14
Oct
12

Kemiliteran : Pokok-pokok Gerilya

PENEGAK KONSTITUSI PROKLAMASI 1945

http://serbasejarah.wordpress.com/2010/12/23/pokok-pokok-gerilja/

Pokok-pokok Gerilja

Tempat saya yang terbaik adalah di tengah-tengah anak buah (Jenderal Soedirman)

Pengalaman perang terutama perang kemerdekaan Indonesia berhasil disarikan dalam sedikit tulisan yang diantaranya oleh Jenderal A.H. Nasution dalam bukunya “Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia” yang terdiri dari 11 jilid. Sebelumnya beliau menerbitkan buku “Pokok-pokok Gerilja Dan Pertahanan Republik Indonesia Dimasa Jang Lalu dan Jang Akan Datang” yang ditulis pada tahun 1953. Sebenarnya masih banyak buku yang lain dari Pak Nas Sampai pertengahan 1986, lima dari tujuh jilid memoar perjuangan Pak Nas telah beredar. Kelima memoarnya, Kenangan Masa Muda, Kenangan Masa Gerilya, Memenuhi Panggilan Tugas, Masa Pancaroba, dan Masa Orla, Serta dua memoar lainnya, Masa Kebangkitan Orba dan Masa Purnawirawan.

Tetapi yang paling menarik perhatian saya adalah buku “Pokok-pokok Gerilja”, karena banyak penulis militer dan ahli strategi mensejajarkan nama Nasution dengan Mao Tse Tung, Grivas , Vo Nguen Giap , Roger Triniqueir dan Che Guevara. Konon, buku ini masih tetap menjadi bahan acuan untuk pendidikan gerilya dan antigerilya di west point (“AKMIL” nya Amerika) .

Dalam tulisan ini saya mencoba meresume beberapa pokok pikiran dalam buku “Pokok-pokok Gerilja” yang diterbitkan oleh Cv Pembimbing-Djakarta Tjetakan kedua April 1954. (Hatur tararengkyu buat orang pasar buku palasari Bandung yang telah membawakan buku lawas ini pada saya)

******
Pokok-pokok Gerilja

1. Peperangan abad ini adalah perang rakjat semesta

Usaha perang bukanlah cuma usaha angkatan perang saja, melainkan dan malah telah menjadi usaha rakyat semesta pelbagai sektor kehidupannya, yang masing-masing menjadi pesertaan dalam usaha yang seluruhnya, yang tak dapat lalai-melalaikan lagi.
Perang yang sekarang bukan lagi perang antara tentara dengan tentara saja, bukan lagi cuma perang militer. Melainkan sekarang yang berperang adalah rakyat,  rakyat seluruhnya. Perang bergolak secara semesta, walaupun keputusan akhirnya ditentukan oleh kalah menangnya kedua angkatan bersenjata yang berhadapan.
Maka ilmu perang itu bukan cuma ilmu perang yang khusus dengan strategi, taktik dan logistiknya, meainkan pula politik militer, politik, psychologi dan ekonomi. Lapangan perang bukan lagi cuma yang militer, melainkan juga sepenuhnya politik dan ekonomi. Pimpinan perang bukan lagi mengenai medan militer, melainkan medan-medan seluruhnya secara semesta. Syarat-syarat yang diminta dari padanya bukan lagi keahlian cuma keahlian militer, melainkan pemahaman seanteronya politik, militer dan ekonomi.

2. Perang Gerilja adalah perang sikecil/silemah melawan sibesar/sikuat.

Berperang gerilja bukanlah karena menganut “ideologi” bergerilja, melainkan karena kita diharuskan, karena telah tidak mampu menyusun kekuatan yang berorganisasi secara modern, yang setara dengan musuh. Maka gerilja kitapun baru pada tingkatan melelahkan musuh, belum sampai dapat menghancurkannya walaupun bagian demi bagian.

3. Perang gerlija tidak dapat secara sendiri membawa kemenangan terakhir, perang gerilja hanya untuk memeras darah musuh. Kemenangan terakhir hanyalah dapat dengan tentara yang teratur dalam perang yang biasa, karena hanya tentara demikianlah yang dapat melakukan offensif dan hanya offensiflah yang dapat menaklukan musuh.

Defensif tidak dapat mengalahkan musuh, hanya offensiflah yang mampu demikian. Deffensif sekedar sementara menyiapkan dan menantikan untuk melakukan offensif pada suatu waktu.
Perang gerilja strategis hayalah defensif. Kemenangan perang hanya mungkin oleh offensif, offensif oleh suatu tentara yang teratur, oleh suatu tentara yang setara.

4. Perang gerilja biasanya adalah perang ideologi. Perang gerilja adalah perang  rakyat semesta.

Prajurit gerilja bukanlah cuma prajurit pemanggul senjata seperti yang lazim dalam perang biasa, melainkan ia adalah pemanggul ideologi. Ia bukan cuma pelopor pertempuran melainkan terutama pelopor ideologi.
Sejarah cukup menunjukan bahwa perang gerilja adalah senantiasa sebagai pelopor perjuangan ideologi. Rakyat yang tertindas, rakyat yang terjajah, rakyat yang teraniaya oleh pendudukan, mengepalkan tangannya untuk mengenyahkan penjajahan, sipenindas dan sipenduduk yang kejam. Penderitaan perjuangan yang bagaimanapun rasanya enteng jika dibandingkan dengan kesengsaraan penindasan, penjajahan dan pendudukan yang kejam.
Ideologi, semangat kemerdekaan, menjadi sumber kekuatan dan kesanggupan untuk memulai peperangan melawan musuh yang kuat dan teratur dengan segala tentaranya.
Maka hanya dengan ideologi yang kuat, hanya batin yang teguh, yang dapat meledakan perang gerilja yang cukup tabah buat menempuh jalan penderitaan yang panjang dan sulit sampai pada tingkatan mengalahkan musuh yang kuasa.
Tindakan-tindakan sigerilja tidak bisa cuma mengutamakan pertempuran-pertempuran, melainkan haruslah pula mengutamakan psyichologis dan sosial ekonomis dengan gerakan-gerakan propaganda, politik non-kooperasi, politik bumi-hangus, infiltrasi dll.

5. Akan tetapi perang gerilja tidaklah berarti bahwa seluruh rakyat bertempur.

Rakyat adalah sendi bagi gerilja
Pemimpin-pemimpin kita selalu mengibaratkan gerilja sebagai ikan dan rakyat sebagai air, mencontoh pelajaran dari Mao Tse Tung. Maka “air” itu harus dipelihara dalam “hawa” politik dan sosial-ekonomi yang sewajarnya untuk menyuburkan pertumbuhan gerilja yang “berenang” didalamnya.
Perang gerilja adalah perang rakyat, gerilja lahir dan tumbuh diatas haribaan rakyat yang berjuang, gerilja berjuang dengan bantuan, pemeliharana dan perlindungan rakyat pula. Gerilja adalah prajurit rakyat yang sedjati.
Massa bisa gampang diagitir untuk mengganas beramai-ramai, tetapi pula massa itu gampang pecah dan kacau balau, sehingga menjadi sangat sulit untuk dipimpin. Suatu sukses bisa menjalankan semangat massa dengan cepat, tetapi kegagalan bisa pula merosotkan dan mematahkan semangatnya sekaligus. Pula massa sangat gampang dikacaubalaukan oleh gerakan desas-desus.

6. Perang gerilja tidaklah boleh sembarangan “geriljisme”

Kaum gerilja juga harus berdisiplin, juga harus berorganisasi, juga harus berlatih, juga harus mempelajari taktik bertempur, juga harus mempunyai rancangan dan perhitungan. Kaum gerilja juga mempunyai pemimpin yang harus ditaati, Bahkan segala sesuatu harus lebih berat disadari.
Gerilja harus bersifat geriljis terhadap musuh, sehingga ia tetap pusing dan kacau mengenai keadaan dan maksud-maksud gerila, akan tetapi harus bersifat teratur dan berdisiplin kepada pemimpin sendiri.

7. Gerilja berpangkalan dalam rakyat. Rakyat membantu, merawat dan menyembunyikan gerilja, serta menyelidik untuk keperluannya.

Gerilja berpangkalan dalam rakyat, mempersiapkan diri ditengah-tengah rakyat, bersembunyi ditengah-tengah rakyat. Gerilja berpangkalan dimana-mana, asal saja ada rakyatnya dan asal saja buminya cukup ruangan dan persembunyian.

8. Gudang senjata gerilja adalah gudang senjata musuh.

Persenjataan dan amunisi teramat sangat penting dan teramat sulit dalam suatu perang gerilja. Perang gerilja adalah perang sikecil melawan sibesar, maka kekuatannya adalah cara-cara geriljanya, yang muncul dan hilang dimana-mana menurut keprluan keadaan.
Sebagai sikecil dapat dimengerti, betapa pentingnya penghematan tenaga dan penghematan peluru.

9. Menyimpulkan strategi dan taktik perang gerilja.

Perang gerilja dan pertahanan rakyat total sebagai obat mujarab untuk mengatasi tiap-tiap agresi terhadap negara kita. Maka perlulah secara obyektif disadari lagi sepenuh-penuhnya arti strategis dari perang gerilja. Gerilja memang dapat hebat dan dahsyat, dapat mengikat dan melemahkan musuh yang berpuluh-puluh jumlahnya. Namun perang gerilja adalah strategis tetap defensif pada hakekatnya, dan tidak mampu mengalahkan musuh.
Siasat gerilja adalah mengikat musuh sebanyak mungkin, melalhkan, memeras darah dan keringatnya sebanyak mungkin, dan menggoncangkan urat-urat syarafnya. Gerilja adalah muncul-menghilang, mondar-mandir dimana-mana, sehingga bagi musuh tiada dapat dicari dimanapun, tapi dirasakan menggempur dimana saja.
Siasat gerilja ialah untuk memaksa musuh tersebar kemana-mana menjadi immobil sebanyak-banyaknya, dan terpaksa mengadakan stelsel pembentengan yang tetap. Musuh disebar-sebar, dipecah-pecah dan dipakukan, sambil sigerilja terus memeras darah, keringat dan urat syarafnya. Musuh yang besar harus dihindari, atau diganggu secara dicubiti dimana-mana. Musuh yang kecil harus dikepung dan dihancurkan serta alat-alatnya dirampas.
Untuk dapat melakukan tindakan yang muncul menghilang yang tak dapat dicari tetapi selalu terasa dimana-mana, gerilja memerlukan “pangkalan” diantara kedudukan musuh, yang diladeni oleh rakyat, yang cukup tersedia dipelbagai pelosok buat keperluan gerilya yang mondar-mandir.
“Pangkalan” itu harus dipilih didaerah yangbumi dan rakyatnya cukup memenuhi syarat. Bumi yang sulit didatangi oleh musuh, yang cukup tempat persembunyian dan jalan penyingkiran, yang tak dapat diserbu oleh musuh secara besar-besaran denga peralatan yang berat, dimana sigerilja dapat memaksa musuh untuk berhadapan dengan peralatan yang sama, yakni setara infanteri belaka. Bumi yang dikenal sedalam-dalamnya oleh para gerilja. Bumi yang didiami oleh rakyat yang bersemangat, yang memperjuangkan ideologi yang sama dengan gerilya, atau paling sedikitnya yang menyukai gerilya. Syarat-syarat bumi dan rakyat adalah yang terbaik, jika gerilja bersarang dalam daerah kampung halamannya ditengah-tengah sanak saudaranya sendiri.

10. Sifat pokok perang gerilja ialah rakyat yang membantu, ruangan geografis yang cukup dan adanya perang yang lama.

Rakyat yang membantu itu memang kuat batinnya, kuat ideologinya, kuat semangat kemerdekaannya, kuat semangat perjuangannya, tabah menderita kesengsaraan perjuangan.
Syarat geografis yang diminta wilayah-wilayah yang cukup luas dan daerah-daerah yang sulit dilintasi, tidak begitu banyak jalan raya, banyak gunung dan bukitnya, banyak hutan dan belukarnya. Daerah demikian adalah sarang-sarang gerilja.
Untuk memenuhi syarat perang lama, maka perlulah sungguh-sungguh tabah rakyat dan tentaranya, dengan seksama berjuang menderita sampai tercapai kemenangan perang yang terakhir. Rakyat dan lebih-lebih pemimpin-pemimpin harus tabah terhadap intimidasi musuh yang saling berganti dengan bujukan manis seperti madu. Tabah untuk tetap menolak kolaborasi, tabah untuk tetap bernon-kooperasi, dan tetap lebih suka menderita daripada menerima pekerjaan dari musuh, daripada menerima perlindungan di rumah yang disediakan musuh atau kota-kota yang dipasifisirnya.

11. Perang rakyat yang total memerlukan pemimpin yang total dan bukan saja pada puncak nasional, melainkan juga pada daerah-daerah gerilja yang terbawah.

Kesatuan dan kebulatan pemimpin adalah syarat mutlak untuk kesempurnaan perang rakyat yang semesta.

12. Perang anti-gerilja harus menuju kepada memisah gerilja dari rakyat pangkalnya, dan karena itu lebih-lebih harus mengutamakan gerakan politik, psychologis dan ekonomis. Gerilja harus dilawan dengan senjata-senjatanya sendiri, kegiatan offensif, kemampuan yang mobil dan flexible.

Perang anti-gerilya adalah usaha pasifikasi, dan pasifikasi adalah terutama usaha membangun, sedangkan perang biasa adalah terutama usaha menghancur.
Perang anti-gerilja adalah memberantas perlawanan rakyat yang bbersifat total, baik yang aktif menggerilja dan menyabotir, maupun yang passif melawan belaka seperti bergerak di bawah tanah, dilapangan propaganda dan intelligence.
Pertikaian politik dalam negeri biasa menggunakan kegiatan gerilja dan perlawanan bawah tanah. Tugas anti-gerilja dalam arti yang luas adalah tugas yang tiada henti bagi banyak negara apalagi negara yang muda.
Tujuan pokok dalam anti gerilja ialah memisahkan rakyat dari gerilja. Hanya atas dasar itu dapat berhasil tindakan anti-gerilja secara militer.
Kemenangan politik-ideologis, kemenangan sosial-ekonomis dan psychologis adalah pangkal untuk dapat mencapai kemenangan militer.
Menangkapi rakyat bersama-sama, menghukum rakyat secara kolektif, membakari rumah-rumahnya, semuanya karena membantu atau menyembunyikan agen-agen gerilja adalah menjadi senjata yang paling kuat yang “dihadiahkan” kepada kaum gerilja. Kaum gerilja yang akan semakin muncul sebagai pelindung rakyat. Sebaliknya maka siasat anti-gerilja haruslah mengikhtiarkan keadilan dan kebajikan yang sebenar-benarnya.
Soal pokok adalah menawan hati rakyat. Inilah strategi perang anti-gerilja. Mengenal rakyat, mengenal cita-citanya, mengenal adat-istiadatnya, mengenal masalahnya adalah senjata utama dalam tangan pihak anti-gerilja.
Perlu sekali pihak anti-gerilja sebanyak mungkin menggerakan tenaga-tenaga rakyat, mempergunakan pemimpin-pemimpin rakyat. Gagallah usaha-usahanya, kalau ia harus bertindak dengan cuma tentaranya, gagallah kalau ia tiada dapat menggerakan tenaga rakyat. Sedapat mungkin haruslah ia usahakan, supaya pemimpin-pemimpin rakyat yang berpengaruh tertarik kepada pihaknya dengan pelbagai macam daya upaya. Sedapat mungkin rakyat jangan merasakan langsung paksaannya dan kebutuhannya, haruslah ia disalurkan melalui pemimpin-pemimpin rakyat sendiri.
Perang psychologisnya mengusahakan memperoleh keterangan tentang ketegangan-ketegangan dan perselisihan di dalamnya, apalagi antara pemimpin atau pemimpin dengan pengikutnya. Hanya inilah yang bisa dipergunakan untuk memisahkan mereka, dan tidak akan berhasil cuma desas-desus atau fitnah belaka.
Peristiwa perselisihan kecil atau keteledoran yang kecil pada pihak gerilja, yang sungguh terjadi bisa dipergunakan dengan sangat bermanfaat oleh pihak anti-gerilja
Yang paling penting ialah menawan hati dan pikiran anggota-anggota gerilja sendiri, terutama yang telah tertawan. Dengan sikap yang baik-adil, dengan menyadarkan kepada maksud anti-gerilja lebih tinggi daripada sigerilja, dengan lain-lain daya upaya,  supaya akhirnya tercapai perubahan pikiran mereka.
Gerilja harus dipisah dari rakyat. Gerilja harus dihadapi dengan senjata-senjatanya sendiri. Inilah pokok pegangan anti-gerilja.

Bersambung ………

http://www.dephan.go.id/kemhan/?pg=31&id=638

Komponen Cadangan Dapat Menjadi Salah Satu Daya Tangkal



Rabu, 10 Oktober 2012

Jakarta, DMC – Bangsa Indonesia harus mempunyai daya tangkal dan sistem pertahanan yang kuat apabila ingin diperhitungkan oleh bangsa lain. Salah satu yang dapat menjadi daya tangkal yaitu dengan memilki komponen cadangan (Komcad). Komcad dapat menjadi daya tangkal karena yang terdiri dari sumber daya nasional yaitu warga negara yang dapat menjadi suatu kekuatan untuk menggentarkan keinginan bangsa lain yang ingin mengganggu kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Demikian dikatakan Direktur Komponen Cadangan Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan (Dir Komcad Ditjen Pothan Kemhan) Brigjen TNI Santoso, Rabu (10/10) saat menjadi nara sumber dalam program Talk Show “Sarapan Pagi” Radio KBR 68 H di Studio Mini Puskom Publik Kemhan, Jakarta.

Talk show yang disiarkan secara on air ini merupakan kerjasama antara Kemhan dengan Radio KBR 68 H dalam rangka memberikan informasi secara rutin kepada publik terkait kebijakan – kebijakan pemerintah di bidang pertahanan negara. Dalam kesempatan ini, Dir Komcad Ditjen Pothan Kemhan menjelaskan beberapa hal – hal yang melatarbelakangi pembentukan Komcad.

Dir Komcad Ditjen Pothan Kemhan menjelaskan bahwa secara aspek yuridis, pembentukan Komcad ini diamanatkan dalam Undang Undang Pertahanan Negara bahwa Sistem pertahanan negara adalah sistem pertahanan yang bersifat semesta yang melibatkan seluruh warga negara, wilayah, dan sumber daya nasional lainnya, serta dipersiapkan secara dini oleh pemerintah dan diselenggarakan secara total, terpadu, terarah, dan berlanjut untuk menegakkan kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan segenap bangsa dari segala ancaman.

Sedangkan fungsi dan tugas Komponen Cadangan sebagaimana diamanatkan dalam pasal 7 ayat 2 Undang Undang Pertahanan Negara bahwa sistem pertahanan negara dalam menghadapi ancaman militer menempatkan Tentara Nasional Indonesia sebagai komponen utama dengan didukung oleh komponen cadangan dan komponen pendukung.

Menurutnya, untuk menghadapi ancaman dalam rangka menjaga mempertahankan kedaulatan negara, keutuhan wilayah dan keselamatan bangsa tidak cukup oleh komponen utama saja. Dari berbagai pemikiran oleh para pakar – pakar maupun pengalaman sejarah bangsa Indonesia bahwa mempertahankan negara memang melibatkan unsur-unsur lain selain TNI.

Lebih lanjut Dir Komcad Ditjen Pothan Kemhan menjelaskan bahwa konsep Komcad berbeda dengan konsep wajib militer seperti di negara – negara lain. Konsep Komcad adalah suatu konsep pertahanan negara yang melibatkan warga negara yang terseleksi baik jasmani, rohani dan juga keterampilan yang dibutuhan.

Dir Komcad Ditjen Pothan Kemhan mengatakan bahwa kebijakan pembentukan Komponen Cadangan ini sudah dituangkan di dalam bentuk Rancangan Undang Undang dan masuk pada Prolegnas 2010-2014. Pada tahun 2010, pemerintah sudah mengirimkan RUU kepada DPR RI untuk dibahas, tapi sampai sekarang belum diprioritaskan untuk dibahas. Pemerintah dalam hal ini Kemhan berharap pada Prolegnas 2010-2014 ini, RUU Komcad akan dibahas bersama – sama antara Pemerintah dan Parlemen sehingga Kemhan dapat segera melaksanakan kegiatan untuk mewujudkan Komponen Cadangan.

Sumber :  DMC

Posted by Admin in Keamanan | Hit : 59


0 Responses to “Kemiliteran : Pokok-pokok Gerilya”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 4,028,359 hits

Archives

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: