30
Apr
13

Tata Kota : Tahun 2030, 65% Tinggal Di Kota

Tahun 2030, 65% Penduduk Indonesia Tinggal di Kota

Monday, 29 April 2013 22:36

Jakarta, GATRAnews – Direktorat Jenderal (Ditjen) Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memperkirakan, 65 persen dari penduduk Indonesia akan tinggal di perkotaan pada 2030. Jumlah tersebut meningkat secara signifikan dari 44 persen berdasarkan data pada 2010.

Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU) Hermanto Dardak menyatakan, terus meningkatnya proporsi penduduk perkotaan menjadi tantangan bagi perencanaan kota yang berkelanjutan baik secara ekonomi, sosial, dan lingkungan hidup. Hal tersebut menjadi penting karena kota memiliki keterbatasan daya dukung dan kapasitas.

“Menjadi tanggung jawab kita untuk merencanakan kota ke depannya seperti apa. Bagaimana kota yang ingin kita wariskan kepada anak cucu kita nantinya. Ini perlu kita pikirkan secara matang,” ungkap Hermanto, sebagaimana dilansir di situs Kementerian PU, Senin (29/4).

Lebih lanjut Hermanto mengatakan, tantangan perencanaan di Indonesia bertambah dengan lokasi geografis 70 persen perkotaan yang berada di kawasan pesisir pantai. Perubahan iklim yang telah terjadi berdampak meningkatkan tinggi muka air laut.

“Daerah Muara Karang misalnya, setiap tahunnya mengalami penurunan permukaan tanah hingga 10 cm akibat pengambilan air tanah dalam yang terus-menerus, sedangkan tinggi permukaan laut juga terus meningkat akibat climate changes walaupun tingginya hanya 10 persen dari land subsidences yang terjadi,” paparnya.

Hermanto juga menyebutkan, perkotaan hijau merupakan konsep yang tepat untuk diimplementasikan saat ini. Konsep yang digaungkan pada United Nations Conference on Sustainable Development di Rio de Janeiro, Brazil tersebut dinilai berguna untuk hadapi tantangan ekonomi yang rendah karbon.

UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang sendiri dalam penyusunannya sudah berorientasi untuk mewujudkan kota hijau. Menurut Hermanto, pembangunan kota-kota di Indonesia berdasarkan regulasi tersebut mengarah kepada kota-kota yang nyaman untuk dihuni.

The most liveable cities seperti Vancouver dan Melbourne ciri-cirinya antara lain ruang terbuka hijau yang luas, sungai yang bersih. Kota-kota di Indonesia juga diarahkan menuju liveable, tetapi juga harus tetap kompetitif,” sambungnya.

Sementara itu, perencana perkotaan internasional, Norliza Hashim mengungkapkan kesuksesan perencanaan kota ialah konsisten dan komitmen terhadap rencana yang telah ada. Selain itu penataan kota juga memerlukan waktu yang tidak singkat. Dia mencontohkan, Singapura yang dinikmati saat ini merupakan hasil penataan kota yang berkelanjutan selama 20 tahun.

“Bilbao (sebuah kota di Spanyol), yang tadinya kota industri pada 1893 mengalami krisis sehingga terjadi banyak pengangguran sehingga kota kemudian kotor dan kumuh, tapi kemudian mereka mentransformasi kotanya menjadi green city dan berhasil. Tapi itu melalui sebuah prosesnya,” ujarnya. (*/DKu)

Advertisements

0 Responses to “Tata Kota : Tahun 2030, 65% Tinggal Di Kota”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,148,335 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: