28
Dec
10

Perekonomian : Pembangunan Ekonomi Inklusif untuk Indonesia

Pembangunan Ekonomi Inklusif untuk Indonesia
ASPIRASI PUBLIK – selasa 23 November 2010 | 00:05

Ekonomi Inklusif

Pembangunan ekonomi yang inklusif pada dasarnya adalah pembangunan ekonomi yang dapat memberikan kontribusi bagi mayoritas rakyat Indonesia. Besarnya jumlah tenaga kerja Indonesia di sektor pertanian sering diasosiasikan sebagai sektor yang perlu didorong untuk membangun ekonomi yang inklusif. Selain sektor pertanian, banyak pihak yang sudah menyampaikan pentingnya peran UMKM dalam mendorong perekonomian Indonesia. Pemerintah harus menekankan pentingnya ekonomi yang bersifat inklusif.

Untuk memulihkan ekonomi pasca krisis, penekanan pemerintah harus bersifat inklusif. Salah satu upayanya adalah dengan meningkatkan kerja sama dalam program-program tertentu, di antaranya pembiayaan di sektor usaha mikro, kecil, dan menegah, yang terbukti pada 1998 telah berhasil menopang perekonomian Indonesia yang ketika itu sedang krisis. UMKM sebagai usaha dalam membangun ekonomi yang inklusif, ekonomi yang memberdayakan masyarakat untuk mandiri (self sustain), merupakan kondisi yang sekarang kita butuhkan di tengah semaraknya kompetisi antar negara dan ancaman penetrasi berbagai produk dari luar negeri yang masuk ke Indonesia.

Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang telah dijalankan Indonesia merupakan salah satu contoh dari pembiayaan mikro dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Oleh sebab itu, negara-negara maju yang menjadi anggota APEC diharapkan dapat memberikan bantuan lebih besar bagi program penyaluran kredit semacam Koperasai Usaha Rakyat (KUR). Tantangan terberat yang dihadapi oleh industri di dalam negeri adalah produk-produk impor dari luar negeri. Selain mempunyai keunggulan dalam harga, produk impor juga mempunyai kualitas yang bersaing. Namun, sampai hari ini, UMKM tetap survive dan bahkan tetap menjadi tempat tenaga kerja dalam memperoleh penghasilan.

Kita bisa mengambil contoh beberapa daerah yang sudah mulai mengembangkan inisiatif dan inovasi dalam UMKM. Mereka memulai usaha ini secara tradisional kemudian secara bertahap bekerja sama dengan keluarga atau teman-teman membangun berbagai usaha lain yang menjadi komplemen usaha intinya. Sebut saja kerajinan kayu di Jepara, kluster batik yang banyak terdapat di Jawa, pembuatan rokok di Kudus, atau kerajinan rotan di Tegalwangi. Kita bisa melihat potensi ini. Maka pemerintah daerah harus dapat mendorong pemasaran dan peningkatan daya saing produk-produk tersebut dengan kebijakan-kebijakan yang relevan.

Yusuf Sahputra
Jalan Enggano Raya No.19 Rt.5 Rw.2
Koja – Jakarta Utara

Advertisements

0 Responses to “Perekonomian : Pembangunan Ekonomi Inklusif untuk Indonesia”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,681,600 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Advertisements

%d bloggers like this: