17
Jul
13

Ideologi : Ajaran Bung Karno

http://indonesiaberjuang-gerpindo.blogspot.nl/2013/07/bung-karno-dan-konsep-partai-pelopor.html

Bung Karno Dan Konsep Partai Pelopor

Berdikarionline.com. Jumat, 10 Februari 2012 | 5:16 WIB  
 

14

Pada Agustus 2002, Rachmawati Soekarno Putri, anak ketiga Bung Karno, mendirikan Partai Pelopor. Konon, nama ‘pelopor’ itu dimaksudkan untuk mengabulkan cita-cita Bung Karno. Rupanya, di mata Rachmawati, Bung Karno pernah punya keinginan mendirikan partai pelopor. Tetapi Partai Pelopor ala Rachmawati itu jauh dari konsep Partai Pelopor-nya Bung Karno. Partai Pelopor ala Rachmawati itu tidak berbeda dengan partai-partai borjuis pada umumnya.
Namun, seperti kita ketahui dari sejarah, Bung Karno gagal mewujudkan cita-cita itu. Pada tahun 1927, di Bandung, ia dan kawan-kawannya mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI). Kendati muncul sebagai organisasi politik yang disegani, tetapi PNI gagal menjelma menjadi partai pelopor ala seperti yang diidam-idamkannya.
Pada tahun 1930-an, muncul polemik antara Bung Karno dan Bung Hatta. Di mata banyak orang, inti polemik itu adalah soal konsep partai politik: Bung Hatta mengusulkan partai kader, sedangkan Bung Karno mengusung partai massa.
Kesimpulan itu sering membuat orang salah kaprah: Bung Karno dianggap meremehkan perlunya kaderisasi dan pendidikan massa. Catatan Jakob Oetama, Suara Nurani: Tajuk Rencana Pilihan 1991-2001, menempatkan Bung Karno, sebagai seorang orator, mengutamakan pentingnya membangkitkan massa rakyat. Sebaliknya, di mata Jakob Oetama, Hatta yang seorang pemikir dipandang mengutamakan kaderisasi.
Jika kita menelusuri pemikiran Bung Karno, maka diketahui bahwa Bung Karno sebetulnya adalah pengusung gagasan partai pelopor. Di salah satu tulisannya yang sangat lengkap, Mencapai Indonesia Merdeka, Bung Karno berbicara tentang partai pelopor.
Sebelum menggeledah konsep Bung Karno soal partai pelopor, saya akan berusaha menjelaskan soal “Massa-Aksi”-nya.  Konsep “Massa Aksi” Bung Karno banyak dipengaruhi oleh tulisan serupa dari Tan Malaka, ditambah pengalaman partai Sosialis Demokrat di Belanda dan Jerman. Tan Malaka misalnya mengatakan: “Panggil dan himpunkanlah orang-orang yang berjuta-juta dari kota dan desa, pantai dan gunung, ke bawah panji revolusioner.”
Apa massa itu? Menurut Bung Karno, massa bukanlah cuma “rakyat jelata yang berjuta-juta” saja. Melainkan, kata Bung Karno, rakyat jelata yang sudah meleburkan semangatnya menjadi satu, kemauan satu, dan tekad yang satu.
Lalu, Bung Karno membedakan antara “Massa Aksi” dan “Massal Aksi”. Massa aksi adalah aksinya rakyat jelata yang, karena timpukan penindasan yang sudah tak tertahankan, menjadi sadar dan berkehendak membuat perubahan radikal.
Suatu massa aksi, kata Bung Karno, baru benar-benar menjadi massa aksi jikalau rakyat jelata sudah berniat membongkar sama sekali keadaan tua (sistem sosial lama) dan menggantinya dengan keadaan baru (sistem sosial baru).
Oleh karena itu, suatu massa aksi mesti dipandu oleh cita-cita: idealisme masyarakat baru. Ini pula yang membedakan massa aksi dengan ‘massa yang radikal tapi hanya sesaat saja’. Bung Karno menegaskan: “memang massa aksi itu selamanya radikal; selamanya berjuang menjebol keadaan lama dan membangun masyarakat baru.
Sementara massale actie adalah pergerakan rakyat yang orangnya bisa ribuan, bahkan jutaan, tapi tidak radikal dan tidak revolusioner: tidak bermaksud membongkarnya akarnya masyarakat tua dan menggantinya dengan masyarakat baru.
Bung Karno mengambil pengalaman Sarekat Islam sebagai contoh “massal aksi”: anggotanya banyak, cabangnya banyak, badan koperasinya banyak, serikat-serikat sekerja (serikat buruh) banyak, segala-galanya banyak, tetapi pendiriannya tidak radikal—tidak bermaksud merombak struktur sosial masyarakat.
 
Partai Pelopor
Bagaimana partai pelopor di mata Bung Karno?
Partai pelopor, kata Bung Karno, haruslah partai yang punya azas perjuangan dan program yang 100% radikal: berjuang melenyapkan susunan masyarakat lama dan berjuang mewujudkan susunan masyarakat baru.
Akan tetapi, bagi Bung Karno—ini inti pemikirannya: sebuah azas perjuangan dan program yang radikal akan menjadi ‘omong kosong’ belaka, hanya akan menjadi aksara mati, jikalau partai tersebut ‘tidak membanting tulang membangkitkan massa aksi dan mengomando massa aksi ke arah surganya kemenangan’.
Dengan demikian, sebuah partai pelopor harus punya dua kriteria: pertama, partai pelopor harus punya azas perjuangan dan program yang radikal, dan kedua, partai pelopor harus aktif berjuang di tengah massa, membangkitkannya menjadi massa aksi, dan memimpin perjuangan massa aksi.
Bagaimana membangun partai pelopor?
 
Pertama, partai pelopor harus menyempurnakan diri: partai pelopor harus sempurna dalam keyakinan (ideologi), di dalam kedisiplinan, dan di dalam organisasinya. Ia harus mencetak kader yang teguh dan kokoh seperti baja. Disiplin partai pelopor meliputi tiga hal: disiplin teori, disiplin taktik, dan disiplin propaganda.
Oleh karena itu, kata Bung Karno, sebuah partai pelopor harus dipandu oleh sebuah teori revolusioner. “Tanpa teori revolusioner maka tidak ada pergerakan revolusioner,” kata Bung Karno mengutip Lenin.
Teori revolusioner ini, kata Bung Karno, harus dipasokkan kepada seluruh kader dan anggota melalui pendidikan reguler, kursus-kursus politik partai, majalah dan bacaaan-bacaan partai, dan lain sebagainya.
 
Kedua, sebuah partai pelopor, kata Bung Karno, haruslah dibimbing oleh sebuah prinsip yang disebut “democratisch centralisme” (sentralisme demokrasi): sebuah prinsip kepemimpinan di dalam partai yang mengisyaratkan adanya kesatuan dalam aksi (tindakan).
Menurut Bung Karno, prinsip sentralisme-demokrasi ini yang memberi ruang kepada kepemimpinan partai untuk memerangi setiap bentuk penyelewengan terhadap strijdpositie (posisi perjuangan) partai. Penyelewengan yang dimaksud Bung Karno adalah: reformisme, amuk-amukan zonder (tanpa) fikiran, anarcho syndikalisme, dan penyelewengan ke arah perbuatan atau fikiran cap mata gelap.
Partai pelopor juga harus memerangi sikap kekirian desosial, yaitu sikap kekiri-kirian yang didasarkan pada nafsu dan amarah belaka, bukan pada pertimbangan analisa dan perhitungan yang tepat terhadap keadaan. Ini mirip dengan konsep Lenin tentang “kiri kekanak-kanakan”.
Apa pekerjaan Partai Pelopor?
 
Pertama, mengolah kemauan massa dari onbewust (belum sadar) menjadi kemauan massa yang bewust (sadar). Bentukan dan konstruksi perjuangan, kata Bung Karno, harus diajarkan kepada massa dengan jalan yang gampang dimengerti dan mudah masuk dalam alam fikiran dan akal semangatnya.
Partai pelopor harus memberi keinsyafan kepada massa rakyat tentang apa sebabnya mereka sengsara, apa sebabnya kapitalisme dan imperialisme bisa merajalela, apa sebabnya harus menuju jembatan Indonesia merdeka, bagaimana jembatan itu dicapai, dan bagaimana membongkar akar-akarnya kapitalisme.
Untuk itu, kata Bung Karno, selain menjalankan pendidikan dan kursus politik kepada massa, partai pelopor juga harus punya majalah dan selebaran yang bertebaran seperti daun jati di musim kemarau. Selain itu, lanjut Soekarno, aksi massa harus dibuat beruntun-runtun seperti ombak samudera.
 
Kedua, partai pelopor harus mengobarkan keberanian massa untuk bangkit berjuang; memerangi segala bentuk reformisme yang menipu massa.
Untuk itu, kata Bung Karno, partai pelopor mendidik massa dengan keinsyafan yang dibarengi dengan pengalaman-pengalaman langsung (ervaringen). Pengalaman-pengalaman inilah yang akan membuka mata massa mengenai kebohongan-kebohongan dan kekosongan taktik reformisme.
Oleh karena itu, partai pelopor harus mampu mengolah dan memperkaya pengalaman perjuangan massa dari hari ke hari; menyuluhi massa sambil berjuang di tengah-tengah massa. Dalam perjuangan itu, partai pelopor harus selalu mengarahkan pandangan massa pada tujuan: melikuidasi imperialisme dan kapitalisme via jembatan Indonesia merdeka.
Lantas bagaimana dengan perjuangan kecil-kecil (ekonomisme)? Menurut Bung Karno, perjuangan untuk aksi dan hasil kecil-kecilan tidak boleh ditinggalkan. Perjuangan kecil-kecilan, atau perjuangan sehari-hari, harus diletakkan dalam kerangka mengolah stridjvaardigheid (kemahiran berjuang) massa.
Perjuangan sehari-hari, kata Soekarno, adalah suatu schooling, suatu training, suatu gemblengan tenaga menuju perjuangan yang lebih besar.
Bung Karno mengutuk keras sikap pemimpin pergerakan yang mengatakan: biarkanlah marhaen sengsara dulu, biarkan mereka sampai megap-megap, supaya gampang diagitasi dan digerakkan! Bung Karno menyebut pemimpin semacam ini sebagai pemimpin bejat alias penghianat.
Bung Karno mengatakan: “radikalisme massa tidak bisa lahir dengan kesengsaraan saja, tidak bisa subur dengan kemelaratan saja. Radikalisme massa lahir dari perkawinannya kemelaratan massa dengan didikan massa; perkawinannya kemelaratan massa dengan perjuangan massa!”
Karena itu lahirlah pekerjaan partai pelopor yang ketiga: mengadakan propaganda dimana-mana, mengadakan perlawanan dimana-mana, mendirikan anak organisasi di mana-mana, mendirikan vakbond-vakbond (serikat buruh) dimana-mana, mendirikan serikat tani dimana-mana.
Bung Karno, yang banyak belajar dari partai sosial demokrat di Jerman, tidak menolak pembangunan badan ekonomi dan sosial, seperti pembangunan koperasi, warung, rumah anak yatim piatu, dan lain-lain. Asalkan: pekerjaan badan ekonomi dan sosial itu tidak sekedar pekerjaan sosial ansich. Oleh karena itu, badan ekonomi dan sosial semacam itu harus menjadi pusat pendidikan kaum radikal, alat untuk mendorong lahirnya politik massa aksi.
Demikianlah pokok-pokok pemikiran Bung Karno mengenai partai pelopor, yang jika ditelusuri dengan mendalam, banyak mengambil juga konsep Vladimir Illich Lenin, Marxis yang besar itu.
 
KUSNO
Kader Partai Rakyat Demokratik (PRD)

Sumber Artikel: http://www.berdikarionline.com/bung-karnoisme/20120210/bung-karno-dan-konsep-partai-pelopor.html#ixzz2ZFdfqa7N 
Diposkan oleh IB di  06.58  

Senin, 15 Juli 2013

Mengenal Sosio-Nasionalisme Bung Karno

http://indonesiaberjuang-gerpindo.blogspot.nl/2013/07/mengenal-sosio-nasionalisme-bung-karno.html

Mengenal Sosio-Nasionalisme Bung Karno

Berdikarionline.com  Sabtu, 13 Oktober 2012 | 10:53 WIB  

bk

Banyak orang sekarang ini, termasuk golongan kiri, melihat nasionalisme dalam satu wajah saja: chauvinis. Bagi mereka ini, nasionalisme tak lebih sebagai ekspresi ideologi borjuis. Karena itu, nasionalisme dalam segala manifestasinya akan selalu mengancam perjuangan klas pekerja.
Mereka juga beranggapan, nasionalisme sudah pasti berlawanan dengan semangat internasionalisme. Nasionalisme merayu klas pekerja untuk punya tanah-air. Loyalitas klas pekerja dipaksakan pada sebuah kebangsaan. Alhasil, kepentingan klas diringkus dalam bingkai “kepentingan nasional”.
Tetapi sebetulnya tidak sepenuhnya demikian. gerakan pembebasan nasional di negara-negara jajahan telah melahirkan nasionalisme dalam wajah lain: anti-kolonialisme, populis, demokratis, dan humanis.
Bung Karno juga punya konsep nasionalisme sendiri: sosio-nasionalisme. Namun, gara-gara jarang dibaca, apalagi dikaji secara mendalam dan intensif, maka ajaran sosio-nasionalisme ini kurang dikenal. Padahal, bagi saya, cita-cita sosio-nasionalisme ini justru sejalan dengan cita-cita sosialisme.
 
Dasar Teori Sosio-Nasionalisme
Ajaran sosio-nasionalisme mulai muncul tahun 1930-an. Pada saat itu, sudah muncul banyak gerakan nasionalis. Paling banyak adalah nasionalis radikal: Tjipto Mangkusumo, Douwes Dekker, Ki Hajar Dewantara, dan lain-lain.
Ada dua ajaran yang sangat berpengaruh pada kelahiran sosio-nasionalisme:
Pertama, ajaran nasionalisme  yang berkembang di Tiongkok dan India. Bung Karno banyak mempelajari ajaran nasionalisme yang berkembang di kedua negara tersebut. Kita tahu, ajaran nasionalisme di kedua negara itu sangat progressif, anti-kolonialisme, dan humanistik.
kita tentu sering mendengar kata-kata Mahatma Gandhi: My nationalism is humanity. Bagi Gandhi, menjadi patriotik nasionalis adalah karena kita manusia dan mencintai kemanusiaan.
Gandhi mengajarkan bentuk nasionalisme yang lain: nasionalisme yang hendak mengorganisir bangsa-bangsa untuk hidup sederajat dan berdampingan dengan bangsa-bangsa lain. Kata Gandi, jalan nasionalisme India bukanlah  melayani kepicikan, egoisme, kebangsaan sempit, dan chauvinis. Sebaliknya, nasionalisme India hendak melayani kemanusiaan.
Kita juga mengenal nasionalis progressif dari dataran Tiongkok, Sun Yat Sen. Ajarannya sangat terkenal: San-min Chu-i (tiga prinsip Rakyat), yaitu nasionalisme, demokrasi, dan sosialisme. Di tangan Sun Yan Set, cita-cita nasional Tiongkok hendak menggabungkan tiga ajaran besar itu.
Kedua, ajaran marxisme. Bung Karno sangat terpengaruhi oleh marxisme. Ia bahkan mengaku sebagai seorang marxis. Bagi Soekarno, marxisme merupakan teori paling kompeten dalam memecahkan soal-soal sejarah, politik, dan kemasyarakat.
Bung Karno sendiri pernah bilang, “Marxisme itulah yang membuat saya punya nasionalisme berlainan dengan nasionalismenya nasionalis Indonesia yang lain, dan Marxisme itulahyang membuat saya dari dulu benci fasisme.”
Marxisme mempengaruhi analisa Bung Karno soal kolonialisme. Ia tak melihat kolonialisme dari aspek rasialis: Suku, Agama, dan Ras. Karena itu, nasionalisme Soekarno, karena dipengaruhi oleh marxisme, tak punya kecenderungan sedikit pun untuk rasialis dan fasistik.
Bung Karno melihat kolonialisme, juga imperialisme, sebagai bentuk-bentuk akumulasi dari kapitalisme. Dalam pidato pembelaannya, Indonesia Menggugat, ia mengatakan, nafsu akumulasi kapitalisme telah mendorongnya merampas negeri-negeri lain dan mengubahnya menjadi jajahan; dan dari situ mereka mengambil bekal industri, mendorong daerah-daerah pasar bagi hasil industrinya, dan menciptakan lapangan baru bagi bergeraknya modal mereka.
Namun, marxisme mempengaruhi Bung Karno sangat jauh. Ia menyadari, menghilangkan kolonialisme tanpa menghilangkan kapitalisme sama saja dengan omong-kosong. Itu sama dengan anekdok: keluar dari mulut singa, masuk ke mulut buaya.
Karena itu, perjuangan pokok bangsa Indonesia tidaklah sekedar anti-kolonialisme, tetapi harus mengarah pada anti-kapitalisme. Ia tak hanya melawan kapitalisme bangsa lain, tetapi juga harus mencegah kapitalisme bangsa sendiri.
 
Nasionalisme eropa dan Indonesia
Bung Karno membedakan antara nasionalisme eropa dan dunia timur (jajahan). Bagi Bung Karno, nasionalisme eropa adalah suatu nasionalisme yang bersifat serang-menyerang, suatu nasionalisme yang mengejar keperluan sendiri, suatu nasionalisme perdagangan yang untung atau rugi.
Kenapa bisa begitu? Sebab, nasionalisme eropa memang digerakkan oleh nafsu kapitalisme. Karl Marx dalam Manifesto Komunis (1848) menjelaskan, “Kebutuhan akan pasar yang senantiasa meluas untuk barang-barang hasilnya mengejar borjuasi ke seluruh muka bumi. Ia harus bersarang di mana-mana, bertempat di mana-mana, mengadakan hubungan-hubungan di mana-mana.”
Bagi borjuis di eropa, negara nasional tak lain sebagai peralatan mereka untuk menopang proses akumulasi, yaitu perluasan pasar, pencarian bahan mentah, tenaga kerja murah, dan pencarian sirkuit baru bagi akumulasi kapital.
Namun, berbeda halnya dengan nasionalisme di dunia timur (jajahan). Nasionalisme di timur lahir karena eksploitasi kolonial. Dengan demikian, mereka menentang segala bentuk kolonialisme. Nasionalisme di timur banyak digerakkan ide-ide progressif: demokrasi, humanisme, dan sosialisme.
Soekarno sangat mengakui hal itu. Ia bilang, “Nasionalisme di dunia Timur itu lantas ‘berkawinlah’ dengan Marxisme itu, menjadi satu nasionalisme baru, satu ilmu baru, satu itikad baru, satu senjata perjuangan yang baru, satu sikap hidup yang baru. Nasionalisme-baru inilah yang kini hidup di kalangan Rakyat Marhaen Indonesia.”
 
Esensi Sosio-Nasionalisme
Bung Karno mendefenisikan sosio-nasionalisme sebagai nasionalisme massa-rakyat, yaitu nasionalisme yang mencari selamatnya massa-rakyat.
Bung Karno mengatakan, cita-cita sosio-nasionalisme adalah memperbaiki keadaan-keadaan di dalam masyarakat, sehingga masyarakat yang kini pincang itu menjadi keadaan yang sempurna, tidak ada lagi kaum tertindas, tidak ada kaum yang celaka, dan tidak ada lagi kaum yang papa-sengsara.
Karena itu, kata Bung Karno, sosio-nasionalisme adalah nasionalisme kaum marhaen. Dengan demikian, sosio-nasionalisme menentang borjuisme dan keningratan. Inilah tipe nasionalisme yang menghendaki “masyarakat tanpa klas”.
Sebagai konsekuensinya, sosio-nasionalisme menganggap kemerdekaan nasional bukan sebagai tujuan akhir. Bung Karno berulang-kali menyatakan kemerdekaan hanya sebagai “jembatan emas” menuju cita-cita yang lebih tinggi.
Dalam tulisannya, “Mencapai Indonesia Merdeka”, yang diterbitkan pada tahun 1933, Bung Karno menegaskan bahwa tujuan pergerakan nasional kita mestilah mengarah pada pencapaian masyarakat adil dan sempurna, yang di dalamnya tidak ada lagi penghisapan. Berarti, tidak boleh ada imperialisme dan kapitalisme.
Nah, supaya kemerdekaan politik itu tidak disabotase oleh imperialisme, ataupun oleh kaum borjuis dan feodal di dalam negeri, maka kekuasaan politik indonesia pasca merdeka haruslah dipegang oleh kaum marhaen atau massa-rakyat Indonesia. Inilah esensi dari sosio-demokrasi (Kita akan membahasnya di artikel lain).
Bung Karno kuat-kuat berpesan, “dalam perjuangan habis-habisan mendatangkan Indonesia Merdeka, kaum Marhaen harus menjaga agar jangan sampai nanti mereka yang kena getahnya, tetapi kaum borjuis atau ningrat yang memakan nangkanya.”
Karena sosio-nasionalisme bervisi “social conscience of man” (budi nurani sosial manusia), maka semangat sosio-nasionalisme adalah internasionalisme. Dalam pidato 1 Juni 1945—lahirnya Pancasila, Soekarno menjelaskan hubungan dialektik antara nasionalisme Indonesia dan internasionalisme: Internasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak berakar di dalam buminya nasionalisme. Nasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak hidup dalam tamansarinya internasionalisme.
Dengan demikian, sosio-nasionalisme bisa disederhanakan sebagai berikut: (1) sosio-nasionalisme merupakan ajaran politik yang memperjuangkan masyarakat tanpa klas alias masyarakat adil dan makmur. (2) sosio-nasionalisme memberi kerangka pada revolusi Indonesia agar tak berhenti pada revolusi nasional semata, tetapi harus berlanjut pada transisi menuju sosialisme. (3) Sosio-nasionalisme meletakkan semangat kebangsaan negeri terjajah berjalan seiring dengan cita-cita internasionalisme.
 
Kusno, Kader Partai Rakyat Demokratik (PRD)

 

Sumber Artikel: http://www.berdikarionline.com/bung-karnoisme/20121013/mengenal-sosio-nasionalisme-bung-karno.html#ixzz2ZBn3w3eR
Follow us: @berdikarionline on Twitter | berdikarionlinedotcom on Facebook

Diposkan oleh IB di  15.12

Advertisements

0 Responses to “Ideologi : Ajaran Bung Karno”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,146,496 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: