01
Mar
13

Kebudayaan : Orientasi Dua Nilai

GerakNusa

ttp://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailrubrik&kid=1&id=7352

» Opini
24 Februari 2013 | BP

Orientasi Dua Nilai

PADA awalnya adalah kata-kata! Begitu kalimat awal kitab suci sebuah agama. Dalam Hindu di Bali bagi Rubag, awal dan akhir sesuatu adalah bayu, sabda, dan idep. Energi yang mendorong keluarnya kata-kata yang terhimpun dalam sabda, lalu wacana memotivasi pengucapnya berperilaku sepadan. Karena mampu bertutur kata secara baik sesuai etika dan struktur bahasa membuat seseorang berjaya. Sebaliknya menimbulkan bencana bila ucapan dilontarkan tanpa kaidah dan sopan santun.

”Bila direnungkan, bahasalah yang membuat manusia lestari, kendati dalam teori seleksi alamnya Darwin dikatakan bahwa hanya yang paling kuat dan perkasalah yang berhak hidup! Dinosaurus dan mamooth atau gajah raksasa yang bila diukur dari besar tubuh dan tenaganya, merupakan makhluk paling besar dan kuat dibanding hewan-hewan lain, namun kedua jenis spesies ini punah dari muka bumi. Konon, bahasalah salah satu penyebab kepunahan mereka. Memang seperti binatang lain, mereka bisa mengeluarkan bunyi sebagai alat komunikasi buat sesamanya, namun mereka lebih suka menyambung kebuntuan komunikasi dengan berlaga karena sadar tubuhnya besar dan kuat. Mungkin karena tidak bisa berbicara, kata lari tidak tersimpan dalam memori otaknya, padahal dalam pertahanan hidup selain kata ‘lawan’ juga ada kata ‘lari’ untuk menyelamatkan diri,” papar Rubag.

”Mendengar paparanmu, aku teringat teori Hirarkhi Eksisstensi dari E.F. Schumacher. Sebagai makhluk berpredikat paling sempurna, manusia diberikannya simbol P + X + Y + Z. Di bawahnya binatang dengan kode P + X + Y, lalu tumbuh-tumbuhan P + X. dan yang paling rendah adalah benda mati dengan simbol P. X adalah roh atau jiwa, Y adalah kesadaran dan emosi, lalu Z adalah kemampuan untuk menyadarkan diri. Binatang meskipun punya kesadaran sehingga tahu bahaya dan hal-hal lain terkait dengan dirinya, namun sulit mengekang emosi karena tidak mampu menyadarkan diri, sehingga sering terlibat perkelahian dengan sesama maupun spesies lain. Cuma, tidak seperti Dinosaurus dan Mamooth, di otak mereka masih ada kamus takut dan kata ‘lari’ buat mencegah hal lebih fatal yang akan menimpa diri mereka bila tetap berlaga. Ironisnya, manusia yang onderdil jiwanya paling komplit dengan kelebihan Z , belakangan cenderung saling cabik dan terkam antara sesamanya. Apakah unsur Z kian terkikis dalam lubuk hatinya?” tanya Purwacita menyudahi argumennya.

”Sulit diterangkan, sebab kecuali unsur P yang bersifat material, baik jiwa, kesadaran, emosi maupun penyadaran diri adalah benda abstrak yang tidak kasatmata. Kita Cuma bisa menafsir. Jangan-jangan kecenderungan yang kau katakana, didorong tafsir atas wacana Titik Balik Peradaban. dari Fritjof Capra. Dari jahiliyah ke beradab lewat tradisi, modernisasi dan postmodern lalu balik ke barbar. Dari cara berpakaian dan berperilaku tampak jelas kecenderungan arus balik itu dan segelintir orang berpengaruh memprovokasi masyarakat untuk saling bantai, terutama karena kepentingan politik. Komunikasi secara tradisional yakni berbicara berhadap-hadapan kian sedikit dilakukan, justru komunikasi sibernetika semakin populer, terutama lewat SMS, BBM, Facebook dan Twitter. Coba amati gerombolan orang di sebuah tempat yang masing-masing memegang HP! Bukan percakapan yang terdengar namun keheningan, karena masing-masing orang sibuk memencet keyboard ponselnya. Ini tak jarang melahirkan kesalahpahaman karena kalimat yang ditulis sering tidak lengkap,” ungkap Jayadi.

”Ya, ketika berkumpul di rumah pun kesenyapan serupa terjadi, meski semua duduk di depan pesawat TV. Tanpa sadar kita semua telah dibentuk menjadi masyarakat hiburan atau penonton. Sebagian dari kita menganggap apa yang disajikan TV, benar. Terutama istilah, logika, kisah yang terlontar dari berbagai diskusi, debat dan berita yang sebenarnya hanya kulit luar dari masalah, yang intinya sangat sulit dipahami. Kita hanya jadi penonton yang diam, karena untuk menyanggah adalah hal yang tidak mungkin. Bila kebiasaan itu terus berlanjut, jadilah kita silent majority, yang meskipun bisa meniru istilah dan logika yang ditonton di TV, namun tidak paham apa yang kita ucapkan. Ini bukan salah siapa, tapi salah kita sendiri yang meninggalkan kebiasaan membaca karena menganggap mendengar lebih gampang. Terlebih di TV juga ada iklan rokok berbunyi, ‘Do more Talk less!’, yang mirip fungsinya dengan sindiran tempo lalu lewat kekawin, De ngaden awak bisa!. Ini membuat kita senang membisu,” tambah Ardita.

”Senang membisu, namun karena salah paham dan sama-sama tidak mampu bicara, lalu saling menukar kepalan untuk komunikasi. Ledakan kerusuhan sering dipicu masalah sepele! Padahal menurut pakar bahasa, kemampuan orang berbicara seiring dengan pertumbuhan fisik dan usianya. Anehnya banyak orang tua yang di antaranya malah memiliki jabatan tinggi, namun cara berbicaranya seperti anak-anak, bahkan kasar seperti tidak berpendidikan. Aku setuju dengan definisi Sapir tentang bahasa, yakni kemampuan yang hanya dimiliki manusia diperoleh lewat belajar, digunakan untuk menyampaikan gagasan, perasaan dan keinginan lewat sistem simbol yang dibuat secara arbitrer oleh para penggunanya. Jadi bahasa tidak bersifat instingtif, juga bukan bawaan lahir, namun harus dipelajari. Karena bahasa bukan seperti ilmu pengetahuan lain yang bersifat hafalan, melainkan harus dipraktikkan guna meningkatkan kemampuan dalam berkomunikasi. Tanpa praktik sesering mungkin maka seseorang akan mengalami kegagalan dalam berkomunikasi dan akibatnya cekcok, saling maki dan akhirnya adu kepalan,” komentar Wira.

”Pada zaman Orba dulu, ada keprihatinan atas kemampuan masyarakat dalam berbahasa Indonesia yang kian amburadul. Padahal ada ungkapan bahwa bahasa menunjukkan bangsa. Karena itu, pemerintah menggalakkan pemakaian bahasa Indonesia dengan menyebarkan stiker, spanduk dan slogan ‘Berbahasa Indonesialah dengan baik dan benar!’. Bahkan di stasiun TV milik pemerintah yakni TVRI, secara teratur Lembaga Bahasa Indonesia menyelenggarakan acara ‘Pembinaan Bahasa’ yang dibawakan seorang pakar bahasa bernama Anton Mulyono. Meskipun saat itu ada kemajuan sedikit dalam berbahasa, baik gramatika, komposisi, penggunaan kata yang tepat maupun etika bertutur, namun di kalangan pejabat justru mengalami stagnasi. Kebiasaan berbahasa dari zaman revolusi terus dilanjutkan, terutama dalam melafalkan akhiran ‘kan’ selalu diucapkan ‘ken’. Malah pengucapan seperti itu dianggap gengsi atau ciri yang membedakan pejabat tinggi dengan pegawai rendah dan rakyat. Celakanya, orang nomor satu di negeri ini juga lebih senang mengucapkan ‘semangkin’ untuk yang seharusnya ‘semakin’. Ketika hal itu dikritisi Anton Mulyono dalam acaranya, maka lenyaplah dia dari layar kaca,” tutur Karsana.

”Ing ngarso sung tulodo! Pemimpin akan dicontoh rakyatnya mengingat negeri ini cukup lama dicekoki paham feodalisme yang berisi primordialisme dan paternalisme. Para pemimpin seharusnya sadar, mengapa Sumpah Pemuda tahun 1928 memasukkan bahasa sebagai salah satu dari tiga komponen yang mereka akui sebagai ciri ke-Indonesia-annya? Selain sebagai bahasa nasional, Bahasa Indonesia juga dianggap sebagai alat pemersatu. Kalau cara berbahasa amburadul, baik secara gramatika, komposisi, etika maupun penggunaannya, maka tidak heran negeri ini terus dilanda kekacauan. Apalagi bahasa digunakan di ranah politik yang sering berorientasi pada dua nilai, penuh rasa benci, amarah dan haus kekuasaan, fungsinya pun akan berubah dari alat pemersatu jadi pemecah belah. Logika dua nilai mendorong pihak-pihak yang berebut kekuasaan melontarkan kata-kata kasar dan saling menjelekkan. Satu pihak menganggap diri orang baik, jujur, rajin dan mengabdi pada rakyat, pihak lain dianggap bajingan, penipu dan pemeras rakyat. Sebaliknya hujatan serupa bahkan lebih kasar juga diterimanya dari pihak lawan. Lucunya, alergi terhadap simbol, warna bahkan slogan atau ucapan kerap menghinggapi pihak-pihak yang bersaing. Syukur bila alergi itu tidak menular pada para pendukung, kalau sampai menular, maka semakin porak-porandalah bangsa ini,” ujar Benmas Widiada. (Aridus)

Advertisements

0 Responses to “Kebudayaan : Orientasi Dua Nilai”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,148,769 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: