17
Feb
10

Hikmah : Tanggung jawab, Rahmat Allah dan Kemudahan

Tanggung Jawab
Republika, Selasa, 16 February 2010, 16:12 WIB

Oleh Prof Dr Achmad Satori Ismail

Orang yang cerdas tidak akan meremehkan perbuatan baik sekecil apa pun dan tidak gegabah berbuat dosa walau sekecil biji sawi. Ia tahu, perbuatan baik atau jahat itu mula-mula amat kecil ketika dilakukan, akan tetapi bila pengaruhnya terus berlangsung lama, akan amat besar pahala atau dosanya.

Allah SWT berfirman dalam Surah Yasin [36]: 12, ”Kami menuliskan apa-apa yang mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.” Ayat ini menegaskan bahwa tanggung jawab itu bukan saja terhadap apa yang diperbuat seseorang, melainkan melebar sampai pada akibat dari perbuatan tersebut.

Artinya, perbuatan baik ataupun jahat akan diberikan pahala atau dosa ditambah dengan pahala atau dosa orang-orang yang meniru perbuatan itu. Orang yang meninggalkan ilmu yang bermanfaat, sedekah jariyah, atau anak yang shaleh, kesemuanya itu akan mengkibatkan kebaikan. Demikian pula sebaliknya.

Kemudian ada pertanyaan, apabila yang memerintah kejahatan itu seorang pemimpin, apakah dia saja yang akan menanggung dosanya dan dosa rakyatnya karena mereka dipaksa? Ataukah rakyat juga harus menanggung dosanya walau ia melakukannya karena ancaman?

Seorang penguasa dianggap tidak memaksa selama rakyat masih memiliki kehendak yang ada dalam dirinya. Perintah seorang pimpinan secara lisan ataupun tulisan tidak berarti melepaskan seorang bawahan dari tanggung jawab atas semua perbuatannya. Alquran mencela orang-orang yang melakukan dosa dengan alasan pimpinannya telah menyuruhnya.

Firman Allah, ”Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: ‘Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat pula kepada Rasul’. Dan mereka berkata: ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan yang benar.” (QS Al-Ahzab [33]: 66-67).

Allah membantah mereka dengan tegas, ”Harapanmu itu sekali-kali tidak akan memberi manfaat kepadamu di hari itu karena kamu telah menganiaya dirimu sendiri. Sesungguhnya kamu bersekutu dalam azab itu.” (QS Az Zukhruf [43]: 39).

Demikianlah bahwa pemimpin yang zalim tidak akan bisa memaksa hati seseorang kendati mampu memaksanya secara lahiriah. Oleh sebab itu, rakyat atau bawahan pun harus bertanggung jawab terhadap akidahnya dan perbuatannya, meskipun di sana ada perintah dan larangan pimpinan. Dalam keadaan demikian, seorang Mukmin sejati tidak akan menerima kepemimpinan seseorang kecuali dengan ekstra hati-hati, seraya memperbaiki dirinya, keluarganya, dan semua yang menjadi tanggungannya.
Redaksi – Reporter

Red: irf

Rahmat Allah Luas, Jangan Sempitkan!

Republika, Senin, 15 February 2010, 13:54 WIB
WORDPRESS

Oleh: K.H. Tengku Zulkarnain

Rahmat Allah bermakna kasih sayang Allah. Ianya tidak terbatas kepada para Nabi dan orang-orang shalih saja, tetapi meliputi seluruh makhluk yang ada di langit maupun di bumi. Sebegitu besarnya kasih sayang Allah kepada makhluk ciptaan-Nya, sehingga meskipun makhluk-Nya itu terus-menerus mendurhakaiNya, Allah tetap saja mengalirkan kasih sayangnya kepada mereka. Berbeda dengan makhluk yang umumnya menyayangi seseorang beriring pamrih. Ketika orang yang disayanginya memberikan balasan yang baik kepadanya, orang itu akan tetap menyayangi. Sebaliknya, jika dia mendapat balasan yang tidak baik, serta merta kasih sayangnya hilang berganti dengan rasa benci dan dendam.

Sering manusia menaburkan kebaikan hanya kepada orang-orang yang dikasihinya saja, dan tidak acuh kepada orang lain diluar orang yang disayanginya itu. Dengan kata lain, kasih sayangnya sangat terbatas. Yang paling buruk dari sifat manusia manakala dia ingin segala kebaikan hanya untuk dirinya dan orang-orang yang disayanginya. Suatu hari, seorang Arab badui yang sudah tua usianya masuk ke Masjid Nabi kemudian melaksanakan sholat. Lalu dia berdo’a dengan suara yang keras, “Ya Allah, kasih sayangilah aku dan Nabi Muhammad, dan janganlah Engkau sayangi seorangpun yang lain melainkan kami berdua saja.” Mendengar doa itu, maka Nabi berpaling kepadanya seraya berkata, ”Sungguh engkau telah menyempitkan rahmat Allah yang luas itu!” (HR. Turmidzi nomor 146)

Betapa seringnya kita dalam kehidupan sehari-hari bertindak seperti badui tadi. Kita hanya memikirkan kebahagiaan itu adalah untuk ku, anak ku, isteri ku, keluarga ku, kaum kerabat ku, handai taulan ku, golongan ku, partai ku dan lain-lain sebagainya dengan selalu memakai kata ‘ku’. Sementara orang lain semuanya seolah tersekat untuk mendapatkan kebahagiaan yang sama. Betapa egoisnya pemikiran seperti ini. Padahal Rasulullah telah bersabda dalam hadis yang lain, “Manusia yang terbaik diantara kamu adalah manusia yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain.” Artinya, selama seseorang hanya memikirkan kepentingan diri dan kelompoknya saja, maka selama itu orang tersebut tidak akan pernah mencapai derajat manusia terbaik. Semakin luas seseorang itu memberi manfaat kepada orang lain, maka akan semakin tinggilah derajatnya disisi Allah.

Berbuat baik dan menabur kasih sayang adalah sifat yang paling mulia, sekecil apapun perbuatan baik dan kasih sayang itu dilakukan. Mungkin orang lain tidak merasakan kasih sayang dan perbuatan baik yang dilakukan karena terlalu kecil nilainya, namun bagaimanapun disisi Allah perbuatan itu tetap dihitung dan bernilai besar di dunia maupun akhirat. Firman Allah: “Barangsiapa melakukan perbuatan baik walaupun sebesar dzarrah, Allah akan melihatnya.” (QS. Az Zilzal: 7)
Redaksi – Reporter

Red: taqi
Rambu-rambu Kemudahan
Republika, Senin, 15 February 2010, 13:27 WIB
ARBA-MAKMUR

Oleh Abdullah Hakam Shah MA

Kemudahan, sebagai salah satu karakter utama agama Islam, ternyata bak pisau bermata dua. Di satu sisi, ia membuat ajaran agama ini bisa dengan mudah membumi dan bersenyawa dengan berbagai budaya, model masyarakat, dan zaman yang berbeda-beda.

Namun, di sisi lain, ia sering dipergunakan untuk melegitimasi sikap-sikap yang permisif, bahkan aliran-aliran sesat. Foto mesra prewedding, nikah sesama jenis, shalat dengan bahasa Indonesia, adalah segelintir contoh yang hendak dilegalkan oleh sebagian kalangan dengan dalih Islam itu mudah, Islam tidak kaku, dan seterusnya.

Oleh karena itu, demi menjaga karakter kemudahan ini tetap dalam koridor yang sahih, ada beberapa rambu yang penting untuk dicermati. Pertama, penerapan kemudahan tersebut harus memiliki referensi dari Alquran atau sunah Rasul SAW.

Salah satu contoh terbaiknya adalah apa yang dilakukan Abdullah bin Abbas RA, ketika menyuruh petugas azan mengganti Hayya ala ash-Shalah dengan Shallu fi buyutikum (shalatlah di rumah kalian masing-masing), karena saat itu turun hujan deras menjelang pelaksanaan shalat Jumat.

Mendengar azan ‘gaya baru’ tersebut, sontak beberapa Tabi’in memprotes, ”Apa-apaan ini, hai Ibnu Abbas?” Ia pun menjawab, ”Saudara-saudaraku, kemudahan seperti ini bukan hasil buatanku. Inilah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.” (HR Bukhari dan Muslim).

Kedua, setiap penerapan kemudahan seyogianya diselaraskan dengan tujuan-tujuan syariat dan kemaslahatan manusia. Syariat Islam memang tidak kaku, khususnya di ranah ibadah dan muamalah. Namun, memaksakan kemudahan secara kebablasan dengan mengabaikan tujuan-tujuan syariat, niscaya akan membuat yang bersangkutan semakin jauh dari Allah.

Keselarasan antara kemaslahatan individu dan tujuan syariat ini sering dicontohkan langsung oleh Nabi SAW. Misalnya, beliau pernah membebaskan seorang sahabat yang sudah tua dan lemah dari nazarnya untuk naik haji dengan berjalan kaki dari Madinah ke Makkah. Sebab, selain berpotensi membahayakan kesehatan yang bersangkutan, nazar tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan tujuan-tujuan disyariatkannya haji.

Sebaliknya, bila kemudahan tersebut sekadar meluluskan kepentingan tertentu dan bukan dalam situasi darurat, tidak ada alasan untuk melakukannya. Seperti, penduduk daerah Yaman yang meminta kepada Nabi SAW agar diperbolehkan memproduksi arak yang selama ini menjadi sumber penghasilan mereka. ”Tidak! Semua yang memabukkan adalah haram,” kata beliau menegaskan. (HR Bukhari dan Muslim)
Redaksi – Reporter

Red: taqi
Advertisements

0 Responses to “Hikmah : Tanggung jawab, Rahmat Allah dan Kemudahan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,373,769 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: