16
Aug
13

Perekonomian : Lampu Kuning

Lampu Kuning Perekonomian

Indonesia

Pemburukan indikator-indikator makroekonomi Indonesia tidak lagi sebatas fenomena jangka pendek satu atau dua bulan atau bahkan satu sampai dua triwulan, melainkan sudah mulai banyak yang berlangsung lebih dari satu tahun. Kecenderungan demikian harus sangat diwaspadai, karena bisa berlanjut ke tahapan yang lebih serius, yakni akselerasi pemburukan.

Kita mulai dengan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB). Perlambatan pertumbuhan ekonomi sudah terjadi selama empat triwulan berturut-turut. Bahkan sudah turun di bawah 6 persen atau tepatnya 5,8 persen pada triwulan II-2013. Pertumbuhan PDB di bawah 6 persen ini pertama kali dalam 10 triwulan terakhir.[i]

Transaksi perdagangan luar negeri (ekspor barang dikurangi impor barang) sudah mengalami defisit sejak tahun 2012. Baru separuh tahun pertama 2013, defisit perdagangan sudah menggelembung hampir dua kali lipat menjadi 3,3 miliar dollar AS. Sebelum tahun 2012 transaksi perdagangan tercatat selalu menikmati surplus.

Defisit transaksi perdagangan secara langsung menekan akun semasa (current account), yaitu ekspor barang dan jasa dikurangi impor barang dan jasa). Sejak tahun 2012 pula akun semasa mengalami defisit dan berlanjut hingga triwulan II-2013.

Dampak selanjutnya adalah tekanan terhadap neraca pembayaran. Walaupun sepanjang tahun 2012 masih mencatatkan surplus sebesar 165 juta dollar, namun pada triwulan 1_2012 dan triwulan II-2012 sempat defisit. Dua triwulan berikutnya sempat surplus, namun sejak triwulan I-2013 kembali menderita defisit.

Tekanan pada neraca pembayaran inilah yang membuat cadangan devisa melorot. Cadangan devisa Indonesia per 31 Juli 2013 turun lagi sebanyak 5,4 miliar dollar AS dibandingkan posisi akhir Juni 2013. Selama 3 bulan terakhir cadangan devisa sudah tergerus sebanyak 14,6 miliar dollar AS. Kemerosotan lebih tajam jika dibandingkan posisi akhir tahun lalu, yaitu sebesar 20 miliar dollar AS. Lebih tajam lagi jika dibandingkan dengan posisi tertinggi akhir Agustus 2011, yaitu terkuras sebesar 32 miliar dollar AS. Per 31 Juli cadangan devisa tinggal 92,7 miliar dollar AS, sedangkan posisi tertinggi adalah pada akhir Agustus 2011 sebesar 124,6 miliar dollar AS.

Tak heran jika nilai tukar rupiah pun semakin lunglai. Pada 15 Agustus 2013 nilai tukar rupiah bertengger pada posisi Rp 10.297 per dollar AS. Rupiah pertama kali menembus Rp 10.000 per dollar AS  pada 15 Juli 2013 setelah hampir empat tahun terakhir.

Jalu inflasi kembali menembus 5 persen sejak Februari 2013 setelah 19 bulan berturut-turut bertengger di bawah 5 persen. Bahkan pada bulan Juli 2013 laju inflasi meningkat tajam menjadi 8,6 persen, terutama akibat kenaikan harga BBM pada paruh kedua bulan Juni 2013.

Adalah laju inflasi yang relatif rendah dan stabil ini yang membuat BI rate anteng di aras 5,75 persen. Namun karena ancaman inflasi ini pula BI akhirnya menaikkan BI rate sebesar 25 basis poin pada bulan Juni 2013 dan 50 basis poin sebulan berikutnya, sehingga sekarang berada di aras 6,50 persen. Ada kemungkinan bulan ini BI rate kembali dinaikkan.

Tampaknya kenaikan BI rate yang sudah mendekati 100 basis point bakal direspon oleh perbankan dengan menaikkan suku bunga deposito dan suku bunga pinjaman, sehingga berdampak pada perlambatan investasi dalam negeri. Padahal, sebelum kenaikan suku bunga pinjaman sekalipun, laju pertumbuhan investasi—yang diukur berdasarkan pembentukan modal tetap bruto—sudah mengalami penurunan selama empat triwulan berturut-turut, yakni 12 persen pada triwulan II-2012 menjadi 10,0 persen pada triwulan III-2012, dan 7,3 persen pada triwulan IV-2013. Penurunan berlanjut pada triwulan I-2013 dan triwulan II-2013, masing-masing 5,8 persen dan 4,7 persen. Investasi ini merupakan ujung tombak terpenting kedua setalah konsumsi rumah tangga. Sejak tahun 2009 porsi investasi selalu di atas 30 persen terhadap PDB.

Celakanya, konsumsi rumah tangga sebagai pendorong utama pertumbuhan–porsinya sekitar 54 persen dalam PDB–juga mengalami perlambatan walaupun kenaikannya masih di atas 5 persen. Penurunan laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga sudah berlangsung selama tiga triwulan, dari 5,7 persen pada triwulan III-212 menjadi 5,4 persen pada triwulan IV-2012, lalu turun lagi menjadi 5,2 persen pada triwulan I-2013 dan akhirnya 5,1 persen pada triwulan II-2013.

Kalau sudah begini, niscaya ada faktor-faktor struktural yang menghambat gerak maju perekonomian. Tak bisa lagi dianggap enteng.


[i] Faisal Basri, “Ekonomi Suram Jelang Lebaran,” Kompas, 5 Agustus 2013, hal.15.

http://politik.news.viva.co.id/news/read/83756-dulu_morat_marit__kini_ri_jadi_success_story

SBY: Dulu Morat-Marit, Kini RI Success Story
Sepuluh tahun setelah tertimpa krisis moneter yang paling parah di Asia, RI
telah bangkit

Rabu, 19 Agustus 2009, 11:43 Heri Susanto, Agus Dwi Darmawan

VIVAnews – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengungkapkan bahwa Indonesia
telah mengalami perubahan besar dalam sepuluh tahun terakhir sejak krisis
ekonomi menimpa Indonesia.

“Alhamdulillah, kita selalu berhasil keluar dari krisis dengan baik, bahkan
terus menjadi lebih kuat dan kokoh,” ujar SBY dalam pidato kenegaraan di
sidang paripurna DPD di Jakarta, Rabu, 19 Agustus 2009.

Menurut Presiden, sepuluh tahun setelah tertimpa krisis moneter yang paling
parah di Asia, Indonesia telah bangkit kembali. Indonesia bangkit dan kini
berdiri tegar bukan saja dari segi ekonomi, namun juga dari segi sosial dan
politik.

“Apabila 9 tahun lalu ada kolumnis internasional yang mencap Indonesia
sebagai “messy state” (negara yang morat-marit dan kacau balau), maka kini
majalah Time justru menganggap kita sebagai “political success story”,”
kata SBY.

Menurut dia, banyak pula yang menilai Indonesia sebagai “emerging economy”
dan “model democracy”.

Bahkan, Indonesia dapat berkiprah dengan percaya diri di percaturan ekonomi
internasional, justru karena Indonesia mempunyai bobot baru, sebagai
ekonomi terbesar dengan pertumbuhan tertinggi di Asia Tenggara.

Arya Bima: Masa Pidato

Presiden Cuma Bicara Kisah

Sukses

Created on Friday, 16 August 2013 13:05
Published Date

Jakarta, GATRAnews – Wakil Ketua Komisi VI Arya Bima menilai pidato kenegaraan yang disampaikan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dalam sidang bersama DPR-DPD kurang realistis karena tidak secara gamblang menyingkap tantangan yang perlu dihadapi bangsa ke depan.

“Saya melihat pidato ini kurang realistis. Presiden sebagai kepala negara hanya menyingkap cerita sukses pemerintah, namun tidak menyampaikan sumber masalah dan tantangan ke depan,” kata Arya Bima kepada wartawan di DPR, Jumat.

Politisi PDI Perjuangan itu mengatakan sebagai kepala negara seharusnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono lebih mengangkat persoalan ekonomi, politik dan sosial budaya yang lebih realistis dan memberikan pencerahan terhadap persoalan yang terjadi.

“Ini pidato kenegaraan dalam rangka HUT Ke-68 Proklamaasi RI, jangan lantas hanya berbicara tentang `success story` pemerintah saja, tanpa pencerahan,” kata dia.

Arya mengatakan dalam pidatonya sejatinya Presiden telah menyampaikan tantangan pembangunan ekonomi nasional. Namun menurut dia masih ada beragam masalah lain yang seharusnya bisa diangkat.

“Misalnya masalah intoleransi masyarakat, prinsip gotong royong yang semakin hilang, lalu masalah pemilihan umum yang masih banyak kekacauan, termasuk masalah impor,” ujar dia.

Pada Jumat, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan Pidato Kenegaraan Dalam Rangka HUT Ke-68 Proklamasi Kemerdekaan RI, di depan sidang bersama DPR-DPD.

Dalam pidatonya Presiden mengajak seluruh pihak merenungkan dan meneladai nilai-nilai kebangsaan dan semangat kejuangan yang diwariskan para pendiri bangsa dan pejuang kemerdekaan. (DH)

Advertisements

0 Responses to “Perekonomian : Lampu Kuning”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,146,496 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: