18
Dec
11

Kepahlawanan : Sungkono Muda dan Pertempuran Surabaya 1945

13.12.2011 14:06

Pertempuran Surabaya 1945,

Sungkono Muda dan Pidato yang Menentukan

Penulis : Dr Francis Palmos*

 

BUKU SEJARAH – Gubernur Jawa Timur (Jatim) Soekarwo (kiri) menerima buku sejarah pahlawan catatan warga Australia Francis Palmos (kanan), usai pelaksanaan upacara Peringatan Hari Pahlawan, di Monumen Tugu Pahlawan, Surabaya, Jatim, Kamis 10 November.(foto:dok/antaranews.com)

Kebanyakan anak muda dan pembaca generasi yang lebih tua mungkin tidak mengetahui bahwa dua dari sejumlah pidato terbaik, yang paling penting dalam sejarah Republik Indonesia itu dibuat pada sore dan malam hari Jumat tanggal 9 November 1945. Yang pertama dibuat oleh Kolonel Sungkono muda.

Buku-buku sejarah memberi tahu kita tentang pidato Bung Karno muda di pengadilan Bandung, Indonesia Menggugat, di hari-hari sebelum kemerdekaan. Pidato ini pada akhirnya membawanya ke penjara dan membuatnya diasingkan beberapa kali.

Mereka juga mengetahui pidato singkat Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, di Pegangsaan Timur 56 (sekarang Jalan Proklamasi), Jakarta. Namun, yang tidak disadari kebanyakan anak muda Indonesia: Proklamasi hanyalah kemerdekaan di atas kertas. Kenyataannya tidak ada kemerdekaan di Jakarta.

Sekutu mengendalikan Jakarta (mereka masih menyebutnya Batavia), Bogor, Bandung, Cirebon, Medan, dan Semarang. Surabaya adalah satu-satunya kota yang bebas dari pengawasan Sekutu, sejak 22 Agustus sampai akhir November 1945.

Para arek Surabaya ini berhasil mengalahkan Jepang, mencopot mereka dari jabatan administrasi, mengambil 90 persen senjata mereka, dan mengontrol media, komunikasi, kereta api dan transportasi jalan, listrik, gas dan air, serta rumah sakit. Mereka menempatkan tentara Jepang di kamp-kamp untuk dikirim pulang dan tentara Jepang yang menolak akan dibunuh.

Inggris membuat kesalahan dengan menduduki Surabaya pada 27–28 Oktober. Pada 28–29 Oktober pasukan arek Surabaya bersama warga lain menyerang tentara Inggris dan memecah belah mereka, membunuh beberapa ratus tentara Inggris, dan menggiring tentara Inggris kembali ke kapal mereka.

Tujuan Inggris adalah untuk mendirikan pemerintahan NICA. Jika mereka bisa menguasai Surabaya dengan cepat, seluruh Nusantara yang tadinya melawan akan menjadi koloni Belanda di Hindia Belanda.

Secara diam-diam Inggris membangun kekuatan kembali, membawa kapal perang, tank, pengebom, dan ribuan pasukan pendukung. Mereka mengeluarkan ultimatum untuk rakyat Surabaya agar menyerahkan senjata mereka pada malam 8 November, atau menghadapi serangan besar. Kali ini, Inggris jauh lebih siap untuk serangan yang kedua kalinya.

Pidato Sungkono

Yang pertama dari pidato singkat tetapi hebat itu adalah pidato yang disampaikan Kolonel Sungkono. Pada Jumat sore 9 November, di Jalan Pregolan No 4, dengan suara bulat dia terpilih sebagai Panglima Angkatan Pertahanan Surabaya.

Pidatonya di hadapan ribuan arek Surabaya muda dan anak buahnya di Unit 66 pada malam serangan Inggris di Surabaya merupakan pidato yang bersejarah. Anak buahnya berperang menghadapi tentara Inggris terbaik yang memiliki senjata dan alat komunikasi modern.

Sementara itu, anak buahnya hanya maju ke medan laga dengan senapan mesin ringan, senapan laras panjang, granat, dan beberapa tank lama, serta bambu runcing. Bagi seorang militer yang serius, ini mungkin waktunya untuk menyerah.

Sebaliknya, Sungkono justru mengatakan: “Saudara-saudara, saya ingin mempertahankan Kota Surabaya… Surabaya tidak bisa kita lepaskan dari bahaya ini. Kalau saudara-saudara mau meninggalkan kota, saya juga tidak menahan; tapi saya akan mempertahankan kota sendiri…”
Semua anak buahnya tetap tinggal untuk berperang.

Mantan Jenderal Suhario, yang waktu itu masih mahasiswa berusia 24 tahun dan turut serta dalam pengepungan Polisi Rahasia Kempetai, mengenang sikap Sungkono malam itu:

“Seperti biasanya malam itu Sungkono tetap bersikap tenang selama melakukan inspeksi persiapan pertahanan. Dia datang ke markas saya di tengah malam, bersama dengan Kretarto dan tiga perwira. Dia bertanya, ‘Apakah kamu siap?’

Saya menjawab: ‘Ya! Siap!’

Itu saja! Kami tidak ambil pusing! Tidak ada lagi yang bisa kami katakan. Kami siap. Dia kemudian pergi ke kegelapan malam. Sungkono pergi mengelilingi kota malam itu, (memeriksa semua unit) menanyakan apakah mereka sudah siap. ”

Tak perlu lagi banyak bicara. Ini adalah masalah merdeka atau mati. Jadi apakah yang akan dihadapi para pejuang Surabaya yang menyebut diri mereka Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di bawah komando Sungkono, dalam menghadapi invasi besar-besaran oleh tentara Inggris yang telah dipersiapkan matang? Kemungkinannya, baik Inggris maupun para perwira Belanda akan berkata, “Surabaya akan bertekuk lutut pada hari pertama!”

Surabaya bertahan selama lebih dari 20 hari. Setelah lima hari, Surabaya menjadi perhatian dunia. Setelah 10 hari dana Inggris terkuras habis, dan korban perang di pihak Inggris sangat banyak. Tekanan internasional terhadap Belanda dan keberatan dari India menyebabkan Inggris mendesak Belanda untuk berunding dengan Republik Indonesia.

Surabaya telah menyelamatkan Republik Indonesia. Benar, Sungkono dan anak buahnya akhirnya harus menarik diri ke perdesaan di Jawa Timur di akhir bulan, tetapi pada saat itu Surabaya dan Republik Indonesia sudah dikenal di seluruh dunia.

14.12.2011 13:55

Pertempuran Surabaya 1945 (2)

Lebih Baik Hancur daripada Dijajah Lagi

Penulis : Dr Francis Palmos*

Tidak ada peristiwa dalam 66 tahun Republik Indonesia yang memiliki pengaruh lebih besar daripada pidato Gubernur Suryo di radio Surabaya, Jumat, 9 November 1945, pukul 22.00.

Suryo menyerukan agar warga Surabaya berjuang, jangan menyerah. Jika Surabaya jatuh, Republik Indonesia yang baru berdiri akan jatuh, atau kemerdekaan akan tertunda selama beberapa dekade.

Tekad Suryo menunjukkan kualitas Churchillian, memberitahukan warganya dengan penuh kejujuran bahwa memperjuangkan kemerdekaan sangat mahal harganya. Sebelum matahari terbenam pada esok harinya, ia memperhitungkan serangan militer Inggris akan membunuh dan melukai ribuan warga Surabaya.

Para pemimpin Troika di Surabaya, Dul Arnowo, Residen Sudirman, dan Gubernur Suryo, menyayangkan keputusan pusat.

Presiden Sukarno dan kabinetnya di Jakarta tidak bersedia bertanggung jawab untuk mengambil keputusan, dengan pertimbangan jika Surabaya tidak menyerah, akan terjadi kematian dan kehancuran yang sangat besar. Jakarta memberikan seluruh kekuasaan pada warga Surabaya sendiri untuk memutuskan.

Ruslan Abdulgani muda, sekretaris pemimpin Troika, kemudian mempertanyakan: “Keputusan macam apa itu dari Jakarta? Tentu saja kami akan memilih untuk melawan! (Jika tidak, Republik Indonesia yang baru berdiri akan jatuh).”

Menjelang malam, ratusan orang mulai berkumpul di sekitar stasiun radio, menunggu pidato Gubernur. Semua radio di Surabaya bebas dari segel sensor Kempetai; dinyalakan di berbagai kampung.

Sebelumnya Bung Tomo telah berpidato, tetapi pidatonya dinilai kurang penting dibandingkan pidato Suryo. Ketika Suryo mulai berbicara, setengah juta warga Surabaya yang merasa khawatir, mendengarkan pidatonya. Mereka bersiap mendengar berita buruk. Itulah saat yang disebut “menjelang datangnya badai”.

Badai yang datang bukanlah angin, melainkan pasukan Inggris, tentara terbaik dan paling berpengalaman di Asia, yang baru saja mengalahkan Jepang di Burma. Mereka sedang mempersiapkan sebuah serangan berskala besar jika Surabaya tidak menyerah.

Mereka juga mengancam akan menembak mati arek Surabaya yang membawa senjata. Secara tak langsung ini adalah pernyataan balas dendam atas kekalahan memalukan dalam pertempuran 27-29 Oktober, dan penembakan terhadap Brigadir Mallaby.

Jadi, pada Jumat malam itu, setelah berkonsultasi dengan rekan-rekannya, Residen Sudirman, Dul Arnowo, dan Komandan Pasukan Pertahanan Sungkono, Suryo diam-diam menyusup ke dalam Studio RRI dan menyampaikan salah satu pidato yang paling penting dan emosional dalam sejarah Indonesia.

“Saudara-saudara sekalian,

Pucuk pimpinan kita di Jakarta telah mengusahakan akan membereskan peristiwa di Surabaya pada hari ini. Tetapi sayang sekali, sia-sia belaka, sehingga kesemuanya diserahkan kepada kebijaksanaan kita di Surabaya sendiri.

Semua usaha kita untuk berunding senantiasa gagal. Untuk mempertahankan kedaulatan negara kita, maka kita harus menegakkan dan meneguhkan tekad kita yang satu, yakni berani menghadapi segala kemungkinan.

Berulang-ulang telah kita kemukakan bahwa sikap kita ialah: Lebih baik hancur daripada dijajah kembali. Juga sekarang dalam menghadapi ultimatum pihak Inggris kita akan memegang teguh sikap ini. Kita tetap menolak ultimatum itu.

Dalam menghadapi segala kemungkinan besok pagi, mari kita semua memelihara persatuan yang bulat antara pemerintah, rakyat, TKR, polisi dan semua badan-badan perjuangan pemuda dan rakyat kita.

Mari kita sekarang memohon kepada Tuhan Yang Mahakuasa, semoga kita sekalian mendapat kekuatan lahir batin serta rahmat dan taufik dalam perjuangan.

Selamat berjuang!

Serangan Besar-besaran

Itu adalah pidato yang luar biasa, di mana sang Gubernur dengan tenang mengatakan bahwa hampir 1 juta warga Surabaya akan diserang pada esok pagi pukul 06.00, dan ada begitu banyak orang yang mendengarkan pidato ini.

Bahkan Suryo sendiri, yang mungkin tidak akan bisa bertahan hidup untuk melihat matahari terbenam Sabtu 10 November, berani menghadapi segala kemungkinan.

Esok paginya, Inggris meluncurkan serangan besar-besaran di darat, laut, dan udara, memulai pertempuran di Surabaya.

Banyak sejarah tertulis mengenai pertempuran ini mengingatkan kita bahwa Inggris diperkirakan akan menyapu bersih arek Surabaya dan dengan sangat cepat akan mengembalikan pendudukan Belanda. Namun warga Surabaya mampu berjuang selama 20 hari, sebelum akhirnya mundur ke selatan, setelah jatuhnya Gunungsari.

Ini adalah pertempuran yang mengubah sejarah, tidak hanya bagi Republik Indonesia yang baru berdiri, tetapi juga bagi seluruh wilayah, terutama berpengaruh di India dan Indo-China. Surabaya menjadi berita utama dunia, dan Inggris secara bijaksana kemudian menekan Belanda untuk berunding dengan Republik Indonesia.

Namun Gubernur Suryo tidak hanya cukup ditulis karena bakat kepemimpinannya yang luar biasa. Keputusan Sukarno memilih Suryo adalah tindakan jenius, mengingat selalu tidak jelas apakah gubernur di masa depan ini adalah orang yang tepat menduduki jabatan itu.

Namun aksi massa oleh pemuda arek Surabaya memberinya keyakinan dalam bernegosiasi dengan Inggris. Ia pun jelas-jelas mengungguli para jenderal Inggris di meja perundingan, sebagaimana yang terungkap dalam studi saya, Surabaya 1945: Teritori Suci.

Ruslan Abdulgani muda sangat menjunjung tinggi tim Troika yang terdiri dari Suryo, Sudirman, dan Dul Arnowo, karena masa depan politik Republik Indonesia bergantung pada mereka.

Sungkono dan rekannya dari Pasukan Pertahanan bekerja sama sangat baik dengan Troika dan Ruslan (yang berbicara untuk Republik Indonesia sebagai anggota Biro Kontak dengan Inggris).

Hubungan kerja sama adalah alasan mendasar bagi keberhasilan Republik Indonesia yang telah cukup lama berjuang, agar perjuangan mereka mendapat perhatian dunia.

15.12.2011 13:40

Pertempuran Surabaya 1945 (3)

Saat Sukarno Memutuskan untuk Diam

Penulis : Francis Palmos*

Pada Jumat malam bersejarah, 9 November, Presiden pertama Republik Indonesia, yang masih tertatih-tatih, pulang ke rumah dengan hati gundah.

Sukarno telah memutuskan untuk tidak berpidato, atau membuat sebuah keputusan, dan itu bukan hal yang biasa, karena ia salah satu dari orator paling karismatik dan menentukan di Asia Tenggara.

Kali ini ia memutuskan untuk tidak berbicara, tidak memberi perintah terkait serangan besar Inggris ke Surabaya, di mana Gubernur Jawa Timur Suryo menunggu.

Rakyat Surabaya setia pada presiden, tetapi mereka putus asa menanti persetujuan formalnya untuk menolak ultimatum Inggris. Inggris meminta pasukan Surabaya menyerahkan senjata-senjata mereka dan menghukum para pejuang Surabaya yang menyerang dan membunuh ratusan tentara Inggris ketika berusaha menduduki kota pada 27–29 Oktober 1945.

Inggris, sejak kekalahan itu, meningkatkan tekanan untuk menghancurkan Surabaya. Dua skuadron tempur—pengebom, kapal-kapal untuk menembakkan kanon dari lepas pantai, dan ribuan tentara dari bagian Asia Tenggara yang lain siap menyerang kota itu.

Jika Sukarno memerintahkan mereka menerima ultimatum tersebut—yang berarti menyerah—Republik yang baru berdiri ini akan selesai dalam waktu yang tidak lama. Inggris segera mendudukkan kembali pemerintahan sipil Belanda, NICA.

Surabaya adalah satu-satunya teritori independen Republik baru yang masih tersisa. Pasukan asing, Inggris, dan Belanda menggunakan Jepang dan bersama-sama ketiganya meredam kerusuhan di Bandung dan Semarang dan menguasai kota-kota lain, termasuk Jakarta, Bogor, dan Medan.

Jika Surabaya jatuh, Republik baru ini tidak akan memiliki wilayah merdeka lainnya. Dunia luar masih menyebut Indonesia Hindia Timur Belanda, dan para wartawan asing menggunakan nama Batavia, bukan Jakarta. Republik baru ini akan berada dalam bahaya atau menghilang dari pandangan.

Di sisi lain, jika Presiden memerintahkan Gubernur Suryo bertempur, Inggris akan melihatnya sebagai tindakan memusuhi dan memperlakukannya sebagai musuh.

Sukarno dan Hatta berada di Jakarta, dalam pengawasan Komando Pasukan Sekutu. Sukarno dan Hatta telah berada dalam ancaman penahanan, karena Belanda telah memaksa mereka untuk ditahan.

Gencatan Senjata

Sukarno sendiri telah membantu Inggris, pada 30 Oktober, dengan menyepakati menggunakan pengaruhnya untuk gencatan senjata. Inggris menggunakan masa itu untuk menyelamatkan para tentara yang terjebak, yang juga akan tewas seandainya Presiden tidak campur tangan.

Dari momen kedatangan mereka, Inggris yang mewakili Pasukan Sekutu telah mengeluarkan maklumat mereka berada di Hindia Timur Belanda untuk menerima penyerahan diri Jepang, mengamankan ribuan tahanan dan tahanan perang, dan mendudukkan kembali pemerintahan sipil NICA Belanda, untuk memulai Mark II dari Hindia Timur Belanda.

Tetapi Inggris menduduki kota itu, melanggar kesepakatan pertama dengan Gubernur Suryo. Surabaya memberontak. Mereka mengambil alih senjata-senjata tentara Jepang dan dengan brutal menghentikan tentara Inggris yang hendak menduduki Surabaya.

Sejak sekitar 22 Augustus 1945, Surabaya telah bebas, dan pada Jumat 9 November, Inggris menuntut mereka menyerahkan senjata dan kemerdekaan mereka.

Troika pemimpin Republik: Gubernur Suryo, Residen Sudirman, dan Dul Arnowo, yang didukung Kolonel Sungkono, tahu mereka dalam posisi menguntungkan, tetapi juga berharap menerima restu dari presiden mereka.

Irna HN Hadi Soewito, dalam bukunya Rakyat Jawa Timur Mempertahankan Kemerdekaan, mengatakan bahwa Kolonel Sungkono tahu betul Inggris mengawali pembicaraan damai karena rakyat Surabaya telah menyudutkan dan bahkan bisa membasmi mereka.

Brigade ke-49 yang beranggotakan 6.000 prajurit terjebak dan dengan mudah bisa dihabiskan seluruhnya oleh pasukan arek Surabaya, yang berjumlah sekitar 20.000—pejuang bersenjata, dan mungkin sekitar 120.000 pejuang jalanan, yang membawa pedang, bambu runcing, dan senjata ringan.

Semangat para arek Surabaya tinggi; mereka siap mati demi mempertahankan kemerdekaan mereka. Pasukan India-Inggris, meskipun memiliki pengalaman dan kualitas tempur yang besar, tidak punya motivasi untuk bertempur; mayoritas tentara India tidak ingin bertempur melawan orang muslim. Gencatan senjata diberlakukan untuk keuntungan Inggris.

Jika Presiden Sukarno memiliki strategi militer, ia akan tinggal di Surabaya, dan memimpin revolusi fisik dari sana. Namun selama hidupnya ia menghindari pertempuran fisik (meskipun pidato-pidatonya berapi-api), dan ia kembali ke Ibu Kota.

Kabinet barunya adalah satu satu “negosiasi” yang menuntut kehadirannya di Jakarta, meskipun ia dan Hatta di bawah ancaman Belanda, yang menyebut para pejuang kemerdekaan “bajingan” (brigands).

16.12.2011 13:54

Pertempuran Surabaya 1945 (4-Habis)

Diam Adalah Satu-satunya Jalan

Penulis : Francis Palmos

Kekuasaan dan pidato karismatik Sukarno adalah senjata utama, baik dalam membentuk Republik maupun dalam mempertahankannya. Saya menjadi saksi dan penerjemah untuk beberapa pidato 17 Agustusnya yang menakjubkan, di hadapan jutaan penyimak.

Hingga jatuh sakit pada 1960-an dan kehilangan kompas politiknya, ia menjadi kunci untuk mempersatukan kepulauan yang sangat kaya secara geografis, suku, bahasa dan budayanya.

Namun untuk sekali saja pada petang 9 November 1945, Sukarno tidak mampu menggunakan karismanya. Ia memutuskan tidak membuat sebuah keputusan. Ia memercayai kesetiaan Gubernur Suryo, di Surabaya.

Mantan Menteri dan Veteran Surabaya Ruslan Abdulgani, dalam Seratus Hari di Surabaya yang Menggemparkan Indonesia edisi VI tahun 1995, mengatakan, kelompok kepemimpinan secara keseluruhan kecewa karena Sukarno tidak memerintahkan rakyat Surabaya untuk bertempur. “Tentu saja, kami bertempur!” kata Ruslan, “Jawaban macam apa itu?”

Sebuah komentar yang bahkan lebih kuat dari mantan Jenderal Suhario Padmodiwiryo, pada adikarya Yayasan Obor tahun 1995, Memoar Hario Kecik, mengatakan, itu adalah “kesalahan terbesar” Presiden. Dari sudut pandang pemikir militer, ia benar. Namun, saya tidak sepenuhnya setuju dengan Hario atau Ruslan, dua-duanya veteran, dan akan saya jelaskan alasannya.

Para pembaca sekarang akan dengan mudah melihat posisi sulit apa yang dialami Presiden Sukarno. Jika ia memerintahkan penduduk Surabaya menolak ultimatum, Inggris pada akhirnya akan menang, karena mereka bisa memanggil seluruh pasukan dari Asia Tenggara.

Di sisi lain, jika Sukarno memerintahkan Surabaya menyerah, kemudian nyala api kehidupan yang sangat kecil dari Republik baru ini akan padam, karena Surabaya satu-satunya wilayah merdeka yang masih tersisa. Ini adalah situasi “kalah-kalah”.

Ia membalikkannya menjadi sebuah situasi “menang” dengan menyerahkan tanggung jawab ke Suryo. Bisakah hasilnya akan keliru? Ya, ia harus memercayai Suryo untuk mengambil keputusan yang benar, yaitu bertempur. Jika tidak, Republik ini akan hancur atau setidaknya kemerdekaannya tertunda hingga berpuluh-puluh tahun kemudian.

Posisi saya sebagai sejarawan sangat jelas: saya percaya Sukarno membuat sebuah keputusan yang sangat bijak. Diam adalah satu-satunya jalan. Saya merasa yakin bahwa Jumat 9 November adalah salah satu malam-malam terlara dalam kepemimpinannya.

Saya yakin ia tahu warga Surabaya akan mengorbankan nyawa mereka dalam pertempuran di hari berikutnya. Lagi pula ia adalah bagian dari arek itu sendiri.

Ia harus percaya rakyat Surabaya tidak akan jatuh dengan cepat. Jika mereka bertahan dalam waktu yang lama, Sukarno pasti tahu itu akan mengorbankan begitu banyak nyawa tentara dan begitu besar kerugian finansial Inggris, sehingga mereka berharap segera pergi.

Itulah tepatnya yang terjadi. Inggris, setelah 20 hari bertempur, memutuskan memberi tekanan terhadap Belanda untuk berbicara dengan para pemimpin Republik. Inggris lelah untuk “melakukan pekerjaan kotor” untuk Belanda.

Bertahun-tahun kemudian, ada banyak simpati bagi tentara Inggris yang masih mempertaruhkan dan kehilangan nyawa mereka, sepuluh minggu setelah perang berakhir dan sangat ingin pulang.

Kesedihan Sukarno

Apakah Sukarno menulis kalimat-kalimat yang dibacakan Mr Subarjo atas namanya saat menelepon Suryo ke Surabaya? Kita tak tahu. Namun Mr Subarjo mengatakan kepada Gubernur Suryo bahwa presiden: “Menjerahkan kebidjaksanaan kepada Gubernor dan bertanggung jawab sepenuhnya.”

Sukarno pulang ke tempat tinggalnya pada Jumat malam 9 November dengan kesedihan besar, dan mungkin tidak tidur sama sekali. Ia pasti tahu hanya segelintir rakyat Surabaya yang bisa tidur malam itu, dan pasti, seperti Suryo, ia tahu bahwa ribuan orang tidak akan hidup saat matahari terbit hari berikutnya.

Para pembaca juga harus tahu bahwa Sukarno pada 1945 bukanlah pemimpin yang penuh humor dan bijak seperti ia sebelum perang, meskipun pernah dipenjara, dibuang dan dilarang berbicara oleh Belanda, dan ketika mereka mengingatnya dari hari-hari kemenangannya pada 1950-an.

Penerbit Merdeka Burhanuddin Mohammad Diah, yang tidak selalu menjadi pendukung Sukarno, mengatakan kepada saya pada sebuah konferensi yang membicarakan pendudukan Jepang di Asia Tenggara, di Saigon 1988, bahwa Sukarno secara umum tidak pernah senang selama pendudukan Jepang, jarang tertawa, dan ia tahu bahwa orang Jepang bermuka masem (“asam” dan tak punya humor) dan oleh karena itu ia tidak pernah leluasa dengan mereka.

Perkawinannya dengan seorang perempuan Jepang pada 1960-an juga tak membawa banyak perubahan.

Ketika pejuang Surabaya bertahan selama lima hari, kemudian sepuluh hari, kemudian 20 hari, Sukarno dan para pemimpin Republik lain menarik kekuatan dari semangat dan pengorbanan mereka, dan merasa jauh lebih yakin dalam memenangi kedaulatan.

Pertempuran itu menarik perhatian dunia ke Surabaya dan Republik. Dari malam itu, Sukarno berutang pada Suryo, Arnowo, Sudirman, Sungkono, dan rakyat Surabaya untuk sisa kehidupan politiknya.

*Penulis adalah sejarawan, mantan wartawan, penulis buku Sacred Territory.

Advertisements

0 Responses to “Kepahlawanan : Sungkono Muda dan Pertempuran Surabaya 1945”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,275,470 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: