14
Jun
13

Kebudayaan : Tradisi Tahun Baru Nusantara

TRADISI TAHUN BARU NUSANTARA CERMINAN PANCASILA
Pandji R Hadinoto

IKA STIH IBLAM, Jalan Alam Segar I No. 9, Pondok Pinang, Jakarta Selatan 12310

indolawyer@yahoo.com

Erwin Djali

ABSTRAK

Mempertimbangkan Nilai2 Operasional JSN45 khususnya butir  3, 4, 5, 7, 9 maka penggalian dan pemasyarakatan unsur2 budaya nusantara unggulan adalah strategik demi NKRI, termasuk TAP MPR No. XVIII/MPR/1998 khususnya Sila Persatuan Indonesia (butir 3, 4, 6, 7) dan Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia (butir 1, 4, 10, 11);
Menyikapi Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia tahun 2025 dengan proyeksi menjadi negara mandiri, maju, adil dan makmur berpendapatan perkapita USD15.000 atau kekuatan ekonomi 12 besar dunia, dan tahun 2045 diproyeksikan di 7 kekuatan ekonomi dunia berpendapatan perkapita USD47.000, termasuk Pemerintah Kurang Perhatian pada Kebudayaan Bangsa [the Politic 08/ThII) berikut aspirasi Kebudayaan Mendisain Masa Depan (Bappenas, 20Des12];
Mengingat kawasan Nusantara ini telah ber-abad2 bersiklus tahunan matahari yakni bulan2 Srawana (12Jul-12Aug), Badra (13Aug-10Sep), Asuji (11Sep-11Okt), Kartika (12Okt-10Nop), Posa (11Nop-12Des), Margasirah (13Des-10Jan), Maga (11Jan-11Peb), Palguna (12Peb-11Mar), Caitra (12Mar-11Apr), Waisaka (12Apr-11Mei), Jesta (12Mei-12Jun), Asada (13Jun-11Jul).
Maka Hari Koperasi 12Jul13 (Jum’at Sukra / tanggal Jawa 4 Poso 1946, Jemuwah Pahing / tanggal Hijriah 04 Ramadhan 1434) sebagai sokoguru Ekonomi Pancasila, sepantasnya strategik dimuati pembudayaan lebih struktural dikombinasi tradisi Tahun Baru Nusantara di awal bulan Srawana setiap 12Jul, sehingga Jatidiri Ekonomi Pancasila Indonesia per Konstitusi Pasal-33 UUD45 menuju 2025 dan 2045, secara berkala terkokohkan ditengah arus globalisasi;
Disamping hari2 libur bersama kalender nasional, tradisi ini membangun kebanggaan dan kepercayaan diri anak bangsa, dengan aksi EarthHour dan/atau CarFreeDay di perkotaan terutama kota2 besar sehingga berdampak perbaikan mutu lingkungan, disertai pemberdayaan struktural siklus pasar2 Pancawara (Kliwon, Legi, Pahing, Pon, Wage) di pedesaan guna penguatan ekonomi rakyat hadapi mewabahnya gerai2 investor ritel.  

KATA KUNCI

EkoKesRa Demi Strategi Ketahanan Bangsa

PENDAHULUAN

Strategi Pembudayaan Nilai-nilai Pancasila dalam Menguatkan Semangat ke-Indonesia-an sesungguhnya dapat dioperasionalisasikan dalam praktek kebiasaan kehidupan sehari-hari dengan menjabarkan ke-45 butir tata nilai budaya Pancasila sebagaimana diatur dalam TAP MPR No. XVIII/MPR/1998 [Pancasila 45, www.jakarta45.wordpress.com : 1], khususnya dalam konteks Penguatan Daya Dukung Ekonomi Pancasila adalah Sila ke-3 Persatuan Indonesia yakni butir-butir (3) Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa, (4) Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia, (6) Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika, (7) Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa, dan Sila ke-5 Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia yaitu butir-butir (1) Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan, (4) Menghormati hak orang lain, (10) Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama, (11) Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.

Adapun kerja penjabaran tersebut diatas akan dapat termotivasi sedemikian rupa sehingga tercapai kemanfaatan bagi kepentingan umum bilamana diiringi oleh keinginan kuat untuk mengejawantahkan nilai-nilai operasional Jiwa Semangat Nilai-nilai 45 [JSN45, www.jakarta45.wordpress.com : 1], sebagai Ruh Indonesia Merdeka (RIM) khususnya terkait konteks Penguatan Daya Dukung Ekonomi Pancasila, seperti butir-butir (3) Nasionalisme, (4) Patriotisme, (5) Rasa harga diri sebagai bangsa yang merdeka, (7) Persatuan dan Kesatuan, (9) Percaya kepada diri sendiri dan atau percaya kepada kekuatan dan kemampuan sendiri.

Penjabaran tersebut diatas akan menemukan nilai tambah kepentingan umum bilamana dikaitkan dengan politik pertumbuhan ekonomi kedepan seperti Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia tahun 2025 dengan proyeksi menjadi Negara mandiri, maju, adil dan makmur berpendapatan perkapita USD 15,000 atau kekuatan ekonomi 12 besar dunia, dan tahun 2045 diproyeksikan di 7 kekuatan ekonomi dunia berpendapatan perkapita USD 47,000 termasuk dugaan Dr Chatib Basri (kini Menteri Keuangan) ketika Reuni Alumni Canisius College 29 April 2013 bahwa 15 tahun ke depan akan bertumbuh 40% kelas ekonomi menengah sebagai konsekwensinya, dan ini berarti meningkatnya kebutuhan konsumsi sekunder yang akan menggulirkan berbagai jenis industri konsumtif.yang pada gilirannya akan menyumbangkan tingkat kesenjangan ekonomi juga.

Sementara kini disinyalir bahwa peredaran uang dikuasai dan dikendalikan oleh sangat sedikit saja jumlah penduduk sedangkan kebanyakan jumlah penduduk masih belum turut menikmati trickle down effect daripada pertumbuhan ekonomi itu sendiri. Istilahnya, pertumbuhan ekonomi tidak harmonis dengan perkembangan demi pemerataan manfaat ekonomi ke banyak pemangku kepentingan akan pertumbuhan ekonomi itu sendiri.

Oleh karena itulah tema Kongres Pancasila V ini diyakini sungguh menguatkan sekaligus mengisi pendapat bahwa Pemerintah Kurang Perhatian pada Kebudayaan Bangsa [the Politic, Edisi 08 – Th II – 15 – 29 Februari 2013 : 2) berikut aspirasi Kebudayaan Mendisain Masa Depan [Sri-Edi Swasono, Bappenas, 20 Desember 2012 : sampul].

Pembudayaan sebagai upaya terstruktur berupa perwujudan atau pembentukan kebiasaan yang berulang adalah akan dapat membumi sedemikian rupa bilamana pola sinergi atau saling menguatkan diantara unsur-unsur budaya itu dibangun bersama.

Ciri Gotong Royong Pancasila sebagai bahan galian budaya Nusantara oleh karenanya akan lebih mudah dipahami masyarakat bilamana secara berkala disinergikan penerapannya (aksi ganda) dengan bahan galian budaya Nusantara lain seperti Tradisi Tahun Baru Nusantara.

Koperasi sebagai soko guru ekonomi gotong royong Pancasila yang diperingati setiap tanggal 12 Juli yang ternyata koinsidensi dengan awal Tahun Baru Nusantara adalah sesungguhnya berkah dari Tuhan Yang Maha Pengasih kepada bangsa Indonesia, dan oleh karenanya layak dijadikan tonggak perkuatan berkala daripada ekonomi gotong royong Pancasila itu sendiri.

Kawasan Nusantara ini sesungguhnyalah telah ber-abad2 bersiklus tahunan matahari yakni bulan-bulan Srawana (12Jul-12Aug), Badra (13Aug-10Sep), Asuji (11Sep-11Okt), Kartika (12Okt-10Nop), Posa (11Nop-12Des), Margasirah (13Des-10Jan), Maga (11Jan-11Peb), Palguna (12Peb-11Mar), Caitra (12Mar-11Apr), Waisaka (12Apr-11Mei), Jesta (12Mei-12Jun), Asada (13Jun-11Jul).

Temuan penulis ikhwal diatas ini sebagai peristiwa adalah terjadi saat mengikuti Kajian Makrifatullah Dalam Kawih-kawih Sunda (Kuno) bertempat di Gedung Yayasan Wakaf Paramadina, Plaza Pondok Indah 1, Jalan Metro Pondok Indah, Jakarta Selatan 12310 dengan penceramah Ir Achmad Chodjim MM, pada tanggal 31 Januari 2013.

METODA

Berdasarkan informasi-informasi tekstual dan verbal dari berbagai sumber resmi dan kompeten, maka dirakitlah satu upaya konsolidasi untuk menemukan wujud pembudayaan nilai-nilai Pancasila kedalam praktek kehidupan sehari-hari.

Upaya konsolidasi ini dilanjutkan dengan upaya sosialisasi bertahapan pembinaan, penggalangan dan pengerahan. Dalam konteks inilah, penyampaian makalah ini adalah sebagai bagian daripada upaya sosialisasi, berdampingan dengan upaya sosialisasi berupa Ajakan Tradisi Tahun Baru Nusantara [www.jakarta45.wordpress.com] yang telah disampaikan ke publik melalui berbagai jejaring sosial.

HASIL DAN PEMBAHASAN ATAS MASALAH

HARI KOPERASI DAN TAHUN BARU NUSANTARA 12 JULI

Koperasi yang diidealisasikan sebagai soko guru ekonomi Pancasila, perkembangan dan pertumbuhannya kini dirasakan tergerus oleh sikap politik ekonomi liberalistik kapitalistik sehingga keberadaannya terpinggirkan oleh suasana dan kondisi pasar bebas.

Dalam pengertian itulah dirasakan perlu dilakukan upaya-upaya berskala nasional untuk mendorong peran Koperasi menjadi lebih mengakar dalam kehidupan ekonomi masyarakat.

Pencanangan dan peneguhan keberadaan Tahun Baru Nusantara yang kebetulan secara alamiah bertepatan dengan Hari Koperasi, seharusnya dapat dikreasikan sedemikian rupa guna meningkatkan peran serta Masyarakat Koperasi dan Masyarakat Peduli Koperasi, mengingat tercatat kegiatan ekonomi termasuk ekonomi kerakyatan justru meningkat saat peringatan-peringatan Tahun Baru Masehi, Tahun Baru Imlek, Tahun Baru Saka dan lain sebagainya, yang kebanyakan sebetulnya adalah versi non peradaban Nusantara.

Artinya, skala kegiatan ekonomi nasional seharusnya dapat ditumbuhkembangkan juga melalui peristiwa budaya Nusantara itu sendiri, seperti Tradisi Tahun Baru Nusantara.

Dan untuk memberikan nilai tambah lebih dibandingkan dengan peringatan Tahun-tahun Baru versi non Peradaban Nusantara tersebut, dilekatkan beberapa program turunan pemberdayaan yang lebih merupakan kebutuhan akan kualitas hidup yang sehat lingkungan dan sehat ekonomi rakyat. Sehat lingkungan itu seperti Earth Hour, Car Free Day, Penghijauan dan lain sebagainya, serta tidak harus diwujudkan sebagai hari libur nasional namun lebih berkarakter hari kebaktian sosial nasional.

Sehat Ekonomi Rakyat seperti pengaturan struktural siklus pasar-pasar Pancawara (Kliwon, Legi, Pahing, Pon, Wage) melalui pengaturan perundang-undangan, berjangkar kehadiran Tradisi Tahun Baru Nusantara. Pasar-pasar tradisional berskala lokal seperti Pasar Nggawok pada tanggal 12 Mei 2013 [Makalah : 10] yang berjarak 12 kilometer dari Solo kearah barat daya, Pasar Tani Solo pada tanggal 12 Mei 2013 [Makalah : 10] bertepatan dengan Car Free Day di Jalan Slamet Riyadi, Solo.

Melalui pembangunan karakter masyarakat ber Tradisi Tahun Baru Nusantara yang dikaitkan dengan Hari Koperasi ini diyakini akan turut gelorakan Jiwa Semangat Nilai-nilai 45 (JSN45), yaitu ruh Indonesia Merdeka (RIM) di semua dimensi ipoleksosbudhankam.

SIMPULAN

  1. Tahun Baru Nusantara tiap awal bulan Srawana tanggal 12 Juli itu baik berdasarkan prakarsa swadaya masyarakat maupun prakarsa struktural pemerintah, dapat dikreasikan jadi motor penggerak bagi pembangunan nasional tentang peningkatan kapasitas dan kapabilitas ekonomi kerakyatan terutama yang berbasis koperasi rakyat.
  2. Hari Koperasi 12 Juli itu sendiri akan bertambah pamornya di kalangan usahawan kecil menengah untuk melipatgandakan gairah kewirausahaan berbasis koperasi kerakyatan termasuk yang melibatkan keusahaan lintas komoditas dan lintas daerah.
  3. Secara berkala baik Hari Koperasi sebagai penghormatan bagi sokoguru ekonomi kerakyatan dan Tahun Baru Nusantara sebagai penghormatan terhadap unsur budaya nusantara yang keberadaannya masih hidup di kalangan masyarakat adat Tengger berupa tradisi Kesodo, dapat ditingkatkan martabatnya sedemikian rupa sehingga dapat menjadi ikon ataupun penjuru kehidupan masyarakat gotong royong Pancasila berskala nasional, sekaligus sebagai salah satu solusi bagi pendidikan politik yang ditandai kini tak didampingi moralitas ataupun idealisme untuk selalu berjuang dengan semangat nasionalis [Kebangkitan Nasional, Pengaruh Kekuatan Asing Makin Meluas, Kompas, 19 Mei 2013 : 1].
  4. Peningkatan kapasitas dan kapabilitas ekonomi kerakyatan yang berorientasi manfaat kebersamaan segenap pemangku kepentingan, pada gilirannya dapat diproyeksikan bermartabat kesetaraan sekaligus memperkecil bahkan menghilangkan persaingan usaha a-simetrik dengan kepengusahaan versi korporasi yang memang kodratnya keuntungan finansial para pemodal. Kesetaraan ini bermakna sikap, situasi dan kondisi lahir batin kemerdekaan bagi para pelaku usaha yang pada gilirannya dapat berdampak terciptanya perdamaian abadi dalam konteks ketertiban dunia..
  5. Penggalian, pemasyarakatan dan pemberdayaan unsur budaya lokal seperti Tahun Baru Nusantara di awal bulan Srawana itu dapat meneguhkan strategi Pembudayaan Nilai-nilai Pancasila dalam Menguatkan Semangat ke-Indonesia-an seperti telah diikrarkan pada Pembukaan UUD 1945 yakni “…ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial” dan berujung pengkokohan EkoKesRa (Ekonomi Kesejahteraan Rakyat) demi Strategi Ketahanan Bangsa [STRAHANSA, www.jakarta45.wordpress.com : 1] sehingga diperbesar kearah kemungkinan aksi pelurusan Batang Tubuh Konstitusi 2002 terhadap Pembukaan Undang Undang Dasar 1945 mengingat pula bahwa ternyata 69,4% Agenda Reformasi adalah Gagal [Jajak Pendapat “Kompas”, Beratnya Menghela Gerbong Reformasi, Kompas, 20 Mei 2013 : 1].

DAFTAR PUSTAKA / DAFTAR RUJUKAN

  1. Pandji R Hadinoto, 2009. “Pancasila 45,” “JSN45,” “STRAHANSA,” www.jakarta45.wordpress.com , hlm. 1
  2. The Politic, Edisi 08 – Th II – 15 – 29 Februari 2013, “Pemerintah Kurang Perhatian pada Kebudayaan Bangsa,”  hlm. 2
  3. Sri-Edi Swasono, “Kebudayaan Mendesign Masa Depan,” 90 Tahun Taman Siswa, Bappenas, 20 Desember 2012, hlm. sampul
  4. “Kebangkitan Nasional,” Kompas, 19 Mei 2013, hlm. 1
  5. “Jajak Pendapat “Kompas”,” Kompas, 20 Mei 2013, hlm. 1

Revisi 3_Page_1

Advertisements

0 Responses to “Kebudayaan : Tradisi Tahun Baru Nusantara”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,193,028 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: