13
Aug
13

Hikmah : Istiqamah Ibadah Pasca Ramadhan

Istiqamah Ibadah Pasca-Ramadhan

Senin, 12 Agustus 2013, 07:04 WIB

Komentar : -1
Warga muslim Cina tengah beribadah di dalam Masjid Niujie, Beijing, Selasa (16/7).(AP/Andy Wong)
Warga muslim Cina tengah beribadah di dalam Masjid Niujie, Beijing, Selasa (16/7).(AP/Andy Wong)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Dr Muhammad Hariyadi MA

Suasana hari raya Idul Fitri masih menyelimuti kita. Kebahagiaan dan kegembiraan masih lekat terasa karena setiap muslim merasakan limpahan karunia dan rahmat Allah SWT. Seandainya bukan karena kewajiban untuk masuk kerja, maka suasana tersebut masih berlangsung sebab manusia memiliki kecenderungan untuk memperpanjang masa bahagia.

Namun telah menjadi fenomena umum jika Ramadhan berlalu, maka ketaatan di dalam menjalankan ibadah dan aneka kebajikan menjadi menurun dan melemah. Jumlah jemaah shalat lima waktu dipastikan drastis menurun. Kesemarakan orang-orang dalam berinfak berkurang. Kelembutan hati dan perilaku yang memancar di bulan Ramadhan menjadi sirna.

Padahal kesemua kebiasaan baik tersebut tidak seharusnya hanya terjadi di bulan Ramadhan. Idealnya kebiasaan baik Ramadhan mampu menghiasi 11 bulan lain di luar Ramadhan, karena perintah shalat berjamaah, berinfak dan berbuat kebajikan serta bersikap lemah lembut dengan sesama manusia adalah akhlak Islam sepanjang zaman. Bahkan semua perilaku kebaikan tersebut merupakan pemberian (minhah) dari Allah SWT guna merepresentasikan diri seorang muslim sebagai hamba terpilih dan contoh yang mudah bagi manusia di sekelilingnya.

Jika kita perdetail, paling tidak terdapat empat kebiasaan (habit) kebajikan yang ditinggalkan oleh madrasah ramadhan, yaitu: puasa di siang hari, shalat sunah di malam hari, membaca Al-Qur’an di sela-sela puasa dan shalat malam, serta mensegerakan diri dalam perbuatan kebajikan. Keempat kebiasaan tersebut jika mampu diistiqamahkan di luar Ramadhan, niscaya akan menjadi akhlak kaum muslim sepanjang zaman.

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata: “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kalian merasa takut dan bersedih hati; dan bergembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.” (QS. Fussilat: 30).

Mengapa istiqamah dalam beribadah pasca-Ramadhan itu penting?

Pertama, karena kelanggengan memerlukan kesungguhan, ketekunan dan kesabaran. Dan ketiga unsur tersebut merupakan profil terpuji seorang muslim. Aisyah RA berkata : “Di dalam melakukan shalat, Nabi SAW menggemari untuk menunaikannya dengan langgeng, sehingga bila kantuk menguasainya atau karena sakit hingga tidak dapat bangun malam, maka beliau melaksanakan shalat di siang hari sebanyak dua belas rakaat.” (HR. Muslim).

Kedua, keistiqamahan yang panjang akan memberikan hasil yang besar dan luar biasa, tanpa tersadari secara langsung oleh pelakunya dan keistiqamahan tersebut tetap berpahala pada saat yang bersangkutan udzur sakit atau bepergian.

Rasulullah Saw bersabda: “Jika seseorang sakit atau melakukan perjalanan, maka dia akan dicatat melakukan amalan sebagaimana amalan rutin yang dia lakukan ketika bermuqim (tidak bepergian) dan dalam keadaan sehat.” (HR. Bukhari).

Ketiga, keistiqamahan menunjukkan kuatnya iman seseorang dan menjauhkan diri dari virus jenuh beramal. Rasulullah SAW bersabda: ”Setiap amal itu pasti ada masa semangatnya. Dan setiap masa semangat itu pasti ada masa futur (malasnya). Barangsiapa yang kemalasannya masih dalam sunnah (petunjuk) Nabi SAW, maka dia berada dalam petunjuk. Namun barangsiapa yang keluar dari petunjuk tersebut, sungguh dia telah menyimpang.” (HR. Tabrani).

Inilah pentingnya Istiqamah ibadah di luar Ramadhan yang dengannya sesungguhnya setiap pribadi sedang menapaki jalan orang-orang saleh yang akan membimbingnya pada penghapusan dosa dan lebih mendekatkannya kepada Allah SWT.

Wallahu A’lam.

Redaktur : Heri Ruslan
3.694 reads

Terasa Nikmatnya

Selasa, 13 Agustus 2013, 00:31 WIB
Republika/ Yasin Habibi
Beribadah di Bulan Ramadhan
Beribadah di Bulan Ramadhan

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ustaz Hasan Basri Tanjung MA*

Suatu ketika Aisyah Ra. bercerita, ia melihat Nabi SAW. qiyamullail dengan khusyu’. Ketika terbangun, Nabi masih shalat. Lalu ia tidur dan terbangun lagi, ternyata Nabi SAW masih shalat hingga bengkak kakinya.

Begitu selesai, Aisyah bertanya : ”Untuk apa engkau melakukan ini ya, Rasulullah ? Padahal telah diampuni dosa-dosamu yang lampau dan yang akan datang?” Nabi SAW menjawab dengan tawadhu’ : ”afalaa akuuna ’abdan syakura” (Tak sepatutnyakah aku menjadi hamba yang pandai bersyukur?). (HR. Muttafaq ’alaih).

Dalam al-Qur’an, ungkapan ’abdan syakura (hamba yang bersyukur), ditemukan dalam surat al-Isra ayat 3 yang ditujukan kepada Nabi Nuh as.

Nabi Sulaiman yang kaya raya dan berkuasa, juga selalu berdoa agar diberikan rasa syukur (QS.27:19).  Orang yang bisa merasakan nikmatnya karunia itu hanyalah orang-orang yang bersyukur, yakni orang-orang baik. Baik hati, pikiran, ucapan dan lakunya.

Dengan rasa syukur itu pula, Allah terus menambahkan karunia baginya (QS. 14:7-8,27:40,31:12). Sepatutnya kita  bersyukur (QS. 28:73,39:66,45:12), namun kebanyakan tidak pandai bersyukur (QS.2;243,40:61), dan sedikit yang bersyukur (QS.7:10,32:9,34:13,67:23).  Kiranya kita menjadi yang sedikit itu.

Abu Hurairah Ra, meriwayatkan Nabi SAW bersabda : ”… dan bagi orang yang berpuasa itu akan beroleh dua kegembiraan. Di kala berbuka, ia bergembira dengan berbuka itu dan di saat ia menemui Tuhannya nanti, ia akan gembira karena puasanya itu.” (HR. Ahmad dan Muslim).

Beranjak dari Hadis tersebut maka ibadah dan amal saleh akan menghantarkan kita untuk meraih tiga kenikmatan yakni: Pertama : Nikmat Material.

Dalam Hadis di atas, kata fariha bi fitrihi bermakna gembira di saat berbuka puasa setelah matahari terbenam.  Terasa nikmatnya segelas air teh  dan sesuap nasi. Minum yang paling nikmat ketika haus dan makan yang paling nikmat di saat lapar.

Selain itu, makan bersama orang lapar, baik lapar karena puasa maupun orang yang kelaparan (fakir miskin). Makan dan minumlah tapi jangan berlebihan (QS.7:31). Kelak di Hari Kiamat pun kita diberikan makan dan minuman yang enak (QS.52:19,69:24,77:43).

Nikmat material berkaitan tubuh (fisik) dan indikasinya jelas yakni  enak makan, buang air/angin, tidur, hubungan suami istri. Jika hal ini terasa nikmat maka badan akan sehat. Sehat itu nikmat sekali.

Oleh karena itu, selesai menikmatinya, mestinya berdoa ”alhamdulillah...”. Tentu nikmat pula punya harta banyak, kendaraan mewah, perhiasan, sawah ladang dan seterus sebagai perhiasan dunia (QS.,3:14).

Kedua : Nikmat Sosial. Selain dimaknai dengan berbuka puasa, fariha bi fitrihi diartikan pula dengan gembira di saat Hari Raya Idul Fitri. Nikmat berkumpul dengan orang tua, sanak famili dan handai taulan (silaturrahim).

Kebersamaan ketika sahur, berbuka, Shalat Taraweh dan tadarus al-Qur’an bersama keluarga. Buka puasa bersama (ifthar jama’i) dengan yatim dhuafa dan asatidz disertai dengan pemberian bingkisan.

Nikmat berbagi, bahagia memberi. Shalat Ied di pagi hari yang sejuk dan syahdu dengan lantunan takbir yang mendayu-dayu. Setelahnya, saling bersalaman dan berpelukan sebagai tanda pemaafan. Duduk bersama keluarga untuk introsfeksi diri dan saling memaafkan.

Mudik ke kampung dengan berbagai cara dilakukan, biaya seadanya, perjalanan yang melelahkan, tidur tak sempat, musibah mengancam, bahkan tidak sedikit yang mudik ke kampung asal. 

Bersimpuh, mencium tangan dan memeluk orang tua yang mulai renta, memohon maaf dan ridhanya.  Rasa lelah menempuh perjalanan panjang tak dirasakan lagi, tinggal nikmatnya.

Ketiga : Nikmat Spritual. Nabi SAW adalah hamba yang pandai bersyukur.  Padahal, Allah sudah memberikan privillage (hak istimewa) yakni ma’shum (terjaga atau terampuni dari dosa).

Nikmat spritual adalah nikmat iman dan islam. Kita akan kehilangan nikmat material dan sosial, tapi jangan kehilangan nikmat spritual. Nikmat dan senang  beribadah dan beramal saleh.

Kedua nikmat sebelumnya itu bersifat nisbi dan sesaat, tapi nikmat spritual itu hakiki, mutlak hingga Akhirat. Dalam shalat, kita berdoa agar ditunjuki jalan yang lurus, yakni jalan orang-orang yang telah diberi nikmat (QS.1:6-7). Yakni para Nabi, as-Shiddiqin, As-Syuhada wa Ash-Shalihin (QS.4:69).

Beribadah karena rasa syukur dan cinta kepada Allah. Terasa nikmatnya beribadah itu seakan hati dilanda cinta asmara. Ingin selalu dekat dan berlama-lama dengan sang kekasih, dengan rasa syahdu dan rindu.

Mengabdi kepada Allah, bukan hanya karena takut neraka dan mengharap surga, tapi karena cinta.  Mengharap kehidupan akhirat yang surgawi (QS.3:15) dan bertemu Allah kelak (fariha ’inda liqoi robbihi). Bagi yang berpuasa, Allah telah siapkan satu pintu khusus yakni ar-Rayyan (HR. Bukhari Muslim).

Kenikmatan material itu hanya jalan untuk meraih kenikmatan sosial. Orang yang terjebak dengan nikmat material itu laksana binatang piaraan. Nikmat material dan sosial itu sementara dan akan sirna. Kita akan ditinggalkan atau kita yang meninggalkannya.

Oleh karena itu, nikmat spritual harus diraih. Walau pun kita tak punya materi yang banyak dan keluarga yang mendampingi lagi, tapi kita punya Allah yang akan menyertai setiap langkah, ke mana, di mana dan kapan pun. Allah yang patut menjadi sandaran, gantungan dan tujuan hidup kita. Allahu a’lam bish-shawab.

*Ketua Yayasan Dinamika Umat dan dosen Unida Bogor

Redaktur : Damanhuri Zuhri
Advertisements

0 Responses to “Hikmah : Istiqamah Ibadah Pasca Ramadhan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,195,864 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: