28
Jan
13

Kebudayaan : Tradisi Grebeg Maulud Nabi

Grebeg Maulud, Berebut Gunungan hingga Copet

TEMPO.COTEMPO.CO – Jum, 25 Jan 2013

Konten Terkait

  • Grebeg Maulud, Berebut Gunungan hingga CopetLihat FotoGrebeg Maulud, Berebut Gunungan hingga Copet

TEMPO.CO, Surakarta-Keraton Kasunanan Surakarta mengadakan Grebeg Maulud pada Kamis, 24 Januari 2013 sebagai puncak peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW pada 12 Rabiulawal 1434 Hijriah.

Grebeg Maulud ditandai dengan pembagian isi gunungan ke masyarakat yang mengikuti prosesi Grebeg Maulud di Masjid Agung Surakarta.

Sedari pagi, ribuan orang sudah memenuhi halaman Masjid Agung. Rata-rata punya niat yang sama, berebut gunungan untuk mendapatkan berkah.

 

Begitu 4 pasang gunungan melewati gerbang Masjid Agung, semuanya seakan bersiap. Masyarakat mulai merangsek ke depan, mencari posisi paling menguntungkan.

 

Semestinya gunungan didoakan dulu oleh ulama keraton. Tapi belum selesai didoakan, entah siapa yang memulai, masyarakat sudah menyerbu ke arah gunungan yang diletakkan di pelataran masjid.

 

Tak ada yang mengalah. Tua muda, lelaki perempuan saling berebut isi gunungan. Saling sikut dan saling dorong menjadi pemandangan biasa. Ada juga yang bertengkar karena memperebutkan kacang panjang yang sama.

Ada yang dapat, tapi tidak sedikit yang harus menelan kekecewaan. Karena kalah tenaga dan kalah gesit, banyak yang tidak mendapat bagian gunungan.

Tapi bagi Mbah Martongadiman, pantang pulang dengan tangan hampa. Dengan memakai sapu ijuk, dia mengais sisa-sisa isi gunungan seperti cuilan lombok dan kacang panjang.

Dia berkeyakinan tetap mendapat berkah meskipun hanya sisa gunungan. “Mau saya sebar di sawah. Biar subur,” ucap warga Karanganyar tersebut.

 

Sementara Sulastri mengaku cukup beruntung bisa memperoleh satu biji cabai merah yang sudah tidak utuh lagi. Dia berencana membikin sambal dari lombok itu.

 

“Saya berharap berkah gunungan. Biar warung saya laris,” katanya. Dia mengaku sudah tiga kali ikut berebut gunungan dan selalu dapat. Menurutnya warungnya kini makin laris.

 

Ada yang mengharap berkah dan rezeki dari gunungan, ada juga yang mengincar dompet masyarakat. Salah seorang pengurus Masjid Agung, Eko Slamet mengatakan sudah ada 4 orang yang melapor kehilangan dompet. “Tahun lalu 12 orang,” ucapnya.

 

Ketua Panitia Pelaksana Maleman Sekaten 2013 Satriyo Hadinagoro mengatakan tahun ini Keraton Kasunanan Surakarta menyiapkan delapan gunungan yang terdiri dua pasang gunungan Jaler (laki-laki) dan Estri (perempuan), dan dua pasang gunungan anakan.

 

Dia mengatakan Grebeg Maulud menandai puncak perayaan Maleman Sekaten 2013 yang telah berlangsung sebulan.

 

Gunungan Jaler berbentuk runcing berisi sayuran serta buah-buahan, sedangkan gunungan Estri berbentuk setengah lingkaran dan diisi dengan rengginan yang terbuat dari beras ketan. Untuk gunungan anak-anak bentuknya agak kecil, diisi dengan uang receh.

 

Menurutnya gunungan punya makna tersendiri. Misalnya bentuk gunungan berupa Jaler dan Estri menandakan manusia yang selalu berpasangan.

 

“Gunungan juga lambang kesejahteraan dan perlambang tuntunan kehidupan,” katanya. Tiap gunungan seberat sekitar 68 kilogram. Untuk gunungan Estri, membutuhkan satu kuintal beras ketan.

UKKY PRIMARTANTYO

About these ads

0 Responses to “Kebudayaan : Tradisi Grebeg Maulud Nabi”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,000,487 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 108 other followers

%d bloggers like this: