21
Nov
13

Kepemimpinan : Ekonomi Kreatif Indonesia ?

Ekonomi Kreatif Indonesia Tertinggal

Syafnijal Datuk Sin | Kamis, 21 November 2013 – 08:40 WIB


(Foto/Antara)
Profesi penjual kartu telepon yang dahulu tidak diketahui kini menjamur akibat perkembangan pesat ekonomi kreatif/Ilustrasi.
Pada 2050, dua pertiga profesi muncul di sektor ekonomi kreatif yang belum diketahui saat ini.
 
BANDARLAMPUNG – Pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan negara-negara lain. Padahal, ke depan, daya saing sebuah bangsa akan ditentukan oleh ekonomi kreatif. Oleh sebab itu, perguruan tinggi dituntut memacu ekonomi kreatif di kalangan mahasiswa dan akademisi.

Demikian dikatakan anggota Komite Inovasi Nasional (KIN) Prof Dr Bustanul Arifin pada seminar nasional sains dan teknologi yang digelar Lembaga Penelitian Universitas Lampung (Unila) di Bandarlampung, Selasa (19/11).

Pada seminar yang diikuti sekitar 200-an peserta yang terdiri dari para akademisi, mahasiwa, dan litbang instansi/badan terkait itu, tampil pula Dr. Suprayoga Hadi, Deputi Bidang Pengembangan Daerah Khusus Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT).

Dijelaskan Bustanul, dalam indeks inovasi global 2012, dari 120 negara yang disurvei INSEAD, Indonesia berada pada posisi 99 dengan skor 27,78 setingkat di bawah Filipina dengan skor 28,98.

“Indeks inovasi kita hanya setingkat di atas Sudan dengan skor 20,36,” ujar dia.

Begitu pula dalam indeks kompetitif global 2013, posisi Indonesia berada pada urutan ke 38 dengan skor 4,53. Ini setingkat di bawah Thailand dengan skor 4,53 dan setingkat di atas Filipina dengan skor 4,29.

Bahkan, lanjut guru besar ilmu pertanian Unila ini, Indonesia belum termasuk dalam 20 terbesar negara eksportir barang-barang industri/ekonomi kreatif. Di Asia Tengggara, baru Thailand dan Singapura yang sudah masuk dalam 20 besar negara eksportir industri kreatif.

Dengan kondisi demikian, ungkap Bustanul, tiada pilihan lain bagi Indonesia untuk memacu ekonomi atau industri kreatif.

“Dan, itu mari kita mulai dari kampus,” ia mengajak.

Menurut dia, pada revolusi keempat peradaban manusia—setelah revolusi ketiga bidang komunikasi/teknologi informasi, revolusi kedua bidang industri–industri/ekonomi kreatif menentukan daya saing sebuah bangsa.

“Tiada pilihan lain selain memacu pengembangan industri kreatif setelah basis sumberdaya alam kita terkuras habis dan indusri kita tergantung negara lain,“ pembicara mengingatkan.

Terdapat 15 sektor ekonomi kreatif yang saat ini cukup berkembang. Yakni: periklanan, arsitektur, senirupa, kerajinan, desain, fesyen, film, musik, seni pertunjukan, penerbitan, riset dan pengembangan, piranti lunak, permainan, televisi, radio, dan permainan video.

Sektor ekonomi kreatif ini akan terus berkembang. Bahkan, menurut penelitian PBB, pada tahun 2050 nanti dua pertiga profesi akan ditempati oleh ekonomi kreatif yang saat ini belum diketahui.

“Pada tahun 90-an kita tidak pernah membayangkan akan ada profesi jual pulsa ponsel, desainer web, dan lain-lain. Ke depan akan seperti itu pula yang bakal terjadi, yang saat ini belum pernah kita bayangkan,” ungkap ekonom senior INDEF ini.

Kendati begitu Bustanul tidak menutup mata terhadap perkembangan ekonomi kreatif di dalam negeri. Di mana kinerja ekonomi kreatif Indonesia tahun 2012 sudah memberikan kontribusi bagi PDB dengan menempati posisi  ke-7 dari 10 sektor eonomi dengan nilai Rp573,9 triliun (6,9%) dari total PDB Rp8.309,6 triliun.

Lalu sektor ini juga sudah menempati posisi ke-4 dari 10 sektor ekonomi dengan jumlah tenaga kerja 11,8 juta (10,65%) dari total 110,8 juta angkatan kerja di tahun 2012. sementara unit usahanya sudah menempati posisi ketiga dari 10 sektor ekonomi, yaki sebanyak 5,4 juta unit (9.72%) dari total 55,5 juta unit usaha.

Sumber : Sinar Harapan
Harga Beras dan Gabah Naik di Lampung

Syafnijal Datuk Sin | Kamis, 21 November 2013 – 09:16 WIB


(Foto/Antara)
Gabah/Ilustrasi.
Memasuki musim paceklik, harga beras dan gabah naik di Lampung.
 
BANDARLAMPUNG – Harga beras di sejumlah pasar tradisional Kota Bandarlampung, Provinsi Lampung, bergerak naik seiring peningkatan harga gabah memasuki musim paceklik. Diperkirakan harga bahan makanan utama warga ini akan terus melambung hingga musim panen Fabruari tahun depan.

Pemantauan SH di sejumlah pasar tradisional Kota Bandarlampung menunjukan, harga beras kualitas asalan naik dari Rp 7.500 per kilogram menjadi Rp 7.600 sampai Rp7.700/kg. Begitu pula harga beras kualitas medium naik dari Rp 9.200/kg menjadi Rp 9.400/kg. Beras merek KJ, misalnya, naik dari bulan lalu Rp 230 ribu/kg menjadi Rp 235 ribu/kg. Demikian pula, beras kualitas premium naik dari sebelumnya rata-rata Rp 10 ribu hingga Rp 10.200/kg menjadi Rp 10.500/kg.

Tini, pedagang beras di Pasar Way Halim, Bandarlampung, menyatakan, harga beras sudah bergerak naik sejak awal bulan ini yang disebabkan seretnya pasokan beras dari penggilingan sentra padi di Lampung.

“Kan, musim panen gadu sudah lama usai dan sekarang masuk musim paceklilk sehingga pasokan beras dari penggilingan mulai seret,” ujar Tini, Selasa (19/11).

Tini memperkirakan harga beras bakal terus naik hingga musim panen rendeng sekitar Februari tahun depan.

“Memang sudah lazimnya setiap akhir tahun musim paceklik dan harga beras mahal hingga musim panen berikutnya,” kata dia.

Pedagang beras lain di Pasar Tugu Bandarlampung, Edi Susanto, menyebutkan harga beras bergerak naik dan terus akan naik hingga musim panen mendatang.

“Kecuali pemerintah melakukan impor beras dan ada operasi pasar baru harga beras tertahan kenaikannya,” dia menambahkan.

Di tempat terpisah Pardie, petani di Desa Sidodadi, Kecamatan Pekalongan, Kabupaten Lampung Timur, mengakui, musim gadu sudah berakhir sejak September. Dan kini, petani di desanya memasuki persiapan mengolah sawah karena musim hujan baru saja rutin sejak sepekan terakhir.

“Jadi, stok gabah di petani sudah menipis karena itu harganya naik hingga Rp 4.700/kg dari saat musim gadu sebelumnya Rp  3.500/kg,” ujar Pardie yang juga sekretaris Gapoktan di desanya.

Dijelaskannya, kalau masih ada stok gabah sengaja disimpan petani untuk persiapan dimakan hingga musim panen berikutnya.

“Kalau gabah yang akan dijual sudah jarang. Saya sendiri terakhir jual gabah minggu lalu sebanyak lima kuintal,” kata dia.

Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Lampung menargetkan produksi padi tahun ini sebesar 3.223.633 ton gabah kering giling. Angka itu naik dibandingkan dengan realisasi produksi padi 2012 berdasarkan angka ramalan (aram) 2 sebesar 3.044.792 ton gabah.

Sumber : Sinar Harapan
Advertisements

0 Responses to “Kepemimpinan : Ekonomi Kreatif Indonesia ?”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,193,053 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: