03
Jul
13

MiGas : Dilema Harga BBM


Faisal Basri : Harga BBM Mahal Karena Pemerintah Beli Lewat Calo

Jakarta, Aktual.co — Pengamat ekonomi Faisal Basri menilai bahwa pemerintah tidak terlebih dahulu mengkaji lebih dalam mengenai proses pengadaan bahan bakar minyak (BBM) yang mengakibatkan harga beli BBM untuk Indonesia diperoleh dengan harga mahal. Selama ini, ternyata Pertamina membeli minyak lewat calo.Menurut Faisal Basri, Petral atau Pertamina Trading Energy Ltd, perseroan terbatas anak perusahan Pertamina yang bergerak di bidang perdagangan minyak telah menambah beban belanja pemerintah.“Kenapa BBM kita tidak beli secara langsung? Kenapa kita tidak membeli ke negara penghasil minyak seperti Iran? Kemarin kan Hatta Rajasa sudah ke Iran, kenapa tidak (beli) dari sana? Kenapa harus melalui calo-calo?” ujar Faisal Basri, dalam diskusi di Warung Daun, Jakarta, Sabtu (22/6).”Kenapa mesti kita beli melalui Petral? Kenapa melalui Muhammad Reza? Ini ada mafia yang membuat harga menjadi lebih mahal. Dahlan Iskan sebelumnya pernah ingin membubarkan Petral, namun sekarang malah diam saja, ada apa ini?” lanjut Faisal.

Mafia BBM ini tidak pernah disentuh pemerintah, sambung Faisal, bahkan semua partai politik jika sudah berbicara mengenai peran Petral pada pengadaan BBM tidak ada yang berani bersuara, meskipun di hadapan publik partai tersebut seakan-akan menolak kenaikan harga BBM.

“Bisnis ini banyak bancakannya. Bisnis senilai USD15 miliar lumayan buat dana Pemilu. Anggota DPR yang kritis sekalipun kalau bicara Petral atau Muhammad Reza langsung mental,” ungkap Faisal.

“Muhammad Reza itu calo tata niaga minyak, calo-calo semacam ini yang harus kita basmi untuk efisiensi,” tukas Faisal Basri.

Perlu diketahui, saat ini saham Petral 99.83% dimiliki oleh PT Pertamina dan 0.17% dimiliki oleh Direktur Utama Petral, Nawazir. Tugas utama Petral adalah menjamin supply kebutuhan minyak yang dibutuhkan Indonesia dengan cara membeli minyak dari luar negeri. Saat ini Petral memiliki 55 perusahaan yang terdaftar sebagai mitra usaha terseleksi.

Pengadaan minyak oleh Petral dilakukan secara tender terbuka. Namun Petral juga melakukan pengadaan minyak dengan pembelian langsung. Alasannya, ada jenis minyak tertentu yang tidak dijual bebas atau pembelian minyak secara langsung dapat lebih murah dibandingkan dengan mekanisme tender terbuka.

baca juga :
#MelawanLupa : PETRAL Mafia Minyak RI dan Rezim SBY ==> http://jaringanantikorupsi.blogspot.com/2013/06/medianusantara-melawanlupa-petral-mafia.html

Rizal Ramli: Sikat Mafia Migas Atau Tolak Kenaikan Harga BBM ==> http://jaringanantikorupsi.blogspot….kat-mafia.html/

BBM dan Kacaunya Kebijakan Energi Indonesia ==> http://jaringanantikorupsi.blogspot.com/2013/06/medianusantara-bbm-dan-kacaunya_19.html

Rizal Ramli: Sikat Mafia Migas Atau Tolak Kenaikan Harga BBM ==> http://jaringanantikorupsi.blogspot….kat-mafia.html/

BPK: SKK Migas tak Gunakan Mekanisme APBN ==> http://jaringanantikorupsi.blogspot….migas-tak.html/

22 Juni 2013 | 04:31 wib
Program BLSM Dianggap Sebagai Pembodohan Masyarakat

TEMANGGUNG, suaramerdeka.com – Rencana pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi dengan kompensasi pemberian Bantuan Langsung Sementara (BLSM), kepada warga miskin ditentang mahasiswa Temanggung yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Mereka lantas mengadakan aksi demonstrasi di perempatan Terminal Induk Madureso, dengan membentangkan spanduk bertuliskan penolakan seperti BLSM (SBY) Bodohi Masyarakat,  BLSM Program tidak mendidik, serta membagikan selebaran pada pengguna jalan.

“Kami menolak BLSM karena itu merupakan pembodohan tidak mendidik dan justru merugikan masyarakat. Masyarakat itu butuhnya lebih dari itu seperti lapangan pekerjaan dan  pendidikan,” kata Korlap Aksi, Rozakulzazid, Jumat (21/6).

Menurutnya, BLSM hanyalah akal-akalan rezim SBY dan lebih condong pragmatis untuk kampanye belaka. BLSM hanya akan mebuat rakyat manja dan merupakan iming-iminng supaya harga BBM tetap bisa naik. BLSM dianggap bukan solusi, sebab bantuan senilai Rp 150 ribu per bulan yang dibayarkan sekaligus untuk tiga bulan bagi warga miskin  jelas tidak cukup untuk memenuhi semua kebutuhan hidup sehari-hari.

“Warga miskin Indonsia itu ada sekitar 30 juta kepala keluarga (KK), tapi yang diberi BLSM hanya 15 juta lalu yang 15 juta lagi mau diberi apa. Belum lagi pengalaman serupa tahun-tahun sebelumnya juga kacau dan banyak yang tidak tepat sasaran,”imbuhnya.

Berdasar realitas itu demonstran mengajak masyarakat untuk berpikir lebih jernih atas adanya kenaikan BBM. Antara lain berimplikasi terhadap naiknya harga sembako, serta barang kebutuhan lain. Parahnya, keadaan ini diajadikan komoditas politik, dengan memanfaatkan celah yang ada dan lagi-lagi masyarakat kecil dikorbankan.

( Raditia Yoni Ariya / CN26 / SMNetwork )

Segmentasi BBM demi Keselarasan Bangsa ~ suatu konsep

 

Setelah otoritas Orba berakhir, karena melibatkan berbagai faktor yang berorientasi kepada kepentingan rakyat, pemerintah perlu berhati-hati dalam pertimbangan revisi susunan harga BBM. Selain berbagai dasar yang menjadi acuan, setiap keputusan pasti mendatangkan dampak signifikan terhadap kepentingan ekonomi mikro dan makro di Indonesia.  

Telah lama saya merancang konsep segmentasi pemasaran BBM DN. Bahkan sejak awal pemerintahan pak SBY, saya beberapa kali mengusulkannya.  Mungkin karena sekilas terkesan rumit, pemerintah cenderung menggunaka sistim kompensasi BLT.  Pada prakteknya, bantuan langsung berbentuk uang tunai yang sekilas kelihatan praktis, sering tidak tepat sasaran dan kurang efektif untuk memulihkan perekonomian masyarakat yang terkena dampak kenaikan BBM. Sebaliknya, dari feedback (baik lisan maupun tulisan) teman2 yang sempat membaca/ mendengar penjelasan proposal konsep segmentasi, semua (100%) setuju dan mendukung konsep ini.

Bulan April, saya, bu An bersama Elsha, Dona, Jovan menghadiri pameran lingkungan hidup di JCC (sayang foto-fotonya terhapus). Saat menghampiri stand Pertamina, saya mengajukan pertanyaan kepada petugas stand. Petugas itu kemudian meminta staf kepala yang bertugas untuk menjelaskan alasan mengapa PN Pertamina diganti nama menjadi PT Pertamina serta siapa saja pemegang sahamnya. Bapak itu menjelaskan bahwa Pertamina adalah tetap BUMN sedangkan pemilik sahamnya adalah tetap, 100% milik Pemerintah. Adapun perubahan status dari PN menjadi PT adalah demi profesionalitas dan efektifitas kinerja supaya Pertamina bisa lebih berorientasikan pada keuntungan. Walau saya setuju bahwa profit memang penting, tentunya kepentingan rakyat sebagai owner lebih penting dari profit itu sendiri.

Sebenarnya Pemerintah merencanakan untuk menaikan harga BBM pada tanggal  1 Mei lalu. Tanggal 30 April di RS Siaga Raya (sehari sebelum tulang lengan dioperasi), sambil menahan rasa sakit saya berusaha mengirim pesan kepada bapak Presiden mengenai rencana kenaikan BBM itu. Walau tidak tahu apakah pesan itu sampai atau tidak, saya bersyukur karena pemerintah menunda kenaikan harga BBM.

14 Juni lalu sambil ngobrol, pak Jaenudin menanyakan pendapat saya mengenai rencana kenaikan harga BBM tanggal 17 Juni. Kemudian kembali saya jelaskan pak Jaenudin bahwa penyesuaian harga BBM sebenarnya memang diperlukan. Namun dengan metode segmentasi, bahkan tanpa kenaikan harga, bukan hanya pasti meningkatkan laba Pertamina, namun akan menciptakan keseimbangan baru yang lebih harmonis dalam perekonomian dan kesejahteraan sosial masyarakat. Ketika saya tanyakan pendapat beliau mengenai pegawai negri dan TNI yang wajib memakai Pertamax, beliau mengatakan bahwa kewajiban itu memberatkan TNI yang selama 24 jam sehari harus selalu siap untuk berangkat ketempat tugas yang memerlukannya. Saya juga mengatakan, walau menggunakan mobil pribadi, saya juga biasa menggunakan Premium yang Rp 4.500/ liter, karena memang tidak ada kewajiban untuk menggunakan Pertamax.

Untuk menyiapkan posting hasil analisa ini, saya terpaksa menunda dan membatalkan beberapa agenda. Namun karena waktunya sudah sangat mepet, agar tidak membingungkan pemerintah, 17 sore kemarin sementara mata masih kunang-kunang (jangan-jangan perlu beli kacamata ni.. ), saya putuskan untuk tidak memposting analisa yang belum tuntas itu. Namun karena kenyataan tanggal 17 malam belum ada perubahan kebijakan BBM, berarti saya masih ada kesempatan untuk menyempurnakan analisa sebelum memposting makalah ini.

 

Harga Dasar Minyak Mentah

Minyak dunia sempat meroket dan mencapai puncak bulan Juli 2008 dengan harga melewati US$146/barrel (Rp9.060/liter) sebelum kemudian terus jatuh dimana Desember 2008 mencapai titik terendah dimana harga pasar sempat di bawah US$38  (Rp 2350/liter). Pada tahun-tahun kemudian, harga ini kemudian berlanjut dengan relative tenang dan cenderung merangkak naik.

Minggu ini minyak berada pada kisaran = US$98/barrel= 98×9.800/159= Rp6.040,- /liter.  Tahun 2008, Alfan (UnstoppablePowerWithinIndonesia2006) menyampaikan info bahwa pak Kwik Kian Gie mengatakan bahwa biaya eksplorasi (mungkin juga termasuk penyulingan minyak bumi menjadi BBM) hanyalah = US$10/barrel= Rp620,-/Liter. Begitu murahnyakah? Iya. Karena minyak bumi yang masih di dalam tanah adalah gratis, tidak ada harganya. Sama seperti air dalam sumur yang siap kita timba sepuas hati. Perbedaan harga itu bisa saja terjadi demikian mencolok seperti halnya beda harga air pada pancuran mata air di Tomohon – di bandara SamRatulangi – di Arab Saudi.

Harga Premium saat ini (Rp 4.500/liter) sebenarnya 25% lebih murah dibanding harga minyak internasional minggu ini (Rp 6040/liter).  Apakah dengan menjual Premium dengan harga itu kepada rakyat Indonesia, hasilnya akan lebih sedikit jika dibanding menjual secara mentah ke pasar internasional?  Belum tentu begitu, karena dari penyulingan minyak  mentah, akan dihasilkan aneka produk (Thinner – Avtur/PertamaxPlus/Pertamax/Premium – Solar – MinyakTanah – Terpentin – Oli – Gemuk – Lilin – Ter – Aspal – Plastik – dll ) yang umumnya memiliki nilai  jual yang lebih baik lagi. Bahkan pada saat pasar dunia sedang booming, ekspor minyak ke luar negri tentu akan meningkatkan laba Pertamina.

 

Segmentasi Konsumen BBM DN

Konsep ini membagi pengguna BBM dalam 3 segmen berdasarkan taraf/ gaya hidup, efisiensi energi, luas (& berat)kendaraan serta dampak aktifitasnya terhadap lingkungan (kemacetan lalin, kadar polusi, pemanasan lingkungan):  

ØSegmen 1: Hemat dan Efisien

Kelompok ini kebanyakan justru dari kelompok ekonomi kurang kuat yang sangat efisien dalam mengkonsumsi bahan bakar. Segmen ini didominasi oleh buruh, karyawan/ pedagang kecil, serta kelompok yang menghargai efisiensi bahan bakar. Dengan biaya transportasi hampir mencapai 20% dari upah/ penghasilan, kendaraan yang digunakan adalah kendaraan plat kuning (bus, mini bus, mikrolet, angkot, bajaj, pick-up omprengan) dan ditambah sepeda motor (plat hitam) yang sangat efisien menggunakan lahan jalan raya (sekitar 0,5meter persegi/ penumpang yang mengkonsumsi 0,01 liter BBM/km).  Kebalikan dengan populasinya yang mencapai 70% masyarakat kota, segmen ini hanya menyita sekitar 10% lahan jalan dan hanya menghabiskan 10% BBM dari total konsumsi pengguna lalin jalan raya perkotaan. 

 

Sesuai karakter Hemat& Efisien, saya berharap mereka bisa dipertahankan untuk tetap menggunakan BBM dengan harga yang MURAH/ BERSUBSIDI(Premium dan Bio-solar) dengan harga Bio Solar/ Premium pada kisaran Rp. 4.200,- sampai Rp5.000,- . Adapun besarnya subsidi (selisih harga minyak mentah internasional dikurangi harga bagi segmen ini) bisa dianggap sebagai supply modal dalam investasi internal negara untuk meningkatkan taraf hidup dan usaha masyarakat kecil dan peningkatan pelayanan jasa angkutan umum. Untuk memudahkan, sebaiknya kelompok ini disediakan pompa bensin khusus di kompleks terminal/ tempat ngetem ataupun dipinggir kota. Walau berhak menggunakan BBM bersubsidi, segmen ini juga berkesempatan melakukan self-up-grading untuk menggunakan BBM non-subsidi ataupun BBM men-subsidi yang lebih berkwalitas.  

ØSegmen 2: Mampu dan Mandiri

Segmen ini adalah kelompok cukup mampu dan menggunakan mobil pribadi/ taxi yang kecil/ hemat BBM. Dengan anggaran transportasi sekitar 15% dari penghasilan, umumnya mereka menggunakan mobil 5 penumpang dengan silinder bensin maksimum 1500cc, minibus 7 penumpang maksimum 1800 cc,  pick-up/ box/minibus 10 penumpang maksimum 2000cc. Tiap kendaraan mengkonsumsi sekitar 0,1 liter bahan bakar/km atau setiap penumpang mengkonsumsi 0,04 liter/km atau 0,2meter persegi lahan jalan/ penumpang. Walau populasi segmen ini hanya sekitar 20% masyarakat perkotaan, namun segmen ini menyita sekitar 75% lahan lalu lintas jalan umum. Meningkatnya taraf ekonomi/ gaya hidup, murahnya harga BBM, ditambah buruknya pelayanan transpotasi umum, kelompok ini adalah sumber utama kemacetan yang terus bertambah dari waktu ke waktu.

Bagi segmen ini, saya berpendapat agar mereka diwajibkan untuk bisa mandiri dengan menggunakan BBM  non subsidi (setara Pertamax/SolarMurni dengan harga per liter pada kisaran Rp 9.000/ Rp 8.000.  Dengan mewajibkan 75% kendaraan mobil pribadi menggunakan BBM non-subsidi, saya taksir Pertamina akan mendapatkan keuntungan tambahan 60% lebih banyak dari sebelumnya Adapun selisih harga antara BBM non-subsidi dengan harga minyak mentah internasional, bisa dianggap sebagai biaya Pengolahan+ Pemasaran+ Laba Negara+ Cadangan Laba Ditahan (masih mampu mempertahankan harga ini seandainyapun harga minyak melonjak melebihi US$146/barel).

Kendaraan segmen ini tidak boleh menggunakan BBM bersubsidi, namun boleh menggunakan BBM mensubsidi.

ØSegmen 3: Mapan& Eksklusif

Kelompok ini ditujukan bagi pengguna mobil mewah yang boros bahan bakar. Walau mungkin kurang akurat, saya anggap kelompok ini hanya menggunakan 10% dari incomenya untuk biaya transportasi, menggunakan sedan dengan silinder di atas 1800cc,  MPV diatas 2000cc, menyita lahan sekitar 2meter persegi/penumpang, setiap kendaraan mengkonsumsi 0,15 liter BBM/km. Kelompok ini populasinya sekitar 10% masyarakat perkotaan dan menyita sekitar 15% lahan jalan raya.

Segmen Ekslusif ini wajib menggunakan BBM dengan kwalitas terbaik setara Pertamax Plus, yang saya usulkan per liter  Rp 10.000 – Rp 12.000.  Selain memperoleh BBM kwalitas terbaik, segmen ini adalah kelompok yang perlu pelayanan istimewa, cepat dan terbaik. Bahkan jika perlu pada masa mendatang, Pertamina bisa memberikan servis istimewa seperti sistim pengisian BBM super cepat.

Strategi Pelaksanaan

Segmentasi ini adalah mengelompokan para pengguna BBM agar aliran subsidi akan tepat sasaran. Seandainyapun tidak terjadi perubahan harga, berkat pengguna BBM subsidi hanya khusus segmen 1, sebagian besar kelompok menengah dan atas sudah tidak lagi menerima subsidi. Dengan berkurangnya penerima subsidi, saya taksir pembeli Premium akan mengalami penurunan hingga 85% karena mereka diarahkan bergeser menjadi konsumen BBM ke kelas lebih tinggi.  Karena itu, seandainyapun sementara tidak terjadi perubahan harga, Pertamina akan mengalami peningkatan keuntungan total sekitar 65% berkat up-grading itu. Tanpa harga naik, profit pasti meningkat signifikan.

Segmentasi harga BBM sangatlah membantu Pemerintah dalam mengalokasikan dukungan secara tepat sasaran: Bantuan bagi kelompok efisien yang perlu subsidi; Melatih kelompok mampu untuk mandiri dan berhemat agar semakin tangguh; Mengajak dan memberi kesempatan kepada masyarakat mapan ikut prihatin kepada sesama pengguna jalan raya, Pertamina bisa memberikan kwalitas produk dan pelayanan yang lebih istimewa.

Kita memiliki pompa bensin yang terbatas yang mungkin kurang siap menghadapi aturan baru ini. Karena itu segmentasi BBM tidak harus diterapkan secara sekaligus secara serempak. Perubahan harga BBM tanpa kesiapan pelayanan, bisa membingungkan petugas penjual dan masyarakat. Walau demikian, sebagai langkah awal di masa transisi ini, kita sudah harus menerapkan pemisahan yang tegas antara segmen 1(mendapat subsidi) dan segmen 2& 3 (tidak mendapat subsidi).

Saya usulkan agar dalam masa transisi ini Pertamina tidak melakukan perubahan harga. Dengan pedoman Premium tetap seharga Rp4.500 (khusus segmen 1), Pertamax dalam kisaran Rp9.000 dan Pertamax Plus dengan harga sedikit diatas Pertamax pada kisaran Rp10.000. Sementara masa transisi ini, kendaraan pada segmen 3, walau tidak dianjurkan namun masih boleh mendown-grade untuk menggunakan BBM setara Pertamax. Namun sementara masa transisi maksimum 1 tahun ini, Pemerintah akan menetapkan kendaraan apa saja yang masuk segmen 2 dan yang masuk segmen 3 secara baku.. Setelah aturannya jelas, pada tutup tanki kendaraan segmen 3 akan diberi warna kelas (misal strip warna ACI: merah-putih) yang menunjukkan kewajibannya untuk menggunakan BBM mensubsidi.

Seandainya pemisahan transisi ini efektif, maka sebagai progress kebijakan. Tahun depan Pemerintah akan mempertajam pemisahan segmen 2 (non-subsidi) dan segmen 3 (mensubsidi). Untuk ini saya mengusulkan (boleh dikoreksi sesuai situasi ekonomi tahun 2014), Pertamax diarahkan menjadi seharga Rp8.000 sementara PertamaxPlus akan diarahkan menjadi seharga Rp12.000. Selanjutnya baik petugas Pertamina maupun pengemudi/ pemilik kendaraan yang melanggar aturan ini akan mendapat sanksi yang tegas.

Beberapa Pertimbangan Khusus

Baru 2 bulan setelah saya kecelakaan motor, aktor Ari Wibowo, seorang kawan IES yang gemar menggunakan sepeda motor, menabrak seorang kakek. Memang Ari memperlihatkan sikap tanggung jawab dengan membawa korban ke rumah sakit serta melapor kepada polisi. Namun kecelakaan lalu lintas pengguna sepeda motor adalah kejadian yang sering kita saksikan sehari-hari.

Walau pengguna sepeda motor memliki resiko kecelakaan yang lebih tinggi dibanding pengguna mobil, karena efisiensi luas kerampingan dan hemat BBM, motor plat hitam saya harapkan boleh mengunakan BBM bersubsidi.

Kebalikannya, walau taxi menggunakan plat nomor kuning, saya cenderung memasukkannya sebagai segmen non-subsidi dan segmen mensubsidi. Alasannya, karena taxi boros lahan jalan raya, BBM, pemanasan lingkungan yang setara dengan mobil pribadi yang bersama bergulat dalam kemacetan jalan raya.

Mengenai TNI dan PNS, saya berpendapat sebaiknya disamakan dengan masyarakat umum. Motor dinas tetap segmen disubsidi. Mobil dinas masuk dalam segmen non-subsidi dan segmen mensubsidi sama seperti masyarakat umum. Seandainya dalam tugasnya, TNI (bahkan juga Pegawai Negri Sipil) sering melakukan aktifitas yang harus menggunakan kendaraan dinas (apalagi 24jam seperti pak Jaenudin), sebaiknya instansi berwenang juga menyiapkan anggaran  kebutuhan BBM bagi kendaraan dinas setiap anggota sesuai wewenang dan jabatannya.

Sebagian masyarakat menengah ke bawah pengguna mobil tua (sudah tidak mewah) bersilinder besar, belum siap mengganti dengan mobil baru namun merasa berat untuk membeli BBM mensubsidi. Apakah ia harus membuang kendaraan yang harganya tidak seberapa itu? Saya berpendapat, sebaiknya kita perlu peraturan transisi selama 5 tahun mendatang ini.

Memang semua kendaraan pribadi berkapasitas besar sudah harus mengenakan warna pada tutup tanki bensin sebagai tanda wajib pengguna BBM mensubsidi. Namun para pemilik mobil tua boros BBM mengajukan dispensasi agar boleh diperpanjang menggunakan Premium. Untuk kasus ini, pada tanki bensinya akan diberi tanda tanggal berakhirnya dispensasi itu. Misal hingga akhir 2016, tutup tanki itu sudah harus diberi warna tanda sebagai wajib menggunakan BBM mensubsidi.  Setiap tahun jumlah izin itu akan dikurangi sampai sehingga tahun 2018 semua kendaraan boros BBM diatas standar, akan disetarakan dengan mobil mewah, pengguna warna tanda wajib menggunakan BBM mensubsidi.

 

Berbagi untuk Meningkatkan Kapasitas

Saya pribadi tidaklah menganggap bahwa penjualan BBM dengan harga bersubsidi akan merugikan Pertamina. Namun segmentasi harga BBM memang diperlukan demi keseimbangan aktivitas perekonomian, ekosistem dan reduksi kemacetan.

Sepulang mengikuti  UPW-Sidney2005 (Anthony Robbins), pak Desvan (LP58/ AW) mengajak saya berlatih meditasi di Sirnagalih . Latihan meditasi relaksasi yang diajarkan pak Haris Suhyar (guru kami) melatih membersihkan hal-hal negatif seperti kecemasan, trauma, karakter negatif serta menyelaraskan pikiran dengan perasaan, yang secara perlahan membersihkan memori negatif subconscious mind, meningkatkan rasa tentram dan percaya diri yang secara bertahap mengurangi kegugupan yang parah.

Selain itu, beliau sering mengajarkan prinsip Terima& Kasih. Teori ini mungkin bisa diterjemahkan sebagai Thanks& Giving (Bersyukur). Beliau menggambarkan bahwa kita masing-masing memiliki ‘wadah’ untuk menampung rejeki yang mampu kita bisa terima. Pada saat ‘wadah’ kita sudah jenuh, kita sudah tidak mampu lagi menampung tambahan rejeki lagi. Untuk memperbesar  wadah/ ukuran, kita perlu berbagi rejeki secara benar kepada pihak yang layak menerima.  Berbagi secara  benar, tepat waktu dan sasaran, bisa meningkatkan aliran rejeki segar untuk masuk dan melimpah.

Banyak agama mengajarkan prinsip berbagi. Seperti halnya berdhana kaum Buddhis kepada para bikhu/ bikhuni, 2,5% zakat atas kekayaan umat Islam sebagai hak kaum duafa,  persembahan wajib perpuluhan dalam agama Yahudi, umat Kristiani juga disarankan menyisihkan 10% dari penghasilannya untuk dipersembahkan bagi Tuhan.  Banyak pemeluk agama percaya bahwa ibadah beramal yang benar secara tulus-ikhlas, akan menghadirkan berkat yang segar dan berkwalitas.  

Dulu ada anggapan bahwa orang yang sering mendonorkan darah akan sakit kurang darah dan kesehatannya menurun. Padahal kenyataan, justru orang yang mendonorkan darah secara teratur, darahnya yang lebih likuid dengan sel-sel sehat dan lebih segar dibanding orang yang tidak pernah mendonor.

Ada pendapat mereka yang hanya menerima dan tidak menyalurkan rejeki, bisa diibaratkan bagai air yang mengalir ke Laut Mati. Karena pasokan air yang masuk hanya digunakan untuk penguapan, temperatur dan kadar garam/ toksin pada air Laut Mati sangatlah tinggi sehingga tidak ada ikan/ biota yang bisa hidup dilaut itu.

Beberapa tahun terakhir ini, tampak pertumbuhan ekonomi masyarakat menengah ke bawah mulai bangkit kembali. Saya kira selain stabilitas politik& keamanan Indonesia, faktor murahnya harga BBM itulah yang sangat berperan. Gejala positif itu secara progresif perlu kita tingkatkan dengan tindakan kelanjutan yang diperlukan.

Adalah suatu fenomena umum, menikmati sesuatu yang baik secara berlebih (seperti konsumsi garam bagi pengidap hipertensi, makanan dengan lemak jenuh tinggi bagi penderita kolesterol, atau gula bagi diabetes) bisa menjadi kontra produktif.  BBM yang  murah, pada awalnya akan meningkatkan perekonomian, taraf dan gaya hidup masyarakat adalah benar. Namun jika taraf hidup sudah tinggi, BBM terlalu murah, adalah logis jika kemacetan menjadi semakin parah sementara kendaraan penumpang umum semakin terjepit. Naik mobil pribadi yang seharusnya nyaman, sudah berbeda saat terjebak dalam jam-jam kemacetan.

Inflasi yang terkendali adalah suatu dinamika ekonomi yang sehat. Dari gejala progresif saat ini, sudah saatnya pemerintah mempertajam siapa yang layak mendapat subsidi, yang tidak usah menerima subsidi dan yang wajib memberi subsidi. Aturan yang jelas akan mengarahkan yang belum kuat untuk jadi semakin kuat. Yang cukup kuat, diarahkan supaya makin efisien, berlatih tumbuh mandiri dan menjadi tangguh. Yang sudah mapan, berkesempatan mensyukuri dan berbagi nikmat karunia Tuhan bagi sesama dan bagi negara. Selanjutnya, kita percayakan PT Pertamina untuk makin mengutamakan kepentingan putra-putri bangsa, para owner yang kepada siapa mereka layani dengan hasil profit pengelolaan mas-hitam, kekayaan Ibu Pertiwi, bumi kita bersama.

Teman2,

Kecuali banjir yang menimbulkan kemacetan, seperti kawanua Tomohon, saya menyenangi hujan yang lebat: Membersihkan udara, menyejukkan tanaman dan menyuburkan tanah. Demikian menikmati keindahan pelangi seusai hujan yang lebat. Pelangi tampak indah karena terdapat keserasian antara warna-warni: Merah – Oranye – Kuning – Hijau – Biru – Ungu. Demikian pula, keberadaan dan profesi kita yang saling berdampingan dan mendukung secara serasi, akan menciptakan suasana indah dalam pelangi di masyarakat di bumi Nusantara.

Demikian analisa dan konsep ini saya sampaikan. Semoga wacana ini bermanfaat bagi kita semua.

 

Salam Konstruktif,

Mulyadi Dharmadi

Anggota DEMOKRAT

 

shared with everyone in the world ~ inspiration for goodness

 

https://sites.google.com/site/yohanesmulyadiliu/arsip-dokumen

Terungkap, Istilah Subsidi Ternyata Kebohongan!


PESATNEWS – Direktur Eksekutif Petromine Watch Indonesia, Urai Zulhendri, mengaku mendapat kabar dari salah seorang sumber di Pertamina, yang mengungkapkan bahwa istilah Subsidi ternyata hanya kebohongan Pemerintah dan Pertamina.

“Saya sendiri juga perih menyaksikan kerakusan para pejabat di Pertamina. Harga premium & solar dari Russian oil itu cuma 425 USD per metrik ton atau sekitar kurang dari Rp 4.300,- per liter.

Melalui Petral angka 425 tsb dimark up 300 USD sehingga menjadi 725 USD, dan oleh Pertamina disempurnakan mark up-nya menjadi 950 USD, angka inilah yg kemudian disebut sebagai harga pasar yang mengharuskan adanya istilah subsidi tsb.

Tidak hanya itu, bahkan ada dugaan kuat juga Mark Up yg dilakukan PT Pertamina (Persero) sebesar 125 USD dicurigai sebagai bentuk Upeti/Commitment Fee dari Karen Agustiawan (Dirut Pertamina) yang diduga diberikan kepada Ani Yudhoyono untuk mempertahankan posisinya sebagai Dirut Pertamina,” ungkap sumber tersebut seperti dikutip Zulhendri yang diforward ke pesatnews.com, Kamis (13/6/2013).

Baca Juga :
Ada Dana ‘Suap’ 5 T ke DPR Untuk Amankan BBM Naik? ==> http://jaringanantikorupsi.blogspot.com/2013/06/medianusantara-ada-dana-suap-5-t-ke-dpr.html

 

Advertisements

0 Responses to “MiGas : Dilema Harga BBM”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,223,246 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: