29
Aug
13

Keuangan : Harga Emas vs US Dollar

Menduga Arah Pergerakan Harga Emas

Hasil survei oleh kanto berita Bloomberg terhadap sejumlah analis keuangan mengungkapkan, mereka percaya harga emas akan jatuh, menyusul kebijakan bank sentral AS alias Federal Reserve.

Komposisi hasil survei itu: 12 analis menyatakan harga emas bakal jatuh minggu depan, delapan menganggap sebaliknya (harga emas bakal naik), sementara dua lagi netral. Tetapi sejak Juni, inilah kali pertama lebih banyak analis yang memperkirakan harga emas bakal turun.

Mengapa demikian? Rencana The Fed memangkas stimulus moneter dijadikan kambing hitam.

Selama ini, upaya melakukan pelonggaran terhadap likuiditas dilakukan lewat belanja surat utang jangka panjang, yang nilainya mencapai $85 miliar per bulan. Jumlah inilah yang ingin diperkecil secara bertahap.

Kebijakan tersebut merupakan aksi bank sentral dalam melakukan ekspansi dengan membuat kurs dolar menjadi murah. Ini diindikasikan dengan suku bunga The Fed yang mendekati nol persen.

Suku bunga merupakan biaya untuk mendapatkan dana (cost of fund). Dengan murahnya ongkos itu, pemerintah Amerika mengharapkan bisnis bisa berjalan, konsumsi tetap bergerak. Sehingga, kebekuan ekonomi negara tersebut mencair. Pada akhirnya, pertumbuhan positif tetap terjaga.

Namun bagi para investor Amerika khususnya, menanamkan dana di negerinya sendiri menjadi tidak menarik. Karena itulah, dananya ditempatkan di emerging markets — pasar keuangan negara berkembang dengan pertumbuhan pesat.

Kini, kebijakan stimulus moneter itu akan dikurangi oleh bank sentral Amerika. Rencananya, mulai bulan depan bakal dilakukan secara bertahap.

Jika ini terjadi, maka nilai dolar akan naik. Sebab pasokan komoditas mata uang tersebut tidak lagi sama besarnya dengan seperti yang selama ini terjadi. Hukum pasar berlaku. Pasokan berkurang, dengan asumsi permintaan tetap, maka harga akan mengalami kenaikan.

Atas kekhawatiran atau adanya ekspektasi terhadap potensi naiknya nilai dolar akibat perubahan pada kebijakan The Fed, para investor asing yang menanamkan dananya di negara-negara berkembang (termasuk di Indonesia) pun berbenah.

Mereka bergegas menarik dananya pulang kandang dan tentu saja, mengonversi dalam dolar. Sebab rupiah memang belum diperdagangkan di negara lain, kecuali di pasar-pasar Arab Saudi saat musim haji.

Dari catatan Bank Indonesia, pada periode Mei-Juni tahun ini saja, dana asing yang ditarik dari Indonesia mencapai $4,1 miliar. Hingga beberapa hari ini aksi tersebut masih terjadi, sehingga posisi rupiah terhadap dolar makin lunglai.

Bayangkan, dana miliaran dolar dalam mata uang rupiah, seketika dikonversi ke dolar. Hal ini tidak bisa dihindari karena Indonesia menganut sistem rezim devisa bebas. Uang asing seenaknya bisa masuk dan keluar kapan saja.

Aksi cinta dolar secara berjamaah ini, menurut beberapa analis yang disurvei Bloomberg, akan membuat harga emas naik. Maklum, acuan harga komoditas emas yang diperdagangkan di pasar luar negeri itu menggunakan valuta dolar. Dengan begitu, biaya mendapatkan emas per gram ikut terangkat — tentu dalam sudut pandang rupiah.

Namun, para analis yang memprediksi harga emas bakal turun punya pendapat lain. Mereka menilai kenaikan tersebut hanya sesaat. Tingkat permintaan emas akan jatuh, sebab para investor dengan dana tambun lebih suka memilih investasi dalam dolar begitu kebijakan The Fed dieksekusi.

Karena tingkat permintaan turun, harga emas pun bakal turun. Walaupun tetap saja diakui bahwa harga emas lebih stabil dibandingkan instrumen investasi di pasar keuangan yang memang sensitif terhadap kebijakan moneter maupun rumor.

Begitulah “hukum” yang memang berlaku di dunia investasi. Ada hubungan terbalik antara dolar dengan emas. Ketika kurs dolar menguat, harga emas kena pukulan balik. Ini disebabkan oleh dana yang hengkang, akibat perpindahan instrumen investasi yang dijadikan sasaran.

Kali ini, dunia investasi menganggap dolar lebih menjanjikan. Money follows the return.

Herry Gunawan, Pendiri Plasadana.com

Berita Lainnya

Rupiah Anjlok, Siapa Menangguk Untung?

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus tertekan. Bahkan sudah sempat tembus Rp 11.000 per dolar. Siapa bakal tersenyum?

Salah satu penyebab utama adanya tekanan terhadap kurs rupiah adalah akibat tingkat permintaan terhadap dolar naik. Hal itu disebabkan oleh rencana bank sentral Amerika, Federal Reserve, yang ingin mengurangi stimulus moneter, yang selama ini dilakukan melalui pembelian surat utang.

Stimulus itu dilakukan guna menyuntik pasar dengan likuiditas dolar. Sesuai hukum ekonomi, pasokan dolar yang makin banyak membuat nilainya turun.

Dengan begitu, perekonomian tetap bergairah.

Ketika kebijakan tersebut ingin dikurangi, maka ramai-ramai para investor membeli dolar sebelum nilai valuta ini terus naik. Hal itu dilakukan guna mengantisipasi rencana otoritas moneter Amerika betul-betul dijalankan.

Akibatnya, para investor asing dari negara maju mulai mencairkan investasinya di emerging market – negara berkembang dengan pertumbuhan pesat. Dana di pasar keuangan keuangan termasuk saham, yang jadi sasaran mereka untuk dijual. Dana hasil penjualan aset itu, kemudian dibelanjakan dolar.

Selanjutnya adalah mata uang sejumlah negara tempat para investor asing mencairkan asetnya termasuk Indonesia, ikut melemah. Ini sekaligus membuktikan bahwa rupiah begitu rentan terhadap tingkat permintaan dolar.

Bersamaan dengan melemahnya rupiah ini, para importir atau dunia usaha pengguna bahan baku yang dibeli dengan dolar bisa dipastikan merintih. Apalagi kalau menjual produknya dengan rupiah.

Terkait dengan hal, harga barang-barang dengan kandungan impor besar, apalagi didatangkan utuh dari luar negeri, bakal naik. Daya beli berpotensi turun, sehingga menjadi pukulan tambahan bagi dunia usaha.

Kendati demikian, ada juga yang tersenyum senang dengan melemahnya rupiah ini. Siapa saja yang berpotensi mendapat untung? Setidaknya ada tiga kelompok:

Pertama, sudah tentu para eksportir. Mereka menerima pembayaran atas barang yang dijual dengan kurs dolar. Sehingga pendapatannya ketika dikonversi ke rupiah serta-merta bakal bertambah. Apalagi jika ongkos produksinya menggunakan standar rupiah, seperti pada sektor pertambangan atau perkebunan. Tentu keuntungannya makin melimpah. Kocek mereka tentu bakal tambah tambun.

Kedua, yang berpotensi besar mendapatkan untung adalah investor pada surat utang negara yang dikeluarkan dalam mata uang rupiah. Imbal hasilnya akan bertambah tinggi, karena harganya makin melorot di bawah harga awal.

Dari catatan Penilai Harga Efek Indonesia atau Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA) misalnya, imbal hasil (yield) untuk surat utang negara berjangka waktu 10 tahun, imbal hasilnya sudah naik. Pada Rabu (21/8), posisinya ada di 8,3896 persen dari sehari sebelumnya yang 8,2964 persen. Tentu makin lama jatuh temponya, makin besar kenaikan imbalannya.

Ketiga, seperti pernah disampaikan oleh manajemen Bank BTN, harga apartemen atau hunian kelas atas bakal naik. Karena itu, bank plat merah yang mayoritas bermain di hunian kelas bawah itu bakal meraup limpahan. Begitu pun dengan lembaga pembiayaan lain yang berpartisipasi di kelas serupa.

Walaupun sebenarnya, para pembeli properti tidak langsung pindah begitu saja. Apalagi, ketika kurs melemah, biasanya bank sentral menaikkan suku bunga. Ini berupa insentif bagi pemegang rupiah, sehingga mata uang tersebut tetap bernilai.

Akibat kenaikan suku bunga ini, tentu bunga kredit juga bakal naik. Karena itu, kemungkinannya bisa pindah beli properti menengah ke bawah atau bisa juga menunda waktu pembelian.

Tapi setidaknya, melemahnya rupiah tidak melulu berarti musibah. Tiga kelompok ekonomi di atas tetap berpotensi menangguk berkah.

Herry Gunawan, Pendiri Plasadana

Berita Lainnya

Siap-siap Bayar Utang Lebih Mahal

Anda punya pinjaman bank? Bersiaplah merogoh kantong lebih dalam untuk melunasinya, sebagai dampak lanjutan melemahnya rupiah terhadap dolar AS yang belum juga mereda hingga saat ini.

Demi meredam jatuhnya rupiah lebih dalam, Bank Indonesia mengintervensi pasar valuta dengan cara melepas dolar yang mereka miliki (agar pasokan dolar makin banyak). Dari penjualan itu, rupiah pun masuk kantong bank sentral.

Intervensi pasar ini memang langkah yang biasa dilakukan BI dalam situasi kritis, ketika nilai rupiah begitu murah dibandingkan mata uang acuan (dolar AS). Selain melepas dolar, BI juga lazim melakukan intervensi dengan cara menaikkan suku bunga acuan. Suku bunga yang naik akan membuat tingkat permintaan kepada rupiah bakal bertambah, sehingga nilainya pun ikut terangkat.

Intervensi sudah dilakukan. Tinggal suku bunga yang belum dinaikkan.

Pada krisis keuangan 2008, kebijakan seperti ini juga dilakukan. Demi mengamankan nilai tukar rupiah, sekaligus menjaga inflasi atau laju kenaikan harga, BI menaikkan tingkat suku bunga acuan (BI rate) hingga di atas 9 persen.

Dengan suku bunga tinggi, maka uang yang beredar di masyarakat bakal masuk ke sistem perbankan. Selanjutnya masuk bank sentral lewat mekanisme simpanan wajib bank atau giro wajib minimum. Pasokan yang barkurang di pasar ini pula pada akhirnya menstabilkan kurs rupiah dan meredam inflasi.

Hingga kini, ketika suku bunga belum dinaikkan, sejumlah bank sudah mulai kesulitan likuiditas. Deputi Gubernur BI Hendar mengatakan, itu merupakan dampak dari intervensi BI ke pasar.

Akibat kesulitan likuiditas ini, sudah ada bank yang meminta fasilitas pinjaman ke bank sentral. Likuiditas dalam hal ini merupakan kemampuan bank untuk memenuhi seluruh kewajiban yang harus dilunasi segera. Likuiditas memadai, berarti mempunyai alat pembayaran berupa harta lancar yang cukup.

Tentu masalahnya tidak berhenti di sini. Sebab, akibat keterbatasan likuiditas, bank akan menaikkan suku bunga guna menarik dana dari masyarakat. Ini berarti biaya yang dikeluarkan perbankan untuk mendapatkan dana makin mahal.

Agar selisih antara bunga yang diterima oleh bank (kredit) dengan bunga yang harus dibayarkan oleh bank (simpanan) tidak makin tipis, selanjutnya adalah kenaikan suku bunga pinjaman. Pada bagian inilah masyarakat terkena dampaknya.

Orang-orang yang berutang ke bank dengan jangka pinjaman menengah dan panjang, biasanya menggunakan suku bunga mengambang (setelah suku bunga tetap selama 1-2 tahun pertama). Berarti di tengah jalan, tentu suku bunganya bisa naik. Untuk itu, jumlah uang yang dibayarkan nasabah ke bank, seperti untuk kredit rumah atau pinjaman lain, bakal bertambah.

Dalam situasi seperti sekarang, memang sulit menghindari kemungkinan itu. Negara butuh kebijakan yang mampu memberikan dampak atau tanpa jeda (lag). Karena itu, instrumen moneter dari Bank Indonesia jadi pilihan.

Karena itu pula, dampaknya ke masyarakat bakal cepat. Suku bunga bisa dengan segera dinaikkan oleh perbankan.

Pilihan paling bijak yang bisa dilakukan dalam menghadapi situasi seperti ini adalah dengan menahan hasrat konsumsi. Jangan tergiur dengan pernyataan Menteri Keuangan Chatib Basri beberapa waktu lalu: “Belanja pangkal kaya.”

Tentu yang dimaksudkan adalah mendorong konsumsi sebagai sumber pertumbuhan guna menyelamatkan ekonomi. Tapi ketika masyarakat pun ditekan dengan mahalnya biaya mendapatkan dana seperti tercermin lewat suku bunga pinjaman, rajin belanja justru bisa jadi bencana.

Herry Gunawan, Pendiri Plasadana.com

Berita Lainnya

IMF: Indonesia Mesti Tingkatkan Produktivitas Sektor Pertanian

Jakarta (Antara) – Dana Moneter Internasional meminta Indonesia lebih meningkatkan produktivitas sektor pertanian dan membuat prioritas kebijakan yang tepat untuk mengubahnya.

“Indonesia harus membawa lebih banyak produktivitas ke dalam pertanian,” kata Advisor IMF Asia and Pacific Department David Cowen dalam diskusi bertajuk “Indonesia-Managing the New Global Norm” di Jakarta, Kamis.

Untuk itu, ujar dia, tenaga kerja di sektor pertanian juga harus dibawa agar lebih produktif dan menghasilkan aktivitas yang lebih bernilai tambah.

Ia mengingatkan bahwa proporsi ekspor pada saat ini telah berubah, di mana 10 tahun lalu lebih dari 50 persen ekspor menuju AS, Uni Eropa, dan Jepang.

Namun pada saat ini, lanjutnya, negara-negara tersebut dinilai hanya menjadi sepertiga dari sasaran ekspor global karena munculnya sejumlah pasar berkembang lainnya.

“Hal terpenting adalah fokus lebih kepada kebijakan domestik yang dapat memastikan bahwa negara-negara berkembang dapat mengurangi kerentanan yang terjadi akibat kondisi ekonomi global saat ini,” katanya.

Sementara itu, pembicara lainnya peneliti Economy, Industry, and Trade (Econit) Hendri Saparini mengatakan, struktur ekspor Indonesia seharusnya lebih seperti China dan India yang lebih kepada manufaktur dan bukan bahan mentah.

Indonesia, menurut Hendri, memiliki kondisi ekspor yang sangat bergantung kepada ekonomi global karena banyak mengekspor bahan mentah.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan, problem impor meningkatkan permasalahan di sektor pertanian. “Harus dilakukan perubahan,” kata Sofjan.

Sebelumnya, Dirjen Prasarana dan Sarana Kementerian Pertanian Gatot Irianto mengatakan penetapan lahan pertanian pangan berkelanjutan bertujuan untuk menghentikan laju konversi lahan.

“Setiap tahun sekitar 110.000 hektare lahan pertanian beralih fungsi menjadi lahan non-pertanian. Lahan pertanian itu berubah fungsi dari pemukiman sampai peruntukan bisnis,” kata Gatot Irianto di sela-sela diskusi panel “Ekonomi Pertanian Memajukan Indonesia” di Jakarta Convention Center, Jakarta, Senin (19/8).

Ia mengatakan laju konversi lahan pertanian ini kurang sebanding dengan program cetak sawah baru yang berkisar 20.000-40.000 ha per tahun. Agar pertanian tidak menjadi risiko tinggi yang menyebabkan banyak anak muda di daerah yang ke kota, pihaknya melakukan pertanian berkelanjutan di daerah.

Menurut dia, dengan pertanian berkelanjutan tersebut terjadi keseimbangan pemupukan baik organik dan non-organik. Kedua, sistem persawahan yang terintegrasi dari panen, cadangan, dan pembibitan.

“Diversifikasi pendapatan artinya petani mendapatkan pendapatan dari pemanfaatan kotoran sapi menjadi bio gas, jadi petani tidak hanya mengandalkan hasil panen saja. Lalu, mengurangi risiko pertanian sehingga anak muda di daerah mau bekerja di sektor pertanian,” kata dia.

Ia mengatakan seiring dengan membaiknya perekonomian dan pendapatan masyarakat maka tingkat konsumsi komoditas pertanian akan terus meningkat.(tp)


0 Responses to “Keuangan : Harga Emas vs US Dollar”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,223,021 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: