18
Oct
11

Khazanah : Pejoang 45 Prof Ir Soehadi Reksowardojo

Pejuang 45 Prof Ir Soehadi Reksowardojo

Surat Keputusan Dewan Harian Daerah 45 Jawa Barat No. 04/SKEP/A-45/X/2011 tanggal 10 Oktober 2011 tentang Piagam Bambu Runcing Pejoang 45 bagi almarhum Bapak Prof Ir Soehadi Reksowardojo (Guru Besar ITB) sungguh tepat diterbitkan mengingat catatan historis yaitu bahwa dalam rangka nasionalisasi perusahaan2 Belanda pada akhir tahun limapuluhan, berdasarkan mandat dari Panglima Territorial III / Divisi Siliwangi, Ir Soehadi memimpin pengambilalihan pabrik2 kertas (Padalarang dan Leces), pabrik Kina serta pabrik Zat Asam (di Bandung) dan bahkan kemudian menjadi Ketua Dewan Pimpinan (Board of Management) dari kedua pabrik tersebut.

Riwayat pekerjaan almarhum berawal sebagai Sersan Mayor TKR (Tentara Keamanan Rakyat) dengan jabatan Inspektur Pendidikan Perwira pada TKR Divisi VII Mojoagung, Jawa Timur pada tahun 1945 sampai 1946. Pada periode 1947 – 1948 beliau bertugas di Depot Gerilya Wilayah Jawa Tengah Selatan dan di masa penumpasan pemberontakan Madiun menjadi anggauta “Security & Kampwezens” dari Kementerian Pertahanan RI. Sebagai perwira (Kapten TNI) pada Brigade XVII, beliau melontarkan gagasan2 milisi pelajar dan mahasiswa serta pendirian sekolah2 front perjuangan. Beliau sendiri kemudian menjadi salah satu pelaksana gagasan2 ini dalam jabatannya sebagai Guru Kelas I SMA dibawah Kementerian Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan (PP&K) mulai bulan September tahun 1949 (Pangkat ketentaraan terakhir beliau adalah Mayor TNI).

Prof Ir Soehadi Reksowardojo dilahirkan di Salatiga, tanggal 29 Juli 1923 sebagai putera ke-2 dari Bapak Soemadi Reksowardojo dan ibu Soemirah Wirowardojo, kini bermakam di TPU Sirnaraga Blok-C Barat, Bandung.

Riwayat pendidikan formal almarhum dimulai pada tahun 1930 ketika beliau memasuki “Openbare Hollands Inlandse School” yang diselesaikan pada tahun 1937. Beliau kemudian meneruskan ke “Gesubsideerd Mulo Pasundan” di Tasikmalaya dan mendapatkan ijazah pada tahun 1940. Pada tahun itu juga almarhum melanjutkan studinya di “Gouvernements Middlebaar Technische School, Afdeling Technische Scheikunde” di Surabaya. Pada masa pendudukan Jepang, sekolahnya berganti nama menjadi “Surabaya Koto Chu Gakku” (Sekolah Menengah Tinggi Surabaya, Bagian B), pendidikan ini diselesaikannya pada tahun 1945 dengan meraih ijazah berpredikat istimewa. Prestasi ini membuat beliau bisa diterima di “Bandung Kogyo-Dai-Gakku Oyo-Kagaku-Ka”, yang setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia berganti nama menjadi “Sekolah Tinggi Teknik Bandung, Bagian Teknik Kimia”. Pada masa Aksi Militer, sekolah tinggi ini hijrah ke Yogyakarta dan bernama “Perguruan Tinggi Teknik Republik Indonesia”. Beliau berhasil menyelesaikan tahap “propadeuse” (tingkat pertama) pada tahun 1948. Keterlibatannya dalam perjuangan bangsa merebut kedaulatan kemudian membuatnya terpaksa meninggalkan bangku kuliah. Setelah pengakuan kedaulatan, beliau ditugaskan kembali melanjutkan studi ke Bagian Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas Indonesia di Bandung dan mendapatkan ijazah sarjana teknik kimia (Ir) dengan predikat “cum laude” pada tahun 1957.

Ketika melaksanakan tugas melanjutkan studi di Bagian Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas Indonesia di Bandung, beliau adalah Penasehat Kementerian PP&K dan Pertahanan dalam urusan demobilisasi. Selain itu, sampai tahun 1955, juga aktif sebagai ketua Corps Mahasiswa. Pada tahun tersebut, beliau diangkat menjadi Asisten Tingkat I Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam (FIPIA) UI di Bandung dan setelah lulus sebagai insinyur kimia pada tahun 1957, sebagai staf pengajar pada FIPIA UI, Ir Soehadi tercatat sebagai Sekretaris Bagian Teknik Kimia, Fakultas Teknik UI pada tahun 1958 dan berperan besar dalam penyusunan konsep pembentukan Institut Teknologi Bandung (ITB), beliau adalah pencetus/perumus faksafah Tri Soko Guru (Pendidikan-ilmiah, Penelitian-ilmiah, dan Afiliasi-industri) yang merupakan landasan pengembangan ITB dan kemudian berkembang menjadi Tri Dharma Perguruan Tinggi (Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian pada masyarakat) atas keputsan Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP) Prof Tojib Hadiwidjaja pada tahun 1962, beliau jugalah pendiri dan sekaligus Sekretaris pertama dari Lembaga Afiliasi dan Penelitian Industri (LAPI) ITB.

Kemenonjolan prestasinya itu kemudian menyebabkan beliau diangkat menduduki berbagai jabatan penting/kunci seperti :

(1) Anggauta Panitia Pembangunan pada Dewan Perancang Nasional (DEPERNAS, 1960), (2) Ketua Sub Panitia Khusus Pelaksana Protokol USSP, Proyek Fakultas Teknologi di Ambon (1960), proyek ini berlandaskan pemikiran perlu adanya suatu pusat pembangunan di Indonesia Bagian Timur, (3) Direktur Badan Pimpinan Umum Industri Kimia (BPUK,1961), (4) Pegawai Tinggi Departemen Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP) diperbantukan pada Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga (PUT, 1962), (5) Project Manager pelaksanaan Proyek Pembangunan Fakultas Teknologi Ambon (1962), (6) Ketua Tim Pengamanan / Pengawas Produksi “The Dunlop Rubber Company Ltd” dan “The Good Year Tire and Rubber Co” (1963), (7) Dosen dalam bidang teknologi pada Lembaga Pertahanan Nasional (LEMHANAS, 1965), (8) Pembantu Menteri Perindustrian Dasar urusan Industri Kimia (1965), (9) Pembantu Menteri Perindustrian Dasar urusan Industri Kimia (1965), (10) Menteri Urusan Research Nasional dalam Kabinet Dwikora yang disempurnakan (1966), (11) Menteri/Ketua Lembaga Research Nasional dalam Kabinet Ampera (1966).

Dari tahun 1968 sampai dengan 1974 beliau aktif sebagai konsultan berbagai perusahaan/industry antara lain dalam pembinaan aspek teknologi dalam organisasi perbankan, pembinaan industri anak bangsa, dan pembinaan industry HanKam. Beliau kemudian kembali ke Institut Teknologi Bandung dan diangkat sebagai Guru Besar Teknik Kimia (1975). Dalam masa jabatannya sebagai Guru Besar, beliau membina mata kuliah Jurusan Teknik Kimia ITB dan Industri di Indonesia dengan perguruan2 tinggi teknik di negeri Belanda (Delf, Twente, Eindhoven) yang berhasil meningkatkan sarana dan mutu pendidikan, menggalakkan penelitian2, antara lain dalam bidang Gasifikasi Biomasa dan pembuatan setempat (In-situ Generation) dan Desinfektan Air Minum, serta memungkinkan beberapa Staf Pengajar muda Jurusan Teknik Kimia ITB mencapai gelar Doktor dalam Ilmu Teknik sekalipun resminya telah pension pada tahun 1988, beliau masih tetap aktif membina dan mengarahkan berbagai kegiatan di ITB.

Atas jasa2nya tersebut, beliau dianugerahi Satya Lencana Karya Sapta Tingkat II pada tahun 1981 oleh Pemerintah Republik Indonesia.

Demikianlah uraian ringkas dari seorang besar, pekerja keras yang cendekia, berwawasan luas dan bersemangat Hercules serta Pejoang Tanpa Akhir (PETA). Semoga amal bakti Prof Ir Soehadi Reksowardojo mendapat imbalan yang setimpal dari Allah SWT dan arwah beliau mendapat tempat bersamaNya, serta semoga generasi penerus 45 dapat meneladani dan memaknai perjuangan beliau bagi bangsa dan Negara terutama menjelang Hari Pahlawan 10 Nopember 2011 yad.ini.

Jakarta Selatan, 17 Oktober 2011 / Pandji R Hadinoto / PKP45 / DHD45 Jakarta

Generasi Ambil Alih

Friday, July 25, 2008

reading email @ 23.30 PM and read really good writing
feels like summon my duty and responsibility as one of alumni from writer’s college.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Secara tidak sengaja saya membuka buku 30 tahun kertas leces di perpustakaan tempat saya kerja praktek, kemudian saya menemukan hal yang menggugah dan terus terang membuat bulu kuduk saya berdiri. Seakan mimpi tentang masa depan Indonesia dimana kekayaan-kekayaan bangsa ini dikuasai oleh TNC-TNC asing khususnya di aset-aset vital seperti energi dan kekayaan hutan (seperti fakta masa kini dimana pada tahun 2006 yang lalu Blok Cepu dikuasai Exxon Mobile, Freeport yang masih bertengger tegak di Papua dan kebun kelapa sawit kita yang terbesar didunia yang saat ini dikuasai oleh Malaysia) mulai menemukan sebuah titik terang yang bagi saya memberikan inspirasi generasi kita untuk mengadakan perbaikan secara berani.
Mengapa saya katakan perbaikan secara berani? karena apa yang akan saya tuliskan disini (dimana saya menyadur dari buku 30 tahun kertas Leces) bagi saya boleh dikatakan heroik, bagaimana seorang dosen teknik kimia ITB bernama Soehadi Reksowardojo melakukan inisiasi proses pengambilalihan pabrik-pabrik kertas milik Belanda menjadi milik Indonesia, ya milik kita, menjadi milik masyarakat yang dapat kita nikmati hingga saat ini.
Begini ceritanya :
Pada awal Desember 1957, Ir. Soehadi Reksowardoyo selaku penasehat kementrian P.P&K urusan veteran/mahasiswa- pelajar pejoang menghantar enam orang veteran ex. Brig XVIII (Ir. Syarif Ismail, Martoyo, Barna, Erwin, dll.) ke Papierfabriek Padalarang. Maksud kunjungan adalah untuk “mengintip pabrik” dan “mengumpulkan data teknologi perkertasan” guna bekal bagi ke-enam orang tersebut yang pada waktu itu diserahi pembangunan pabrik kertas di Blabak milik Bank Industri Negara (BIN ; sekarang Bapindo). Kunjungan dilakukan secara “diam-diam” (clandestin) pada sore hari, karena Administrateur Papier-fabriek Padalarang Ir. Van Der Lee menolak permintaan BIN untuk berkunjung secara resmi.
Suasana dalam pabrik terasa cukup tegang dan menempatkan Ir. Ahmad Slamet sebagai Staf Indonesia yang tertinggi pada perusahaan itu dalam keadaan yang terjepit. Di satu pihak buruh menekan Ir. Slamet untuk “mengoper” pabrik dari tangan Belanda, sedangkan di pihak lain Administrateur Ir. Van Der Lee memerintahkan Ir. A. Slamet untuk menghadapi dan mengatasi buruh. Gerakan buruh itu ternyata diilhami oleh sikap dan pernyataan pemerintah cq. Presiden untuk menempuh “jalan lain” dalam perjuangan pembebasan Irian Barat dengan mengkikis habis segala potensi dan kekuatan ekonomi Belanda di Indonesia.
Mengingat pengalaman-pengalam an kurang baik tentang penguasaan pabrik oleh buruh dalam periode revolusi fisik, serta untuk mencegah kekacauan politik (political chaos) maka malam itu juga Ir. Soehadi Reksowardojo dengan diantara oleh Mayor Hartono (Cdt. Palad Terr. III/ex TNI Brig. XVIII: sekarang Majen Purn.) menemui Perwira Penguasa Perang Daerah Ter. III/ Jawa Barat (Peperda Jabar). Mayor Mashudi (sekarang Let. Jen. Purn.)
Malam itu juga diputuskan oleh Peperda Ter. III/Jabar :
· Pengambilan alih Papierfabriek Padalarang oleh Peperda berlandaskan SOB (Staat Van Oorlog en Beleg)
· Langkah-langkah pengambilan alih dipercayakan kepada Ir. Soehadi Reksowardojo.
Pada pertemuan berikutnya antara Mayor Mashudi, Mayor I. Suseno (pada waktu itu adalah perwira Pindad diperbantukan kepada Peperda Ter. III), dan Ir. Soehadi Reksowardojo diputuskan tindakan-tindakan lanjut :
· Ambil alih/Overname Papierfabriek Padalarang meliputi pabrik kertas di Padalarang dan di Letjes.
· Pengambilan alih dan pengurusan perusahaan selanjutnya dilakukan oleh “DEWAN PIMPINAN PABRIK KERTAS
PADALARANG-LETJES” yag terdiri dari :
a. KETUA : Kapten Ir. Handojo (unsur tentara) Perwira Pindad; ex Brig XVII;
sekarang Majen Purn. Prof. Ir. Handojo.
b. WK. KETUA/KETUA HARIAN : Ir. Soehadi Reksowardojo (unsur-45) Dosen ITB; ex. Brig. XVII;
sekarang: Mantan Menteri Riset Nasional Prof. Ir.Soehadi Reksowadojo)
c. Anggota : Ir. Mas ahmadPada tahun 1958 dengan adanya UU Nasionalisasi No. 86/1957 dan PP No. 23/1958, pemerintah mengambil alih Pabrik Kertas Letjes. Sejak tahun 1961 Pabrik Kertas Letjes berubah menjadi Perusahaan Negara Letjes di bawah Badan Pimpinan Umum Industri Kimia. Pada bulan November 1983, dengan Akte Notaris No. 24 nama perusahaan diubah menjadi PT Kertas Leces (Persero).

Begitulah akhir ceritanya:
Mungkin tampak biasa, tapi bagi saya, apa yang dilakukan generasi tua diatas merupakan langkah berani dibandingkan dengan apa yang terjadi pada saat ini dimana pemerintah dengan mudahnya menjual aset-aset berharga kita kepada pihak asing dengan kebijakan privatisasi yang mulai menjamur mulai dari Migas, telekomunikasi dan nanti sebentar lagi kemungkinan besar ialah listrik. Saat ini wacana nasionalisasi mulai tumbuh dikampus misalnya melalui TUGU RAKYAT atau dalam skuip ITB wacana nasionalisasi berkembang khususnya pada saat diskusi terkait masalah kenaikan BBM pada bulan Mei-Juni yang lalu. Pertanyaan populer yang biasa diajukan ialah “ bisakah kita melakukan Nasionalisasi? ”. Mengacu pada apa yang dilakukan diatas tentunya kita harus Optmis kita bisa melakukan hal tersebut, ketika kita mengkhawatirkan terkait masalah kemampuan teknologi, coba bandingkan kondisi tahun 1957 dengan kondisi tahun 2008 dalam hal penguasaan teknologi tentunya kita tidak kalah dengan generasi tahun 50-an tersebut, ketika kita mengkhawatirkan terkait masalah modal, coba kita bandingkan suasana di tahun 1957 dimana kondisi politik carut-marut dengan silih bergantinya perdana menteri, konfrontasi pembebasan PAPUA (irian Barat di kala itu) dan Indonesia baru merdeka sekitar 12 tahun tentunya saat ini kita lebh baik dibandingkan dengan kondisi saat itu. Yang berbeda tampaknya hanya satu hal yaitu “Keberanian dan Kecerdasan”, pemimpin kita saat ini belum ada yang seberani Soekarno dan secerdas Hatta, tentunya dalam konteks membangun negara bangsa. Saat ini kita hanya menonton Dagelan Politik, parade para mantan jenderal dengan parpolnya kah, poster muka dimana-mana, mendadak dangdut dimana-mana, anggota DPR ditangkap lah dan apapun itu. Kita tak melihat adanya sebuah gebrakan dari penguasa, yang masih kita lihat masihlah kelanjutan dari kesalahan manajemen masa lalu, bahkan lebih parah lagi, yang kita rasakan saat ini adalah akumulasi dari kesalahan manajemen masa lalu tanpa ada fokus untuk perbaikan. Memang rencana 25 tahun kah, Indonesia 2020 kah dan berbagai rencana tentang Indonesia di masa mendatang mulai disusun di berbagai ranah. Tapi sekali lagi mari kita lihat cukup beranikah kita untuk mandiri. Memang urusan pembangunan bukan sekedar main ambil alih, tapi masa lalu telah menunjukkan tentang prestasi angkatan tua generasi pengambil-alih, di tempat saya “Kerja Praktek” di PT Kertas Leces dalam jangka waktu 30 tahun setelah pengambil-alihan, kapasitas produksi yang semula hanya 10 ton/hari menjadi 660 ton/hari tentunya saya meyakini selama 30 tahun tersebut dilakukan sebuah proses perencanaan yang baik oleh putra-putri terbaik bangsa ini.
Mari kita mengulangi sejarah yang baik.
Saya kemudian membaca halaman-halaman terakhir di buku tersebut, terdapat kata-kata yang menarik dari bapak Soehadi Reksowardojo (kini sebagai penghormatan atas jasa-jasa beliau, nama beliau digunakan sebagai nama seminar rutin yang diadakan oleh Program Studi Teknik Kimia ITB “Seminar Teknik Kimia Soehadi Reksowardojo”) Berikut kata-kata beliau:

Misi-Ambil-Alih adalah suatu “Misi Pengabdian” kepada Nusa dan bangsa!
Misi ini telah melahirkan suatu “Generasi Ambil-Alih” yang terdiri dari
teknokrat-teknokrat dan industriawan- industriawan yang profesional
dengan penuh pengabdian pada bangsanya
Semoga generasi ambil-alih ini dapat mewariskan semangat dan didikasi ambil-alih
Kepada generasi penerusnya dan menularkannya kepada Industri-industri lain di Indonesia
-Bandung, Soehadi Reksowardojo-
Sudahkah kita tertular ? …

Source : Muhammad Ridho F.W ~~ Menteri Pendidikan & keilmuan ~~ Kabinet KM ITB 2008-2009
http:// Bumiridho.wordpress .com

25 Agustus 1984

Menabur Garam Menimba Air

SEJENIS “tangkal” penyakit muntaber kini sedang ditawarkan dengan harga Rp 2,5 juta/unit. Menggunakan garam dapur, elektroda, dan listrik sekitar 500-600 watt, perangkat penghasil larutan Natrium Hipoklorit (NaOCI) ini bisa langsung digunakan untuk desinfeksi air. Sebab, “Air untuk keperluan rumah tangga, yang sudah bersih, belum tentu bebas dari kuman,” ujar Dr. Subagio, dosen Jurusan Teknologi Kimia ITB. Penelitian mesin pembasuh air itu memang dilakukan di laboratorium lembaga tersebut, sebagai buah kerja sama dengan Sekolah Tinggi Teknik, Delft, Neeri Belanda. Riset awal dimulai 1976, setelah kontrak kerja sama ditandatangani, Maret tahun itu. Dasar pikirannya ialah, sumber air sehat blum merata dan memerlukan sistem pembersihan yang murah dan praktis. Usaha membasuh air, sebetulnya, suda mencatat riwayat panjang. Pada 1908, misalnya, kaporit diperkenalkan. Kemudian disusul dengan pemakaian gas kior, yang masih berlaku hingga sekarang. Tetapi, penggunaannya terbatas pada sumber air PAM. Lagi pula, kaporit dan gas klor semakin mahal. “Penduduk pedesaan yan miskin belum bisa menggunakannya,” kata Prof. Ir. Soehadi Reksowardojo, guru besar ITB dan bekas menteri riset nasional (1966-1967). Tambahan pula, gas klor itu sendiri mengandung bahaya beracun, dan pada keadaan basah sangat’korosif. Penganghutannya harus dilakukan berhati-hati. “Kalau botolnya pecah, daerah sekitarnya bisa tercemar,” tutur Soehadi. Alat baru inidisebut Hypochlorite In Situ Generator, alias HIS- 1283-ET. Judul gampangnya: Perangkat Pembuat Setempat Hipoklorit (PPSH). Ia merupakan sel elektrokimia berbentuk tangki yang dilengkapi dengan elektroda bipolar. Elektroda terbuat dari bahan inert. Pada perangkat ini sudah termasuk perlengkapan rectifier, atau penyearah arus. PPSH terdiri atas tiga bagian. Pertama, wadah berbentuk silinder dengan volume 120 liter. Kedua, wadah dengan bentuk dan volume yang sama untuk proses elektrolisa. Dan terakhir, bak untuk menampung air garam hasil proses elektrolisa – peristiwa berlangsungnya reaksi kimia akibat arus listrik Ketiga wadah itu dilengkapi slang dan keran, dan diletakkan secara bertingkat. Wadah pertama diisi garam dapur (NaCl) sampai penuh. Larutan garam jenuh dengan konsentrasi 30% kemudian mengalir dari wadah pertama – yang disebut liksator – ke wadah kedua. Di tempat ini, larutan harus dijaga dalam konsentrasi 2% sampai 4%, dengan cara menambahkan air. Pada bagian dasar wadah kedua ini terdapat dua batang elektroda. Garam dapur di dalam larutan akan terurai menjadi ion yang bermuatan positif dan negatif. Selama elektrolisa, elektroda-elektroda sel hipoklorit dihubungkan pada sumber arus listrik searah. Elektroda yang dihubungkan pada kutub positif akan bermuatan posiif, disebut anoda. Yang dihubungkan dengan kutub negatif dan bermuatan negatif, katoda. Karena perbedaan muatannya, ion negatif bermigrasi ke permukaan anoda. Di permukaan ini kemudian terjadi reaksi. Elektron yang dibebaskan dari reaksi ini akan diberikan ke anoda. Sementara itu, melalui katoda, elektron dipindahkan ke molekul air di permukaan elektroda tersebut. Peristiwa ini menyebabkan reaksi berikutnya. Gas hidrogen (H2) yang tidak mengalami reaksi lebih lanjut akan keluar dari sel melalui saluran. Seperti halnya kaporit dan gas klor, di dalam air NaOCI dapat menhasilkan HOCI yang akan bereaksi dengan jasad renik, dengan akibat kematian jasad renik itu. Maka, larutan garam yang sudah dielektrolisa tadi, yang kini berubah menjadi NaOCI, ditampung di wadah ketiga. Larutan NaOCI 120 liter ini mampu membebashamakan bahan baku air 4.000 liter. Hasil pengujian di lapangan juga memperlihatkan kemungkinan yang menggembirakan. Setelah dioperasikan selama 12 tahun sel hipoklorit ternyata masih dapat beroperasi seperti pada keadaan barunya. Di samping tu, PPSH bisa dioperasikan dengan mudah oleh tenaga setempat, setelah menerima latihan tiga hari di laboratorium teknologi kimia ITB. PPSH, kata Soehadi, “dapat digunakan di daerah pedesaan, terutama yang sering dijangkiti muntaber.” Caranya ialah lebih dulu membuat instalasi air yang dilengkapi PPSH. Air yang akan keluar dari instalasi lebih dulu diberi NaOCI, sebelum sampai ke rumah penduduk. Itu sebabnya, barangkali, gubernur Jawa Tengah, Isrnail, tergegas memasang 20 unit PPSH di 20 desa wilayah pemerintahannya yang sering disinggahi wabah muntaber. Di Jawa Tengah bagian utara, alat itu antara lain sudah dipasang di Batang, Pekalongan, dan Semarang. Begitu pula di Cilacap, Klaten, dan Karanganyar. Gubernur Jawa Barat, yang rupanya tak sudi ketinggalan, memasang pula enam unit PPSH di sekitar Tasikmalaya, Garut, dan Bandung. Sementara itu, Persatuan Pengusaha Hotel Seluruh Indonesia juga tampak memperlihatkan minat. Sebab, “Dengan PPSH, semua air di hotel, termasuk yang di kolam renang, bisa langsung diminum tanpa perlu digodok,” ujar Soehadi, seperti berpromosi. Dibandingkan dengan penggunaan kaporit, “PPSH lebih murah 10%,” tutur Soebagio. Tetapi, ia mengaku, dengan gas klor PPSH masih lebih mahal. “Yang mahal itu elektrodanya,” sahut Soehadi. Karena itu, bulan depan, Soehadi akan mengajak perusahaan Belanda produsen elektroda itu membuat elektroda di Indonesia.


“Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo” Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-3916160

Advertisements

0 Responses to “Khazanah : Pejoang 45 Prof Ir Soehadi Reksowardojo”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,972,313 hits

Archives

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Advertisements

%d bloggers like this: