12
Aug
13

Kenegarawanan : Persatuan Teritori dan/atau Kesatuan Kesejahteraan

Tan Malaka

Fransisca R Susanti| Selasa, 11 Juni 2013 – 14:38:09 WIB

Dok/Ist


Indonesia pernah diramal akan mengalami balkanisasi, tercerai berai seperti negara-negara bekas Uni Soviet dan Yugoslavia, segera setelah Soeharto turun. Para intelektual barat yang bertahun-tahun melihat Indonesia “survive” sebagai negara otoritarian memprediksi negeri ini akan tergagap-gagap dan centang perenang begitu keran demokrasi dibuka.

Desentralisasi, alih-alih sebagai upaya mendemokratiskan kekuasaan, justru akan menjadi peluang munculnya raja-raja kecil. Terpeleset sedikit, maka raja-raja kecil yang muncul akan kembali mengampanyekan “Piagam Jakarta,” buku yang sudah lama ditutup di era Sukarno.

Kekhawatiran ini pula yang agaknya membuat seorang Soekarnois seperti Taufiq Kiemas gencar mengampanyekan empat pilar. Ia menciptakan bangunan di kepalanya bahwa nasionalisme, konsep dasar berdirinya Indonesia, hanya bisa diselamatkan dengan kembali pada UUD 1945, Pancasila, komitmen NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika.

Keragaman dan pluralisme diakui sebagai takdir Indonesia. Tapi kesabaran untuk menjahit kebhinekaan menjadi kesatuan  tak tercerai merupakan warisan negeri bahari  Indonesia yang mantranya  dihembuskan oleh Soekarno lewat ide kebangsaan yang geloranya menerjang bagai air bah di negeri-negeri selatan di  paruh awal abad 20. Kontribusi Soekarno, setidaknya dikatakan oleh sastrawan Pramoedya Ananta Toer,  adalah “menjahit” bangsa tanpa harus meneteskan darah.

Banyak orang menganggap  Soekarno terlalu romantik. Ia memimpikan sebuah kesatuan pelangi: nasionalisme, agama (baca: Islam), dan komunisme. Ketiganya, di mata Soekarno, adalah isme yang memiliki spirit sama: anti penindasan. Ia membayangkan bahwa Marhaen, Muhammad dan Marx memiliki prinsip segaris dalam keberpihakan mereka pada kaum proletar yang termarginalisasi dalam arus besar modernisme yang dibawa kapitalisme dan imperialisme. Ia memimpikan kesatuan dari Indonesia yang bhineka. Tapi riil-kah kesatuan ini? Atau ini hanya kesatuan seolah-olah?

Di tahun 1922, dalam sebuah Kongres Komunis Internasional ke-4 di Moskow, seorang Indonesia memberikan pidatonya yang cemerlang.  Ia datang setelah menempuh perjalanan selama 40 hari dengan menggunakan kapal laut. Orang itu adalah Tan Malaka. Ia bicara atas nama Partai Komunis Jawa dan mengkritik Lenin yang dalam Kongres Komintern ke-2 menekankan perlunya perjuangan melawan Pan-Islamisme.

Tan Malaka yang di tahun 1921, bersama dengan Semaun, membangun gerakan kiri di Semarang, dan kemudian memimpin Partai Komunis Indonesia, tahu persis bahwa “memusuhi” Pan-Islamisme sama artinya dengan mengebiri gerakan nasionalis yang mulai tumbuh. Alih-alih akan merevolusionerkan gerakan nasionalis, memusuhi Pan-Islamisme sama juga menciptakan musuh yang tak perlu dan melemahkan perlawanan terhadap imperialisme.

Tan Malaka mendukung Pan-Islamisme. Ia tidak sedang berteori. Ia mengatakan keyakinannya karena sejarah Indonesia mencatat kelahiran sebuah gerakan Islam yang revolusioner di bawah panji Sarekat Islam. Gerakan kiri Indonesia berkolaborasi dengan Sarekat Islam selama bertahun-tahun dan mampu menggerakkan program revolusioner anti-kapitalisme dan anti-imperialisme secara bersama-sama, hingga kemudian keputusan Kongres Komintern ke-2 memecah belah persatuan ini.

Pan-Islamisme di paruh awal abad 20, di mata Tan Malaka, adalah perjuangan pembebasan nasional. Bukan gerakan penaklukan seluruh dunia dengan pedang di tangan di bawah kepemimpinan seorang Khalifah. Karena itu, “memusuhi” Pan-Islamisme adalah cara yang ceroboh dan sama sekali keliru. Lelaki bertubuh kecil kelahiran Suliki, Sumatera Barat itu, membuka mata para delegasi Komintern dari seluruh dunia bahwa perjuangan pembebasan nasional di negeri-negeri timur yang jauh –yang ditindas oleh kolonialisme- tidak bisa tidak harus merangkul persaudaraan Muslim. “Seperti halnya kita ingin mendukung perjuangan nasional, kita juga ingin mendukung perjuangan kemerdekaan 250 juta Muslim yang sangat pemberani, yang hidup di bawah kekuasaaan imperialis,” demikian Tan Malaka. Ia memang sama sekali tidak sedang berteori. Ia membaca pengalaman Indonesia.

Di tahun 1965, Ruth T.McVey dalam pengantar bukunya “Kemunculan Komunisme di Indonesia”, menyebut bahwa PKI berhasil melakukan apa yang gagal dilakukan oleh Partai Komunis China, yakni memainkan “blok dari dalam” untuk merevolusionerkan gerakan pembebasan nasional. Sayang, saat Soekarno membangun “mimpi” Tan Malaka lewat ide Nasakom-nya, Tan justru berada di seberangnya. PKI pun menemui ajalnya persis di tahun saat McVey menerbitkan bukunya. Sementara PKC yang di awal pembangunannya habis-habisan dipecundangi Kuomintang, justru kini melesat dengan kebersikukuhannya menggengam nasionalisme mereka.

Jikapun nasionalisme Indonesia masih memiliki nafas panjang hingga saat ini, itu karena ada banyak orang yang meyakini bahwa ada “rumah” yang mesti mereka jaga. Rumah yang merupakan “bayangan” dari ikatan persaudaran bernama bangsa.  Namun jika “rumah” tersebut pelan-pelan kehilangan elan revolusionernya, lupa raison d’etre-nya, dan hanya memaksakan persatuan teritori, tapi melupakan kesatuan kesejahteraan, maka prediksi balkanisasi bukan muskil terjadi.

(Sinar Harapan)

Advertisements

0 Responses to “Kenegarawanan : Persatuan Teritori dan/atau Kesatuan Kesejahteraan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,193,053 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: