15
May
13

Politik : Kontroversi Papua Merdeka

Polisi Tangkap Ketua KNPB

Yuliana Lantipo | Selasa, 14 Mei 2013 – 15:42:06 WIB

: 188

(dok/ist)
Viktor Yeimo.
Aparat yang menutup ruang demokrasi di Papua.
JAKARTA – Ketua Umum Komite Nasional Papua Barat (KNPB), Viktor Yeimo ditangkap aparat kepolisian di Jayapura, Papua saat melakukan orasi di depan Kator Majelis Rakyat Papua (MRP), Senin (13/5).
 
“Polisi langsung ke depan dan tarik Viktor bersama tiga orang lain. Polisi bawa mereka naik ke mobil dan pergi,” kata sumber SH melalui telepon dari lokasi di depan kantor MRP, Jayapura, Selasa (14/5).
 
Tiga orang lain yang ditangkap adalah Yongky Ulimpa (23), Ely Kobak (17), dan Marthen Manggaprow.

Dijelaskan, Viktor Yeimo memimpin massa yang tergabung dalam KNPB dan masyarakat, untuk menuntut pemerintah dan aparat keamanan segera menangkap pelaku penembakan warga sipil pada 1 Mei lalu, dan membebaskan belasan orang yang diitahan di beberapa kota di Papua.

Mengulang perkataan Viktor, sumber SH mengatakan, aparat kemanan masyarakat diminta tegas, apalagi pelakunya sudah jelas merupakan anggota polisi. Dalam aksi yang dihadiri sekitar 200 orang itu, bermaksud menyambut dibukanya kantor perwakilan organisasi Papua Merdeka di Oxford, Inggris baru-baru ini, serta masuknya Papua sebagai anggota Melanesia Speek Group (MSG) yang berkantor pusat di Vanuatu.

Dihubungi terpisah, Ketua Komisi A Bidang Ketahanan, Keamanan, Politik Luar dan Dalam Negeri DPRP Jayapura, Ruben Magai mengatakan, Kapolda dan Wakapolda Papua bertanggung jawab atas keselamatan aktivis yang ditahan.

Meski begitu, dia mengecam tindakan aparat yang menutup ruang demokrasi di Papua. Menurutnya, aparat keamanan seharusnya bertugas menjaga kemanan dan kelancaran aksi damai yang sudah didahului surat pemberitahuan.

“Kapolda dan Wakapolda Papua bertanggung jawab atas penangkapan aktivis Papua. Mereka—polisi—itu untuk mengamankan, bukan menangkap apalagi memukul dan menyiksa orang yang ingin bersuara,” tandas Ruben Magai kepada SH.

Ruben Magai mengaku sudah menelpon dan mengirim pesan singkat kepada Kapolda dan Wakapolda Papua terkait alasan penangkapan dan penyiksaan, namun tidak mendapat respons. “Saya sudah kirim pesan SMS dan telepon, tapi mereka tidak jawab,” ujarya.

Protes

Selain itu, tindakan aparat kepolisian Papua juga mendapat kecaman dari mahasiswa Papua di luar negeri. Perhimpunan Mahasiswa Papua di Australian Capital Territory (ACT) dan Forum SETARA mengecam penembakan yang menewaskan warga sipil Papua menjelang peringatan peralihan administrasi West New Guinea (sekarang dikenal sebagai Papua) dari UNTEA ke NKRI pada 1 Mei 1963.

“Kami, mahasiswa Papua di ACT dan Forum SETARA mengecam tindakan brutal yang dilakukan aparat keamanan Indonesia kepada masyarakat sipil Papua dalam perayaan 50 tahun integrasi Papua ke Indonesia di Sorong, Biak, Timika dan Ibu Kota Provinsi Jayapura. Setelah adanya pelarangan untuk peringatan 1 Mei yang dikeluarkan secara resmi oleh Kapolda Papua dan Gubernur Papua, operasi gabungan POLRI dan TNI mengerahkan tindakan kekerasan dalam upaya membatasi kebebasan berbicara dan berkumpul bagi masyarakat Papua,” seperti dilansir dalam rilis yang dikirim ke SH hari ini.

Di Sorong, operasi gabungan melakukan penembakan yang menewaskan dua warga Papua yaitu Abner Malagawak (22) dan Thomas Blesia (22). Tiga orang lainnya mengalami luka serius dan dirawat di rumah sakit adalah Salomina Klaibin (42) yang baru saja meninggal tanggal 6 Mei 2012, Herman Lokden (18), dan Andreas Safisa (24). Tujuh orang lain telah ditangkap dan ditahan.

Di Jayapura, operasi gabungan membubarkan secara paksa masyarakat yang berkumpul di sekitar makam tokoh pemimpin Papua, Theys Eluay. Tidak ada yang dilaporkan terluka tetapi aksi penembakan oleh aparat memicu ketakutan dan kemarahan masyarakat terhadap pemerintah Indonesia. 

Di Biak, polisi menangkap dan menahan 15 orang setelah mengibarkan Bendera Bintang Kejora tetapi tidak ada dakwaan dijatuhkan. Di Timika, polisi menangkap, menahan, dan diduga menyiksa 15 orang. Di tempat lain, perayaan 1 Mei di Nabire berjalan dengan damai.

Hingga berita ini diberikan, Viktor Yeimo, Marthen Manggaprow, Yongky Ulimpa, Ely Kobak masih ditahan di kantor Polda Papua. Massa pun membubarkan diri.

Sumber : Sinar Harapan
__._,_.___
Advertisements

0 Responses to “Politik : Kontroversi Papua Merdeka”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,146,496 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: