29
May
11

Kenegarawanan : Tahun Vivere Pericoloso 17 Agustus 1964 [Bung Karno]

CUKILAN  DARI  PIDATO  BUNG  KARNO 17 AGUSTUS 1964 YANG BERJUDUL TAHUN  “VIVERE  PERICOLOSO”  ( T A V I V  )

Pelajaran Pancasila Dihapus? Ini Jawaban Anggota DPR

KUTIPAN:

“Rasa romantic-perdjoangan adalah sumber kekuatan daripada Perdjoangan. Oerkracht daripada  perdjoangan !  Kalau tidak ada rasa romantik-perdjoangan itu, sudah lama kita remuk-redam, sudah lama kita seperti tjatjing-mati diindjak-indjak orang. Apa jang tidak kita alami sudah, sekali lagi : apa jang tidak kita alami sudah, – en toh kita masih berdiri tegak, en toh kita masih belalak mata, bahkan kita makin kuat, makin sentausa, makin hebat derap-langkah kita menggetarkan bumi? Aksi militer Belanda kesatu?, aksi militer Belanda kedua?, pengchianatan PRRI?, pengchianatan Permesta?; penjelewengan-penjelewengan jang disengadja untuk mendjatuhkan demokrasi terpimpin?; sabotase internasional oleh kaum imperialis?; subversi dan intervensi jang litjin tapi bertubi-tubi?; kepungan terang-terangan oleh basis-basis militer imperialis?; sabotase ekonomis jang amat lihay sekali? ; pemasangan benteng imperialis jang bernama “Malaysia”dengan antek imperialis jang bernama Tengku Abdul Rachman? ; – hehe semua itu kita anggap sebagai bagian sadja daripada iramanja Revolusi, semua itu kita terima dengan rasa romantiknja Revolusi, – semua itu kita ganjang habis-habisan dengan romantiknja Revolusi!.

Karena romantic inilah, kita tidak remuk; karena romantic inilah, kita makin kuat, karena romantic inilah, kita malahan berderap terus. Ja Romantik Perdjoangan, – oerkracht (sumber abadi) dari kekuatan Perdjoangan, oerkracht dari ketahanan Perdjoangan, oerkracht dari kekuatan idiil, oerkracht dari kekuatan batin! Oerkracht jang memberikan ketjintaan kepada semua kepahlawanan, oerkracht jang membangkitkan kepertjaan kepada diri sendiri, oerkracht jang memberikan pengertian kepada perlunja  dinamik dan dialektik daripada Revolusi.  Oerkracht jang memberikan kepertjaan bahwa Revolusi bergerak-terus itu melalui djalan pukul dan dipukul, gempur dan digempur, djalan pasang dan djalan surut, djalan sorak dan djalan djerit, djalan lurus dan djalan liku, djalan turun kemudian naik, turun, tetapi kemudian naik, naik, naik ! Djalan jang hebat tetapi tidak lurus-litjin sebagai Bouleard Champs Elysees dikota Paris, atau Newsky Prospect dikota Leningrad. Pengertian dan kepertjaan dus : bahwa Revolusi adalah satu proces pandjang jang dinamis (artinja:  bergerak), dengan segala pukul dan dipukulnja, tetapi turun naik, (inilah dialektika), satu proces pandjang jang harus didjalankan terus-menerus dengan ulet dan tekad  ëvervonward, no retreat”.

Saja tandaskan sekarang sekali lagi : dus : Revolusi minta tiga sjarat mutlak romantik, dinamik, dialektik. Romantik, dinamik, dan dialektik jang bukan sadja bersarang didada pemimpin, tetapi romantik, dinamik, dialektik jang menggelora diseluruh hatinja Rakjat, – romantik, dinamik dan dialektik jang mengelektrisir sekudjur badannja Rakjat dari Sabang sampai Merauke. Tanpa romantik jang mengelektrisir seluruh Rakjat itu, Revolusi ta’akan tahan. Tetapi dinamik jang laksana mengkrandjingkan seluruh Rakjat itu, Revolusi akan mandek ditengah djalan. Tetapi dialektik jang bersambung kepada angan-angan seluruh Rakjat itu, Rakjat ta’akan bersatu dengan rising demandsnja Revolusi, dan Revolusi akan pelan-pelan ambles dalam padang-pasirnja kemasa bodohan, seperti kadang-kadang ada sungai ambles-hilang dalam gurun-gurun-pasir sebelum ia mentjapai samudera lautan.

Karena itu maka kita harus memasukkan romantik, dinamik dan dialektik Revolusi itu dalam dada kita semua, kita pertumbuhkan, kita gerakkan, kita  gemblengkan dalam dada kita semua, sampai kepuntjak-puntjaknja kemampuan kita, agar Revolusi kita dan Revolusi Ummat Manusia dapat bergerak terus, menghantam dan membangun terus, mendobrak segala rintangan jang direntjanakan oleh fihak imperialis dan kolonialis.

Adakah revolusi tanpa tiga sjarat-mutlak itu tadi ? Ada ! Tetapi revolusi jang tanpa romantic, tanpa dinamik, tanpa dialektik massal, revolusi jang hanja didorong oleh impuls perseorangan, ambisi pribadi dari seorang-orang , atau rasa-sakit-hati-pribadi sebagai dinamik dari kekuatan, – revolusi jang demikian itu hanjalah merupakan sekadar “revolusi istana” sadja, – satu “palace-revolution”, jang sekarang muntjul, besok sudah hilang kembali. Revolusi jang demikian itulah jang sering ditunggangi oleh kaum imperialis ! Revolusi jang demikian itulah jang sering dibuat oleh kaum imperialis, dengan mengadakan “coup”, pembunuhan pemimpin, dan lain sebagainja. Djuga di Indonesia kaum imperialis  kadang-kadang mentjoba hendak mengadakan revolusi jang demikian itu, dengan maksud hendak mematikan Revolusi kita ! Tetapi kita selalu waspada ! Rakjat Indonesia alhamdulillah selalu waspada ! Rakjat Indonesia telah mengganjang berkali-kali pertjobaan-pertjobaan imperialis itu !

Dan sekarang, Revolusi Indonesia jang ta’ dapat mereka ganjang itu, telah mendjadilah stu realitas  bagi mereka, satu kenjataan jang ta’dapat mereka pungkiri atau mereka hapus. Revolusi Indonesia telah mendjadi satu fait accompli bagi lawan dan bagi kawan, satu fait accompli bagi dunia, satu gunung-karang-sarang-petir ditengah-tengah samudera-perdjoangan Ummat Manusia untuk mendirikan satu Dunia Baru tanpa “exploitation de l’homme par l’homme” dan tanpa “exploitation de nation par nation”.

Apa sebabnja? Karena sekarang Revolusi Indonesia sedjak 1959 telah kembali mendjadi satu Revolusi Rakjat jang berromantik, berdinamik, berdialektik. Itulah sebabnja Revolusi Indonesia sekarang mendjadi “gungung-karang-sarang-petir” bagi perdjoangan ummat Indonesia dan ummat manusia diseluruh muka bumi.

Ja, pernah kita melepaskan romantik itu,. Pernah kita melepaskan dinamik itu. Pernah kita melepaskan dialektika itu.  Waktu ialah sebelum tahun 1959. Pada waktu itu pemimpin-pemimpin kita banjak jang kena tjekokan liberal. Pada waktu itu banjak pemimpin-pemimpin kita njeleweng. Pada waktu itu banjak partai-partai kita pada gila-gilaan. Pada waktu itu banjak pemuka-pemuka kita jang keblinger dengan ilmu-ilmu a’ la Rotterdam atau a’ la Harvard. Pada waktu itu banjak berkelujuran zg. “pemimpin-pemimpin” ,  jang dalam tubuhnja tidak ada satu tetes darahpun revolusioner . Pada waktu itu terdjadilah pemberontakan-pemberontakan jang mendurhakai Revolusi. Pada waktu itu Romantiknja Revolusi, Dinamiknja Revolusi, Dialektiknja Revolusi seperti dikentuti oleh “pemimpin-pemimpin”sematjam itu. Djadinja? Revolusi Indonesia mendjadi satu revolusi jang oleh seorang Belanda dinamakan “revolusi op drift”, artinja revolusi jang kintir kekanan dan kekiri”.

Saja pada waktu  itu tjemas sekali. Tjemas sekali ! Tetapi Alhamdulillah, sebelum kasip, kita “banting setir”,   kearah djalan Revolusi jang asli. Stop kegila-gilaan ! Stop penjelewengan ! Kembali ke Undang-undang Dasar ’45 ! Kembali kermantika, dinamika, dialektiaka Revolusi ! Kembali kepada Amanat Penderitaan Rakjat ! Kembali ! Kembali ! Ini Manipol ! , obor perdjalananmu !  Ini USDEK ! , tunggak ingatanmu !

Bajangkanlah kalau umpama tidak lekas-lekas kita banting-setir ! Bajangkan kalau tidak lekas-lekas kita kembalikan Rakjat kepada romantic, dinamik, dialektiknja Revolusi ! Bentjana tentu ta’ akan ada batasnja ! Kehantjuran Revolusi diambang pintu ! Saja pada waktu itu berkata dalam pidato 17 Agustus tahun jang lalu : “Barangkali kita akan makin lama makin tanpa arah, bahkan makin lama makin masuk lagi dalam lumpurnja muara “exploitation de l ‘homme par l ‘homme” dan  exploitation de nation par nation”. Dan Sedjarah akan menulis ; disana, antara benua Asia dan benua Australia, antara Lautan Teduh dan Lautan Indonesia, adalah hidup satu bangsa, jang mula-mula mentjoba untuk hidup kembali sebagai Bangsa, achirnja kembali mendjadi satu kuli diantarqa bangsa-bangsa, – kembali mendjadi  “een natie van koelies, en een koeli onder de naties”. Sungguh Maha Besarlah Tuhan, jang membuat kita sedar kembali, sebelum kasip”.

Demikianlah kataku pada 17 Agustus tahun jang lalu.

Ja, memang benar sebelum tahun 1959 Revolusi kita pernah “op drift”. Pernah klejar-klejor. Pernah kintir tanpa arah. Pernah keblinger puter-puter.

Dan itu karena apa? Karena banjak pemimpin kita, –  malah terutama sekali pemimpin-pemimpin jang memakai tiel mr, atau dr, atau ir lho ! tidak mengarti arti daripada Revolusi Modern dalam bagian  kedua dari abad ke-XX, jaitu zamannja imperialisme modern dan kapitalisme monopoli.  Mereka, pemimpin-pemimpin itu, mengira bahwa revolusi hanjalah: merebut kemerdekaan, menjusun Pemerintah Nasional, mengganti pegawai asing dengan pegawai bangsa sendiri, dan seterusnja ; menjusun segala sesuatunja menurut tjontoh-tjontoh Barat jang tertulis dalam merekapunja texooks. Malah kita ditjekoki oleh pemimpin-pemimpin sematjam , bahwa “revolusi sudah selesai”, dan bahwa “kolonialisme-imperialisme sudah mati” !

“Revolusi sudah selesai”, kata mereka itu ! Dengan itu, maka romantiknja Revolusi hendak dimatikan. Dinamiknja Revolusi hendak dimatikan. Pada hal kita harus berkata : Kobar-kobarkanlah terus romantiknja Revolusi, sampai Amanat Penderitaan Rakjat terlaksana ! Gempa-gempakanlah terus dinamiknya Revolusi sampai sampai Amanat Penderitaan Rakjat terlaksana ! Tarikan keatas terus, ledakkan keatas terus, lebih tinggi lagi, lebih tinggi lagi, dialektiknja Revolusi, sampai terlaksana Amanat Penderitaan Rakjat seluruh dunia, sampai dengan tuntutan zaman ! Marilah kita semua sadar, bahwa Revolusi kita adalah saru “Revolution of Rising Demands”!

Revolusi kita bukan sekadar mengusir Pemerintahan Belanda dari Indonesia. Revolusi kita menudju lebih djauh lagi daripada itu. Revolusi Indonesia menudju tiga kerangka jang sudah terkenal . Revolusi Indonesia menudju kepada Sosialisme ! Revolusi Indonesia menudju kepada Dunia Baru  tanpa exploitation de l ‘homme par l ‘hommedan exploitation de nation par nation ! Bagaimana Revolusi jang demikian ini mau dimandekkan dengan kata bahwa “revolusi sudah selesai”? Bagaiman Revolusi demikian ini dapat didjalankan terus tanpa romantic, tanpa dinamik, tanpa dialektik ?

Nah, apa jang saja tjeritakan diatas ini adalah pengalaman  beberapa tahun jang lalu; hampir-hampir sadja kita keblinger sama sekali, hampir-hampir sadja kita “op drift” samasekali, hampir-hampir sadja kita mati-kutu samasekali, –   kalau kita tidak lekas-lekas banting setir  kedjalan-benar kembali – , dan dengan itu memberi kembali kepada Revolusi Indonesia iapunja Romatik, iapunja Romantik, iapunja Dinamik, iapunja Dialektik.

Dengan korreksi banting-setir itu, kita kembali lagi kepada Revolusi Indonesia iapunja djurusan, iapunja arah, iapunja Direction.

Karena itulah maka pada permulaan pidato ini saja bitjara tentang pengalaman dimasa jang lampau dan djurusan untukmasa jang akan datang. Sebagai Pemimpin Besar Revolusi, saja pergunakanlah Podium 17 Agustus ini sebagai Podium jang utama.

Saudara-saudara ! Tahun ini adalah tahun 1964. Hari ini adalah 17 Agustus 1964. Menangkapkah saudara simbolik dari 17 Agustus 1964 ini ?  Menangkapkah saudara-saudara?

Ingat 17 Agustus 1959 saja mempidatokan Manipol !   Dus 17 Agustus 1964 adalah genap lima tahun umurnja Manipol !   17 Agustus sekarang ini adalah Pantja Warsanja Manipol !

Pantja Warsa ! Selama lima tahun ini Manipol itu digembleng oleh hantaman-hantamannja palugodam sedjarah. Dan oleh karena badja Manipol itu bukan badja sembarang badja, maka djauh daripada patah, djauh daripada hantjur. Manipol itu malahan terbukti tahan-udji setahan-tahannja, – ja, Manipol terbukti badja gemblengan dari kwalitet jang setinggi-tingginja !

Aku masih ingat dengan sedjelas-djelasnja akan situasi gawat tanah air kita ketika Manipol lahir. Ja, “lahir” aku katakan, karena sesungguhnja, seperti halnja Pantjasila itu bukan tjipataanku pribadi – melainkan aku sekedar menggalinja dari bumi Ibu Pertiwi – ,   demikianpun Manipol itu bukan tjiptaanku pribadi ;   Manipol lahir dari kandungannja Ibu Sedjarah. Sedjarahlah ibunja, Manipol djabangbajinja, sedangkan Rakjat Indonesia jang progressif revolusioner adalah bidannja. Adapun Sukarno ? Sukarno paling-paling bidan kepala, paling-paling “hoofdverpleger”, dan sekalipun kelahiran itu kelahiran jang susah pajah, sekalipun kelahiran itu melalui tangverlossing, tetapi sjukur alhamdulillah kelahiran itu selamat dan bajinja segar-bugar sehat-walafiat.

Ja, aku masih ingat dengan sedjelas-djelasnja situasi pada waktu ëxpulsion stage”nja Manipol itu. Djiwa Bangsa Indonesia ketika itu, kataku tempohari, seperti terkojak-kojak, terbelah-belah, terobek-robek. Aku katakan didalam “Penemuan kembali Revolusi kita” – jang kemudian diterima oleh segenap bangsa Indonesia , oleh partai-partai politiknja, oleh organisasi-organisasi-massanja, oleh Angkatan Bersendjatanja, oleh aparat Negara seluruhnja, oleh tokoh-tokoh dan putera-puteranja jang terkemuka, ja, oleh segenap Bangsa Indonesia, sebagai Manipo/Garis Besar Haluan Negara/Program Umum Revolusi Indonesia – aku katakan : “segala kegagalan-kegagalan, segala keseretan-keseretan, segala kematjetan-kematjetan dalam usaha-usaha kita jang kita alami dalam periode survival dan investment itu, tidak semata-mata disebabkan oleh kekurangan-kekurangan atau ketololan-ketololan jang inhaerent melekat kepada bangsa Indonesia, tidak disebabkan oleh karena bangsa Indonesia memang bangsa jang tolol, atau bangsa jang bodoh, atau bangsa jang tidak mampu apa-apa – tidak ! – segala kegagalan, keseretan, kematjetan itu pada pokoknja adalah disebabkan oleh karena kita, sengadja atau tidak sengadja, sedar atau tidak sedar, telah menjeleweng dari Djiwa, dari Dasar, dari Tudjuan Revolusi !”

(DIKUTIP DARI BUKU BAHAN- BAHAN POKOK INDOKTRINASI  HAL. 1334 – 1340)

Salam,

Awind


0 Responses to “Kenegarawanan : Tahun Vivere Pericoloso 17 Agustus 1964 [Bung Karno]”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 4,028,359 hits

Archives

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: