagi calon pemimpin bangsa bahwa dengan kekuatan atau figur semata, krisis bangsa ini tidak terselesaikan.

Hanya dengan mengandalkan kekuatan sendiri dan menegasikan kekuatan lainnya, bangsa ini akan semakin terjerumus ke jurang yang curam. Bangsa ini tidak membutuhkan sosok pemimpin yang kuat, tetapi pemimpin yang memiliki orientasi yang jelas, berpihak kepada rakyat, dan bukan kepada pemilik modal. Pertumbuhan ekonomi bukan satu-satunya ukuran sukses pemerintahan.

Ukuran utamanya adalah berkurangnya jumlah orang miskin, pengangguran, kebodohan, kerusakan lingkungan hidup, jumlah korupsi, pelanggaran HAM, dan kekerasan dalam jumlah yang signifikan.

Itu merupakan syarat-syarat kontrak moral terhadap siapa pun yang berani mencalonkan dirinya sebagai pemimpin bangsa. Siapa pun sosoknya tidak begitu penting, yang penting ialah apakah mereka benar-benar memiliki keutamaan itu.

Keutamaan pemimpin dinilai dari catatan moral dan pengabdian kepada bangsa yang pernah dibuatnya. Amat penting melihat kesungguhan orang yang akan menjalankan roda pemerintahan. Inilah yang diamati rakyat dalam sosok Jokowi. Ini pertanda zaman sulit dibendung karena rakyat merindukan sosok pemimpin yang memiliki keutamaan publik.

*Penulis adalah Sekretaris Dewan Nasional Setara Institute.

Sumber : Sinar Harapan

0 Responses to “Kenegarawanan : Membaca Tanda Zaman”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,093,125 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: