08
Jul
13

ImTag : Sebab Perbedaan Penetapan Ramadan

Ini Sebab Perbedaan Penetapan Ramadan

TEMPO.CO, Jakarta – Dosen Program Studi Astronomi Institut Teknologi Bandung Hakim L. Malasan mengatakan perbedaan penetapan tanggal satu Ramadan oleh beberapa kelompok muslim disebabkan perbedaan penetapan kriteria. Mereka, kata dia, masing-masing menggunakan metode yang telah digunakan sejak lama. “Tiap kelompok memiliki perbedaan metode,” kata Hakim saat dihubungi, Ahad, 7 Juli 2013.

Salah satunya, kata Hakim, pengikut Tarekat Naqsabandiyah di Sumatera Barat yang mulai berpuasa Ramadhan 1434 Hijriah hari ini. Hakim menjelaskan Tarekat menggunakan perhitungan berdasarkan pasang surut air laut yang dipengaruhi oleh gravitasi bulan. Menurutnya, metode ini kurang dapat diandalkan lantaran pasang surut air laut bersifat situasional.

Pergantian bulan baru, kata Hakim, memang ditandai oleh pasang surut air laut namun tanda-tanda itu tidak selalu dapat dilihat oleh mata telanjang karena adanya beberapa faktor. Faktor itu, kata dia, di antaranya bentuk geologis laut dan arus bawah laut.

Sekretaris Naqsabandiyah Sumatera Barat, Edison, mengatakan penetapan ini menggunakan perhitungan metode hisab munjid atau melalui penanggalan yang sudah dilakukan turun-temurun. Metode ini dilakukan dengan cara menghitung 360 hari dari puasa tahun lalu. Tahun lalu, mereka puasa pada hari Rabu. Untuk penghitungannya, puasa tahun ini dimulai 5 hari setelah Rabu dan jatuhnya hari ini.

Sedangkan Majelis Ulama Indonesia yang menggunakan metode imkanur rukyat, kata Hakim, melihat ketinggian bulan di atas cakrawala harus berada minimum dua derajat pada saat matahari terbenam. Sehingga, kata dia, jika puasa dimulai pada Rabu, wujudul hilal akan terlihat pada hari Selasa,” kata Hakim.

Lain halnya dengan metode yang dilakukan oleh warga Muhammadiyah yang menggunakan metode wujudul hilal. Hakim mengatakan penetapan Ramadan bagi warga Muhammadiyah dilakukan walaupun ketinggian bulan di atas cakrawala belum mencapai dua derajat.

Hari ini, ribuan pengikut Tarekat Naqsabandiyah di Sumatera Barat sudah mulai berpuasa Ramadan 1434 Hijriah.

LINDA HAIRANI

Terhangat:

Karya Penemu Muda| Bursa Capres 2014| Ribut Kabut Asap |Tarif Progresif KRL| Bencana Aceh

Baca Juga:

Sopir Bus Kembali Blokir Tol Jagorawi

Rilis Lagu PKS, Sefti Sanustika: Saya Cari Nafkah

Tasikmalaya Resmi Buka Sekolah Penerbangan

Istri Ultah, SBY Kasih Selamat Via Twitter

Demokrat: Facebook SBY Bukan Strategi Politik

Berita Lainnya

Puasa Ramadhan pada 1434 H ini bermula pada:

Minggu, 7 Juli, bagi warga Naqsyabandi di Sumatra Barat.
Senin, 8 Juli, bagi warga Samanniyah di Sumatra Barat dengan patokan purnama bulan Sya’ban pada 15 hari yang lalu.
Selasa, 9 Juli warga Muhammadiyah, warga penganut Asapon, dan yang bersesuaian dengannya besok sudah mulai berpuasa.
Rabu, 10 Juli warga yang mengikuti pemerintah dan yang bersesuaian dengannya, akan berpuasa.
Kamis, 11 Juli warga yang mengikuti Aboge akan berpuasa.
Ya, memang untuk berpuasa itu kalau zaman Nabi tidak untuk menyulitkan pengikut Nabi Muhammad. Oleh karena itu di dalam Alquran 2:185 disebutkan: “Yuriidullaahu bi kum al-yusra wa laa yuriidu bi kum al-‘usra.” Allah menghendaki kalian dalam kemudahan dan Dia tidak menghendaki kalian dalam kesukaran.
Yang menjadi persoalan, ajaran agama yang mudah ini dipersulit melalui kekuasaan. Dan, kekuasaan memerlukan kebakuan dalam operasionalnya. Oleh karena itu, muncul berbagai cara untuk “syahida min kum al-syahra” (di antara kalian yang hadir di syahar, bukan di bulan). Akibatnya, awal Ramadhan dikaitkan rembulan dan bukan “syahr” lagi, dan akhirnya awal Ramadhan bisa berselang hingga 5 hari.
Kalau kita kembali ke khitthah, maka puasa dimulai ketika kita “syahida syahra” bukan “syahida qamrata” (menyaksikan rembulan). Semula masa dalam setahun itu dikaitkan dengan matahari (Jawa: sasi). Oleh sebab itu, kata Ramadhan berarti sasi atau 1/12 tahun yang paling panas dalam sehari-harinya. Hal ini terjadinya antara pertengahan Juli hingga pertengahan September dalam setiap tahunnya. Dan, tanda mulainya adalah purnama, maka dikatakan “syahr” yang artinya terang alias mudah dikenali. Makanya orang yang terkenal disebut “masyhur”.
Nah, kalau ulama Islam independen, dan tak terkait dengan kekuasaan, maka ulama pasti berani mengembalikan awal puasa itu “syahr” dan bukan “qamrah”.
Suwun,
Chodjim
Advertisements

0 Responses to “ImTag : Sebab Perbedaan Penetapan Ramadan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,146,496 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: