07
Nov
11

Lingkungan : Jakarta Segera Tenggelam

Senin, 07/11/2011 09:43 WIB

Seram! Jakarta Segera Tenggelam

Ambles & Klelep

M. Rizal – detikNews

Setelah Ambles, Jakarta Bakal Klelep


Jakarta – Musim hujan datang. Tidak hanya banjir mengancam Jakarta, tapi tanah ambles juga mengancam. Secara perlahan tapi pasti, Jakarta juga bakal tenggelam. Seram!

Akhir-akhir ini makin banyak saja wilayah Jakarta yang ambles. Belum lama ini, Jalan Pluit Indah Raya, tepat di depan Mega Mall Pluit, Jakarta Utara, ambles. Amblesan yang terjadi pada September 2011 itu membentuk lubang berdiameter sekitar 1 meter lebih dengan kedalaman hampir 2 meter.

Sebelumnya, akhir Juli 2011 tanah di kawasan Kelurahan Rawajati, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan juga ambles. Akibatnya, 21 rumah penduduk di RW 4 Kelurahan Rawajati rusak berat. Bahkan, pagar pembatas antara warga dan Apartamen Kalibata City setinggi dua meter juga ikut ambles.

Tahun sebelumnya,16 September 2010 pukul 03.15 WIB, Jalan Raya RE Martadinata yang menghubungkan Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara menuju arah Kota pun amblas. Jalan yang bertepatan dengan sungai itu amblas sedalam 7 meter dengan panjang patahan sekitar 103 meter. Penyebab amblasnya tanah di jalan itu diperkirakan akibat pengikisan air laut.

Pada 2008, sejumlah bangunan di Jakarta juga mulai ambles. Sebut saja gedung Sarinah dan gedung Badan Pengkajian dan Penyerapan Teknologi (BPPT) di Jalan MH Thamrin.

Kawasan MH Thamrin-Sudirman memang termasuk wilayah yang diperkirakan Walhi DKI Jakarta akan ambles. Selain itu kawasan rawan lainnya adalah segitiga Kuningan dan Sudirman Central Bussines District (SCBD).

Amblesnya tanah di sekitar MH Thamrin ini diakibatkan meningkatnya intensitas pembangunan properti di kawasan bisnis itu sejak 2007. Bangunan miring atau retak di Jakarta disebabkan struktur tanah tidak terkonsolidasi sehingga terdapat rongga.

“Ini akibat sirkulasi air tanah tidak seimbang, lebih besar air tanah yang disedot ketimbang air hujan yang terserap ke dalam tanah,” kata Direktur Eksekutif Walhi DKI Jakarta Ubaidillah kepada detik+.

Sejauh ini sejumlah lembaga terkait belum memiliki data yang sama berapa persisnya angka amblesan tanah di Jakarta. Namun yang jelas setiap tahun data amblesan makin mencemaskan karena terus meningkat.

Walhi Jakarta menyebutkan rata-rata amblesan tanah mencapai 10 cm per tahun. Dari semua wilayah yang ada, titik terbanyak rawan genangan dan penurunan tanah berada di wilayah Jakarta Utara sebanyak 26 lokasi.

Data Walhi DKI Jakarta, penurunan muka tanah (land subsidence) dari periode 1982-1997 mencapai 20 cm dalam waktu 15 tahun. Periode 1997-2007 mencapai 18-26 cm dalam waktu 10 tahun.

Sedangkan data Konsorsium Jakarta Coastal Defence Strategy (JCDS) menyebut pada periode 1974-1990 land subsidence di wilayah utara Jakarta sekitar 3-5 cm per tahun. Beberapa studi dan pengamatan belakangan menunjukkan angka yang lebih besar. Di Jakarta Utara diindikasikan terjadi land subsidence sekitar 5-10 cm per tahun.

Dalam kurun waktu 1974-2010 telah terjadi penurunan permukaan tanah di wilayah Jakarta hingga 4,1 meter. Ini khususnya terjadi di wilayah Muara Baru, Cilincing, Jakarta Utara.

Penurunan serupa juga terjadi di sejumlah wilayah lain, seperti di Cengkareng Barat setinggi 2,5 meter, Daan Mogot 1,97 meter, Ancol 1,88 meter (titik pantau di area wisata Ancol), Cempaka Mas 1,5 meter, Cikini 0,80 meter, dan Cibubur 0,25 meter.

JCDS juga menyebutkan ada 7 jembatan ambles, yakni jembatan Kamal Muara, Mangga Dua, Ancol, Pluit, Pantai Mutiara, Gunung Sahari dan Mangga Besar.

“Sering perbedaan tersebut disebabkan, karena perbedaan metode pengamatan, Bench Mark (BM) yang diacu dan karakter dari titik yang diamati seperti apakah karena baru ditimbun atau merupakan jalan raya dan sebagainya,” terang Sawarendro, konsultan dari Belanda yang menjadi anggota JCDS.

Ketua Umum Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Lambok M Hutasoit membenarkan adanya amblesan tanah di Jakarta yang bisa mencapai belasan cm per tahunnya. Hanya saja, menurutnya, kasus amblesnya Jalan RE Martadinta di Jakarta Utara tidak secara otomatis disebut sebagai amblesan tanah.

“Karena kejadiannya cepat, tidak seperti land subsidence yang cukup lambat. Amblesnya jalan itu kemungkinan diakibatkan oleh faktor lain seperti erosi sungai atau erosi gelombang laut,” terang Lektor Kepala Bidang Hidrogeologi Institut Teknologi Bandung (ITB) ini kepada detik+.

Diakui Lambok, sampai saat ini IAG belum memiliki data yang bisa diverifikasi menyangkut amblesan tanah di Jakarta. “Kita belum memperivikasi data soal ini. Hanya saja, berdasarkan pengukuran ahli geodesi, land subsidence terbesar terjadi di daerah utara Jakarta, yaitu di sekitar Cengkareng, Kemayoran, dan Kelapa Gading, dengan amblesan maksimum telah mencapai 2 meter,” kata Lambok.

Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakorsutanal) juga mengakui adanya penurunan permukaan tanah di Jakarta. Adanya data tinggi yang didapatkan dari pengamatan sifat datar teliti dan GPS yang dilakukan selama penelitian, menunjukkan turunnya permukaan tanah di satu wilayah bervariasi secara spasial dan temporal.

Dari data 1982-1991 penurunan permukaan tanah terbesar terjadi di lokasi Cengkareng dengan laju penurunan 8,5 cm per tahun. Pada 1991- 1997 terjadi di Kwitang dengan laju penurunan 14,8 cm per tahun, 1997-1999 terjadi di Daan Mogot dengan laju penurunan 31,9 cm per tahun.

Dari data tinggi hasil pengamatan GPS Desember 1997- Juni 1999, penurunan terbesar terjadi di Pantai Indah Kapuk dengan laju penurunan 11,5 cm per tahun. Juni 1999-Juni 2000, masih di Pantai Indah Kapuk dengan laju penurunan 10,4 cm per tahun. Juni 2000-Juni 2001 terjadi di Daan Mogot dengan laju penurunan 34,2 cm per tahun, Juni 2001-Oktober 2001 terjadi di Rukindo-Ancol dengan laju penurunan 23,7 cm per tahun.

Amblesan tanah itu bila tidak ditangani serius bakal membuat Jakarta tenggelam. Direktur Eksekutif Indonesia Water Institute Firdaus Ali memprediksi Jakarta akan tenggelam dalam waktu dekat ini, yakni pada 2012. “Kota ini akan kelelep atau bahasa teknisnya tenggelam menjelang 2012,” kata Firdaus.

Tulisan detik+ selanjutnya: Laporan Khusus ‘Seram! Jakarta Segera Tenggelam’ yakni ‘Buah Kengawuran Tanpa Sanksi Setimpal’ dan ‘Bagaimana Mencegah Jakarta Tenggelam’ serta laporan utama ‘Ical Vs Prabowo, Siapa Jago?’ bisa anda dapatkan di detiKios for Ipad yang tersedia di apple store.

(zal/iy)

Minggu, 06/11/2011 18:16 WIB

Jakarta Tenggelam ?

M. Rizal – detikNews

Firdaus Ali : Penurunan Muka Tanah Tak Terkendali, Jakarta Bisa Tenggelam


Jakarta – Permukaan tanah di DKI Jakarta kian turun setiap tahunnya, diakibatkan tingginya laju ekstraksi air tanah dalam yang sudah melewati batas. Kalau ini tidak diatasi secara serius, maka dalam tempo 40 tahun ke depan, Jakarta diprediksi akan benar-benar tenggelam.

“Jika tidak segera ditangani, kota ini akan tenggelam secara perlahan dan pasti. Ketika laju penurunan muka tanah kita terus tidak terkendali, dalam saat bersamaan permukaan air laut juga naik secara signifikan sebagai dampak dari pemanasan global,” kata Direktur Eksekutif Indonesia Water Institute, Firdaus Ali.

Sebenarnya menurut Firdaus, kondisi penurunan tanah akibat penggunaan air tanah yang kelewat batas ini tidak hanya terjadi di Jakarta. Tapi di sejumlah kota di beberapa negara juga terjadi.

“Saya punya referensi yang kuat dengan apa yang terjadi di Mexico City hampir 80 tahun lalu dan di Bangkok City 30 tahun lalu. Kota-kota besar di Jepang seperti Tokyo, Yokohama, dan Osaka punya pengalaman yang sama,” ungkapnya.

Berikut wawancara lengkap detikcom dengan Firdaus Ali, yang juga pengamat dari Universitas Indonesia, Minggu (6/11/2011):

Betulkah permukaan tanah di Jakarta setiap tahun turun? Dan bagaimana prediksi Dari IWI?

Saya yakin tidak ada yang sanggup membantah fakta yang dan sedang bahkan mungkin sepertinya masih akan berlansung dalam beberapa dekade (jika tidak juga ada upaya segera untuk menghentikan laju turunnya muka air tanah dan muka tanah di wilayah ibukota NKRI ini. Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) dengan segenap anggotanya yang dalam hal ini merupakan pakar dalam masalah geologi wilayah DKI Jakarta justru selalu berdiskusi dengan saya dalam rangka mencari upaya terobosan dari aspek teknik dan non-teknik untuk mencegah tenggelamnya ibukota ini.

Kita sempat sedikit berbeda pandang dalam menilai faktor penyebab turunnya muka tanah di Jakarta. Prof Lambok Hutasoit dan kawan-kawan Geoogi ITB mengatakan bahwa setidaknya ada 4 penyebab tingginya laju penurunan muka tanah di Jakarta dan sekitarnya Pertama adalah karena sifat atau karakteristik geologi tanah di wilayah ibukota yang merupakan lapisan akumulasi endapan (quarter) sedimen yang belum stabil (terus mengalami proses konsolidasi) pada kawasan pantai yang berlansung ribuan tahun lalu yang akhirnya membentuk wilayah delta (makanya Jakarta juga digolongkan sebagai kota delta/delta city).

Karena adanya beban statis (bangunan) dan dinamis (beban bergerak seperti kendaraan bermotor) yang mempercepat terjadinya proses pemadatan lapisan tanah. Ketiga adalah karena adanya gaya teknonis yang menyebabkan getaran dan pergerakan lapisan kulit bumi/tanah yang juga dapat menyebabkan terjadinya penurunan muka tanah. Keempat adalah akibat sangat tingginya laju ekstraksi air tanah (khususnya air tanah dalam) yang sudah melewati daya dukungnya (melebihi kemampuan pengisian kembali).

Alasan yang ke 4 yang saya pegang dan yakini sepenuhnya sebagai faktor penyebab tingginya laju penurunan muka tanah di ibukota. Saya punya referensi yang kuat dengan apa yang terjadi di Mexico City hampir 80 tahun lalu dan di Bangkok City 30 tahun lalu. Kota-kota besar di Jepang seperti Tokyo, Yokohama, dan Osaka punya pengalaman yang sama.

Titik daerah mana saja di Jakarta yang paling rawan bahaya amblas tanah di Jakarta? Daerah mana yang paling rawan dari semua itu? Berapa persen, inci, centimeter penurunnya tiap tahun?

Berdasarkan faktor penyebab yang sudah saya jelaskan di atas, pada dasarnya hampir seluruh wilayah Jakarta rawan terhadap turun muka tanah yang dapat memicu terjadinya pelemahan pada sistem struktur tanah dan akan berdampak pada daya dukung tanah itu sendiri terhadap bangunan yang ada diatasnya. Amblesan merupakan bentuk hilangnya daya dukung tanah terhadap bangunan yang ada diatasnya.

Pantai utara Jakarta, baik Jakarta Utara, Jakarta Timur bagian utara, Jakarta Barat bagian Utara dan Jakarta Pusat bagian utara merupakan kawasan yang selama ini sudah menunjukan kondisi kritis terkait dengan turunnya muka tanah. Beberapa kawasan yang laju penurunan muka tananya sudah sangat mengkuatirkan di antaranya adalah Muara Baru, Kelapa Gading, Marunda, Kemayoran, Pasar Ikan, Pluit, Ancol, Gunung Sahari, Mangga Dua, Pantai Mutiara, Meruya, Sudirman-Thamrin, Klender, dan masih banyak kawasan lain yang masih menunjukkan tren penurunan muka tanah yang tinggi.

Kalau ini tidak tertangani bagaimana? Apa yang harus dilakukan pemerintah khususnya Pemprov DKI Jakarta, masyarakat atau pengusaha dan pemerhati masalah ini?

Jika tidak segera ditangani, kota ini akan tenggelam secara perlahan dan pasti. Ketika laju penurunan muka tanah kita terus tidak terkendali, dalam saat bersamaan permukaan air laut juga naik secara signifikan sebagai dampak dari pemanasan global.

Pengendalian banjir di Ibu Kota tidak akan pernah berhasil, karena begitu titik genangan yang ada kita hilangkan, dalam saat bersamaan titik genangan baru akan bermunculan. Jalan-jalan ibukota yang sudah menjadi neraka bagi penggunanya setiap hari mulai dari subuh hingga larut malam (tanpa adanya hujan), akan semakin lumpuh dengan bermunculannya titik-titik genangan baru.

Drainase yang didesain 30-40 tahun lalu sudah tidak memiliki kemiringan (slope) yang normal lagi, karena pada banyak tempat sudah menekuk (seperti patah) akibat terjadinya penurunan muka tanah sehingga tidak lagi bisa mengalirkan air secara normal ke saluran pengumpul (jaringan makro drainase yang juga sudah menjadi tempat pembuangan sampah dan akumulasi sedimen). Inilah yang kemudian saya sebut bahwa kota ini akan kelelep atau bahasa teknisnya tenggelam menjelang 2012.

Apa yang harus dilakukan oleh kita semua?

Saya kata semua karena ini merupakan tunas kita bersama, tidaknya hanya pemerintah, tetapi juga masyarakat dan dunia usaha. Pertama adalahhentikan segera tindakan ekstraksi air tanah dalam yang ada. Untuk bisa menghentikan ektrasksi (moratorium) pemerintah perlu segera dan segera menyediakan air bersih perpipaan yang dapat memenuhi hampir seluruh kebutuhan air bersih perkotaan di DKI Jakarta ini.

Air bersih yang saya maksud adalah air bersih yang pelayananya prima tingkat kebocorannya rendah, kualitasnya benar-benar air minum, harganya terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Terkait dengan air bersih/minum ini kita punya persoalan serius, karena air baku kita kritis dan 97,8% tergantung dari suplai dari luar ibu kota. Ini adalah tragedi kemanusiaan karena kota yang dilewati oleh 13 sungai, karena ulah perilaku masyarakatnya yang super primitif akhirnya menjadi tempat pembuangan limbah sehingga tidak satu sungai/kalipun yang layak dijadikan air baku untuk air bersih oleh PAM Jaya (bayangkan).

Saya sebagai akademisi sudah berkali-kali memberikan peringatan, sebagai profesional dan anggota dewan sumber daya air provinsi DKI jakarta dan sebagai badan regulator pelayanan air minum DKI Jakarta telah mencoba memberikan beberapa usulan pemecahan yang sifatnya strategis dan berkelanjutan kepada pemerintah (pusat dan DKI) untuk memastikan water security ibukota NKRI ini segera ditingkatkan.

Pusat tidak bisa membiarkan Jakarta jalan sendiri menyelesaikan masalah pengelolaan SDA (kelangkaan air baku, pengendalian banjir, pengelolaan limbah cair perkotaan, dan pengendalian ekstraksi air tanah dalam). Karena Jakarta bukan hanya ibukota provinsi DKI Jakarta, tetapi juga berfungsi sebagai Ibukota NKRI berdasarkan UU No 29 tahun 2007. Saya menuji apa yang dilakukan oleh Pemerintah Mexico City 60 tahun lalu dan Bangkok 20 tahun lalu dalam mencegah kotanya tidak ambles dan tenggelam. Bagaimana dengan Jakarta dan Indonesia?

(zal/vit)

Baca Juga

 

About these ads

0 Responses to “Lingkungan : Jakarta Segera Tenggelam”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,005,847 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 108 other followers

%d bloggers like this: