27
Nov
11

PAKTA (Pejuang Anti Korupsi Tanpa Akhir)

PAKTA INDONESIA

Maraknya Tindak Pidana Korupsi yang merupakan bentuk Kejahatan Luarbiasa termasuk pembiaran dan peringanan melalui remisi, mendorong kreatifitas pembentukan satu kebijakan publik luar biasa guna sistim penangkalan dini niatan, sikap dan tindakan Ingkar Janji Konstitusional, Koruptif terhadap Pancasila dan UUD45, Korupsi terhadap APBN/APBD, Keuangan BUMN/BUMD dan Pajak, Seperti diketahui, Pakta Integritas yang berdimensi personal sebagai perangkat anti korupsi bagi kalangan birokrat yang digagas tahun 2007, ternyata kini terbukti diakui tidak ampuh menekan niatan, sikap dan tindakan super jahat koruptor, sehingga saatnya perlu diganti dengan perangkat lain berdimensi kebijakan publik semisal Politik Anti Korupsi Tanah Air Indonesia (PAKTA Indonesia) demi mempertimbangkan percepatan akan pembangunan Indonesia Mulia, dan memperhatikan kebutuhan aktualisasi 7 (tujuh) pilar Strategi Ketahanan Bangsa yaitu (1) Kehidupan bidang agama tidak rawan, (2) Kehidupan bidang ideologi tidak retak, (3) Kehidupan bidang politik tidak resah, (4) Kehidupan bidang ekonomi tidak ganas, (5) Kehidupan bidang budaya tidak pudar, (6) Kehidupan bidang hankam tidak lengah, (7) Kehidupan bidang lingkungan tidak gersang.

Promosi tentang PAKTA Indonesia sebagai ‘save haven’ ini dikedepankan adalah yang berdasarkan pada Jiwa, Semangat, dan Nilai-nilai 45 (JSN45) yang telah diakui terbukti membangun Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945, yakni (1) Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, (2) Jiwa dan Semangat Merdeka, (3) Nasionalisme, (4) Patriotisme, (5) Rasa harga diri sebagai bangsa yang merdeka, (6) Pantang mundur dan tidak kenal menyerah, (7) Persatuan dan Kesatuan, (8) Anti Penjajah dan Penjajahan, (9) Percaya kepada diri sendiri dan atau percaya kepada kekuatan dan kemampuan sendiri, (10) Percaya kepada hari depan yang gemilang dari bangsanya, (11) Idealisme kejuangan yang tinggi, (12) Berani, rela dan ikhlas berkorban untuk tanah air, bangsa dan Negara, (13) Kepahlawanan, (14) Sepi ing pamrih rame ing gawe, (15) Kesetiakawanan, senasib sepenanggungan dan kebersamaan, (16) Disiplin yang tinggi, (17) Ulet dan tabah menghadapi segala macam ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan.

Bersyukur sejarah mencatat, Pasca Proklamasi Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945 diikuti 2 (dua) Rapat Raksasa yang penting sebagai pernyataan dukungan rakyat yaitu Rapat Raksasa Tambak Sari 17 September 1945 di Surabaya yang diprakarsai oleh PRI (Pemuda Republik Indonesia) dan Rapat Raksasa IKADA 19 September 1945 di Jakarta yang diprakarsai oleh Committee van Actie dari Jalan Menteng 31 (sekarang Jalan Menteng Raya 31). Rapat Raksasa 17 September 1945 sebetulnya didahului oleh peristiwa heroik penurunan bendera Jepang (Hinomaru) digantikan dengan penaikan bendera Indonesia (Merah Putih) di kantor Gubernur pada tanggal 1 September 1945 oleh antara lain Barlan Setiadidjaja, Sulistio, Patah (ketiganya mahasiswa Kedokteran Gigi di  Surabaya) dan Abdoel Sjoekoer (yang kemudian adalah Ketua GASEMA Gabungan Sekolah Menengah dan Ketua IPI Ikatan Pelajar Indonesia di Jawa Timur). Dan di Tambak Sari itu Abdoel Sjoekoer turut pula berorasi sebagai wakil Pelajar Pejoang bersama Lukitaningsih dari Pemuda Wanita, yang kemudian berlanjut dengan peristiwa penurunan bendera Belanda (Merah Putih Biru) pada tanggal 19 September 1945 di Hotel Yamato eks Hotel Oranye lalu bereskalasi menjadi pertempuran asimetrik antara agressor Sekutu dilawan oleh rakyat Surabaya dalam 3 (tiga) tahap yaitu (1) Pertempuran Kota Pertama 28-30 Oktober 1945 sd tewasnya Jenderal AWS Mallaby, komandan Brigade 49 Sekutu, (2) Pertempuran Kota Kedua 10 Nopember 1945 selama lebih daripada 3 (tiga) minggu, (3) berlanjut Pertempuran Luar Kota a.l. di front Mojokerto dan front Malang.

Kepada rekan2 Generasi Penerus 45, mari kita sambut tanggal 17 dan 19 September 2011 ini dengan bersyukur dan memohon ke hadlirat Tuhan Yang Maha Kuasa, guna lebih memantapkan JSN45 terutama bagi energi perlawanan agar dapat merdeka dari Politik Koruptor.

Jakarta, 17 September 2011

Pandji R Hadinoto / Paguyuban Keluarga Pejoang 45 (PKP45) / DHD45 Jakarta

www.jakarta45.wordpress.com , indopkp45@yahoo.com , pakta45@yahoo.com

Said Aqil

Jumat, 25 November 2011 21:00 WIB
Said Aqil : Revolusi Perilaku Korupsi Melalui Semangat Hijriyah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pemimpin dan masyarakat Indonesia seharusnya dapat menjadikan momentum tahun baru hijriah sebagai usaha untuk melakukan perbaikan. Perilaku korupsi yang sudah melekat dengan pejabat dan birokrat di negeri ini harus dapat direvolusi secara moral melalui semangat dalam menyambut 1 Muharam 1433 H.

Demikian pendapat Ketua Pengurus Besar Nadhatul Ulama (NU), Said Aqil Siradj. ”Kita umat Islam yang pernah punya sejarah gemilang, seharusnya bisa mengembalikan lagi semangat tamadun yang pernah dibangun oleh Rasulullah,” kata Said Aqil.

Kang Said, demikian sapaan Said Aqiil, datangnya tahun baru Hijriah seharusnya bisa dijadikan momentum oleh umat Islam untuk bisa memperbaiki diri. ”Kalau masih ada pejabat atau pemimpin Muslim masih korupsi maka hal itu sama saja mencoreng martabat umat Islam secara keseluruhan,” ujarnya.

Ia mengajak para pemimpin di negeri ini untuk melakukan intropeksi diri terhadap segala perilaku korupsi. Namun demikian, ia juga menyerukan agar pemimpin dan umat Islam tetap optimis menatap masa depan Indonesia yang lebih baik.

Lebih lanjut Kang Said mengatakan, hikmah lain yang terkandung dalam hijrah Rasulullah ke kota Yastrib adalah beliau membangun peradaban, budaya, moral serta kebersamaan. Selain itu Rasul menata tatanan kehidupan di tempat baru itu dengan menjunjung hukum di atas segalanya. ”Jadi marilah kita berbenah diri,” katanya.

Redaktur: Johar Arif
Reporter: M Akbar

Hijrah ke Tdk Korupsi

Jumat, 25 November 2011 19:16 WIB
Hijrah dari Suasana Korupsi ke Tidak Korupsi

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA – Tahun baru Islam ditandai dengan peristiwa luar biasa, yakni hijrahnya Nabi Muhammad saw dari Makkah ke Madinah. Hal ini menjadikan Islam berkembang ke seluruh dunia.

“Ini merupakan makna secara fisik, sementara makna hakikinya yakni dari kegelapan ke terang atau ke sinar petunjuk Allah,” kata Sekretaris Majelis Ulama Indonesia DIY, KRT Ahmad Muhsin Kamaludiningrat, kepada Republika, Jum’at (25/11).

Ia mengatakan makna yang harus diperbarui dalam situasi bangsa Indonesia sekarang ini adalah harus dilakukan hijrah dari hal yang tidak baik ke yang baik, dari suana korupsi ke tidak korupsi, dari pornografi ke bukan pornografi, dan dari kehidupan yang tidak baik ke kehidupan yang baik.

“Kalau dalam pewayangan, hijrah Nabi Muhammad saw itu diadopsi sebagai sebelum goro-goro dan setelah goro-goro. Pendawa Lima itu sebelum goro-goro difitnah, dicacimaki, dihujat. Namun setelah goro-goro dipuji-puji. Sebagaimana Nabi Muhammad, ketika di Makkah dimaki-maki, difitnah, tetapi setelah di Madinah mendapat perlakukan yang baik,” jelas Muhsin.

Redaktur: Johar Arif
Reporter: Neni Ridarineni
Indonesia Harus Segera Hijrah dari Budaya Korupsi

Korupsi yang dilakukan aparat hukum dinilai memiliki dampak lebih berbahaya, ilustrasi

Hijrah Budaya Korupsi

Senin, 28 November 2011 00:10 WIB

Indonesia Harus Segera Hijrah dari Budaya Korupsi

REPUBLIKA, BOGOR–Bangsa Indonesia perlu segera hijrah dari budaya korupsi yang menggurita dan selalu menggerogoti kehidupan berbangsa, kata Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Bogor, Zainullah, Ahad.

Menurut dia, peristiwa hijrah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW 1433 tahun silam adalah bukan semata dalam arti pindah secara fisik dengan meninggalkan Kota Makkah menuju Madinah. Namun hijrah untuk merubah  masyarakat jahilillah atau bodoh menuju masyarakat yang  berakhlak dan beradab.

Menurut Zainullah, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini tidak ada tantangan yang lebih besar selain memerangi budaya korupsi. “Korupsi merupakan persoalan terbesar   bangsa ini. Korupsi telah menjadi budaya akut yang mengakar kuat. Karena itu harus diperangi dengan semua energi agar budaya ini bisa dikikis,” ujarnya.

Zainullah meyakini, bila budaya korupsi bisa dikikis, bangsa Indonesia akan mengalami lompatan kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan.

“Dalam berbagai indeks dan ranking skala global posisi Indonesia selalu berada di urutan bawah. Korupsi memberikan pengaruh besar atas sitausi yang dihadapi. Bila korupsi bisa diatasi, bangsa ini akan mengalami kemajuan yang lebih pesat,” ungkapnya.

“Kita harus segera hijrah dari budaya korupsi dengan melakukan perang dan pencegahan sejak dini, yang dimulai dari hal terkecil,” demikian Zainullah

Redaktur: Stevy Maradona
Sumber: Antara

GenerasiKhairaUmmah

Jumat, 25 November 2011 19:42 WIB
Sambut Tahun Baru Islam, Unissula Bentuk Pendidikan Karakter Menuju Generasi Khaira Ummah

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG – Menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1433 Hijriyah, Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang berkomitmen membentuk karakter mahasiswanya melalui pendidikan karakter. Adanya pendidikan karakter dipandang perlu untuk memajukan pendidikan.

Kompetensi saja dinilai tidaklah cukup untuk mendorong sebuah universitas menjadi terkemuka. Pasalnya hampir setiap perguruan tinggi di dunia memiliki karakternya masing-masing. Untuk itu, Unissula menggelar “Halaqah Ulama untuk Pembangunaan Karakter Bangsa Melalui Pendidikan” yang akan digelar Selasa (29/11).

Rektor Unissula, Profesor Laode M Kamaluddin, mengatakan pendidikan karakter ini diharapkan mampu melahirkan generasi khaira ummah (generasi terbaik). “Generasi terbaik adalah generasi yang menyerhakan seluruh kegiatannya sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT,” ujarnya saat ditemui Republika di Kantor Rektorat Unissula, Jumat (25/11).

Khaira ummah selalu mempunyai inovasi-inovasi baru dengan melakukan seuatu yang produktif serta  menghindarkan diri dari semua perbuatan yang tidak produktif. Menjadi terbaik tidak hanya berhenti di dunia, tetapi juga harus menjadi bentuk pengabdian kepada Allah SWT.

“Jadi kalau kita mema’rufkan dunia dan menghindarkan diri dari perbuatan yang tidak produktif , ini merupakan bagian dari amal sholeh,” kata Laode. Inilah yang sebetulnya menjadi ciri generasi khaira ummah, sesuai dengan motto Unissula “Bismillah Membangun Generasi Khaira Ummah.”

Pendidikan karakter ini akan dimulai dari merumuskan berbagai ulama mengenai definisi dari karakter itu sendiri. Untuk itu, dalam kegiatan halqah tersebut diundang para ulama Salaf dan ulama Indonesia dari berbagai pesantren modern yang mempunyai otoritas dan berhasil membuktikan karakter pada pesantren yang dikelolanya.

Nantinya para ulama ini akan memberikan pencerahan dan perumusan mengenai pendidikan karakter. Diantaranya yang hadir yakni KH Syukron Makmun dari Jakarta, KH Haris Shodaqoh dari Semarang, KH Dimyati Rois dari Kendal, H.A. Muhith dari Jakarta dan KH Maimun Zubair dari Rembang. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Muhammad Nuh, juga akan hadir dalam acara ini sebagai pembicara.

Redaktur: Johar Arif
Reporter: Qommarria Rostanti
Republika/Imam Budi Utomo

Tahun Baru Islam Momentum Perbaiki Diri dan Bangsa

Sejumlah santri korban penyalagunaan narkotika dan kenakalan remaja berzikir dalam rangka memperbaiki diri.

Tahun Baru Islam

Jumat, 25 November 2011 19:34 WIB
Tahun Baru Islam Momentum Perbaiki Diri dan Bangsa

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH Syamsul Hadi Abdan, menyatakan tahun baru Islam perlu dimaknai sebagai momentum memperbaiki akhlak. Saat ini Umat Islam sudah tersebar di seluruh penjuru dunia, namun akhlak mereka belum tentu bersifat ‘mahmudah’.

“Mari sama-sama kita tingkatkan kualitas akhlak kita,” jelasnya, saat dihubungi, Jumat (25/11). Dia mengatakan akhlak Umat Islam haruslah mencontoh Rasulullah, karena beliau diciptakan dan dikirim ke muka bumi sebagai suri tauladan atau uswatun hasanah bagi alam raya.

Menurutnya, seseorang perlu memaknai hijrah sebagai momentum untuk mengevaluasi apa yang pernah dilakukannya. Jika seluruh muslim melakukan ini, jelasnya, maka dipastikannya tidak ada kejahatan yang merugikan negara. “Ini momentum memperbaiki diri, sekaligus bangsa,” jelasnya.

Ia mengatakan inilah momentum untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang universal, diagungkan di dunia dan akhirat. Perayaan tahun baru Islam disarankannya dijadikan momentum untuk berzikir mengagungkan keesaan Tuhan.

Redaktur: Johar Arif
Reporter: Erdy Nasrul

Tahun Baru Islam

Jumat, 25 November 2011 19:23 WIB
Masyarakat Kurang Sadari Pentingnya Tahun Baru Islam

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Masyarakat Indonesia dinilai kurang menyadari pentingnya tahun baru Islam. Hari raya yang jatuh pada awal Muharram itu seharusnya disadari betul manfaatnya sebagai momentum evaluasi diri dan evaluasi kebangsaan agar dapat bangkit dari keterpurukan dan menjadi lebih baik.

“Saat ini masyarakat, terutama umat Islam, masih harus dipompa semangatnya agar menjadi lebih baik,” jelas Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, Marwan Ja’far, saat dihubungi, Jumat (25/11).

Dia mengatakan ada beberapa gejala bahwa masyarakat kurang memperhatikan pentingnya perayaan tahun baru Islam. Pertama, kurang semaraknya aktifitas kerohanian untuk evaluasi diri untuk menghadapi tahun baru. Padahal, hal ini penting untuk mengamalkan pesan Rasulullah bahwa masyarakat harus berbuat lebih baik dari hari sebelumnya. Kegiatan ini dianggap tidak menarik dan kalah pamor dengan kegiatan-kegiatan keduniaan yang bersifat hedonistik, seperti berpesta, hura-hura, dan lainnya.

Kedua, umat Islam terlalu egois memikirkan dirinya sendiri. Kalaupun bersosialisasi, mereka berkelompok dan sektoral sehingga mengabaikan kelompok lainnya. Dia mengatakan sikap sektoral perlu dihilangkan agar masyarakat dapat membaur tanpa membedakan ras dan agama. “Semuanya harus menyatu untuk menunjukkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.”

Ia menghimbau masyarakat untuk memanfaatkan momentum tahun baru Islam untuk memikirkan apa yang sudah disumbangkan untuk pembangunan bangsa. Umat Islam harus mampu bersinergi dengan siapa pun untuk dapat berkontribusi melalui wirausaha atau dengan gagasan kreatif yang tidak dimiliki negara lain dalam bidang pembangunan.

Redaktur: Johar Arif
Reporter: Erdy Nasrul

Oleh : Usup Supriadi (Mahasiswa, Blogger dan Penulis. Tinggal di Bogor)

Tahun Baru Momentum Pembaruan Peradaban yang Beradab

Semalam (24/11) saya menyaksikan sebuah siaran ulang diskusi tentang pendidikan dan penyiaran di sebuah stasiun televisi lokal, salah satu hal yang diperbincangkan ialah soal karakter bangsa. Ya, pendidikan karakter saat ini memang tengah gencar-gencarnya diusung oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Dan salah satu masalah yang mencuat ialah soal apa itu karakter bangsa? Hampir kesemua narasumber memiliki cara pandangnya sendiri, namun kemudian sepakat kepada satu patron normatif bahwa karakter bangsa itu harus merujuk kepada tujuan berdirinya Indonesia sebagaimana ada pada pembukaan undang-undang dasar tahun 1945.

Setidaknya hal tersebut menjadi jalan tengah sejauh ini. Sebab bicara karakter bangsa maka karakter dari manusia Indonesia yang manakah? Saya rasa jawabannya tidak sulit jika saja kita bisa memiliki pola pikir yang sehat terhadap sejarah di negeri ini. Alhamdulillah, saya memberikan apresiasi yang tinggi kepada pemegang blog Serba Sejarah yang tetap teguh dalam upayanya memberikan terang atau cela agar kita mau berpikir dan berzikir.

Saya kira, menjelang tahun baru Islam, ini adalah momentum bagi umat Islam untuk melakukan pembaruan atas segala hal yang terjadi, khususnya pada dirinya sendiri, terlebih terhadap umat dan tempat dimana umat berada saat ini: Indonesia. Sebab, Allah berfirman: “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)“. (QS. Ali Imran: 140).

Salah satu faktor penyebab digilirkannya sebuah peradaban ialah tingkah laku para penduduk suatu negeri, misalnya sikap boros, hidup bermewah-mewah di tengah berlimpahnya rakyat jelata yang tak sejahtera, penguasa yang tidak adil pada rakyat, dan sebagainya. Dan itu semua, tidak serta-merta ulah satu dua individu saja, tapi lebih kepada efek domino sikap latah bangsa ini terhadap patron-patron asing yang kebanyakan menyesatkan.

Apakah ini karakter manusia Indonesia, mudah silau atau latah terhadap sesuatu yang ada di pihak asing, mereka merah kita merah, mereka ambil langkah kiri, kita ambil langkah kiri, jangan-jangan, mereka jatuh, pasti kalau kita menjadi pembebek sudah pasti akan jatuh juga, hanya masalah waktu saja. Untuk itu sudah saatnyalah, kita sebagai manusia Indonesia berbenah diri, melakukan hijrah ke arah yang lebih baik, menghasilkan sebuah peradaban yang beradab. Sebab yang lebih penting dari sebuah karakter ialah dirinya harus beradab! Tentu saja, tidak semua apa yang ada di pihak asing itu buruk. Hanya saja, budaya menelan mentah-mentah itu janganlah dibiasakan!

Kita sebagai umat Islam patut berbangga dan seharusnya jangan malah minder, kita memiliki banyak teladan yang baik dan beradab, meskipun banyak di antara mereka sejarahnya masih diliputi kabut buatan. Dan, Api Sejarah, sebuah buku yang telah berupaya sedikit banyak menyingkap kabut tersebut. Nyatalah bahwa sejarah kita ya sejarah Islam. Hanya saja, karena doktrin sejarah palsu yang sudah terlanjur mengakar dan sampai saat ini masih dipertahankan, banyak dari orang-orang yang memang tidak sehat akalnya, malah menyudutkan Islam, saya sempat baca sebuah pemeo, kok semua pahlawan dianggap Islam. Itu adalah salah satu risiko.

Bagaimana pun kebenaran harus diungkap, walaupun ada yang bilang bahwa fakta tak harus semuanya menjadi konsumsi publik. Memang benar, contohnya tawuran yang kerap terjadi antar mahasiswa itu fakta tapi lebih baik janganlah terus ditayangkan berulang-ulang! Atau demo rusuh, janganlah hanya rusuhnya saja yang disorot, sedangkan substansi dari demo itu tidak terungkap.

Semua memang membutuhkan perjuangan yang tidak singkat, semuanya butuh tahap, dan memang Rasulullah sendiri, tidaklah serta merta dalam mendirikan sebuah negara kota, yakni Madinah yang memiliki peradaban yang beradab, tapi dengan beberapa tahap, termasuk upaya menggandeng kaum Yahudi dan Nasrani pada saat itu yang memang sudah ada di Yastrib.

Janganlah kita sebagai umat Islam malah fobia terhadap Islamisasi, sungguh terkesannya “isasi” itu selalu terkesan memaksa, sebenarnya fakta sejarah menyatakan berbedanya antara Islamisasi dan Westernisasi. Contoh kasus, Islamisasi Spanyol, menghasilkan peradaban yang luhur, tanpa upaya mengambil apa yang ada di Spanyol ke pusat kerajaan Islam pada saat itu, malah justru memakmurkan Spanyol, namun orang-orang yang buta mata hatinya karena motif agama dan politik malah menyerang pihak yang memberikan kemakmuran tersebut.

Berbeda dengan Westernisasi, contoh paling kentara misalnya, Belanda, mereka benar-benar “isasi” yang menjajah, dan selalu ada udang di balik batu! Atau Amerika Serikat, misalnya. Dan, adalah aneh, jika Indonesia yang punya berlimpah sumber daya alam ini, bisa dikatakan lebih miskin dibandingkan dengan Singapura. Ini semua karena sumber daya manusia di negeri ini malah ngikut para tukang pukul ekonomi dari bank dunia, dan lembaga keuangan internasional lainnya, seolah-olah kalau kita ikut mereka, negera kita akan makmur. mana buktinya. Kita adalah pemilik sah republik ini, kita jelas tahu yang terbaik, hanya saja beranikah kita melawan arus gelombang tua?

Mulailah dengan semangat tahun baru kita melihat diri-diri kita, dan langkah agar terlahirnya sebuah peradaban yang beradab lagi berkarakter ialah dengan kembalinya kita kepada tradisi ilmu pengetahuan Islam yang gemilang. Jika pun ada sesuatu dari Barat, maka dengan ilmu yang ada kita takar, apakah baik atau tidak bagi bangsa ini.

Selamat berhijrah, selamat berhaji, hijrah dan haji dua hal yang baru dikatakan berhasil apabila ada perubahan ke arah yang lebih baik dari sebelumnya. Dan Allah tentu tidak akan menyia-nyiakan upaya berpahala setiap hamba-Nya yang bertakwa, malah jika penduduk suatu negeri bertakwa berkah akan berlimpah. Selamat menjadi pembaru bagi diri-diri kita. Dengan memohon rida Allah, semogalah akan ada perbaikan pada diri kita serta bangsa Indonesia ini.

*********

~ Hatur tararengkyu buat kang Usup Supriadi ;) yang telah berpartisipasi dalam proyek ” Yuuk! Menulis Sejarah dan Muharram“.

* Gambar “mutilasi karakter bangsa” dari politikana.com

Oleh : Irma Zain (Mahasiswi Keperawatan Universitas Padjadjaran)

Goes to 1 Muharram 1433 H

Tahun Baru Hijriyah mengingatkan semua memori kita pada lembar peristiwa sejarah bertinta emas akan perjalanan Rasulullah dan para sahabat dalam melalui pintu gerbang hijrah serta menggugah pendengaran, penglihatan, dan qolbu semua mukmin untuk mendengar, melihat, dan merasakan betapa seriusnya Ummat pada masa lalu dalam melepaskan-mencampakkan-membuang jauh-jauh daki-daki kegelapan jahiliyah.

Hijrah Rasulullah dan para sahabat memiliki dua makna. Secara makani (fisik) artinya hijrah secara fisik, berpindah dari suatu tempat yang kurang baik menuju yang lebih baik, dari negeri kafir menuju negeri Islam. Adapun secara maknawi artinya berpindah dari nilai yang kurang baik menuju nilai yang lebih baik, dari kebatilan menuju kebenaran, dari kekufuran menuju keislaman; dari kegelapan tanpa cahaya petunjuk kepada cahaya tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Makna terakhir ini, oleh Ibnu Qayyim bahkan dinyatakan sebagai al-hijrah al-haqiqiyah (hijrah sejati). Alasannya, hijrah fisik adalah refleksi dari hijrah maknawi itu sendiri. Secara makani (fisik), faktanya Hijrah Rasulullah saw dan para sahabat berjalan dari Mekah ke Madinah menempuh padang pasir sejauh kurang lebih 450 km sedangkan secara maknawi jelas mereka hijrah demi terjaganya kesucian misi Islam.

Al-Qathani menyatakan bahwa hijrah sebagai urusan yang besar. Hijrah berhubungan erat dengan al-wala’ wal-bara’ (loyalitas dan berlepas diri). Bal hiya min ahammi takaalifahaa, bahkan ia termasuk manifestasi (muwalah) yang paling penting. Penting, karena menyangkut komitmen dan sikap seorang muslim dalam memberikan kesetiaan dan pembelaan pada Diennya. Juga menyangkut komitmen dan sikap seorang muslim dalam menampakkan penolakan dan permusuhan kepada yang patut dimusuhi.

Peristiwa Hijrah dijadikan penanda peralihan tahun dalam kalender Islam. Kali ke- seribu-empatratus-tigapuluhtiga umat Islam melewati masa yang terus berganti; detik, menit, hari, bulan, tahun ke tahun dengan berbagai kondisinya, menyadarkan bahwa pergantian masa merupakan alat ukur untuk mengevaluasi kemajuan diri kita. Karena memang kita diajarkan untuk itu, seperti tercermin dalam firman Allah SWT dalam QS. Al-‘Ashr : 1-3. Rasulullah SAW sendiri bersabda, “Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan baik amalannya, dan sejelek-jeleknya-jeleknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan jelek amalannya” (HR. Ahmad).

Genggam waktu dan raih prestasi !

Secara syariat, siang dan malam itu terdiri dari 24 jam. Seberapa besar seorang mukmin muslim mampu mengggunakan waktu yang telah disediakan Allah tersebut? Jauh 1400an tahun lalu, para sahabat Nabi Muhammad SAW yang menjadi balatentara Islam ketika itu mampu menaklukkan dua imperium adidaya, Romawi  dan Persia, yang balatentaranya amat kuat dan perkasa. Resepnya ternyata tersimpul dari pengakuan penuh kekaguman dari seorang anggota dinas intelijen Romawi setelah melakukan kegiatan mata-mata di Madinah. Kepada Kaisar Romawi ia mengutarakan kesannya tentang watak kaum Muslimin, “Ruhbananun bil-laili, firsaanun bin-nahar! Bila malam mereka tak ubahnya seperti rahib, sedangkan di siang hari sungguh bagaikan singa!”. Siangnya habis-habisan memaksimalkan potensi untuk berkarya, bekerja dengan jiwa yang kuat demi menggapai Ridha Rabbul ‘Izzati, malamnya bersimpuh memohon ampunan serta bimbingan Sang Penggenggam Hidup & Kehidupan untuk merencanakan dan melewati hari esok yang lebih baik, menampakkan betapa kotor dan lemahnya setiap jiwa dan langkah tanpa PetunjukNya.

Para sahabat diberikan waktu 24 jam sehari, begitupun dengan kita! Jika diibaratkan dalam sebuah lomba balap sepeda, ketika pistol diletuskan tampaknya orang yang menjadi juara dalam balap sepeda tersebut adalah orang yang dalam detik yang sama bisa mengayuh sepedanya lebih cepat daripada yang dilakukan oleh orang lain, sehingga calon pemenang akan melesat melalui pembalap yang lain karena energi yang dipergunakan dan ketepatan gerakannya lebih baik daripada detik yang sama yang dilakukan lawan-lawannya. Artinya, keunggulan itu sangat dekat dengan orang yang paling smart dalam memanfaatkan waktunya.

Islam adalah Dien yang paling dominan mengingatkan kita kepada waktu. Allah berkali-kali bersumpah dalam Al-Quran berkaitan dengan waktu. “Wal’ashri” (demi masa/waktu), “Wadhdhuha” (demi waktu dhuha), “Wallaili” (demi waktu malam), “Wannahaari” (demi waktu siang), “demi waktu fajar dan malam sepuluh”… Allah pun mendisiplinkan kita agar ingat terhadap waktu minimal lima kali sehari semalam; maghrib, isya, subuh, dzuhur dan ashar. Belum lagi tahajjud pada sepertiga malam dan shalat dhuha ketika matahari sepenggalahan naik. Apakah 24 jam yang dititipkan sementara pada kita sudah kita gunakan sebagaimana mestinya semampu diri kita sesuai dengan prosedurNya? apakah 24 jam yang dititipkan sementara pada kita sudah kita isi dengan perbaikan-perbaikan sehingga semakin meningkatkan kualitas iman terus-menerus seiring berjalannya muharram ke muharram? Sejauh mana kita sudah berhijrah, menuju sedekat-dekatnya jalan yang haq, meninggalkan sejauh-jauhnya jalan yang bathil.

Genggam waktu dan raih prestasi. Perubahan merupakan sebuah prestasi. Tentu saja perubahan ke arah yang lebih baik. Kita berpacu dengan waktu. Satu desah nafas adalah satu langkah menuju maut. Rugi bahkan celaka jika kita hanya banyak angan dan impian namun tidak bersegera beramal. Bermimpi masuk surga dan sejahtera kehidupannya namun tidak bersegera berubah memperbaiki diri. Muslim meriwayatkan sabda Rasulullah SAW dari Abu Hurairah yang cukup menyentil betapa perjalanan hidup ini penuh terurai lalai dan dosa “Segeralah kamu beramal, sebelum timbul fitnah (kekacauan, kebinasaan) seperti sepotong malam yang gelap gulita, dimana seseorang diwaktu pagi masih beriman sedangkan diwaktu sore telah menjadi kafir. Atau diwaktu sore masih beriman sedang diwaktu pagi telah menjadi kafir. Dijualnya Diennya karena mengharapkan sedikit keuntungan duniawi.

Matahari berubah, bergeser dari timur ke barat setiap hari. Kalender yang tergantung di dinding terus berubah, bergeser dari tahun satu ke tahun berikutnya. Nasi yang senantiasa kita makan pun berubah, dari tanaman padi kecil yang hijau menjadi menguning, menjadi beras, nasi, dan bisa jadi basi. Bahkan setiap sel darah merah berubah, mengikat oksigen-oksigen baru yang kita hirup untuk nantinya oksigen juga berubah, membakar sel-sel mati di setiap divisi dalam tubuh kita yang berkepentingan untuk diciptakan kembali sel yang baru lagi. Hidup akan terus berlangsung jika ada perubahan. Berubah menjadi sebuah syarat mutlak diri yang hidup. Hidup dalam arti yang sebenarnya, dalam rangka meningkatkan kualitas iman di hadapan Penguasa-Pengatur-Pencipta alam semesta beserta isinya. Wallaahu a’lam bish Shawab.

“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang. Dan bersiap-siaplah untuk pertunjukkan yang agung (hari kiamat). Di hari itu kamu dihadapkan kepada pemeriksaan, tiada yang tersembunyi dari amal kalian barang satu pun” (Umar al-Faruq r.a)

*Referensi penunjang:

Catatan : Sebasejarah akan memposting secara bertahap kiriman tulisan dalam acara : Yuuk! Menulis Sejarah dan Muharram, yang tentunya hasil dari seleksi kelayakan menurut penilaian kami…. Hatur tararengkyu atas segala partisipasinya.

Petisi45 : Sumpah Pemuda GASAKNAS 2009

Dalam rangka turut serta membangun Indeks Persepsi Korupsi Indonesia (IPKI) agar supaya berada pada peringkat papan atas skala dunia, maka berdasarkan amanat Pembukaan Undang Undang Dasar 1945 tentang Kedaulatan Rakyat dan Semangat Bela Negara Pasal-30 Undang Undang Dasar 1945 [Lembaran Negara Republik Indonesia No. 75, 1959, yang belum bernah dinyatakan tidak berlaku] serta Strategi 7 Ketahanan Bangsa, kami dibawah ini, yang peduli wawasan Indonesia Mulia dan Bermartabat melalui Gerakan Anti Suap Anti Korupsi Nasional (GASAKNAS), bersama ini, mengajak segenap komponen anak bangsa, sosialisasikan :

Pembudayaan BIJAK (Bina Jiwa Anti Korupsi)

yakni yang mencakupi antara lain (1) 9 Pusaka Bangsa Indonesia, (2) 123 Tatanilai Kearifan Lokal, (3) Kebangkitan Jiwa Benteng Pancasila, (4) Pekik MERDEKA (MERaih DEmokrasi Kerakyatan yang Amanah), (5) Sikap BUNG (Berjoang Untuk NeGara), (6) Tekad PETA (PEjoang Tanpa Akhir), (7) Semangat Perang Rakyat Semesta, (8) 7 Resolusi Sumpah Pemuda 2008, (9) Seruan Gasak Koruptor, Gasak Khi MunaJat (Khianat, Munafik, Jahat), demi terciptanya peta jalan penguatan daya tangkal nuraniah niatan Suap dan Korupsi atau anti moral hazard, sekaligus penguatan pro sistim Pemerintahan Bersih di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Jakarta, 12 Oktober 2009

FRONT DAULAT RAKYAT MERDEKA,

(1).Pandji R Hadinoto, GASAKNAS 2005, BarPETA, GAPI, (2).Hadori Yunus, KelBes Marhaenis, (3).Johanes Judiono, (4).Igbal Daut, GASAKNAS 2005, (5).Sri Rosalinda, GAPI, LST, (6).Romo Doesjanto, GAPI, (7).Awaluddin Ardiwijaya, Koran Integritas, (8).Jhon Huda, GAPI, (9).Bilung, GAPI, (10).Johanes Sandjaja Darmawan, HPPEL, (11).Juliaman Saragih, KelBes Marhaenis, (12).Mahyudin Nawawi, GIM, (13).Suwandi Mislah, GJL, (14).Irwan Lubis, LKBH45, MasBETA, (15).M.Zulfi Azwan, KMS, (16).Ery Monarfa, GAPI, (17).Ignatius Tricahyo, MBP, (18).Permadi, (19).Pribadio, (20).Sumardi Asmara, FRPI, (21).Verry Lioe N.L, Koran Integritas (22).Rafeldi, Garda PETA, (23).M Irenes F Kotambonan, GAPI, IPSBI, (24).Uyung, KPPP, (25).Sapto W Samudro, MBP (26).DP Yoedha, BENDERA, (27).Gus Nuril, (28).H. Arnauly Aminullah, BIP45, (29).Gigih Guntoro, FKPI, (30).Tita Wandana, GAPI, (31).Alson, ATN973, Info Publik (32).Lili Wahid, (33).Empu Pitrang Susilo, CedSos, (34).Muslim Arbi, GERRAM (35).Ucok Syafti Hidayat, BENDERA, (36).Decy Widhiyanti, IPSBI, (37).Siti Nurul, IPSBI, (38).Aina Sumantri, IPSBI, (39).Bertania Kristiono, GAPI, (40).Muldawar Bonar Harahap, PPM, BarPETA (41).Ading Sutisna, LKPPI, (42).Sulistio Pambudi Utomo, FRJ, (43).H Jailani, GASAKNAS 2005, (44).Surya Hadjar, FBN, (45).Titi Laksanawati, GASAKNAS 2005.

Sekretariat :

Blok UA22, Plaza Pondok Indah I, Jakarta Selatan 12310, eMail : gasaknas@yahoo.com

Korupsi & Utang Euro

Kamis, 1 Desember 2011 23:16 WIB |

Korupsi Perburuk Krisis Utang Euro

Bayangan seorang pria terlihat di papan elektronik yang menunjukkan indeks saham di sebuah bank di pusat kota Milan, Italia, yang memiliki ekonomi terbesar ketiga di zona euro namun masalah utangnya menjadi ancaman besar bagi krisis mata uang tunggal benua tersebut. (REUTERS/Paolo Bona)

“Ada hubungan kuat antara kinerja yang buruk dalam hal persepsi korupsi dan masalah yang lebih luas di sekitar tata kelola ekonomi.”

Berita Terkait
Video

Berlin (ANTARA News/AFP) – Korupsi menghambat upaya untuk mengatasi krisis utang zona euro, sebuah badan pengawas anti-korupsi terkemuka Kamis mengatakan, ketika Yunani dan Italia membuat skor lebih buruk dalam daftar negara-negara yang dipandang paling sarat pekerjaan buruk, demikian laporan Transparency International (TI).

Drama ekonomi di kawasan euro berkembang “sebagian karena kegagalan otoritas publik mengatasi penyuapan dan penggelapan pajak yang merupakan pendorong utama krisis utang,” catat lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang berkantor pusat di Berlin, Jerman, itu.

Pada skala nol (dianggap sangat korup) sampai 10 (dianggap memiliki sedikit korupsi), Italia dan Yunani mencetak skor 3,9 dan Yunani 3,4, masing-masing peringkat 69 dan 80 dalam daftar 182 negara.

Robin Hodess, direktur riset TI, mengatakan bahwa krisis zona euro “mencerminkan manajemen keuangan yang buruk, kurangnya transparansi dan salah urus dana publik.”

“Ada hubungan kuat antara kinerja yang buruk dalam hal persepsi korupsi dan masalah yang lebih luas di sekitar tata kelola ekonomi,” ujar Hodess kepada AFP.

Ketika korupsi menyebar luas, “orang merasa cubitan di semua tingkatan,” katanya, menyerukan Roma dan Athena untuk berbuat “jauh lebih banyak” dalam memerangi korupsi.

Pemerintah “perlu fokus pada bagaimana dana publik dikelola dalam negara,” tambah Hodess, mengatakan bahwa baik korupsi skala besar maupun skala kecil harus diperangi.

Secara global, Somalia dan Korea Utara yang dicabik perang, bersama berada dalam daftar paling bawah, dianggap negara-negara yang paling korup di dunia dengan skor 1,0.

Irak naik beberapa tempat dalam daftar, tetapi masih dekat ke bawah pada 175 dan Afghanistan tetap berakar di 180 meskipun berupaya untuk mengekang suap dan korupsi di sana. Libya berada di posisi 168.

Sebagian besar negara-negara “Arab Spring” berperingkat di setengah bagian bawah indeks, mencetak skor empat.

TI mengatakan, pihaknya telah memperingatkan sebelum revolusi di wilayah yang “nepotisme, penyuapan dan patronase begitu mendarah daging dalam kehidupan sehari-hari bahwa sekalipun ada undang-undang anti-korupsi memiliki pengaruh yang kecil.”

Di bagian lain, yang lebih bajik, akhir dari skala, Selandia Baru menduduki peringkat teratas dengan skor 9,5 poin, datang persis di depan Denmark, Finlandia, Swedia dan Singapura.

Hampir dua pertiga dari negara yang tercantum memiliki skor kurang dari lima, menunjukkan, menurut TI bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan dalam memerangi korupsi.

“Tahun ini, kita telah melihat korupsi pada spanduk demonstran mereka yang kaya atau miskin,” kata Kepala TI, Huguette Labelle.

“Apakah di Eropa yang dilanda krisis utang atau dunia Arab yang memulai era politik baru, para pemimpin harus mengindahkan tuntutan untuk pemerintahan yang lebih baik,” ujarnya.

Prancis dan Jerman, yang banyak mencari solusi untuk krisis zona euro, mencetak skor relatif baik, masing-masing datang di peringkat 25 dan 14.

Amerika Serikat (AS) adalah satu tempat di atas Prancis, sementara rekan lokomotif global China menempati urutan ke-75. Rusia salah satu negara terburuk dalam daftar, berada di posisi 143 dengan skor 2,4 poin.

Survei “menggunakan data dari 17 survei yang melihat faktor-faktor seperti penegakan hukum anti-korupsi, akses terhadap informasi dan benturan kepentingan. Korupsi terus mengganggu terlalu banyak negara di seluruh dunia,” demikian catatan TI.
(Uu.A026/A023)Editor: Priyambodo RH

COPYRIGHT © 2011

 

Advertisements

1 Response to “PAKTA (Pejuang Anti Korupsi Tanpa Akhir)”


  1. November 27, 2011 at 3:41 pm

    salut PAKTA Indonesia !

    KORUPSI SUDAH MEMBUDAYA ? ?
    sdh puluhan tahun “BUDAYA” KKN, MARK UP, MEREKAYASA MENANG LELANG (walau bukan perusahaan yg relevan) kemudian pemenang lelang menjual dg nilai 60-80% kpd perusahaan yg relevan dan mampu merekayasa pula..

    di lain pihak, selain MELURUSKAN PELAKSANAAN KONVERSI HAK TANAH secara MURNI & KONSEKUEN sbgmn diamanatkan Ps Isd Ps IX UU No 5/1960 : UUPA…yg LEBIH STRATEGIS SANGAT URGEN adalah AMANDEMEN

    UUD’45 utk mengukuhkan bw INDONESIA MENGANUT PRINSIP-PRINSIP NEGARA KEPULAUAN (ARCHIPELOGIC STATE) sbgmn tgl 13 des 1957 telah DIDEKLARASIKAN oleh ir DJOEANDA KARTAWIDJAJA shg NK(keulauan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,927,249 hits

Archives

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Advertisements

%d bloggers like this: