12
Oct
13

Kemasyarakatan : Sekretariat Bersama Organisasi Mahasiswa Lokal

* SOMAL (Sekretariat Bersama Organisasi Mahasiswa Lokal) *

SOMAL di Bencana Gunung Merapi

————-
Mars SOMAL


Inilah kisah di
Empat buah kota
Bogor, Bandng dan 
Surabaya serta Jakarta


Menghimpun tenaga
Kekuatan raksasa
Diatas segala golongan 
Segala Agama


Hmmm… tuntut ilmu
Cita, Cinta dan Canda
Rela hancur dan
Binasa untuk Negara

 

————–
Berdiri karena Isu
SOMAL, Riwayatmu ini

 “Bubarkan organisasi-organisasi mahasiswa yang tak berinduk” atau “Bubarkan HMI”, demikian pernyataan yang sering dilontarkan oleh kubu organisasi mahasiswa dengan orientasi Komunis yang mendominasi PPMI (Perhimpunan Perserikatan Mahasiswa Indonesia) sebagai satu-satunya wadah organisasi ekstra universiter. Selain menyerang HMI, CGMI (Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia, yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia) dan kawan-kawannya dalam PPMI juga menebar permusuhan dengan menyebut organisasi-organisasi mahasiswa lokal sebagai “organisasi pesta, banci, rasialis, manikebuis, borjuis”. Sadar akan bahaya besar yang menghadang, maka dalam sebuah acara bersama IMADA dan PMB di Lido – Sukabumi pada 25-27 Desember 1964, yang juga dihadiri IMABA di sela-sela pertemuan melakukan pembicaraan guna menyikapi gerakan-gerakan yang tengah dilancarkan CGMI cs. Pertemuan Lido menghasilkan kesamaan pendapat bahwa : organisasi-organisasi mahasiswa local harus bersatu. Pertemuan juga sepakat akan membicarakan lebih lanjut tentang bentuk persatuan tersebut dalam pertemuan berikutnya.

Situasi dan kondisi dunia kemahasiswaan dan politik semakin gawat dan mengkhawatirkan. Oleh karena itu, di sela-sela kegiatan pertandingan renang yang digelar oleh IMABA, CSB, PMB, IMADA, HMB (Himpunan Mahasiswa Bandung) dan Tirta Merta pada 23 – 24 April 1965 di Pemandian Centrum Bandung, kembali dilakukan pertemuan dengan pembicaraan yang lebih serius. Melalui diskusi yang cukup panjang di mana HMB berhadapan dengan peserta lainnya namun berhasil disepakati konsep Deklarasi. Deklarasi yang memberikan pengertian kepada anggota-anggotanya khususnya dan pemuda/mahasiswa Indonesia umumnya bahwa :pemuda-pemuda Indonesia adalah heroik, progresif, revolusioner dan tidak boleh membedakan hak serta kewajiban atas dasar golongan, keturunan, daerah, kepercayaan dalam mengemban amanat penderitaan rakyat. Deklarasi hanya ditandatangani oleh CSB, IMABA. IMADA dan PMB, karena HMB tidak hadir kembali pada saat penandatanganan.

Konsolidasi terus dilakukan sebagai upaya untuk lebih meningkatkan persatuan di antara organisasi-organisasi mahasiswa lokal. Pertemuan yang dihadiri CSB, GMD, HMB, IMADA, IMABA, MMB dan PMB kembali digelar di Bandung bertepatan dengan hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 1965. Dengan mengalami beberapa hambatan serta keterbatasan waktu maka dengan segala kekurangan yang ada berhasil membuat Pernyataan Bersama yang isinya antara lain menyatakan bahwa : Di dalam menuju masyarakat sosialis Indonesia, setiap mahasiswa harus lebih giat menyumbangkan tenaga dan pikirannya di berbagai bidang dan berusaha sekuat mungkin menggalang persatuan yang progresif revolusioner dengan bertindak secara pandai dalam menyelesaikan kontradiksi yang ada di kalangan organisasi mahasiswa khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya. Pernyataan Bersama ini merupakan hasil maksimal yang bisa dibuat dengan waktu yang sangat sempit, karena itu pertemuan sepakat untuk mengadakan pertemuan lanjutan. Disepakati MMB (Masyarakat Mahasiswa Bogor) sebagi tuan rumah dan mengusahakan agar dapat mengikutsertakan GMS (Gerakan Mahasiswa Surabaya).

Bogor 30 Mei 1965, di salah satu ruang kuliah di kampus IPB (Institut Pertanian Bogor), berkumpullah dengan lengkap seluruh organisasi-organisasi mahasiswa lokal yang menjadi anggota PPMI dari Jakarta, Bogor, Bandung dan Surabaya. Utusan-utusan yang terdiri dari tokoh-tokoh kuat di kalangan kemahasiswaan saat itu menyebabkan pertemuan berjalan sengit dan alot dalam mengambil atau membuat permufakatan. Permufakatan yang salah satunya menyatakan bahwa : Perlu segera diadakan Kongres PPMI yang ke-6 untuk menampilkan organisasi-organisasi massa mahasiswa di Indonesia. GMD (Gerakan Mahasiswa Djakarta) dan HMB tidak menandatangani permufakatan ini karena perbedaan prinsip. Yang akhirnya menghadapkan GMD dan HMB di satu kubu dengan CSB, IMABA, IMADA, MMB, GMS dan PMB di kubu lainnya. Pertemuan lanjutan dirancang dan memutuskan GMD sebagai tuan rumah.

Jakarta 12 Juni 1965, pertemuan kembali dilanjutkan, sama seperti pertemuan Bogor 30 Mei 1965 pertemuan berlangsung sengit dan alot. GMD dan HMB berupaya menarik GMS ke dalam kubu mereka, namun gagal. Kubu ini tetap berkeras untuk tidak dapat menyatukan diri dengan organisasi-organisasi lokal lainnya. Alasannya, organisasi-organisasi tersebut belum tegas pendiriannya dalam persoalan manikebu, rasialisme, kontrarevolusi dan lain-lain. Gagal bersatu dengan GMD dan HMB bukan berarti “jalan buntu” untuk mempersatukan organisasi-organisasi mahasiswa lokal. Pertemuan dilanjutkan di Jalan Palem No. 45 Menteng (sekarang Jl. Suwiryo). Di tempat ini sebuah press-release Pernyataan Bersama yang pada hakikatnya untuk menegakkan prinsip kerjasama antara organisasi-organisasi mahasiswa lokal yang didasarkan atas persamaan sifat dan perjuangan yaitu kesediaan meletakan kesetiaan selaku warganegara Indonesia kepada Bangsa dan Negara Indonesia dan bukan kepada diri sendiri dan/atau golongan-golongan. Pernyataan Bersama ditandatangani oleh Corpus Studiosorum Bandungense (CSB), Gerakan Mahasiswa Surabaya (GMS), Ikatan Mahasiswa Bandung (IMABA), Masyarakat Mahasiswa Bogor (MMB), Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB), Ikatan Mahasiswa Djakarta (IMADA). Dan saat itu pula SOMAL (Sekretariat bersama Organisasi Mahasiswa Lokal) resmi berdiri.

Beberapa bulan setelah SOMAL berdiri, 30 September 1965 terjadilah peristiwa G-30-S PKI, kemelut politik menjadi lebih jelas siapa melawan siapa. Ketika seluruh elemen masyarakat mengutuk peristiwa tersebut, PPMI yang didominasi oleh CGMI justru berdiam diri bahkan seolah-olah melindungi tokoh-tokoh yang terlibat G-30-S PKI. Melihat sikap PPMI terhadap peristiwa ini, SOMAL melalui wakilnya PMB dan MM yang mempunyai 6 suara, kembali mendesak agar segera diadakan Kongres ke-6. 12 Oktober 1965, dalam pertemuan terakhir SOMAL dengan Presidium PPMI, kembali mendesak dan mengancam jika Kongres ke-6 tak dilaksanakan PPMI, maka SOMAL akan melaksanakannya. Namun ancaman tersebut tak digubris sama sekali oleh Presidium PPMI. 20 Oktober 1965, secara tiba-tiba SOMAL dipanggil oleh Menteri PTIP (Perguruan Tinggi Ilmu Pengetahuan), yang menyarankan agar SOMAL tidak berkeras untuk melaksanakan Kongres ke-6, dan SOMAL tetap pada pendiriannya. Jalan buntu dalam pertemuan hari itu, Menteri PTIP mengusulkan untuk mengadakan pertemuan lanjutan. 25 Oktober 1965 di Jl. Imam Bonjol 24 Jakarta Pusat (kediaman Menteri PTIP dr. Syarif Thayeb), SOMAL dan Organisasi Mahasiswa Ekstra Universiter dari Jakarta, Bogor, Bandung dan Surabaya melakukan pertemuan lanjutan. Perdebatan panjang dan sengit terjadi antara kubu yang mempertahankan dan kubu yang menganggap PPMI telah “lapuk” (SOMAL cs). Tak ada kesepakatan dalam pertemuan, jalan kembali buntu, SOMAL dan Organisasi Mahasiswa yang menganggap PPMI telah “lapuk” pada hari itu memprakarsai dan mendeklarasikan berdirinya K.A.M.I. (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) sebagai wadah baru Organisasi Mahasiswa.

Dalam 18 tahun (1965 – 1983) perjalanannya, SOMAL banyak memberikan kontribusi bagi kehidupan kemahasiswaan, pendidikan serta politik di negeri ini. Setelah itu SOMAL 27 tahun tidur pulas (1983 – 2010), lebih panjang dari masa sadarnya, dan tak lagi peduli tentang Pernyataan Bersama atau Deklarasi. SOMAL tak punya peran serta sentuhan dalam pergolakan mahasiswa ketika melakukan perubahan-perubahan di negeri ini dalam upaya penegakan demokrasi. Jika berdiri karena isu maka mungkinkah dibangkitkan dengan isu? Di berbagai media, baik cetak maupun elektronik, kita kerap disuguhkan berita tentang sepak terjang Mahasiswa Indonesia saat ini. Apa yang terjadi di Makassar, Jambi dan di Sekolah Tinggi Agama Kristen Ambon adalah tindak kekerasan yang sama sekali jauh dari citra mahasiswa sebagai calon intelektual. Apakah peran Perguruan Tinggi telah bergeser, karena dari serentetan kejadian tersebut maka Perguruan Tinggi hanya akan menghasilkan generasi muda pemberang dan petarung hebat. Mungkinkah situasi ini sanggup menggetarkan nurani generasi muda SOMAL dan membangkitkan dari tidur pulasnya? Jika mungkin, maka siapa yang pantas membangkitkannya?

VIVAT Academia, VIVAT Profesores, VIVAT SOMAL !!!

Chossie (IMADA 2446/Thn. 1974)
Ketua Umum BP IMADA 1976 – 1977
Sek. Jend. SOMAL 1979 – 1980

Sumber bacaan:
1.Djoni Sunarja Hardjadsumantri, “SEJARAH BERDIRINYA SOMAL, Mengapa Dan Untuk Apa SOMAL Berdiri?”, dalam Buku, Pesta, Cinta & Karya; IMADA 50 Tahun, IMADA, Jakarta,, 2005.
2.Yozar Anwar, Angkatan 66; Sebuah Catatan Harian Mahasiswa, Penerbit Sinar Harapan, Cetakan pertama, Jakarta 1980.
3.Yozar Anwar, PROTES KAUM MUDA!, Penerbit PT. Variasi Jaya, Jakarta, Cetakan Pertama, April 19


—————-
Oleh : Momok Sritomo W.Soebroto (GMS 70)
Sekretariat Bersama Organisasi Mahasiswa Lokal (SOMAL) 12 Juni 1965 – 2009 – Shall We Return?


Banyak diantara kita barangkali yang tidak “ngeh” dengan kata atau istilah SOMAL ini. Sebuah nama yang tidak punya arti apa-apa untuk kondisi sekarang ini; tetapi sejarah politik kemahasiswaan pasti tidak pernah melupakannya. Khususnya bagi mereka yang pernah merasakan hiruk-pikuk dunia kemahasiswaan di saat-saat pertengahan tahun 1965. Ya, hampir 45 tahun yang lalu. Tepatnya 12 Juni 1965, saat dimana dunia kemahasiswaan mencatat berkumpulnya beberapa organisasi mahasiswa lokal seperti Ikatan Mahasiswa Djakarta (IMADA), Masyarakat Mahasiswa Bogor (MMB), Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB), Corpus Studiosorum Bandungense (CSB), Ikatan Mahasiswa Bandung (IMABA), dan Gerakan Mahasiswa Surabaya (GMS) berkumpul dan mendeklarasikan terbentuknya Sekretariat Bersama Organisasi Mahasiswa Lokal (SOMAL). Selanjutnya ikut bergabung juga Ikatan Mahasiswa Pontianak (IMAPON) dan Ikatan Mahasiswa Yogyakarta (IMAYO). Suasana politik saat itu benar-benar membuat organisasi mahasiswa lokal seperti Imada, PMB, GMS dan lain-lain merasa berkepentingan untuk berhimpun diri, membangun jaringan dan sekaligus kekuatan. Khususnya didasarkan pada kesamaan nasib dan kesamaan garis perjuangan dalam menjaga eksistensi masing-masing yang terancam pada saat politik dicanangkan sebagai panglima.



Tekanan dan suasana politik tahun 60-an benar-benar telah membuat dunia kemahasiswaan menjadi lebih dinamis, meskipun dalam berbagai kasus terus menyeret kampus dan mahasiswa untuk masuk dalam ranah politik praktis. GMS seperti halnya dengan organisasi mahasiswa lokal lain (SOMAL : PMB, CSB, IMADA, MMB, GMS, IMAPON dan IMAYO) yang awalnya lebih banyak bergulat dengan aktivitas seputar dunia kampus mulai menggeliat dan tidak mau ketinggalan didalam pergerakan/ perjuangan di jalanan. Meskipun berbagai seruan “back to campus” telah dikumandangkan sejak lama, namun tidak mudah untuk membawa kembali mereka yang sudah terlanjur menikmati dunia barunya. Ranah politik akhirnya telah memberikan alternatif sebagai pilihan “pengabdian” kepada nusa-bangsa-negara; selain dunia profesi yang terkait dengan bekal keilmuan yang digeluti para aktivis organisasi mahasiswa. Kita telah mencatat beberapa tokoh SOMAL yang pernah memberi warna khas dunia kemahasiswaan, maupun politik saat itu seperti Sarwono Kusumaatmadja (PMB), Rahmat Witoelar (PMB), Moestahid Astari (GMS), Awan Karmawan Burhan (CSB), Lilik Asdjudiredja (IMABA), Sjahrir (IMADA), Marsilam Simandjuntak (IMADA), Erna Walinono (PMB), Trimoelja Darmasetia Soerjadi (GMS), dll.


Adigum yang terkesan heroik “Student today is Leader tomorrow” sangat populer dan sering didengungkan oleh aktivis pergerakan mahasiswa tahun 60-an terus dijadikan sebagai sumber insipirasi bagaimana sebuah organisasi mahasiswa harus dilanggengkan eksistensinya. Sebuah slogan yang sungguh sangat efektif untuk membangkitkan semangat dalam merancang pola kaderisasi. Khususnya pada saat merekrut anggota dan menjaga bagaimana organisasi bisa tumbuh dan berkembang agar tetap survive. Networking yang sangat kuat dengan kawan-kawan yang pernah tergabung dalam SOMAL (PMB, CSB, IMADA, MMB, GMS, IMAPON dan IMAYO) dan dilandasi pula dengan nilai-nilai independensi, pluralisme, non-sektarian, dan lain-lain akan merupakan modal dasar yang sungguh masih sangat relevan dengan tantangan global yang harus dihadapi oleh bangsa sekarang ini. Hal tersebut bisa dijadikan “entry point” yang mampu memberikan daya tarik untuk melakukan revitalisasi dalam kerangka melanjutkan tradisi kepemimpinan SOMAL di dunia kemahasiswaan maupun politik nasional. Kapan lagi kita bisa berkumpul, membangun tali silatuhrahim dalam ikut memberi sumbangan pemikiran dan kontribusi bagi kejayaan almamater, nusa, bangsa dan NKRI.


Semoga Allah SWT memberikan ridhoNya kepada kita semua.


——————————

SEKRETARIS JENDERAL SOMAL :

1) 1965-1966 Sekretaris Jenderal Ir. Soerahmadi MMB 
Wkl. Sekjend. Ir. Elias MMB

2) 1966-1967 Sekretaris Jenderal M. Ramly Soulisa CSB 
Wkl. Sekjend. Micky J.R. CSB

3) 1967-1968 Sekretaris Jenderal Dr. Marsillam Simandjuntak IMADA 
Wkl. Sekjend.

4) 1968-1969 Sekretaris Jenderal Nuril Yunus PMB Wkl. Sekjend.

5) 1969-1971 Sekretaris Jenderal Sidik Poernomo GMS 
Wkl. Sekjend. Ir. Didi Sunarwinadi IMADA

6) 1971-1972 Sekretaris Jenderal Lili Asdjudiredja IMABA 
Wkl. Sekjend. DR.Chaidir Anwar Makarim IMADA

7) 1972-1973 Sekretaris Jenderal Drs. Husni Thamrin Sabirin IMAYO 
Wkl. Sekjend. Drs. Amir Karamoy IMADA

8 1973-1975 Sekretaris Jenderal Sjailendra Malik (alm) CSB 
Wkl. Sekjend. Drs. Amir Karamoy IMADA 

9 ) 1975-1976 Sekretaris Jenderal Ir. Azrar Hadi IMADA  
Wkl. Sekjend.

10) 1976-1977 Sekretaris Jenderal Ir. Harry Santoso GMS 
Wkl. Sekjend. Teguh Esha IMADA


11) 1977-1978 Sekretaris Jenderal Ade Supriadi Anwar (alm) CSB 
Wkl. Sekjend. George Eduard Kumontoy IMADA

12) 1979-1980 Sekretaris Jenderal George Eduard Kumontoy (Chossie) IMADA 
Wkl. Sekjend. Marsjiddan Rasjid IMADA 

13) 1980-1981 Sekretaris Jenderal Sjafril Djajanegara PMB 
Wkl. Sekjend. : Henny Andries IMADA 

14 1981-1982 Sekretaris Jenderal Pendi P. Novita IMABA 
Wkl. Sekjend. : Ernst Rudolf IMADA


15 1982-1983 Sekretaris Jenderal Moh. Selim GMS 
Wkl. Sekjend. :


——————————————–

1). PMB Jl. Merdeka No 7 Bandung
web http://pmbbandung.blogspot.com


2). IMADA Jl. Teuku Umar No 4, Menteng, Jakarta Pusat
web http://imada.wordpress.com


3). GMS Jl. Kedung Anyar buntu No. 11, Surabaya. kode pos : 60251
web http://www.gms-family.com


4). MMB Jl. Cikurai 19, Bogor telepon 0251-9770630
web http://www.masyarakatmahasiswabogor.org/


5). IMAYO d/a “jadin Craft Textiles”, jl. Karang Nongko Rt 10 /42, Ring Road Selatan, Panggung Harjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta.
Telp 0274-415176, fax 0274-415580 
web http://imayoevergreen.blogspot.com


6). CSB jl. Geusan Ulun No 17. Bandung

Advertisements

0 Responses to “Kemasyarakatan : Sekretariat Bersama Organisasi Mahasiswa Lokal”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,195,878 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: