27
Oct
09

Keamanan : Tantangan bagi Kepala BIN yang Baru

Suara Pembaruan

ZOOM2009-10-27Tantangan bagi Kepala BIN yang Baru
Sabartain Simatupang

Polri lewat reputasi Densus 88 telah berhasil menewaskan gembong teroris Noordin M Top pada 16 September 2009. Di balik suksesnya Polri menangani terorisme, ada satu hal yang menjadi persoalan, yakni menyangkut upaya aparat intelijen dalam pencegahan munculnya kembali aksi terorisme. Hal inilah yang menjadi tantangan serius bagi Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) yang baru, Jenderal Pol (Purn) Susanto.

Penunjukan mantan Kapolri Jenderal Pol (Purn) Susanto menjadi Kepala BIN cukup mengagetkan sebagian pihak. Hal ini disebabkan selama pemerintahan Orde Baru sampai sekarang tradisi demikian belum pernah terjadi. Selama ini, Kepala BIN didominasi oleh mantan petinggi intelijen TNI. Tentunya, banyak spekulasi perkiraan dan pesimisme di balik penunjukan tersebut. Tetapi, penulis justru mengapresiasi pilihan Presiden SBY sebagai suatu hal yang menantang, di tengah isu kepentingan sektoral dalam BIN dan perkembangan ancaman teror yang semakin kompleks.

Berangkat dari pengalaman menangani ancaman teror selama ini, sulit menyangkal bila aparat intelijen kurang bersinergi dalam mencegah (preventif) timbulnya aksi teror bom. Pertanyaannya adalah benarkah aparat intelijen kita kecolongan dalam mencegah setiap aksi teror? Tetapi, apa yang mau dikata, faktanya pelaku teror bom di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton telah berhasil beraksi di tengah ketatnya tingkat pengamanan. Pemerintah rupanya lebih fokus pada pengamanan situasi politik sebelum, sesaat, dan sesudah pelaksanaan Pilpres 8 Juli 2009, yang ekstraketat, ketika itu.

Dengan berulangnya teror bom dengan modus dan sasaran yang sama, banyak pengamat lalu menuding pemerintah benar-benar kecolongan. Di sini yang menjadi sorotannya adalah kelemahan pada tataran implementasi strategi dan organisasi penanganan teror (khususnya antiterorisme) yang dilakukan oleh semua aparat intelijen (Bais TNI, Intelkam Polri, dan unit intelijen terkait lainnya) yang dikoordinasikan oleh BIN. Persoalannya terletak pada kondisi bahwa perkembangan ancaman terorisme semakin kompleks.

Modus dan sasarannya bersifat global, ideologis dan bisa merasuk pada ancaman konflik komunal dalam masyarakat. Dengan demikian, pertanyaan berikut adalah apakah strategi dan organisasi penanganan terorisme masih kondusif menghadapi kompleksitas ancaman tersebut?

Bisa dikatakan strategi dan organisasi penanganan terorisme belum sepenuhnya efektif dilaksanakan. Masih banyak kendala yang menyangkut kemampuan, kekuatan, dan sinergitas aparat intelijen, bila dihadapkan pada kompleksitas ancaman terorisme dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) . Pada kenyataannya, pelaksanaan strategi antiterorisme khususnya masih terbentur pada kendala struktural tersebut. Kondisi ini juga diperlemah dengan adanya kendala kultural organisasi yang menghambat koordinasi antarinstansi atau satuan intelijen. Kendala ini menunjukkan adanya sikap sentimen kelompok/korps/lembaga yang cenderung merasa superior dan apriori. Hal ini merupakan sikap mental peninggalan Orde Baru yang belum sepenuhnya bisa dihilangkan.

Perlu Diperjelas

Pelaksanaan koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi intelijen selama ini belum bersinergi secara optimal. Kendala ini tentu berdampak pada pelaksanaan penanganan aksi-aksi teror dan konflik komunal yang sudah terjadi sebelumnya. Di samping itu, kondisi ini ditambah dengan kendala hukum bagi dasar kewenangan pelaksanaan tugas operasional mengatasi bentuk ancaman terorisme. Dasar hukumnya, yaitu UU tentang TNI dan Kepolisian RI serta UU Antiteror No 15 Tahun 2003 dinilai belum cukup optimal menjadi petunjuk bagi setiap satuan intelijen dalam melaksanakan tugasnya. Untuk itulah, kewenangan penanganan aksi teror perlu disinergikan kembali oleh ketentuan hukum yang lebih mendasar. Belum tuntasnya penyusunan RUU tentang Keamanan Nasional jelas menjadi kendala utama dalam optimalisasi pelaksanaan tugas penanganan aksi terorisme.

Terlepas dari spekulasi di balik penunjukan mantan Kapolri sebagai Kepala BIN, isu teror bom seyogianya diletakkan pada tingkat (eskalasi) ancaman nasional yang faktual di Indonesia. Dengan terjadinya kembali aksi teror bom, baru-baru ini, mau tidak mau pemerintah perlu mengevaluasi kinerja organisasi intelijen. Selanjutnya, diharapkan penentuan strategi dan organisasi penanganannya menjadi salah satu kebijakan prioritas bagi pemerintah. Dalam Buku Putih Pertahanan 2007 jelas disebutkan bahwa ancaman terorisme sudah menjadi ancaman nyata di hadapan kita. Sebagai implementasinya, pada tataran kebijakan harus dirumuskan perangkat hukum, konsepsi, dan lembaga yang berwenang menanganinya.

Oleh karena itu, pelaksanaan tugas dan kewenangan penanganan ancaman terorisme perlu diperjelas kembali dengan mempertimbangkan kompleksitas ancaman serta kemajuan iptek yang semakin canggih. Upaya-upaya yang aktual dan mendesak dilakukan adalah meningkatkan kuantitas dan kualitas kemampuan personel aparat intelijen. Reformasi lembaga intelijen merupakan salah satu agenda yang belum dapat dituntaskan sampai saat ini, sehingga perlu dilanjutkan. Agenda penuntasan ini diharapkan menjadi program pemerintahan baru lima tahun ke depan, meliputi aspek struktural, kultural dan penataan hukum yang mendasarinya. Selamat bertugas Pak Susanto.

Penulis adalah mahasiswa Magister KSKN UI


0 Responses to “Keamanan : Tantangan bagi Kepala BIN yang Baru”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 4,028,381 hits

Archives

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: