06
Jul
13

Kenegarawanan : Pancasila dan Makna Terkini Dekrit 5 Juli 1959

Perspektif

Jumat, 05-07-2013 23:43

Makna Terkini Dekrit 5 Juli 1959


Pandji R Hadinoto

Pandji R Hadinoto

Makna Terkini Dekrit 5 Juli 1959
Oleh: Pandji R Hadinoto

SEJARAH politik konstitusi Indonesia mencatat bahwa Dekrit Presiden 5 Juli 1959 berperan strategik meluruskan kontroversi Konstitusi diakibatkan oleh kegagalan Konstituante membentuk Undang Undang Dasar 1959 sebagai pengganti Undang Undang Dasar Sementara 1950.

Ritual kembali ke Undang Undang Dasar 1945 melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959 itu seharusnya dapat juga jadi rujukan penting bagi aksi solusi atas peristiwa kontroversi Politik 4 Pilar (Pancasila, Undang Undang Dasar 1945 versi 2002, Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika) yang kini ternyata mengundang pro dan kontra sehingga terjadi kegaduhan Politik.

Adalah Politik Negarawan 17845 (17 butir JSN45 + 8 butir Hastabrata + 45 butir TAP MPR No XVIII/1998 tentang Pancasila) yang diyakini tepat digunakan sebagai perangkat tata nilai Politik guna maksud2 meluruskan kontroversi seperti Politik 4 Pilar itu. Apalagi JSN45 (jiwa Semangat Nilai2 45) diyakini adalah Roh Indonesia Merdeka.

Sedangkan momentum tanggal 5 Juli 2013 ini layaknya relevan dijadikan tonggak bersejarah lain dalam menbabarkan rekaan rentang waktu akhiran mangsakala Justya (Kejahatan) sejak abad 17 M ke awalan mangsakala Wibawa (Berpengaruh) pada abad 21 M per Serat Praniti Radya karya agung Sang Mapanji Sri Aji Jayabaya (abad 12 M) yang kini dikenali juga sebagai saat bagi Kebangkitan Spiritual Global, sejalan pula dengan gagasan dari pahlawan nasional dr Soetomo pada tahun 1936 tentang Indonesia Mulia.

Oleh karena itulah, bangsa Indonesia perlu bersyukur bahwa gagasan-gagasan perubahan demi kebaikan yang kini menggelora sebenarnya memang didukung oleh dugaan-dugaan baik tersurat maupun tersirat oleh perangkat-perangkat budaya kearifan lokal sebagai nilai tambah strategik kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan kedepan.  [*]

*) Dr Ir Pandji R Hadinoto MH  – Dewan Pakar PKP Indonesia, Nasionalis Pancasila, dan Gerakan Kebudayaan Nusantara (GeraKNusa)

Editor : Hasan Basri

Perspektif

Sabtu, 01-06-2013 17:12

Pancasila Versi Buton


M Hatta Taliwang

M Hatta Taliwang

TERKAIT

Pancasila Versi Buton
Oleh: M Hatta Taliwang

SOEKARNO adalah salah seorang pemimpin pejuang kemerdekaan yang gandrung menggali nilai nilai perjuangan dari nilai nilai luhur  budaya bangsanya. Salah satu buah pemikirannya adalah tentang PANCASILA. Entah karena membaca riwayat Kesultanan Buton atau kebetulan, ternyata ada kemiripan antara Pancasila versi Soekarno dengan Pancasila versi Kesultanan Buton buah karya Sultan La Elangi Dayanu Ikhsanuddin (1578-1615 M), Sultan Buton ke-4.

Perhatikan Falsafahnya :
1.Taat pada ajaran  Agama (Islam). Bandingkan dengan sila I Pancasila : Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Tegakkan pemerintahan(SARA) yang adil. Bandingkan dengan sila 2 Pancasila ; . Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
3.Negara(LIPU) Yang Utuh dan Bersatu. Bandingkan dengan sila 3 Pancasila : Persatuan Indonesia
4.  Diri/Pribadi-Rakyat atau KARO yg bijak Bandingkan dg sila 4 Pancasila : Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
5. Harta benda (ARATAA)  harus dilindungi dan berguna bagi kepentinagn umum. Bandingkan dg sila 5 Pancasila : Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rkyat Indonesia

Soekarno mendapat pnghargaan dari Univ Al Azhar Kairo atas pmikirannya tentang Pancasila. Syeikh Mahmud Syaltut menyatakan: “Penggali Pancasila itu adalah Qaida adzima min quwada harkat al-harir fii al-balad al-Islam (Pemimpin besar dari gerakan kemerdekaan di negeri-negeri Muslim).

Malahan, Demokrasi Terpimpin, yang di dalam negeri diperdebatkan, justru dipuji oleh syeikh Al-Azhar itu sebaimana, “lam yakun ila shuratu min shara asy syuraa’ allatiy ja’alha al-Qur’an sya’ana min syu’un al-mu’minin” (tidak lain haannyalah salah satu gambaran dari permusywaratan yang djadikan oleh Al Quran sebagai dasar bagi kaum beriman). Pemimpin Arab berkata; kami satu ras tapi terpecah atas brbagai bangsa.

Indonesia beragam ras/suku BERSATU karena PANCASILA. Mengapa kita kurang bangga dengan karya dan budaya bangsa kita yang telah dhargai sdemikian tinggi oleh bangsa luar? [*]

*) M Hatta Taliwang – Pengamat Institut Ekonomi Politik Soekarno-Hatta

Editor : Hasan Basri

Perspektif

Rabu, 03-04-2013 14:12

Pancasila Versi Kesultanan Buton


ist

ist

Oleh : M.Hatta Taliwang

Soekarno adalah salah seorang pemimpin pejuang kemerdekaan yang gandrung menggali nilai-nilai perjuangan dari nilai-nilai luhur  budaya bangsanya. Salah satu buah pemikirannya adalah tentang PANCASILA.

Entah karena membaca riwayat Kesultanan Buton atau kebetulan,  ternyata ada kemiripan antara Pancasila versi Soekarno dengan Pancasila versi Kesultanan Buton buah karya Sultan La Elangi Dayanu Ikhsanuddin (1578-1615 M), Sultan Buton ke-4.

Perhatikan Falsafah Kesultanan Buton :

1.Taat pada ajaran  Agama (Islam). Bandingkan dengan sila I Pancasila : Ketuhanan Yang Maha Esa.

2. Tegakkan pemerintahan(SARA) yang adil .Bandingkan dengan sila 2 Pancasila ; Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab

3. Negara(LIPU) Yang Utuh dan Bersatu. Bandingkan dengan sila 3 Pancasila : Persatuan Indonesia.

4.  Diri/Pribadi-Rakyat atau KARO yang bijak Bandingkan dengan sila 4 Pancasila : Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan

5. Harta benda (ARATAA)  harus dilindungi dan berguna bagi kepentingan umum. Bandingkan dengan sila 5 Pancasila : Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rkyat Indonesia

Soekarno  mendapat penghargaan dari Universitas  Al Azhar, Kairo atas pemikirannya tentang Pancasila.

Syeikh Mahmud Syaltut menyatakan, “Penggali Pancasila itu adalah Qaida adzima min quwada harkat al-harir fii al-balad al-Islam (Pemimpin besar dari gerakan kemerdekaan di negeri-negeri Muslim).

Malahan, Demokrasi Terpimpin, yang di dalam negeri diperdebatkan, justru dipuji oleh syeikh Al-Azhar itu sebagai, “lam yakun ila shuratu min shara asy syuraa’ allatiy ja’alha al-Qur’an sya’ana min syu’un al-mu’minin” (tidak lain hanyalah salah satu gambaran dari permusywaratan yang djadikan oleh Al Quran sebagai dasar bagi kaum beriman).

Pemimpin Arab berkata, kami satu ras tapi terpecah atas berbagai bangsa. Indonesia beragam ras/suku BERSATU karena PANCASILA. Kini. mengapa kita kurang bangga dengan karya dan budaya bangsa kita yang telah dihargai sedemikian tinggi oleh bangsa luar?

*Penulis adalah Direktur Eksekutif Institut Ekonomi Politik Soekarno Hatta (IEPSH)

Editor : Fuad R

Perspektif

Selasa, 02-04-2013 16:08

Belajar Kearifan dari Kesultanan Buton


ist

ist

Oleh : M.Hatta Taliwang

Bagi intelektual yang keranjingan ilmu dari BARAT atau dari NEGARA LAIN,mungkin  bijak juga jika belajar kearifan dari lokal Indonesia yang nilainya tidak kurang mulia. Misalnya tentang kerajaan Buton yang kemudian berkembang menjadi Kesultanan Buton.

Pelajaran Pertama:  MENGHORMATI PEREMPUAN

Pada periode Kerajaan antara tahun 1322 s/d Abad ke 16, dipimpin oleh 6 Raja diantaranya dua orang raja perempuan yaitu Wa Kaa Kaa dan Bulawambona. Kedua raja perempuan ini merupakan bukti bahwa sejak masa lalu derajat kaum perempuan sudah mendapat tempat yang istimewa dalam masyarakat Buton.

Kedua : KESULTANAN DEMOKRATIS

Pada periode kerajaan berubah jadi kesultanan (abad ke 16),  demokrasi memegang peranan penting. Sultan bukan berdasarkan keturunan namun dipilih oleh Siolimbona, dewan yang terdiri dari 9 orang penguasa dan penjaga adat Buton.

Ketiga, SULTAN PUASA SEKS

Setiap sultan berjanji untuk tidak lagi tidur dengan permaisuri demi menghindari lahirnya putra mahkota saat mereka bertahta. Karena bila sampai lahir seorang putra, maka kesultanan tidak lagi melalui proses demokrasi melainkan diwariskan kepada keturunannya.

Keempat: SANGGUP MENERIMA HUKUMAN MATI

Saat pelantikan, sultan terpilih akan membuat sumpah untuk menjalankan Undang-undang  negara yang disebut Murtabat Tujuh, dan menerima konsekuensi digantikan atau bahkan kehilangan nyawa bila melanggar Undang-undang  tersebut, Sultan ke – VIII La Cila Maradan Ali (Gogoli yi Liwoto. 1647–1654), diadili dan diputuskan untuk dihukum mati dengan cara leher dililit dengan tali).

Kelima: PATUH PADA FALSAFAH KESULTANAN

Falsafah hidup Kesultanan Buton ini lahir pada akhir abad ke-16 M. Falsafah Hidup Kesultanan Buton meliputi.

1. Agama (Islam)

2. Sara (pemerintah)

3. Lipu (Negara)

4. Karo (diri pribadi/ rakyat)

5. Arataa (harta benda)

*Penulis adalah Direktur Eksekutif Institut Ekonomi Politik Soekarno Hatta (IEPSH)

Editor : Fuad R

Advertisements

0 Responses to “Kenegarawanan : Pancasila dan Makna Terkini Dekrit 5 Juli 1959”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,146,480 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: