19
Oct
13

Pertanian : Ironi Negeri Agraris

Ironi Negeri Agraris

Tajuk Rencana | Kamis, 17 Oktober 2013 – 11:40 WIB

: 168

 


(dok/antara)
Ilustrasi.
Merosotnya jumlah keluarga petani disertai dengan meningkatnya angka kemiskinan di pedesaan.

 

Indonesia tampaknya sudah tak layak menyebut diri sebagai negeri agraris. Bukan semata fakta bahwa negeri ini terus-menerus melakukan impor beras yang dipatok sebagai sumber pangan utama rakyat, tapi juga karena fakta bahwa jumlah petani di negeri ini terus berkurang.

Hasil sensus pertanian tahun 2013 menunjukkan, jumlah rumah tangga petani menurun dari 31,17 juta rumah tangga pada 2003 menjadi 26,13 juta rumah tangga pada 2013. Jadi dalam 10 tahun, kita kehilangan 5,07 juta rumah tangga petani.

Apa arti penurunan ini? Badan Pusat Statistik menyebut “hilangnya” para petani karena mereka beralih profesi ke sektor lain, seperti perdagangan atau perindustrian. Menurut Kepala BPS, Suryamin, ini bukan fakta mengkhawatirkan karena kemajuan sebuah bangsa bisa dilihat dari tren pergeseran penduduknya dari sektor usaha pangan yang primer ke sektor jasa yang lebih sekunder. Benarkah?

Kekhawatiran memang tidak perlu terjadi jika penurunan jumlah petani ini seiring dengan meningkatnya angka kesejahteraan di pedesaan. Namun data BPS menunjukkan hal sebaliknya. Merosotnya jumlah keluarga petani ini disertai dengan meningkatnya angka kemiskinan di pedesaan.

Data BPS menyebut, tahun ini saja terdapat 18,48 juta jiwa penduduk miskin pedesaan. Ini lebih besar dari jumlah penduduk miskin kota sebesar 10,65 juta jiwa. Jumlah ini akan bertambah seiring dengan adanya konversi alih lahan. Angka konversi lahan sendiri sebesar 100.000 hektare (ha) per tahun.

Data-data ini membuat kita perlu khawatir terhadap eksistensi kita sebagai negara agraris. Kebingungan seorang ahli pertanian China beberapa waktu lalu yang tidak paham bagaimana Indonesia bisa impor gula padahal memiliki lahan perkebunan yang cukup besar, mestinya melecut kita untuk melakukan instropeksi. Apa yang salah dan apa yang belum atau tidak pernah kita lakukan?

Bisa saja kita menyalahkan faktor musim yang membuat produksi pertanian turun sehingga membuat keluarga petani beramai-ramai pandah “profesi” sebagai buruh di kota atau makelar perkebunan atau pedagang kecil yang modalnya didapat dari jualan lahan pertanian.

Namun tentu saja faktor musim tidak bisa dipakai sebagai “pembenaran” untuk merosotnya produksi pertanian kita.

Kita harus punya kekritisan, sekaligus kearifan, untuk melihat bahwa selain faktor musim, merosotnya produksi pertanian kita juga dipicu oleh cekaknya modal petani, kepemilikan lahan yang sempit, minimnya penguasaan teknologi pertanian, dan distribusi hasil pertanian yang kacau balau, baik karena kondisi geografis yang tidak ditunjang infrastruktur memadai maupun karena iklim usaha yang tidak berpihak pada petani kecil.

Faktor-faktor inilah yang mestinya bisa kita benahi dengan mendayagunakan sumber daya yang ada dan menelurkan berbagai kebijakan pertanian yang komprehensif dan tidak tambal sulam.

Namun syarat untuk sampai ke sini adalah keberpihakan terhadap para petani, fokus pada target kedaulatan pangan, kemampuan memahami situasi secara objektif dan tahu persis apa yang bisa menggerakkan seluruh daya upaya ke target tersebut. Jika tidak, kita akan terus-menerus diombang-ombing dalam ketidaktentuan dan gampang menyalahkan hal-hal di luar lingkup kemampuan kita.

Akan menjadi sangat ironis bahwa setelah mencapai usia 68 tahun merdeka, kita malah terseret sebagai negara pengimpor pangan dan makin jauh dari kedaulatan pangan.

Di saat negara-negara lain mulai menguatkan produksi dalam negeri mereka untuk memasuki gelanggang pasar bebas, kita malah berlomba “menelanjangi” seluruh kedaulatan kita dari sektor pangan hingga energi.

Sumber : Sinar Harapan
Advertisements

0 Responses to “Pertanian : Ironi Negeri Agraris”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,305,316 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: