30
Dec
12

Keuangan Negara : Skandal BLBI dan Bank Century

Pancasila

Kronologis Mega Skandal Ekonomi Indonesia BLBI

by @InfoBLBIBerawal dari krisis ekonomi yang menerpa negara-negara di Asia tahun 1997. Satu per satu mata uang negara-negara di Asia merosot nilainya. Kemajuan perekonomian negara-negara di Asia yang banyak dipuji oleh banyak pihak sebelumnya, menjadi angin kosong belaka. Persis sebelum krisis ekonomi, @BankDunia pada 1997 menerbitkan laporan berjudul “The Asian Miracle” yang menunjukkan kisah sukses pembangunan di Asia. Ternyata kesuksesan pembangunan ekonomi di negara-negara Asia tersebut tidak berarti banyak karena pada kenyataannya, negara-negara tersebut tidak berdaya menghadapi spekulan mata uang yang tinggi dan berujung pada krisis ekonomi. Menyusul jatuhnya mata uang Baht, Thailand, nilai rupiah ikut merosot. Untuk mengatasi pelemahan rupiah, Bank Indonesia kemudian memperluas rentang intervensi kurs jual dan kurs beli rupiah, dari Rp. 192 (8%), menjadi Rp. 304 (12%). Guna mengurangi tekanan terhadap rupiah, Bank Indonesia mulai melakukan pengetatan likuiditas dengan menaikkan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dari 6% menjadi 14%. Akibat kondisi ini bank-bank umum kemudian meminta bantuan BI sebagai lender of the last resort. Ini merujuk pada kewajiban BI untuk memberikan bantuan kepada bank dalam situasi darurat. Dana talangan yang dikucurkan oleh BI ini yang dikenal dengan BLBI.Sesehat apa pun sebuah bank, apabila uang dari masyarakat ditarik serentak tentu tidak akan sanggup memenuhinya. Penyimpangan BLBI dimulai saat BI berikan dispensasi kpd bank-bank umum utk mengikuti kliring, meski rekening gironya di BI bersaldo debet. Dispensasi diberikan ke semua bank tanpa melakukan pre-audit utk mengetahui apakah bank itu benar-benar butuh bantuan likuiditas & sehat. Akibatnya, banyak bank yang tidak mampu mengembalikan BLBI.**11 JULI 1997: Pemerintah RI memperluas rentang intervensi kurs dari 192 (8%) menjadi 304 (12%), melakukan pengetatan likuiditas dan pembelian surat berharga pasar uang, serta menerapkan kebijakan uang ketat.**14 AGUSTUS 1997: Pemerintah melepas sistem kurs mengambang terkendali (free floating). Masyarakat panik, lalu berbelanja dolar dlm jumlah sangat besar. Setelah dana pemerintah ditarik ke BI, tingkat suku bunga & deposito melonjak drastis krn bank berebut dana rakyat.

**1 SEPTEMBER 1997: BI menurunkan suku bunga SBI sebanyak 3 kali. Berkembang isu di masyarakat mengenai beberapa bank besar yg mengalami kalah kliring dan rugi dalam transaksi valas. Kepercayaan masyarakat terhadap bank nasional mulai goyah. Terjadi rush kecil-kecilan.

**3 SEPTEMBER 1997: Sidang Kabinet Terbatas Bid. Ekonomi, Keuangan & Pembangunan, Produksi & Distribusi berlangsung di Bina Graha, dipimpin langsung Soeharto. Hasilnya: pemerintah akan bantu bank sehat yg alami kesulitan likuiditas. Bank ‘sakit’, akan dimerger/likuidasi. Belakangan, kredit ini disebut bantuan likuiditas Bank Indonesia (BLBI).

**1 NOVEMBER 1997: 16 bank dilikuidasi.

**26 DESEMBER 1997: Gubernur BI Soedradjad Djiwandono melayangkan surat ke Soeharto, memberitahukan kondisi perbankan nasional yang terus alami saldo debit akibat tekanan penarikan dana nasabah. Soedradjad usul: “mengganti saldo debit dgn Surat Berharga Pasar Uang (SBPU) Khusus

**27 DESEMBER 1997: Surat Gubernur BI dijawab surat nomor R-183/M.Sesneg/12/1997, ditandatangani Mensesneg Moerdiono. Isinya, Presiden menyetujui saran direksi BI utk mengganti saldo debit bank dengan SBPU Khusus agar tidak banyak bank yg tutup dan dinyatakan bangkrut.

**10 APRIL 1998: Menkeu diminta untuk mengalihkan tagihan BLBI kepada BPPN dengan batas waktu pelaksanaan 22 April 1998.

**MEI 1998: BLBI yg dikucurkan ke 23 bank capai Rp 164 triliun, dana penjamin antarbank Rp 54 triliun, biaya rekapitalisasi Rp 103 triliun. Adapun penerima terbesar (hampir dua pertiga dari jumlah keseluruhan) hanya empat bank. Yakni BDNI Rp 37,039 triliun; BCA Rp 26,596 triliun; Danamon Rp 23,046 triliun; dan BUN Rp 12,067 triliun.

**4 JUNI 1998: Pemerintah diminta membayar seluruh tagihan kredit perdagangan (L/C) bank-bank dalam negeri oleh Kesepakatan Frankfurt. Ini merupakan prasyarat agar L/C yang diterbitkan oleh bank dalam negeri bisa diterima dunia internasional. Pemerintah terpaksa memakai dana BLBI senilai US$ 1,2 miliar (sekitar Rp 18 triliun pada kurs Rp 14 ribu waktu itu).

Bagian 2 ==> http://chirpstory.com/li/39183
Bagian 3 ==> http://chirpstory.com/li/39184
Bagian 4 ==> http://chirpstory.com/li/39370
Bagian 5 ==> http://chirpstory.com/li/41179

Baca Juga:

– “Kronologi Kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI)” ==> http://blog.korupedia.org/?p=42
– “Skandal Skenario KLBI Penyebab Terjadinya Skandal Mega Korupsi BLBI” ==> http://chirpstory.com/li/27890
– “Bantuan Likuiditas Bank Indonesia Sebagai Penyelamat Bank” ==> http://chirpstory.com/li/39113
– “Upaya Menghapus Kasus BLBI” ==> http://chirpstory.com/li/39114
– “Pentingnya Membuka Tabir Skandal BLBI Kembali” ==> http://chirpstory.com/li/39115
– “Daftar Penerima BLBI Berdasarkan MSAA” ==> http://chirpstory.com/li/39116
– “Rapuhnya Kondisi Perbankan Nasional Medio 1997” ==> http://chirpstory.com/li/39117
– “BLBI Salah Satu Skandal Perbankan & Kemanusiaan Paling Keji” ==> http://chirpstory.com/li/40267
– “Terbebaninya Rakyat Indonesia Akibat Hutang Obligor BLBI” ==> http://chirpstory.com/li/40613
– “Pembebanan APBN & Pembengkakan Hutang Akibat Penerbitan Obligasi BLBI” ==> http://chirpstory.com/li/40758
– “Boediono, dari BLBI hingga Century” ==> http://jaringanantikorupsi.blogspot.com/2012/12/medianusantara-boediono-dari-blbi.html
– “Kesalahan Boediono dari Masa kemasa” ==> http://jaringanantikorupsi.blogspot.com/2012/12/medianusantara-kesalahan-boediono-dari.html

Pencucian Uang dalam Skandal Century

Bambang Soesatyo
Anggota Tim Pengawas
Penyelesaian Kasus Bank Century DPR
KETERKAITAN PT Ancora dengan mega skandal Bank Century otomatis tak terbantahkan. PT Ancora layak dicurigai karena pendiri dan manajemen PT Ancora tidak berinisiatif menunjukan itikad baik untuk mengungkap kepada publik dan pihak berwenang perihal penguasaan aset PT Graha Nusa Utama (GNU) yang sedang dicari oleh Tim Bersama Asset recovery Bank Century.
Seperti diketahui, PT Graha Nusa Utama (GNU) diduga melakukan tindak pidana pencucian uang. Mabes Polri sudah menetapkan Toto Kuntjoro (TK) sebagai tersangka.
Dari laporan Kepala Kepolisian RI, Jenderal Pol Timur Pradopo dihadapan Tim Pengawas Bank Century tanggal 10 Oktober 2012 lalu yang didapat, TK dituduh melakukan penipuan atau penggelapan dengan cara menempatkan dana hasil kejahatan tersebut  di rekening PT GNU.
Uang tersebut berasal dari hasil penjualan aset Bank Century dan penipuan nasabah PT Antaboga Delta Sekuritas Indonesia.
Dalam laporan itu, Kapolri menegaskan ada  tindak pidana pencucian uang yang bersumber dari penjualan aset Bank Century dan dana nasabah PT Antaboga Delta Sekuritas Indonesia.
Ringkasnya, PT GNU menerima dana PT Antaboga Delta Sekuritas tahun 2008. Selanjutnya saham PT GNU diambil alih sebesar 51 persen oleh PT Ancora Land dan PT Uni Menara Komunikasi yang merupakan perusahaan milik Menteri Perdagangan, Gita Irawan Wirjawan pada Oktober 2010.
Mengaitkan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan dalam persoalan ini bukanlah mengada-ada. Sebab, Gita adalah pendiri kelompok bisnis Ancora. Manajemen PT Ancora memang sudah membuat bantahan resmi, bahwa Gita Wirjawan tidak menerima aliran dana Bank Century. Sejak menjabat Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan Menteri Perdagangan RI, Gita sudah tidak terlibat lagi di Ancora.
Ancora Land dan PT Uni Menara Komunikasi, anak usaha Ancora, menyepakati Perjanjiaan Induk dengan para pemegang saham PT GNU dan NUS Januari 2008 untuk mengakuisisi GNU dan NUS berikut lahan bekas Lapangan Golf Fatmawati di kawasan Cilandak. Pada Oktober 2010, Ancora Land resmi menjadi pemegang saham mayoritas GNU dan NUS. Ancora Land pun mengklaim pemilikan tanah di kawasan Fatmawati sah secara hukum
Namun, sangat disayangkan karena baik manajemen Ancora maupun Gita sendiri memanfaatkan bantahan itu untuk mengalihkan persoalan. Ancora memosisikan pengungkapan fakta ini sebagai berlatarbelakang persaingan bisnis dengan individu lain bernama Cahyadi Komala. Padahal, bagi publik pemerhati, bukan faktor persaingan itu yang menarik untuk diamati, melainkan faktor penguasaan aset yang terkait dengan skandal Bank Century.
Sebab, GNU merupakan salah satu perusahaan yang menerima aliran dana PT Antaboga Delta Securitas Indonesia yang berasal dari Bank Century. GNU sendiri diduga sebagai perusahaan fiktif karena tidak jelas alamatnya. Tim Pengawas kasus Century di DPR menduga GNU adalah perusahaan abal-abal yang didirikan oleh mantan Direktur Utama Bank Century Robert Tantular. Oleh Robert, GNU dimanfaatkan untuk menyalurkan kredit fiktif, menyembunyikan aset Bank Century serta dana Antaboga Delta Sekuritas Indonesia.
Hasil penyelidikan dan penyidikan pihak berwenang memperkuat semua dugaan itu. Mabes Polri telah mengungkap dugaan pencucian dana Bank Century sebesar Rp.1,4 triliun. Dana ini bersumber dari Antaboga Delta Securitas Indonesia. Empat orang sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini, meliputi Robert Tantular, Toto Kuncoro, Johanes Sarwono, Septanus Farok dan Umar Muchsin.  Berkas perkara pencucian uang GNU ini sudah di tangan kejaksaan karena sudah P21, tetapi belum dilimpahkan ke pengadilan.
Dengan demikkian. sudah barang tentu posisi Ancora tidak bisa dipisahkan dari kasus Century. Sebab, menurut hasil penelusuran PPATK, aset-aset GNU dibeli dengan dana dari Bank Century dan Antaboga Delta Securitas. Berarti, aset-aset GNU yang sudah dikuasai Ancora sejak Oktober 2010 seharusnya tercantum dalam daftar aset yang akan disita negara oleh Tim Bersama Asset Recovery Bank Century.
Karena itu, wajar jika dimunculkan dua pertanyaan ini; akuisisi GNU oleh Ancora itu murni bisnis atau modus alih pemilikan untuk menyelamatkan aset yang sedang diburu oleh Tim Bersama Asset recovery Bank Century? Dua pertanyaan inilah yang perlu didalami Komisi Pemberantasan Korupsi  (KPK) untuk memahami motif Ancora.
Jika akuisisi GNU itu murni bisnis, Ancora tentu sangat paham bahwa membeli mayoritas saham GNU beresiko tinggi, karena GNU terlibat tindak pidana pencucian uang.  Dan, menurut ketentuan hukum pencucian uang, pihak atau orang yg menerima aset yang berasal dari pencucian uang juga dapat diancam sanksi pidana. Contohnya adalah Budi mulia yg menerima dana dari robert tantular sudah ditetapkan tersangka oleh KPK.
Serba Janggal
Alih pemilikan GNU ke Ancora memang serba janggal, baik karena alasan perbedaan rekam jejak kedua perusahaan maupun berdasarkan timing eksekusi alih pemilikan itu. Sejumlah catatan atau literatur mendeskripsikan Ancora sebagai  kelompok usaha profesional. Lulus dari Harvard University, Gita Wirjawan dikenal sebagai ahli investasi dan pelaku pasar modal yang andal. Di bawah kepemimpinan Gita, Ancora menguasai saham sejumlah perusahaan terkemuka, seperti PT Apexindo Pratama Duta Tbk dan PT Bumi Resources Tbk. Melalui bendera Ancora International, Gita bisa menguasai aset sejumlah perusahaan yang tak kuat menanggung dampak krisis ekonomi. Sangat bertolakbelakang dengan GNU yang serba tak jelas itu.
Berdasarkan rekam jejak itu, Ancora tentunya sangat paham tentang risiko menguasai aset bermasalah. Kalau benar Ancora selalu bermain di area serba bersih, berbisnis atau bertransaksi dengan perusahaan-perusahaan yang berperilaku seperti GNU mestinya dihindari atau ekstra hati-hati. Paling tidak, penelitian dan pengujian dokumen (due diligence) sangat teliti untuk mengetahui siapa saja sosok-sosok dibalik GNU dan darimana saja sumber keuangan GNU. Perjanjian induk pada 2008 bisa saja gugur kalau status atau jenis kelamin GNU saja tidak jelas.
Apalagi dari aspek waktu memfinalkan akuisisi GNU pada Oktober 2010. Berarti semua aspek  teknis dan negosiasi harga telah berlangsung berbulan-bulan sebelumnya. Dalam periode itu, ruang publik masih diguncang oleh badai besar yang ditimbulkan oleh skandal Bank Century. Panitia Khusus (Pansus) DPR untuk Hak Angket Bank Century dibentuk pada 1 desember 2009, dan mulai bekerja pada awal 2010. Dan, sejak paruh kedua 2009, pemilik dan manajemen Bank Century mulai dirundung masalah, karena baik KPK maupun DPR mulai mempersoalkan dana talangan. Bahkan Robert Tantular divonis 4 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat plus denda Rp 50 milyar. Puncaknya pada Maret 2010, ketika sidang Paripurna DPR merekomendasikan proses hukum terhadap orang-orang yang diduga terlibat dalam kasus Bank Century.
Dengan asumsi bahwa Ancora ekstra hati-hati dan due diligence atas latarbelakang GNU akurat, maka tindakan menguasai mayoritas saham GNU pada Oktober 2010 bisa dilihat sebagai kecerobohan yang disengaja atau yang di-skenario-kan. Sebab, sebagai Kepala BKPM (Badan Koordinasi dan Penanaman Modal) saat itu, Gita tentu memiliki informasi yang memadai tentang skandal Bank Century maupun tentang sosok Robert Tanular. Berdasarkan informasi yang dimilikinya, Gita mestinya bisa memerintahkan manajemen Ancora untuk membatalkan atau  mundur dari perjanjian induk 2008 karena aset GNU bermasalah atau terkait pencucian uang.
Barangkali, manajemen Ancora pada akhirnya akan beralasan bahwa mereka tidak tahu kalau GNU dan aset-asetnya bermasalah. Alasan ini pun sulit diterima karena Ancora Land dan Uni Menara Komunikasi wajib melakukan due diligence sebelum memfinalkan akuisisi GNU. Jadi, alasannya sudah terpenuhi untuk mengatakan adanya keterkaitan Ancora dengan kasus Bank Century. Manajemen Ancora mengatakan bahwa Gita tidak terlibat lagi dalam pengelolaan kelompok usaha yang didirikannya. Tetapi, Gita sendiri tahu siapa pesaing Ancora dalam proses akuisisi GNU.

0 Responses to “Keuangan Negara : Skandal BLBI dan Bank Century”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 4,077,988 hits

Archives

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: